Etnografi Kesehatan! Ini Hobiku, Mana Hobimu?

Ya, saya suka memotret etnik, mempelajari adat budaya etnik-etnik di Indonesia. Dan sampai sekarang, saya selalu punya ketertarikan tersendiri untuk mempelajari etnografi kesehatan.

Memotret etnik adalah hobi saya. Semenjak masih SD saya tertarik dengan mempelajari berbagai macam etnik di Indonesia.

Makanya waktu kelas 4 SD mata pelajar favorit saya adalah IPS, karena disinilah belajar berbagai macam etnik di Indonesia.

Tidak puas dengan pelajaran di sekolah, pergi ke toko buku bersama ibu untuk beli buku RPUL (buku pintar) dan Ragam Budaya Indonesia. Zaman saya SD gak ada yg namanya gadget atau tablet, ada juga tablet obat atau vitamin.

Kemudian ketika SMA ketika sudah mengenal FB, Youtube, Twitter dan Friendster. Saya sangat hobi mendowload lagu-lagu daerah, dan video-video tentang etnik Indonesia. Hobi membaca mulai menurun, karena beralih ke menonton dan mendengarkan.

Ketika kuliah, saya aktif di organisasi sehingga mendapat kesempatan buat jalan-jalan keliling Indonesia karena dibiayai kampus. Ikut LKTI di kampus luar pulau, ikut acara rapimnas, rapimwil, dsb. Tempat yang seneng dikunjungi adalah museum dan taman budaya. Dan tentunya berfotolah di sana.

Ketika sudah menginjak usia 23 masih tertarik mempelajari etnik. Malahan mendapat kesempatan untuk melakukan studi etnografi kesehatan di pedalaman suku dayak sepauk Kalimantan Barat.

Itu kan mempelajari secara formal karena tugas negara, saya juga suka mempelajari secara informal sebagai tugas pribadi.

Saya suka mempelajari budaya pernikahan atau adat pernikahan. Mulai adat Bugis, Mandar, Banjar, Gayo, Minang dan Dayak. Entahlah adat pernikahan begitu menggoda buat dipelajari. Termasuk mitos pernikahan Jawa dan Sunda.

Baiklah itu tadi soal mempelajari etnik, yang tak kalah penting adalah memotret etnik.

Mesti hanya bermodalkan kamera HP Smartphone, atau kamera DSLR pinjaman atau kamera pocket/prosuimer yang kualitasnya kacangan. Tapi seneng-seneng aja sih memotret.

Dan kalau ada foto etnik, suka terinspirasi buat puisi. Sempet terpikir dan ada keinginan serta sudah memulai buat buku puisi dan fotografi etnik. Tapi gak kelar-kelar, soalnya sempet ditolak dan reviewnya banyak amat dari penerbit. Reviewnya karena kualitas fotonya, maklum bukan fotografer profesional.

Etnografi Kesehatan! Ini Hobiku, Mana Hobimu?

Pentingnya Pendekatan Sosial Budaya Dalam Intervensi Kesehatan

Hasil studi etnografi kesehatan inilah nantinya yang akan menjadi dasar untuk melakukan intervensi dengan pendekatan sosial budaya.

Masalah kesehatan masyarakat di Indonesia sangatlah komplek. Berbagai bidang kesehatan memiliki permasalahan yang harus diselesaikan dan menjadi prioritas masalah. Saat ini Indonesia fokus pada perbaikan gizi, penurunan angka kematian ibu dan bayi serta perilaku kesehatan melalui program Gerakan Masyarakat Sehat (Germas).

Derajat kesehatan masyarakat menurut teori H.L. Bloom ditentukan oleh 4 aspek yaitu Genetik, Lingkungan, Pelayanan Kesehatan dan Perilaku.

Perilaku jika kita urai dan kaji, merupakan aspek yang dipengaruhi oleh determinan budaya. Dalam konsep budaya menurut Koentjaraningrat, budaya merupakan faktor pembentuk perilaku.

Ada 7 aspek budaya menurut Koentjaraningrat, diantaranya:

  1. Sistem Kepercayaan

Dalam fakta di lapangannya ini, sistem kepercayaan berkaitan dengan budaya pantangan atau tabu. Indonesia memiliki banyak kebudayaan, sehingga memiliki banyak tabu atau pantangan yang berkaitan dengan kesehatan.

Sebagai contoh pada masyarakat Sunda dan Sulawesi mengenal pantangan bayi dibawa keluar rumah pada usia 0-40 hari, hal ini jelas akan mempengaruhi status kesehatan bayi yang mana pada usia tersebut sudah harus dibawa ke posyandu maupun ke tenaga kesehatan.

  1. Sistem Pengetahuan

Sistem pengetahuan masyarakat akan kesehatan penting dalam pembentukkan perilaku sehat. Dalam konsep promosi kesehatan ada tingkatan mulai dari  tahu, mau dan mampu. Tahu, tentunya dipengaruhi oleh pengetahuan, jika pengetahuannya baik maka masyarakat akan tahu kemudian memunculkan kemauan untuk hidup sehat. Jika sudah memiliki kemauan maka selanjutnya akan mencoba untuk mampu hidup sehat.

  1. Sistem Mata Pencaharian

Sistem mata pencaharian memiliki hubungan dengan kesehatan, aktivitas pekerjaan serta jadwal mereka bekerja memiliki pengaruh terhadap status kesehatan masyarakat. Masyarakat pedalaman yang bermata pencaharian petani pada umumnya mereka berladang dengan cara ladang berpindah, ada jadwal khusus kapan mereka pergi berladang kegunung-gunung dan kapan mereka turun gunung.

Tidak sedikit intervensi kesehatan yang tidak menyentuh langsung ke masyarakat sasaran karena terhambat aktivitas mata pencaharian masyarakat, misalnya rendahnya cakupan D/S karena pada saat posyandu banyak ibu balita yang tidak hadir karena berada di ladang.

  1. Sistem Organisasi Kemasyarakatan

Organisasi kemasyarakatan merupakan aspek budaya pada masyarakat, di masyarakat yang masih menjunjung tinggi adat dari leluhurnya, keberadaan organisasi masyarakat ini berupa dewan adat. Peran dewan adat sangatlah besar dalam membentuk perilaku masyarakat, adanya peraturan adat yang harus ditaati oleh masyarakat inilah yang membentuk perilaku masyarakat. Intervensi kesehatan harus memanfaatkan peran sistem organisasi kemasyarakatan, guna keberhasilan dari intervensi tersebut.

  1. Sistem Teknologi dan Peralatan Hidup

Sistem teknologi dan peralatan hidup tidak hanya berbicara pada alat-alat yang digunakan saat bekerja saja atau barang-barang elektronik hiburan masyarakat. Namun tata cara penyimpanan makanan, cara memasak, alat-alat memasak itu pun menjadi bagian penting dan tentunya berkaitan dengan kesehatan.

Jamban yang digunakan oleh masyarakat misalnya apakah sesuai dengan standar kesehatan atau tidak, ini menjadi bagian sistem teknologi dan peralatan hidup yang berkaitan dengan kesehatan. Kalau pada kesehatan ibu dan anak ada kegiatan pertolongan persalinan oleh dukun, alat-alatnya harus menjadi kajian karena berkaitan langsung dengan kesehatan ibu maupun janin. Sehingga intervensi berbasis budaya itu juga memperhatikan interaksi manusia terhadap peralatan/ teknologi.

  1. Bahasa

Bahasa penting dalam kajian budaya, karena memang bahasa merupakan unsur interaksi manusia dengan sesama manusia. Pembentukan perilaku pun didorong oleh bahasa, penyuluhan kesehatan jika dilakukan dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh masyarakat akan sia-sia. Begitu juga dengan media-media promosi kesehatan, akan lebih baik dan mengena terhadap masyarakat sasaran jika menggunakan bahasa yang sesuai dengan masyarakat sasaran.

  1. Kesenian

Kebanyakaan orang berfikir bahwa kesenian itu hanya musik, seni rupa, tarian dan sebagainya. Namun konsep kesenian sebagai aspek budaya menurut Koentjaraningrat adalah berkaitan dengan keindahan. Hal inilah yang mendasari seseorang membentuk gaya hidup dan menjadi perilaku keseharian. Orang ingin kurus karena mencitrakan tubuhnya supaya terlihat lebih cantik dan indah, sehingga mendororong untuk mengubah pola makan yang belum tentu sesuai dengan prinsip gizi kesehatan.

Dengan demikian ketujuh aspek budaya ini menjadi faktor penting dalam pembentukkan perialku masyarakat. Sehingga mengintervensi kesehatan masyarakat untuk membentuk perilaku hidup sehat harus melalui pendekatan sosial budaya.

Kombinasi Teori H.L Bloom dan Koentjaraningrat

Gb.1 Kombinasi Teori H.L Bloom dan Koentjaraningrat

Lalu bagaimana kita memulai intervensi dengan pendekatan budaya

Tentunya perlu perencanaan dengan baik. Sebelum pada tahapan perencanaan memang diperlukan adanya kajian terlebih dahulu, kajian budaya dalam kesehatan biasanya dilakukan studi etnografi kesehatan. Studi ini bersifat kualitatif, dan memerlukan waktu yang lama.

Hasil studi inilah nantinya yang akan menjadi dasar untuk melakukan intervensi dengan pendekatan sosial budaya.