Dukung Program Germas, 2 Desa Ini Adakan Lomba Senam Sehat Antar Dusun!

Desa Salukanan dan Desa Bontongan mencatat nilai Plus Program Germas, Gerakan Masyarakat Sehat di Kab. Enrekang. Alhamdulillah, Minggu 4 Februari 2018, Desa Salukanan mengadakan Lomba Senam Sehat Bugar dan Tobelo yang diprakarsai Kader Posyandu.

Tak mau kalah rupanya, Desa Bontongan mengadakan Lomba serupa yang perhelatannya dimulai pada tanggal 11-14 Februari 2018. Yang menarik dari kegiatan di Desa Bontongan, semua rangkaian kegiatan berasal dari dana jimpitan masyarakat, sumbangan kelompok pemuda Bontongan. Makin meriah acara ini karena turut hadir pula Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga, Ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan Baraka, dan Kepala Puskesmas Baraka.

Juri Lomba Senam Sehat di Enrekang

Menurut informasi yang kami himpun dari Asra Susilawati, Str, Keb, bahwa kegiatan Kesorga Kecamatan Baraka akan dilaksanakan sinergi dengan program-program Dinas Pemuda dan Olahraga, dimana Kepala Dinas yang akrab dipanggil Pak Hamsir mengatakan bahwa kegiatan ini akan menjadi event tahunan di Desa Kalimbua, dan beliaupun menyerahkan Piala bergilir Pertama.

Hal menarik lainnya, sajian lomba tetap bertemakan Germas; buah dan makanan khas lokal daerah. Juri lomba senam sehat ini pun dari lintas sektor, perwakilan desa, Ibu Camat selaku Ketua PKK Kecamatan dan tak lupa Kepala Puskesmas Baraka, ibu Drg. Ira Desti Saptari.

Harapannya, Kab. Enrekang menjadi kabupaten yang lebih Maju, Aman, dan Sejahtera, sesuai dengan Visi besar Gerakan Kesehatan, dimana manusia maju akan terwujud jika sehat, aman dari bencana kesakitan/PTM, dan sejahtera jika masyarakatnya bisa hidup sehat dan produktif.

Senam Sehat Masyarakat Baraka Enrekang

UNAIR Gencarkan Germas “Gerakan Masyarakat Hidup Sehat”

Minggu (11/2), Didampingi Dekan FKM Prof. Prof. Dr. Tri Martiana, dr., MS., Rektor Universitas Airlangga Prof. Dr. Mohammad Nasih, SE., MT., Ak., CMA., menggencarkan program Germas (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat) untuk sivitas akademika UNAIR.

Senam dan jalan sehat bulanan di Universitas Airlangga dilaksanakan lagi Minggu (11/2), di halaman Rektorat UNAIR, Kampus C Mulyorejo. Kali ini, senam dan jalan sehat diselenggarakan oleh Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM).

Pada kesempatan ini, didampingi Dekan FKM Prof. Prof. Dr. Tri Martiana, dr., MS., Rektor Universitas Airlangga Prof. Dr. Mohammad Nasih, SE., MT., Ak., CMA., menggencarkan program Germas (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat) untuk sivitas akademika.

Tiga aspek Germas adalah melakukan aktivitas fisik (di acara ini senam dan jalan sehat), makanan seimbang (buah dan sayur) setiap hari, dan memeriksakan kesehatan secara rutin.

Turut mewarnai kegiatan Germas kali ini yakni dilaksanakan konsultasi gizi, pemeriksaan kesehatan, bahkan “Kuliah Kopi”. Kegiatan dilaksanakan di lantai dasar Gedung manajemen UNAIR.

(Foto-foto: Bambang Bes)
Sumber: http://news.unair.ac.id/2018/02/12/unair-gencarkan-gerakan-masyarakat-hidup-sehat/

Yuk Intip Meriahnya Peringatan Hari Gizi Nasional ke-58 Puskesmas Ciledug!

Jumat, 26 Januari 2018, Peringatan Hari Gizi Nasional ke-58 ini diikuti oleh 200 orang lebih peserta kader se-kecamatan Ciledug dan masyarakat umum.

Peringatan Hari Gizi Nasional ke-58 kali ini berlangsung meriah. Berlangsung Jumat, 26 Januari 2018, kegiatan ini diikuti oleh 200 orang lebih peserta kader se-kecamatan Ciledug dan masyarakat wilayah kecamatan Ciledug.

Bertempat di halaman Kantor Kecamatan Ciledug, dengan tema “Makan Buah dan Sayur Dalam Rangka Menghidupkan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS)” selain senam massal, peserta juga dapat melakukan cek kesehatan gratis, makan buah gratis dan minum jus sayur gratis.

Pemeriksaan Kesehatan HGN 2018 di PKM Ciledug

Penyelenggara kegiatan ini adalah UPT Puskesmas Ciledug, lintas Program (Gizi, Promkes, KIA, KESORGA dan PTM). Kegiatan ini di dukung oleh Kecamatan Ciledug, PKK kecamatan Ciledug, dan Grup Senam Macila. Sebagai sponsor Kegiatan Hari Gizi Nasional UPT Puskesmas Ciledug yaitu Surya Toserba Ciledug.

Rangkaian kegiatan ini dimulai dengan registrasi dan cek kesehatan. Dilanjutkan pembukaan, sambutan Kepala Puskesmas Ciledug, Bapak H. Mohamad Sayid, S.KM.MM, kemudian sambutan dari Camat Ciledug, Bapak Drs. Solihin, MM sekaligus membuka acara Hari Gizi Nasional ini.

Camat Ciledug Bersama Kepala Puskesmas Ciledug

Kegiatan pun dilanjutkan senam masal dipandu oleh Macila Group dan m.akan buah dan minum jus sayur sekaligus penyuluhan mengenai IVA Test.

“Masyarakat jika ingin derajat kesehatannya meningkat tiap hari harus berolahraga selama 30 menit. Dengan adanya pemberian buah-buahan dan sayuran mudah-mudahan masyarakat akan gemar dengan makanan tersebut sehingga gizi masyarakat akan terpenuhi. Dengan adanya pemeriksaan tekanan darah dan gula darah puskesmas berharap agar masyarakat lebih waspada terhadap penyakit yang diakibatkan oleh perilaku.” ujar H. Mohamad Sayid, S.KM.MM, Kepala Puskesmas Ciledug.

 

Santri Ponpes Agen Pembaru Gerakan Masyarakat Hidup Sehat

Ponpes itu punya pengaruh yang kuat dalam kehidupan bermasyarakat. Sehingga ke depannya, para santri dapat menjadi cotoh bagaimana berperilaku hidup sehat.

Masyarakat sekarang banyak memilih konsumsi makanan cepat saji, serba praktis, dan menyukai makanan yang mengandung lemak. Minuman manis, soda atau beralkohol seperti sudah menjadi kebiasaan.

Kebiasaan lainnya yang jarang dilakukan adalah olahraga. Padahal aktivitas dalam gerakan olahraga itu akan menjadikan tubuh lebih sehat. Karena itu Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mencanangkan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat atau disingkat Germas.

Germas dilaksanakan oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Untuk menyosialisasikan, pemerintah menggandeng berbagai pihak termasuk organisasi Muslimat Nahdlatul Ulama Kalimantan Selatan.

Seperti Jumat (17/11) pagi, organisasi wanita muslim terbesar di Indonesia ini mengundang sepuluh pimpinan pondok pesantren (Ponpes) dan sepuluh majelis taklim di Kalsel. Mereka memberikan pemahaman mengenai gerakan masyarakat sehat kepada seluruh peserta orientasi. Bahwa dengan mempraktikkan pola hidup sehat dalam keseharian. Kemudian hal itu bisa ditularkan kepada yang lainnya keluarga, dan lingkungan sekitar.

Alasan memilih Ponpes dan majelis taklim, Pengarah Program Kerja Sama Muslimat NU dan Kementerian Kesehatan Ismoyowati, melalui santri-santri maupun ibu-ibu majelis taklim ini gerakan masyarakat bersih dan sehat bisa digalakkan ke masyarakat luas.

Sebab Ponpes maupun jamaah majelis taklim itu punya pengaruh yang kuat dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat. “Mereka sebagai agen pengubah atau pembaru kehidupan yang lebih sehat di masyarakat,” ujarnya.

Sehingga ke depannya, para santri maupun jamaah bagaimana cara perilaku hidup sehat. secara nasional ada tiga hal yang menjadi fokus utama orientasi. Pertama pentingnya aktivitas fisik, kemudian konsumsi sayur dan buah, dan memeriksa kesehatan secara berkala. Motto Sehat Dimulai dari Saya.

Tapi bukan berarti hanya tiga itu saja yang dilakukan. Melainkan pimpinan Ponpes maupun majelis taklim dapat berkreasi untuk memberikan contoh kepada seluruh santri mengenai perilaku hidup sehat di lingkungan Ponpes.

“Dengan mengajak untuk hidup sehat dengan aktivitas fisik, mendeteksi dini kesehatan dengan pemeriksaan rutin kesehatan, dan intensitas konsumsi buah serta sayur-mayur,” harapnya.

Staf Ahli Bidang Pemerintahan, Burhanuddin, menyatakan dukungan dengan Germas. Kegiatan yang dilakukan oleh Muslimat NU Kalsel ini diharapkan dapat ditiru oleh organisasi-organisasi lainnya di Kalsel. Kegiatan ini adalah menindaklanjuti Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2017 Tentang Germas.

Di daerah, tindak lanjut dengan menjalankan sesuai dengan Inpres, melakukan Inpres ini diterbitkan dalam rangka mempercepat dan menyinergikan tindakan dari upaya promotif dan preventif hidup sehat guna meningkatkan produktivitas penduduk dan menurunkan beban pembiayaan pelayanan kesehatan. “Masyarakat sehat tentu akan membawa kepada Indonesia sehat,” ujarnya.

Sumber kalsel.prokal.co/

Peringati HKN, Puskesmas Sanur Adakan Jalan Santai Sambil Pungut Sampah

Puskesmas Sanur Kec.Tulin Onsoi mengadakan jalan santai sambil pungut sampah dalam rangka memperingati HKN ke-53, Minggu 12 November 2017.

Puskesmas Sanur Kec.Tulin Onsoi mengadakan jalan santai sambil pungut sampah dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Nasional atau HKN ke-53, diikuti oleh masyarakat Kec.Tulin Onsoi dan siswa siswi yang ada di Tulin Onsoi, Minggu 12 November 2017.

Dengan tema Sehat Keluargaku – Sehat Indonesiaku, panitian kegiatan HKN ke-53 ini mengadakan kegiatan jalan santai sambil memungut sampah di sepanjang jalan rute yang sudah di tentukan.

Jalan Sehat Puskesmas Sanur Tulin Onsoi

Panitia mengajak masyakat untuk hidup sehat bebas dari sampah-sampah, menciptakan lingkungan yang sehat. Selain itu mengajarkan masyarakat untuk dapat memilah sampah, mana sampah organik dan mana sampah yang non organik, mana sampah basah, mana sampah kering, sampai sampah kaleng.

Kedepannya masyarakat akan diajari oleh petugas Puskesmas, kerja sama lintas sektor dengan petugas ppl, agar masyarakat juga dapat memanfaat sampah menjadi pupuk kompos.

Pungut Sampah Sembari Jalan Sehat

Dalam kegiatan jalan santai kali ini, pihak panitia juga menyiapkan kupon undian buat peserta jalan santai dengan hadiah utama sepeda gunung dan 2 buah Handphone.

Selain kupon undian, Puskesmas Sanur telah memilih Duta IVA Kec. Tulin Onsoi yang disematkan kepada kader posbindu sehat sejahtera Desa Makmur atas nama ibu Solihati.

Harapan kedepannya semoga Puskesmas Sanur bisa meningkatkan pelayanannya kemasyarakat dengan aktif kemasyarakat, dengan pendekatan keluarga. Kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarang juga bisa meningkat, agar lingkungan selalu bersih dan disetiap halaman rumah ada tempat sampah yang disiapkan.

Foto Bersama Puskesmas Sanur, HKN ke-53

Bupati Terkesan, Peringatan HKN ke-53 di Tasikmalaya Libatkan Keluarga

“Saya sangat terkesan dengan peringatan HKN ke-53 hari ini karena melibatkan keluarga, karena semuanya berawal dari keluarga.” ucap Uu Ruzhanul Ulum.

Singaparna – Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Nasional ke-53, Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya mengadakan kegiatan Senam Germas Massal bertemakan“Keluarga Sehat, Indonesia Kuat” yang di gelar di lapangan kantor Bupati Tasikmalaya, Minggu 12 November 2017.

Senam Germas massal kali ini diikuti para peserta yang berasal dari seluruh instansi kesehatan yang ada di Kabupaten Tasikmalaya, termasuk STIKes Respati Tasikmalaya.

Sejak pukul 06:00 wib, ratusan peserta telah menyemut di sekitaran kantor Bupati Tasikmalaya. Satu persatu peserta memasuki lapangan kantor Bupati. Acara diawali dengan makan buah bersama yang dipimpin oleh Bupati Tasikmalaya, Uu Ruzhanul Ulum.

Setelah makan buah bersama selesai, seluruh peserta langsung merentangkan tangan mengikuti arahan dari inspektur senam. Antusiasme para peserta senam yang begitu besar mengikuti gerakan yang didemokan oleh inspektur senam dari atas panggung. Kegiatan senam germas massal ini berlangsung dari pukul 06:30 wib hingga pukul 07:25 wib.

Senam Massal Germas di Tasikmalaya

Berbagai event memeriahkan kegiatan acara peringatan HKN ini seperti pemeriksaan kesehatan gratis, donor darah, lomba senam germas, hingga ke door prize.

Bupati Tasikmalaya, Uu Ruzhanul Ulum mengatakanbahwa peringatan HKN kali ini sangat mengesankan, karena kegiatan ini melibatkan keluarga.

“Saya sangat terkesan dengan peringatan HKN ke-53 hari ini karena melibatkan keluarga, karena semuanya berawal dari keluarga. Indonesia bisa sukses dalam meningkatkan derajat kesehatan di mulai dari kesehatan keluarga. Oleh karena itu, untuk meningkatkan derajat kesehatan Indonesia, maka harus kembali kepada derajat kesehatan keluarga” ucap Uu Ruzhanul Ulum.

Wawancara dengan Bupati Tasikmalaya

Saat pengumuman kejuaraan lomba dalam rangka peringatan HKN, STIKes Respati Tasikmalaya menyabet juara ke-2 lomba senam germas.

Ketua STIKes Respati Tasikmalaya, Dadan Yogaswara. S.KM, M.KM, mengapresiasikan atas keberhasilan Staf STIKes respati Tasikmalaya dalam keberhasilan menyabet juara kategori senam germas.

“Saya sangat senang sekali atas keberhasilan STIKes Respati Tasikmalaya yang berhasil mendapatkan juara. Meskipun juara ke-2, bagi saya itu sudah sangat terbaik. Untuk kedepannya semoga kita bisa menjadi yang lebih baik. Senam Germas STIKes Respati Tasikmalaya ini mengkolaborasikan antara tarian khas sunda dengan gerakan kesehatan. Tentunya juga ini merupakan dukungan untuk Gerakan Indonesia Sehat”, ujar Dadan.


REKAMREST | Redaksi Kampus Respati Tasikmalaya
Kru yang bertugas :
Pemimpin Redaksi : Ahmad Yudi S
Reporter : Tutika Yeni Latifah
Kameramen : Anggi dan Welin

Aplikasi GERMAS di Wilayah Pedalaman, Apa Bisa?

Apakah bisa menerapkan GERMAS di wilayah pedalaman? Jawabnya adalah “HARUS”! Dalam hal ini perlu kerjasama lintas sektor terkait agar tujuan ini tercapai.

Hidup di zaman milenial seperti pedang bermata dua, bermanfaat  karena segalanya dimudahkan dengan teknologi. Lapar sedikit, bisa buka aplikasi dan memesan makanan dan bisa diantar sampai kerumah.

Terkait makanannya, belum tentu makanan yang kadar GGL (gula, garam, dan lemak) sudah sesuai dengan asupan minimal per hari. Menjadi tidak baik jika aktivitas diatas dilakukan berulang dan berkesinambungan sehingga menyebabkan gangguan kesehatan.

Terbukti dari program JKN bahwa penyakit yang menjadi mayoritas dalam pembiayaan adalah penyakit degenartif, seperti jantung koroner, stroke, diabetes, kanker, gagal ginjal, dimana penyakit tersebut disebabkan oleh pola hidup yang tidak sehat.

Tahun 2016, Kementerian Kesehatan meluncurkan program kesehatan yaitu GERMAS, Gerakan Masyarakat Hidup Sehat. Yang berisi 7 komponen didalamnya, yaitu:

  1. Melakukan aktivitas fisik
  2. Mengkonsumsi buah dan sayur
  3. Tidak merokok
  4. Tidak mengkonsumsi alkohol
  5. Memeriksa kesehatan secara rutin
  6. Membersihkan lingkungan
  7. Menggunakan jamban

Dari 7 komponen diatas yang menjadi fokus utama saat ini adalah 3 diantaranya, yaitu melakukan aktivitas fisik, mengkonsumsi buah dan sayur, memeriksa kesehatan secara rutin.

Untuk wilayah perkotaan yang dihuni kaum milenial mungkin bukan masalah karena semuanya bisa diakses dengan mudah, hanyakesadaran yang menjadi dinding untuk bisa melakukannya.

Saat ini di daerah lain telah banyak kegiatan untuk mendukung GERMAS, mulai dari tingkat desa, bahkan swasta. Pertanyaannya sekarang, apakah germas bisa diterapkan di wilayah pedalaman terutama di Indonesia Timur? Mari kita bahas satu per satu.

1. Melakukan Aktivitas Fisik

Di daerah pedalaman alat transportasi masih sangat terbatas. Kehidupan sehari-hari mereka adalah berkebun, berburu, dan menjala ikan. Semua itu mereka lakukan dengan berjalan kaki yang jaraknya bisa ditempuh 2-3 jam dengan berjalan kaki. Artinya, mereka sudah mengakomodir untuk aktivitas fisik yang dianjurkan, bahkan lebih.

Melakukan Aktivitas Fisik

2. Mengkonsumsi Buah dan Sayur

Seperti yang sudah dijelaskan diatas, keseharian mereka adalah berkebun. Banyak jenis sayuran dan buah-buahan yang bisa mereka tanam. Singkong, kangkung, bayam, kubis, pepaya, nanas, durian, rambutan, jambu, hingga buah mereh yang kaya akan antioksidan. Mereka telah berkebun sejak lama. Bagi yang telah mengerti tentang ekonomi, mereka bisa menjualnya ke pasar, masyarakat.

makan buah dan sayur

Namun, mengapa masih ditemukan banyak kasus gizi buruk? Melihat kemungkinan ditatas seharusnya kecukupan gizi mereka telah tercukupi. Yang menjadi masalah adalah determinan sosial dalam perilaku mereka, Poligami.

Dalam satu rumah bisa diisi dengan keluarga yang berisi 1 suami, 3 istri, dan 12 orang anak, dan dalam satu Distrik (Kecamatan) memiliki lebih dari 1.000 KK. Berapa anak-anak yang memiliki kemungkinan untuk gizi buruk? Banyak sekali. Status ekonomi mereka tidak mencukupi untuk menghidupi semua anak-anak mereka.

gizi buruk

Sektor kesehatan telah berusaha melakukan tugas mereka, bahkan tidak sedikit yayasan nasional dan internasional yang turut membantu untuk menekan angka gizi buruk. Mirip seperti fenomena gunung es, sangat samar untuk melihat angka pasti dari jumlah kasus ini.

Memang tidak semua wilayah di Papua memiliki kasus seperti diatas, masih ada beberapa wilayah yang ber-KB dan bisa mencukupi asupan gizi mereka.

3. Tidak Merokok dan Tidak Minum Alkohol

2 sahabat karib ini sangat susah dikendalikan. Jangankan di pedalaman, di perkotaan yang mayoritas kaum terpelajar dan memahami resikonya saja masih bergelut mesra dan tidak bisa beralih dari rokok dan alkohol.

Setidaknya beberapa dari mereka mengerti bahwa merokok di dekat bayi/balita itu tidak baik, jadi beberapa dari mereka bisa mengurangi jumlah perokok pasif.

4. Memeriksa Kesehatan Secara Rutin

Masalah yang ditemui dalam poin ini adalah pemeriksaan ibu hamil. Kesadaran mereka masih sangat kurang untuk poin yang satu ini. Kesadaran mereka untuk memeriksakan kehamilan mereka masih minim, karena sebagian dari mereka berpikir, selama masa hamil tidak sakit, dan masih bisa beraktivitas, maka semuanya akan baik-baik saja.

Sementara, status gizi ibu perlu diperhatikan akan berat badannya, kecukupan Fe, dan lainnya yang menunjang masa kehamilan. Hal ini yang cenderung luput dari perhatian mereka yang beresiko bayi lahir dengan BBLR

pemeriksaan kesehatan

5. Menggunakan Jamban

Indonesia ditargetkan untuk 100% bebas buang air besar sembarangan tahun 2019. Selama tahun berjalan 2017 ini, jumlah Distrik di salah satu Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat yang mendeklarasikan ODF (Open Defecation Free) baru berjumlah 2 Distrik. Masih jauh dibandingkan Kabupaten lain di Indonesia Barat.

Jumlah jamban pribadi masih sangat minim, hal ini disebabkan beberapa faktor penting, diantaranya adalah ketersediaan sumber air bersih.

jamban sehat

Wilayah pegunungan mungkin memiliki air bersih, namun ketersediaan sumber daya lain seperti listrik atau pompa air untuk disalurkan ke rumah masih terbatas.

Beruntungnya, saat ini pembangunan Indonesia Timur menjadi prioritas, beberapa Distrik telah memanfaatkan Dana Desa untuk membangun jamban komunal dan ketersediaan Solar Cell atau generator untuk mesin pompa mereka.

Apakah berhasil? Masih belum sepenuhnya. Lagi-lagi determinan sosial memaksa petugas kesehatan bekerja lebih keras agar mereka bisa mencanangkan ODF (Open Defecation Free), yaitu KEBIASAAN.

Mereka masih belum terbiasa menggunakan jamban, meski jamban dan air telah tersedia.

Melihat penjabaran diatas, pertanyaan “Apakah bisa menerapkan GERMAS di wilayah pedalaman?”, jawabannya adalah “HARUS”!

Bisa tidak bisa GERMAS harus dilaksanakan dan digencarkan untuk menyelesaikan polemik diatas. Masih banyak PR yang harus dikerjakan untuk kita semua. Bukan hanya sektor kesehatan, namun sektor lain selaku pendukung keberhasilan.

Petugas kesehatan bukanlah pahlawan super yang bisa mengatasi masalah diatas sendirian.

Meskipun seandainya petugas kesehatan adalah pahlawan super, maka petugas kesehatan memerlukan bantuan dari pahlawan super lain dalam hal ini lintas sektor terkait agar tujuan ini bisa tercapai, karena masalah yang ada di Indonesia, adalah masalah kita semua.

tenaga kesehatan indonesia

Yuk Lakukan GERMAS di Sekolah dengan Menciptakan Sekolah yang Adiwiyata

Yuk lakukan GERMAS dengan ciptakan Sekolah Adiwiyata, agar lingkungan sekolah menjadi sehat & nyaman, sehingga meningkatkan produktivitas belajar siswa.

Masalah lingkungan yang kita hadapi pada dasarnya adalah masalah ekologi manusia. Kerusakan lingkungan yang terjadi dikarenakan eksplorasi Sumber Daya Alam untuk memenuhi kebutuhan manusia tanpa memperhatikan kelestarian lingkungan. Jika hal ini tidak segera diatasi maka akan berdampak pada penurunan kualitas lingkungan hidup.

Dalam hal ini Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) perlu melakukan gerakan nyata untuk hidup sehat dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup serta membangun kesadaran masyarakat (khususnya warga sekolah) tentang pentingnya menjaga lingkungan.

Oleh karena itu, KLH membuat program Adiwiyata pada sekolah-sekolah di seluruh Indonesia. Program Adiwiyata bertujuan mewujudkan warga sekolah yang bertanggung jawab dalam upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup (PPLH) untuk mendukung pembangunan berkelanjutan melalui tata sekolah yang baik. Pelaksanaan program Adiwiyata di sekolah yang bewawasan lingkungan diperlukan kegiatan yang inspiratif.

Sebagai contoh sekolah yang telah berhasil meraih gelar sebagai Sekolah Adiwiyata Tingkat Nasional yaitu SMP Negeri 3 Godean dan SMP Negeri 14 Madiun.

Berikut ini beberapa kegiatan yang dilakukan oleh kedua sekolah tersebut agar lingkungan sekolahnya menjadi sehat dan nyaman, serta meningkatkan produktivitas dalam belajar.

  1. Penghijauan lingkungan
    Penghijauan lingkungan yang dilakukan bukan hanya sekedar penghijauan, akan tetapi seluruh warga sekolah berpartisipasi untuk menanam pada media apapun dengan ide kreatif mereka.
  2. Pengadaan tanaman langka
  3. Pengadaan Tanaman toga
  4. Kawasan bebas rokok
  5. Pengadaan bank sampah dengan 3R (Reduce, Reuse, Recyle)
  6. Pembuatan kompos
  7. Pengadaan kranisasi, biopori dan drainase
  8. Pengadaan kantin sehat

Program Adiwiyata adalah program yang sangat peduli pada pelestarian lingkungan dan dapat meningkatkan kualitas lingkungan hidup, namun untuk mencapai hasil yang optimal tersebut, sekolah dapat berproses dari hal sederhana yang bisa menjadikan budaya peduli terhadap lingkungan.

Terbentuknya budaya tesebut merupakan awal yang baik untuk menumbuhkan kemauan dan kemampuan seluruh warga sekolah dalam pelestarian lingkungan.

Untuk itu, mari lakukan Germas di sekolahan dengan menerapkan Program Adiwiyata tersebut, agar terciptanya Green School yang dapat mengurangi kerusakan lingkungan dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup.

Referensi :

  • http://godeankec.slemankab.go.id/?p=1093
  • http://smpn14madiun.sch.id/sch/program-kerja/program-kerja-adiwiyata-smp-negeri-14-madiun
  • Kemenkes RI, 2017, Warta Kesmas edisi 1, Jakarta.

Ditulis Oleh:

Zulfaa Rif’at Fauziyyah
Indah Kusuma Wardani
#FUN2017_BEMFKM_UAD

Peringati HKN Ke-53, Puskesmas Baraka Gelar Parade Germas, Intip Keseruannya!

Ada yang berbeda pada perayaan Hari Kesehatan Nasional atau HKN ke-53 tahun ini. Puskesmas Baraka, menggelar Parade Germas, ini pertama kalinya!

Ada yang berbeda pada perayaan Hari Kesehatan Nasional atau HKN ke-53 tahun ini. Puskesmas Baraka, Kecamatan Baraka, Kab. Enrekang menggelar Parade Germas yang berlangsung sejak 30 Oktober hingga 3 November mendatang.

Kegiatan ini pertama kalinya diadakan di tingkat kecamatan. Ada beberapa rangkaian acara yaitu mulai dari Penilaian Fasilitas Pelayanan Kesehatan terbaik se-kecamatan Baraka. Dimana hal ini bertujuan memperbaiki pelayanan kesehatan masyarakat.

Lomba Senam Sehat

Kegiatan kedua adalah lomba senam sehat bugar antar desa di Kec. Baraka. Dan acara puncak akan digelar 3 November 2017 dengan senam bersama, karnaval/ pawai kesehatan, konsumsi 1000 buah lokal, pemeriksaan kesehatan gratis; seperti ukur Tekanan Darah, BB, Pemeriksaan Laboratorium sederhana, dan dilanjutkan dengan pengundian hadiah menarik dan banyak door prize.

“Kegiatan ini sebagai wujud aktualisasi dan akselerasi kesehatan keluarga, dalam mewujudkan Gerakan Masyarakat hidup sehat/Germas,” ungkap Sunartono. SKM, selaku Ketua Panitia HKN-53 ini.

ketua panitia hkn kec baraka

Sinergitas Wujudkan Masyarakat Sehat

Mewujudkan masyarakat sehat, tidak bisa mutlak menjadi tanggung jawab dinas kesehatan belaka, tapi juga perlu melibatkan peran instansi lain dan masyarakat.

Mewujudkan masyarakat sehat, tidak bisa mutlak menjadi tanggung jawab pemerintah daerah melalui dinas kesehatan belaka. Tetapi juga perlu melibatkan peran instansi lain dan juga sudah pasti partisipasi kesadaran masyarakat sendiri.

Belum lama ini, Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kota Tanjungpinang, menggelar Kampanye Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) yang melibatkan instansi lain sebagai bukti dari sinergitas mewujudkan masyarakat sehat.

Sekretaris Daerah Tanjungpinang, Riono mengapresiasi kegiatan ini. Menurutnya, selama lima tahun terakhir, pemerintah daerah cukup perhatian dengan peningkatan kualitas layanan kesehatan. Dibuktikan dengan perbaikan kualitas puskesmas yang ada.

“Sebelumnya bagunan Puskesmas sederhana, itu semua sudah berubah, hingga kita diapresiasi oleh tamu yang datang ke Kota Tanjungpinang,” ungkapnya, kemarin.

Karena bangunan dan fasilitas saja dirasa masih belum cukup, maka perlu kerja sama lintas instansi agar masyarakat yang sehat itu benar-benar bisa terwujud. Riono mengaku sudah mengintruksikan agar seluruh OPD sesuai tupoksinya, bisa turut berpartisipasi pada gerakan kampanye kesehatan ini.

Dinas Kepemudaan dan Olahraga misalnya. Belum lama ini, Dispora sudah melaksanakan lomba lari 10 kilometer, Bappelitbang menggarkan keuangannya dan sebagainya.

Kemudian mengoptimalkan lembaga perguruan tinggi, kesehatan bukan saja di lingkungan internal semata, tetapi pengaruh lingkungan ekternal juga luar biasa. “Semuanya harus sinergi untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di Kota Tanjungpinang,” tegasnya.

Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana, Rustam, menjelaskan germas adalah upaya dalam mewujudkan keshatan masyarakat. Ada tantangan hadapi beban ganda, di satu sisi penyakit menular masih cukup tinggi, dan disisi lain penyakit tidak menular, seperti, jantung, pembuluh darah, hipetensi, kanker, dan kecelakaan, dan jumlah ini dari waktu ke waktu semakin tinggi pengaruhi harapan hidup manusia. Karena itu, gerakan masyarakat hidup sehat sangat penting untuk mencapai masyarakat yang sehat.

Untuk mencapai masyarakat sehat, kata dia, perlu keterlibatan lintas instansi, baik Lurah, Camat, OPD, PKK, para kader, bahkan Poltekes, Akbid, dan masyarakat, agar kegiatan germas yang sudah dilakukan lebih terencana, sistematis, dan berkesinambungan.

“Saya ingin Germas diperkuat. Untuk itu, kami membuat dengan penandatangan pernyataan komitmen sebagai langkah koordinasi dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat setinggi-tingginya,” ucapnya.

Sumber