Karena KLB Campak, Warga Akhirnya Mau Ikut Imunisasi

Terjadi KLB campak di Desa Habau Hulu Kec. Banua Lawas Kab. Tabalong Prov. Kalsel. 42 anak terdiagnosa campak karena orangtuanya menolak ikut imunisasi.

Tabalong - 8/9, Terjadi KLB campak di Desa Habau Hulu Kec. Banua Lawas Kab. Tabalong Prov. Kalsel. 42 anak terdiagnosa campak.

Berdasarkan data imunisasi ternyata di desa yang cukup terpencil itu tidak UCI (Universal Child Immunization). Kebanyakan ibu-ibu disana menolak bayi/ balitanya di-imunisasi dengan alasan dilarang suami dan tokoh agama setempat, karena dianggap "Haram".

Berbagai langkah telah dilakukan dengan mengumpulkan Kades, Toma, Ibu PKK, Camat dan Nakes namun belum berhasil.

Dengan momen KLB ini, Dinkes Tabalong turun tangan 3 hari berturut-turut bertemu dan mendengar alasan masyarakat. Selanjutnya dilakukan penyuluhan dan action imunisasi, alhamdulillah bisa menembus kebuntuan selama ini.

Pelaksanaan Bulan Imunisasi Anak Sekolah di Wilayah Kerja Puskesmas Sanur Tulin Onsoi

Bulan imunisasi anak sekolah (BIAS) bertujuan untuk perlindungan bagi anak usia sekolah dasar terhadap penyakit Campak, Difteri dan Tetanus.

Nunukan - 24 -29 Agustus 2017, Puskesmas Sanur Tulin Onsoi, melaksanakan kegiatan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) kepada para siswa siswi SD yang ada diwilayah kerjanya.

Sebagai Penanggung jawab Program Imunisasi, Ibu Mardiana.Amd.Kep didampingi staf puskesmas bidan dan perawat, turun langsung ke sekolah-sekolah untuk melakukan imunisasi kepada para siswa.

Sasaran pelaksanaan imunisasi kali ini yaitu murid kelas satu dan kelas dua, yang terdiri dari 8 (Delapan) SDN yang ada di wilayah kerja Puskesmas Sanur dengan jumlah murid keseluruhan kurang lebih 300 siswa siswi yang diberikan imunisasi Campak dan DT .

Bulan imunisasi anak sekolah (BIAS) bertujuan untuk perlindungan bagi anak usia sekolah dasar terhadap penyakit Campak, Difteri dan Tetanus.

Kegiatan ini dilaksanakan secara berkelanjutan dan pelaksanaan setahun sekali pada bulan Agustus. Kegiatan ini pun disambut positif oleh kepala sekolah dan orang tua wali murid siswa.

Dan harapan kepala sekolah untuk tahun depan ada sosialisasi tentang pemberian vaksin bagi semua orang tua wali murid agar semua orang tua wali murid dapat memahami tentang tujuan pemberian vaksin pada anak2 mereka.

Saat pemberian vaksin, siswa didampingi orang tua dan wali murid agar mereka memahami cara pemberian dan manfaat dari vaksin yang diberikan.

Sebelum pemberian vaksin petugas puskesmas mengajak anak-anak bernyanyi agar mereka tidak takut dengan pemberian vaksin dan menjadi lebih rileks.

Dengan diselenggarakan acara ini, kami sebagai petugas kesehatan di Puskesmas Sanur berharap agar anak-anak sekolah dasar selalu sehat dan menjadi anak -anak yang tumbuh berkembang dan berkualitas sebagai generasi penerus bangsa.

Team KPPBM PMI DIY Siap Sukseskan Imunisasi MR

Yogyakarta (10/08/2017), Tepat pada jam 10.00 WIB, ruang pertemuan PMI DIY di penuhi dengan peserta sosialisasi kampanye imunisasi campak dan rubella. kegiatan sosialisasi tersebut dihadiri oleh Kepala Markas PMI DIY, Staf Yankessos PMI DIY, Pengurus dan Staf PMI Kabupaten/Kota se DIY, Forum Komunikasi KSR se DIY dan Team KPPBM PMI DIY.

Kegiatan ini merupakan pertemuan kedua setelah dilakukannya pertemuan antara team KPPBM bersama staf pelayanan kesehatan PMI DIY untuk melakukan kampanye imunisasi campak dan rubella. Dalam kesempatan tersebut Ibu Nonny Ardianti selaku staf Yankessos PMI DIY menyampaikan himbauan dari PMI pusat untuk melakukan kampanye imunisasi campak dan rubella di setiap PMI kabupaten/kota se-DIY dan memberikan sosialisasi seputar campak dan rubella.

Selain itu, pengurus PMI Kabupaten/kota se-DIY menyepakati dipasangnya spanduk tentang himbauan melakukan imunisasi MR di masing-masing Markas PMI Kabupaten/kota, dan akan melaksanakan perencanaan kampanye imunisasi MR.

Seto Handoko atau biasa di panggil Kak Seto dari team KPPBM juga menyampaikan kesiapan team KPPBM untuk mensukseskan kegiatan kampanye imunisasi campak dan rubella di seluruh kabupaten/kota se-DIY yang di sambut baik oleh perwakilan pengurus PMI Kabupaten/Kota se-DIY. Sebanyak 20 team KPPBM PMI DIY akan di bagi untuk 5 kabupaten yang ada di DIY untuk mendukung kegiatan kampanye imunisasi MR. “Team KPPBM DIY siap mensukseskan Jogja tanpa campak dan rubella”ujar kak seto.

Optimis, Pemprov Targetkan 95% Anak di Jatim Ikut Imunisasi Campak

Pemprov menargetkan 95 persen dari jumlah anak itu bisa divaksin MR. Sebab, kesuksesan di Jatim akan menentukan kesuksesan di level nasional.

Penyakit campak dan rubella yang telah banyak merenggut korban jiwa dan menimbulkan kecacatan membuat Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menetapkan vaksinasi measles rubella (MR) sebagai imunisasi wajib. Artinya, semua anak yang masuk usia imunisasi harus mendapatkannya secara gratis.

Tak main-main, pemerintah melalui Kemenkes mengalokasikan dana Rp 740 miliar untuk menggelar imunisasi campak atau MR ini. Imunisasi akan digelar selama dua bulan penuh mulai 1 Agustus sampai 31 September mendatang. Jawa Timur menjadi wilayah pertama pemberian vaksin menyusul daerah-daerah lain.

Chief Field Office Unicef di Jatim, Arie Rukmantara mengatakan bahwa vaksinasi MR sangat penting bagi masa depan anak. Bagi masyarakat, itu juga akan mencegah wabah campak. ”Vaksin ini akan meningkatkan kekebalan tubuh seseorang. Sehingga kalau ada virus yang menyerang, tubuh akan mempunyai pertahanan,” tuturnya dalam diskusi ruang ide bertema ‘Komitmen Jawa Timur untuk Indonesia Bebas Campak dan Rubella’ di Gedung Graha Pena Lantai 5 Surabaya, Jumat (21/7).

Gubernur Soekarwo yang hadir dalam acara itu bersama para bupati/wali kota di Jatim mengatakan bahwa kampanye imunisasi campak dan rubella merupakan investasi jangka panjang terhadap pola hidup sehat bagi masyarakat sejak usia dini.

“Semua komponen harus hadir dan menyukseskan pelaksanaan imunisasi ini. Kami akan menggerakkan bupati dan wali kota untuk menyukseskan pelaksanaan imunisasi campak dan rubella bagi anak usia 9 bulan sampai dengan 15 tahun ini,” tegas Pakde Karwo.

Dia menyatakan bahwa imunisasi merupakan bagian dari kegiatan promotif-preventif yang harus didukung dan terus didorong sebagai bagian dari politik kesehatan. “Selama ini kita terpaku pada birokrasi ad hoc. Pemerintah pusat tidak punya program promotif-preventif, yang ada kuratif,” sorotnya.

Ia mencontohkan program di puskesmas yang lebih banyak menyiapkan pengobatan untuk orang sakit. Bukan sebaliknya mencegah orang sakit dan mengampanyekan hidup sehat. “Kalau anggaran tiap puskesmas ada Rp 200 juta, yang 40 persen itu untuk biaya dokter dan 60 persen untuk biaya obat,” ujarnya. Akibatnya, berapa pun dana BPJS Kesehatan yang disiapkan pemerintah pasti akan jebol.

Dengan menggandeng Jawa Pos dan Unicef, gubernur mengajak seluruh tokoh agama, akademisi, dan pihak terkait lain mendorong seluruh masyarakat mengikutkan anaknya dalam imunisasi campak.

Total di Jawa Timur ada 8,6 juta anak yang menjadi sasaran vaksinasi MR. Pemprov menargetkan 95 persen dari jumlah anak itu bisa divaksin MR. Sebab, kesuksesan di Jatim akan menentukan kesuksesan di level nasional.

Direktur Jawa Pos Koran Leak Kustiya menegaskan pihaknya siap mendukung program imunisasi campak dan rubella di Jatim. “Jawa Pos siap menjadi bagian dari roadshow kampanye kesehatan ini,” tandasnya.

Setiap Tahun, Ada 100.000 Anak Lahir Cacat Bawaan Karena Rubella, Ubi Salah Satunya!

Setiap tahun, ada 100.000 anak lahir dengan cacat bawaan karena Rubella; Tuli, Buta, Kerusakan Otak, Kelainan Jantung, dll. Dan Ubi salah satunya!

Campak dan Rubella Monster Pembunuh yang GANAS!
367 anak Meninggal Karena campak Setiap harinya di seluruh dunia
setiap tahun, ada 100.000 anak lahir dengan cacat bawaan karena Rubella; Tuli, Buta, Kerusakan Otak, Kelainan Jantung, dll.


Ubii lahir 4 tahun lalu, kami sangat senang punya bayi cantik, kami yakin semuanya baik

Tapi…

Setelah kami bawa dia test pendengaran, ultrasound otak, dan uji TORCH
akhirnya kami tahu bahwa Ubi menderita Sindrom Kongenital Rubela
yang mengakibatkan gangguan jantung, tuli, dan keterlambatan pertumbuhan
Tapi…

Duka kami tidak berhenti sampai disitu
Dari hasil CT Scan, kami menemukan bahwa
Otak Ubi mengalami pengapuran, pengecilan, dan
Kepala ubi mengecil…

Sekali lagi kami merasa hancur
Dokter mengatakan bahwa pengapuran otaknya merusak area yang mengendalikan pengetahuan dan motoriknya

Akhirnya kami menemukan Ahli Saraf yang bagus
Dia optimis dan membakar dan semangat kami

Dia meresepkan obat dan meminta Ubi untuk difisoterapi sesering mungkin
Tapi…

Lihatlah video kami hingga selesai dibawah ini…

“Hal terbesar yang dapat kita beri kepada anak kita yang berkebutuhan khusus
BUKANLAH alat bantu dengar terbaru atau alat terapi…
TAPI PENERIMAAN, CINTA, KEPERCAYAAN, DAN HARAPAN”

Dear Ubii,
Mama akan berjuang bersamamu
Para orang tua anak berkebutuhan khusus
Bertahanlah dan mari berjuang bersama

Cinta,
Grace Melia
Pendiri Grup RRR (Rumah Ramah Rubella)
https://www.facebook.com/gracie.melia

Anak Anda Belum Imunisasi Campak dan Rubella? Ini Resikonya!

Jika anak tidak memperoleh imunisasi campak rubella, dikhawatirkan sang anak akan mengalami tuli, buta, hingga cacat, karena itu wajib diberikan.

Sekitar 34 juta anak yang berada di Pulau Jawa akan mendapatkan imunisasi Measles dan Rubela (MR) selama Agustus dan September 2017 untuk mencegah penyakit campak dan rubella. Jika tak memperolehnya, dikhawatirkan sang anak akan mengalami tuli, buta, hingga cacat.

Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Mohamad Subuh mengatakan, imunisasi ini sifatnya wajib diberikan pada anak berusia sembilan bulan hingga 15 tahun. Imunisasi ini, kata dia, sifatnya wajib karena hak anak sesuai dengan undang-undang (UU) Kesehatan dan UU Perlindungan Anak.

“Lagipula (jika tak memperoleh imunisasi MR) maka penyakit rubella dan campak ini menyebabkan kecacatan, tuli hingga buta,” katanya.

Untuk itu, ia mengaku Kemenkes terus melakukan sosialisasi imunisasi ini sebagai upaya pencegahan penyakit campak dan rubella. Ia menyebutkan, imunisasi ini akan dilakukan di sekolah-sekolah dan tempat pelayanan kesehatan seperti pusat kesehatan masyarakat (puskesmas), pos pelayanan terpadu (posyandu), hingga pondok bersalin desa (polindes).

Subuh meminta para guru dan orang tua untuk mau koordinasi membawa anaknya untuk mendapatkan imunisasi ini. “Jangan takut, efeknya kecil sekali,” katanya.

Efek yang ditimbulkan, kata dia, biasanya panas. Jika memang sang anak mengalami panas, ia menyebut bisa diberikan obat penurun panas seperti parasetamol. Namun, jika kondisinya tak bermasalah tidak perlu diberikan apa-apa.

Mohamad Subuh mengatakan pemerintah secara bertahap ingin menerapkan health universal coverage yang artinya seluruh sasaran atau anak harus terjangkau. Sehingga pelaksanaannya bertahap. Untuk tahun ini, pemerintah melakukan soft launching imunisasi MR khusus di Pulau Jawa dengan populasi sekitar 34 juta anak berusia sembilan bulan hingga 15 tahun.

“Imunisasi ini sifatnya wajib untuk seluruh anak yang lahir di Indonesia. Pelaksanaan dilaksanakan selama dua bulan yaitu Agustus hingga September 2017,” katanya.

Untuk imunisasi di bulan Agustus akan dilaksanakan di sekolah-sekolah. Kemudian bulan berikutnya pemberian imunisasi ini akan dilakukan di fasilitas kesehatan dan tempat pelayanan kesehatan seperti pusat kesehatan masyarakat (puskesmas), pos pelayanan terpadu (posyandu), hingga pondok bersalin desa (polindes).

“Imunisasi ini dilakukan sekali seumur hidup dan wajib diberikan karena ini adalah hak anak yang diatur dalam undang-undang (UU) Kesehatan dan UU Perlindungan Anak,” ujarnya.

Kemenkes menargetkan capaian keterjangkauan imunisasi ini 95 persen. Vaksin yang diproduksi Biofarma yang bekerja sama dengan pihak luar ini kini telah memasuki pekan terakhir distribusi ke seluruh sasaran ke pelayanan seluruh Pulau Jawa. Setelah pelaksanaan imunisasi MR tahun ini, Subuh menyebut pelaksanaan dilakukan di seluruh wilayah Indonesia selama periode Agustus dan September 2018.

Imunisasi ini rencananya akan diberikan pada seluruh anak Indonesia yaitu sekitar 67 juta. Namun, ia menegaskan jika telah memperoleh imunisasi, tak perlu mengulang untuk memperolehnya karena imunisasi ini hanya perlu diberikan sekali seumur hidup.

Sumber republika.co.id