Keren! Usia Sudah Kepala 8, Dua Nenek Ini Masih Aktif Jadi Kader Posyandu

Meski usia sudah tak muda, mereka berdua masih aktif sebagai Kader Posyandu. Tak jarang harus berjalan kaki 10 km lebih dari rumah menuju tempat posyandu.

Di samping kanan kiriku ini, berdiri dua sosok wanita tangguh. Wanita tangguh yang usianya sudah tidak muda lagi. Jika dihitung kira-kira sudah >85 tahun.

Tahukah siapa mereka?

Mereka berdua adalah Kader Kesehatan. Tidak hanya Kader Posyandu namun juga menjadi Kader Kesehatan Lingkungan di Dusun Betumonga Timur, Desa Betumonga, Kecamatan Saumanganyak, Kabupaten Kepulauan Mentawai.

Sudah bukan menjadi cerita baru lagi jika Mentawai merupakan salah satu daerah yang masih tergolong DTPK (Daerah Terpencil, Pedalaman, dan Kepulauan) dan DBK (Daerah Bermasalah Kesehatan). Rupa menonjol dari alamnya adalah medan yang masih susah sekali untuk dijamah. Bahkan sekedar akses jalan mulus pun gak semua titik ada. Babat alas adalah salah satu cara untuk bisa mengakses jalan dari satu dusun ke dusun lainnya.

Dengan alam yang kadang tak ramah itu, mereka menghabiskan masa tuanya untuk melayani masyarakat di setiap sudut dusun yang daerahnya jauh sekali di dalam Pulau Pagai Utara. Bahkan mereka tak jarang harus berjalan kaki 10 km lebih dari rumahnya menuju tempat posyandu.

Di usia yang tidak lagi muda, mereka melakukan itu semua.

Tidakkah kita malu?

Kepada segala pelayanan yang diabdikan dan pengabdian yang diberikan? Jika kita sebagai tenaga kesehatan yang masih diberikan usia muda dengan tubuh masih kuat bugar tidak mau berbuat lebih seperti mereka?

Tidakkah kita malu?

Saat kita tidak mau turun pelayanan jika tidak ada transportasi tersedia lantaran akses yang jauh. Tidak mau turun pelayanan jika tidak ada uang jalan. Tidak mau turun pelayanan jika tidak ada dana operasional untuk programnya. Atau berjuta alasan lainnya.

Tahu tidak? Insentif sebagai kader tidak rutin turun setiap bulan seperti gaji kita. Bahkan pada beberapa daerah, kader benar-benar melayani tanpa ada penghargaan atas jasa-jasanya.

Tidakkah kita malu?

Copot saja gelar sebagai tenaga kesehatan jika hati kita tidak tergerak untuk berbuat lebih dengan alasan-alasan tadi.
_

Ini bukan tentang menyalahkan siapa-siapa terlebih tenaga kesehatan.

Ini hanyalah cara saya, cara untuk merawat dan melaksanakan sumpah yang saya angkat saat saya dikukuhkan sebagai tenaga kesehatan. Karena saya juga tenaga kesehatan.

#30HBC #30haribercerita #refleksidiri #pencerahnusantara #pencerahmentawai #sayapencerah

Refleksi Pelantikan Laskar Nusantara Sehat

Belum genap satu tahun peluncuran Laskar Nusantara Sehat  di Kecamatan Kateman sudah kembali melantik kadernya lagi.

Pelantikan Laskar Nusantara Sehat di Kuala Selat dilakukan 30 Juli lalu, dan dilantik 12 Agustus 2017 kemarin di Aula Puskesmas Sungai Guntung. Pelantikan ini dilakukan untuk melanjutkan program Team Based  Nusantara Sehat penempatan UPT Puskesmas Sungai Guntung yang sudah digalakkan setahun lebih.

Lantas, setelah dilantik, apa saja tugas laskar nusantara sehat?

Program khusus untuk anak remaja atau lebih tepatnya Siswa/Siswi SMA/SMK/MA serta SMP/MTs  merupakan jawaban atas kebutuhan kesehatan di lingkungan sekolahnya. Mereka dipilih untuk mewakili setiap sekolah untuk menjadi contoh kader kesehatan. Atau seperti perpanjangan tangan nakes  puskesmas untuk memberikan pendampingan kesehatan.

”28 Oktober 2016 yang lalu, kami UPT Puskesmas Sungai Guntung telah melakukan launching (peluncuran) Laskar Nusantara Sehat yang bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda. Bertempat di Lapangan Balai Rakyat Kecamatan Kateman yang disaksikan oleh Fokipimcam (Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan), Guru, serta masyarakat umum.” Kata Kapus Zainuddin, SKM

Tujuan pelantikannya kepada siswa/siswi yang terpilih bisa menjadi pendamping atau konselor bagi rekan-rekannya di sekolah dan di lingkungan tempat tinggalnya terkait dengan masalah-masalah  kesehatan atau bisa juga menjadi teman curhat konseling kesehatan.

Pelatihan Laskar Nusantara Sehat Sungai Guntung

“Kami sangat mendukung langkah Nusantara Sehat untuk mengadakan kegiatan positif seperti ini di Kecamatan Kateman. Hal ini dapat meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan kepada siswa-siswi sekolah.“ Kata Kamren, S.Sos, Msi Camat Kecamatan Kateman

Besar harapan Team  Based Nusantara Sehat yang 2 bulan efektif waktu selesai penugasan, laskar nusantara sehat ini dapat memberikan perubahan sebagai kader yang melanjutkan inovasi kesehatan di sekolahnya. Tentunya mereka sudah dilatih dari kegiatan rutin yang telah dilakukan semasa bertugas di UPT Puskesmas Sungai Guntung.

Kader Kesehatan Tomohon Dibekali Program P4K

Kepala Dinkes Tomohon menjelaskan, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan kader tentang P4K dan terdatanya status ibu hamil.

Pelatihan kader kesehatan Kota Tomohon kaitan program pendampingan perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi (P4K), digelar di Aula Tulip Inn Hotel, Kelurahan Paslaten I, Tomohon Timur, Rabu (3/5).

Kadis Kesehatan, dr Deesje Liuw MBiomed menjelaskan, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan kader tentang P4K dan terdatanya status ibu hamil.

Selain itu, juga agar terpasangnya stiker P4K di setiap rumah ibu hamil serta tersedianya persiapan pendampingan persalinan. Untuk proses persalinan termasuk menghadapi kegawatdaruratan ibu hamil, bersalin dan bayi baru lahir.

“Kegiatan ini berlaku dari 3 sampai 4 Mei 2017. Pesertanya, yakni para koordinator kader di wilayah kerja Puskesmas se-Kota Tomohon yang berjumlah 44 orang,” terang Liuw.

Wali Kota Tomohon, Jimmy F Eman SE Ak saat membuka kegiatan mengatakan, penyebab dan latar belakang kematian ibu saat melahirkan sangat kompleks.

Untuk itu, upaya percepatan penurunan jumlah kematian memerlukan penanganan menyeluruh. Katanya, tentu dengan melibatkan sektor terkait, bahkan organisasi masyarakat seperti PKK dan kader kesehatan.

“Sejalan dengan rencana pembangunan jangka menengah nasional 2015-2019, Pemerintah Provinsi Sulut dan Pemerintah Kota Tomohon berupaya keras untuk mencapai target yang ada,” sebut Eman.

Adapun target yang telah ditetapkan, di antaranya perbaikan derajat kesehatan ibu dan bayi dengan melibatkan semua pemangku. Hal ini memerlukan tekat dan target kerja nyata menggunakan sumber daya yang telah tersedia.

“Untuk itu diperlukan tim kerja yang efektif, sinergis dan berkesinambungan dari tingkat kota sampai tenaga kesehatan di kelurahan. Salah satu pendorong akan hal ini, yakni seperti kegiatan pelatihan kader saat ini,” tutup Eman.

Hadir sebagai pemateri, Kepala Seksi Promkes Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Daerah Provinsi Sulut, dr Rima Lolong M Kes bersama stafnya, Dorlentji Hangewa SKM.

Diketahui, peran serta tanggung jawab para kader, yaitu mengajak keluarga dan masyarakat untuk peduli kesehatan ibu hamil dan nifas. Juga mengoptimalkan P4K dan Posyandu. Terakhir, mengajak masyarakat mencegah pernikahan dini pada remaja.

SUMBER