Cegah Kanker Payudara dan Kanker Serviks, Ibu-Ibu Ini Antusias Ikuti Posbindu PTM

Nunukan – 5/9, Kegiatan posbindu PTM kali ini tentang pencegahan kanker payudara dan kanker serviks yang kami laksanakan di Desa Tembalang.

Nunukan – 5/9, Kegiatan posbindu PTM kali ini tentang pencegahan kanker payudara dan kanker serviks yang kami laksanakan di Desa Tembalang.

Sebelum memberikan pelayanan kesehatan, kami terlebih dahulu memberikan edukasi tentang kesehatan seputar kanker payudara dan kanker mulut rahim. Sebagai narasumber saya sendiri dibantu oleh Ibu Husnul selaku Bidan Pustu.

Penyuluhan Kesehatan Masyarakat di Puskesmas Sanur

Di wilayah kerja Puskesmas Sanur, tingkat pengetahuan masyarakat terhadap kanker payudara dan kanker mulut rahim masih sangat rendah.

Untuk Puskesmas Sanur sendiri, kami mempunyai tenaga kesehatan yang terlatih dalam melakukan pemeriksaan IVA Tes, satu Dokter Umum, Ibu Hj dr Ulan Dari, dan Bidan Ibu Hj Niah Susianti.

Semua perserta yag hadir belum pernah melakukan pemeriksaan IVA Tes atau sekrining kanker mulut rahim dan kanker payudara.

Puskesmas sanur sudah dua kali melakukan kegiatan masal pemeriksaan IVA Tes dan Sadanis, dan hasilnya negatif. Pemeriksaan dilakukan GRATIS tidak dipungut biaya.

Selama kegiatan berlangsung, antusias ibu-ibu sangat tinggi dari awal kegiatan sampai akhir mengikuti kegiatan.

Harapan kami agar masyarakat sadar dengan kesehatannya sendiri dan semua warga yang ada di wilayah kerja Puskesmas Sanur khususnya wanita yang sudah menikah, 100% telah melakukan pemeriksaan IVA Tes dan Sadanis.

Dan ibu-ibu dapat melakukan pemeriksaan secara mandiri untuk pemeriksaan tanda-tanda kanker payudara. Jika ditemukan benjolan di payudara, bisa langsung memeriksakan ke pelayanan kesehatan.

Petugas Kesehatan Puskesmas Sanur Tulin Onsoi

Mendagri: 3 Permasalahan Kesehatan Ini Perlu Perhatian Lebih Dari Kepala Daerah

Mendagri Tjahjo Kumolo menyebut ada tiga permasalahan kesehatan yang perlu mendapat perhatian lebih, yaitu anak, kematian ibu hamil, dan kanker serviks.

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo menyebut ada tiga permasalahan kesehatan yang perlu mendapat perhatian lebih. Tiga hal tersebut adalah masalah anak, kematian ibu hamil, dan kanker serviks.

“Tiga hal ini saya rasa harus mendapat perhatian. Yang diinginkan Pak Presiden adalah akhir tahun ini infrastruktur sosial dan kesehatan bisa selesai dengan baik,” kata Tjahjo dalam pidatonya di Rakernas X Asosiasi Rumah Sakit Daerah Seluruh Indonesia (ARSADA) di Hotel Mercure Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (23/8/2017).

Menurutnya, salah satu cara agar infrastruktur sosial dan kesehanan terwujud adalah dengan adanya pertumbuhan ekonomi yang baik. Stabilitas ekonomi di tingkat paling bawah juga menurutnya sangat penting.

“Trennya sekarang, masyarakat Indonesia kalau sakit ingin bermalam di rumah sakit. Banyak pihak swasta yang ingin membangun rumah sakit, jadi ini baik untuk memberikan layanan dan fasilitas kepada masyarakat dan pastinya nggak akan rugi jika membangun ini,” sebutnya.

Tjahjo mengatakan koordinasi antara pihak juga harus terus terjalin dengan baik. Dengan begitu penanganan layanan kesehatan untuk masyarakat bisa lebih maksimal.

“Saya Kemendagri, Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi adalah bagian yang tidak terpisahkan. Kita harus terus berkoordinasi untuk menangani masalah kesehatan dan masalah-masalah lainnya dengan baik,” tuturnya.

Tjahjo menambahkan, pelayanan kesehatan kepada masyarakat harus terus ditingkatkan. Pelayanan tersebut menurutnya juga termasuk dalam penyelenggaraan otonomi daerah.

“Penyelenggaraan upaya kesehatan ini suatu hal yang prinsip di otonomi daerah. Ini wajib dilaksanakan. Kepala daerah bisa dikatakan berhasil jika mampu memberikan kesehatan gratis dan pendidikan gratis kepada masyarakat. Jadi pelayanan kesehatan ini harus terus ditingkatkan,” tuturnya.

Sumber detik.com

Hoax Liar Kanker Serviks, Dari Timun Sampai Air Es

Kaltim Post meluruskan informasi tersebut setelah mewawancarai ahlinya, dokter spesialis obgyn dan ginekologi serta ahli gizi, dr Marihot Pasaribu SpOG.

SEBUAH broadcast yang sulit dipertanggungjawabkan beredar liar. Bikin khawatir perempuan. Yakni, seputar penyebab kanker serviks. Pesan siaran tersebut berisi imbauan, larangan mengonsumsi air es, minuman bersoda, dan kelapa saat haid. Tak boleh pula melahap mentimun karena getahnya menyebabkan haid tersisa di dinding rahim. Perempuan juga tak boleh terbentur, terjatuh dan terpukul oleh benda keras, terutama bagian perut. Karena bisa menyebabkan muntah darah dan rahim bisa terluka. Semuanya dikatakan dapat menyebabkan kista dan kanker rahim. (lihat grafis broadcast asli). Pantauan media ini, broadcast ini menyebar sejak 2014. Belakangan kembali ramai “menyapa” media sosial (medsos), khususnya WhatsApp (WA) dan BlackBerry Messenger (BBM).

Hoax Liar Kanker Serviks

Agar publik tak kebingungan, Kaltim Post meluruskan informasi tersebut dengan mewawancarai ahlinya. Yakni, dokter spesialis obgyn dan ginekologi serta ahli gizi. Menurut dr Marihot Pasaribu SpOG, informasi tersebut adalah hoax. Riset yang membuktikan minum es saat haid bisa menyebabkan darah tersisa di dinding rahim dan menyebabkan kista, menurutnya, tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Dia menjelaskan, ada dua jenis utama kista. Fisiologis (normal) dan patalogis (tidak normal). “Jenis kista yang dialami bisa diketahui melalui pemeriksaan ultrasonografi (USG). Endometriosis adalah kista patalogis. Gejalanya ditandai dengan nyeri haid yang tak biasa, pendarahan, haid berlebih, dan gangguan kesuburan,” ujarnya, Rabu (14/6).

Dokter di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Thaha Bakrie, Samarinda, tersebut menyarankan perempuan untuk tak segan memeriksakan diri jika merasakan gejala tersebut. Agar mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat, sesuai dengan gejala yang dirasakan. “Menjalankan pola hidup yang sehat dapat membantu meminimalisasi risiko penyakit kista. Konsumsi makanan sehat, berolahraga atau aktivitas fisik, serta istirahat yang teratur,” terangnya.

Beda pula dengan kanker serviks. Adalah human papillomavirus (HPV) yang menyerang serviks sehingga menyebabkan kanker. Ahli gizi Ratih Wirapuspita Wisnuwardani mengatakan, broadcast seputar kista dan kanker serviks itu hoax. “Sampai saat ini, hal tersebut hanyalah hoax dan tidak dapat dipercaya. Sistem reproduksi dan sistem pencernaan adalah dua sistem yang berbeda, sehingga tidak langsung berhubungan. Dengan demikian mengonsumsi makanan dan minuman, tidak langsung menyebabkan kista dan kanker rahim,” terangnya, Rabu (14/6).

Dosen di Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), Universitas Mulawarman (Unmul), Samarinda, tersebut memaparkan saat haid masih boleh mengonsumsi air es, soda, atau air kelapa. Sebagai catatan, air soda, orang yang tidak haid pun dianjurkan untuk membatasi konsumsinya. Sebab, air soda merupakan minuman tak sehat. Rentan memicu diabetes, hipertensi, dan penyakit lain, jika diminum terlalu sering. Sementara itu, kelapa mengandung banyak elektrolit dan baik bagi semua orang. Sedangkan air es, hanyalah suhu yang berbeda, di mana dibedakan saat penyerapannya.

Untuk keramas, lanjut dia, sangatlah baik terutama di daerah yang panas. Orang yang sedang haid, berarti dalam keadaan yang tidak bersih. Jadi, perlu untuk membersihkan dirinya agar segar. “Mentimun ini juga bagus, tinggi antioksidannya. Jadi, dapat dikonsumsi oleh orang yang haid maupun tidak,” terangnya.

Bahkan, timun disarankan dikonsumsi setelah makan ikan bakar, ayam bakar, daging steak. Sebab, bagian gosong makanan tersebut bersifat karsinogenik (memicu kanker). Sedangkan mentimun punya zat penangkalnya. “Terbentur, terjatuh, dan terpukul benda keras pada bagian perut, tidak membuat rahim langsung terbuka,” ujar perempuan yang studi di Nutrition and Food Safety Unit, Public Health Department, Faculty Medicine and Health Science, Ghent University, Belgia, itu.

Dia mengatakan, faktor risiko munculnya kanker rahim adalah faktor genetik (riwayat keluarga), gaya hidup, merokok, makanan tidak sehat dan faktor eksternal lainnya. Sementara itu, faktor eksternal yaitu rahim yang terpapar infeksi HPV karena berhubungan seks dengan pasangan yang terpapar HPV.

Sumber kaltim.prokal.co

Cegah Kanker Serviks Seperti yang Diderita Jupe dengan IVA Test

Menteri Kesehatan (Menkes) Nila F. Moeloek mengajak seluruh perempuan di Indonesia untuk melakukan IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat) Test.

Berbeda dengan kanker payudara yang bisa diketahui dari salah satu gejala berupa benjolan, kanker serviks amat sulit dideteksi. Makanya tak heran kalau penyakit ini sering bilang “pembunuh dalam senyap”.

Oleh sebab itu, Menteri Kesehatan (Menkes) Nila F. Moeloek mengajak seluruh perempuan di Indonesia untuk melakukan IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat) Test.

“Pesan saya, tolong tularkan IVA test ini, beri penjelasan kepada tetangga, teman, semuanya agar mereka mau memeriksa dirinya,” kata Menkes dalam sambutannya pada acara Deteksi Dini Kanker Serviks dan Payudara Tes IVA dan SADANIS, Jakarta.

Dengan melakukan tes IVA, maka bisa diketahui bila seseorang positif pra kanker (sebelum kanker) atau tidak.

Prosedur tesnya sederhana. Hanya dengan menggunakan asam asetat yang dioleskan ke leher rahim. Setelah itu, tinggal menunggu tanda ada atau tidaknya bercak putih dalam rahim.

“Ada bercak putih bukan berarti positif kanker, kita mulai mencurigai pra kanker artinya sebelum kanker. Jadi bisa diobati langsung,” terang Menkes.

Saat ini, tes IVA sudah bisa dilakukan di Puskesmas. Biayanya pun terbilang murah, sekitar Rp25 ribu. Berdasarkan data Kemenkes, kurang satu juta wanita yang melakukan tes ini pada tahun 2007-2014.

Namun, ditahun selanjutnya bertambah sekitar 400 ribu. Kini, setidaknya ada 1,2 juta wanita yang sudah melakukan tes Iva.

Cegah Kanker Serviks, Kemenkes Dorong Vaksinasi Nasional

Mengingat pentingnya pencegahan kanker serviks, Kemenkes tengah berupaya untuk merencanakan imunisasi vaksin HPV ke dalam program imunisasi nasional.

Mengidap kanker serviks stadium empat membuat kondisi tubuh artis Julia Perez terus mengalami penurunan. Sejak dirawat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, penyanyi dangdut itu juga telah menjalani sejumlah pengobatan untuk melawan kanker yang ia derita.

Kanker serviks atau kanker leher rahim yang diderita Jupe, demikian ia biasa disapa, termasuk salah satu jenis kanker yang berbahaya, dan dikabarkan menempati urutan ke-dua yang menyerang perempuan Indonesia setelah kanker payudara.

Mengingat pentingnya pencegahan kanker serviks, Kementerian Kesehatan RI tengah berupaya untuk merencanakan imunisasi vaksin Human Papilomavirus (HPV) ke dalam program imunisasi nasional. Namun, hal tersebut masih tersendat pada anggaran yang dibutuhkan untuk pembelian vaksin.

“Kami memang merencanakan untuk membuatnya jadi program nasional supaya tidak terbatas di provinsi tertentu saja, tapi masalahnya vaksin itu masih impor dan cukup mahal sehingga kami akan ajukan ke DPR, karena ini masuk masalah anggaran,” ungkap Elizabeth Jane Soepardi, Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan, Kementerian Kesehatan, saat dihubungi CNNIndonesia.com, di Jakarta, pada Senin (17/4).

Pengajuan anggaran tersebut disertai sejumlah data pendukung. Jane mengatakan, ada dua provinsi yang jadi percontohan pemberian vaksin HPV yang dijadikan acuan data kepada DPR. Kedua provinsi itu adalah DKI Jakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Meski demikian, Jane mengatakan, tidak menutup kemungkinan anggota DPR akan langsung memutuskan pentingnya vaksin HPV dari contoh kasus kanker serviks yang dialami Jupe. Hal itu untuk membantu perempuan lainnya di Indonesia agar tercegah dari kanker serviks sejak dini.

“Tapi, kalau dari DPR melihat kasus Jupe sekarang, dan tidak akan menunggu untuk program imunisasi tersebut, bisa saja. Nanti dari DPR akan ke Kementerian Keuangan,” tuturnya.

Yang terpenting, kata Jane, bagaimana cara supaya pembelian vaksin tersebut tidak putus di tengah jalan lantaran anggaran habis.

Tidak ditanggung BPJS

Hingga saat ini, pemberian vaksin untuk mencegah kanker serviks belum ditanggung Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Jane mengatakan masyarakat harus secara mandiri membayar imunisasi yang terbilang mahal itu, dan tidak menyebutkan berapa dana yang harus dikeluarkan. Mahalnya biaya vaksin, yang ditengarai mencapai jutaan, membuat upaya vaksin HPV tidak banyak dilakukan.

Namun, Jane berharap, BPJS mau membantu meringankan beban masyarakat untuk biaya vaksin. “BPJS tidak menanggung vaksin, dia hanya mengobati yang sudah sakit. Tapi, kami berharap BPJS dapat menanggung dan menjadi seperti syarat penting untuk masyarakat supaya dapat wajib vaksin HPV,” tuturnya.

Vaksin HPV diberikan kepada perempuan berusia 9-13 tahun untuk tahap satu dan dua. Tidak menutup kemungkinan vaksin ini diterima juga oleh masyarakat yang berusia hingga 40 tahun. Jane mengatakan, efektifnya vaksin HPV diterima oleh perempuan yang belum pernah berhubungan seksual. Hal itu untuk mencegah masuknya virus dari hubungan seksual tersebut.

“Sudah ada penelitian, yang efektif itu (vaksin HPV) diberikan kepada mereka yang belum berhubungan, kalau sudah berhubungan bisa jadi ada virus yang terbawa,” ucapnya.

Untuk selanjutnya, pencegahan dapat dilakukan dengan pap smear. Namun, perempuan harus rutin melakukan pemeriksaan tersebut agar tidak terserang virus.

SUMBER

Wah, Kanker Serviks Karena Pernikahan Dini, Ini Alasannya

Di Indonesia, kasus kanker serviks atau kanker mulut rahim masih tinggi. Salah satu penyebabnya adalah pernikahan dini.

Di Indonesia, kasus kanker serviks atau kanker mulut rahim masih tinggi. Salah satu penyebabnya adalah pernikahan dini. Berdasarkan Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) 2010, pernikahan di bawah usia 19 tahun mencapai 45%.

Ketua Himpunan Ongkologi Ginekologi Indonesia Prof Dr dr Andrijono Sp OG(K) menjelaskan pada usia tersebut leher rahim belum cukup matang karena itu hubungan seks di usia muda rentan menimbulkan infeksi HIV dan memicu kanker. Kondisi ini diperparah jika daya tahan tubuh lemah.

“Di usia tersebut leher rahim belum matang. Selain itu, selaput dara juga bisa menahan infeksi virus lewat hubungan seksual,” kata Prof Andrijono saat jumpa pers di Hongkong Cafe, Jakarta, Selasa 11 April 2017.

Seperti diketahui, kanker serviks disebabkan oleh virus human papillomavirus (HPV) yang ditularkan melalui hubungan seks. Kanker jenis ini juga menjadi penyebab kematian nomor dua pada wanita setelah jantung koroner. Kendati demikian, kanker serviks bisa dicegah dengan cara pemberian vaksin HPV.

Prof Andrijono mengatakan vaksin ini bisa mencegah kanker serviks hingga 100%. Oleh karena itu, penting melakukan vaksinasi sejak usia dini, khususnya saat usia 10 tahun. Tak hanya menyebabkan kanker serviks, pada pria, virus HPV bisa memicu kutil kelamin, kanker anus serta kanker tenggorokan.

“Kalau vaksinasi dilakukan saat lulus SMA, kita kecolongan. Bila diberikan di usia 10 tahun, anak sudah terlindungi sejak dini. Kalau infeksi HPV bisa dicegah, kanker serviks juga bisa dicegah. Kanker serviks penyebabnya sudah diketahui dan cuma jenis kanker ini yang ada vaksinnya,” pungkasnya.

SUMBER

5 Cara Diet Tepat Untuk Pasien Kanker Serviks

Ahli gizi akan memantau status gizi dari awal hingga pengobatan selesai, membuat modifikasi yang diperlukan untuk meminimalisir efek samping dengan mempercepat proses penyembuhan.

Banyak pasien kanker yang mengalami gangguan pencernaan. Konsultasi dengan ahli gizi merupakan langkah yang tepat karena tak hanya untuk mengatasi gangguan sistem pencernaan tapi juga bisa dapat rekomendasi diet yang tepat selama pengobatan.

Ahli gizi akan memantau status gizi dari awal hingga pengobatan selesai, membuat modifikasi yang diperlukan untuk meminimalisir efek samping dengan mempercepat proses penyembuhan.

Termasuk bagi pasien kanker serviks, setidaknya perlu dipahami makanan apa saja yang disarankan untuk dikonsumsi guna memberi efek penyembuhan selain metode pengobatan yang dijalani, dikutip laman Healwithfood.

  1. Makanan dengan indeks glikemik rendah

Pola makan dengan tinggi karbohidrat dan indeks glikemik tinggi telah lama dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker, termasuk kanker serviks. Makanan dengan indeks glikemik rendah merupakan dasar dari pola makan anti-kanker.

Indeks glikemik ini adalah ukuran kemampuan makanan terhadap kenaikan kadar gula dalam darah. Umumnya makanan dengan indeks glikemik rendah itu berupa makanan yang lambat dicerna seperti sayuran, kacang-kacangan dan buah yang membuat kadar gula dalam darah lebih stabil.

  1. Hindari protein berlebih

Seorang peneliti kanker asal Skotlandia pada abad 20, John Beard mengusulkan bahwa pertahanan utama tubuh terhadap sel kanker adalah pancreatin. Senyawa ini pada dasarnya campuran enzim protein yang sudah dicerna.

Para ahli menyarankan bahwa tubuh membutuhkan waktu untuk bebas protein setidaknya 12 jam dalam sehari untuk memerangi sel kanker. Karenanya, hindari konsumsi protein berlebih agar tubuh mampu mengolah protein lebih efektif.

  1. Konsumsi makanan yang kaya I3C

Sayuran seperti brokoli, kubis, kembang kol dan kale disebut-sebut memiliki kemampuan untuk mencegah kanker, termasuk kanker serviks. Hal itu disebabkan oleh kandungan indole-3-carbinol (I3C) yang terbentuk ketika sayuran dicincang atau dikunyah. Perlu diketahui, I3C ini memiliki sifat detoksifikasi sama seperti antioksidan yang mampu menangkal radikal bebas.

  1. Curcumin

Curcumin berupa fitokimia yang ada pada kunyit dan telah terbukti ampuh melawan semua jenis kanker. Para peneliti dari Institute of Cytology dan Pencegahan Oncology (ICPO) di New Delhi, India baru-baru ini menemukan fakta bahwa curcumin dapat melawan kanker serviks sekaligus melindungi tubuh dari Human Papilloma Virus (HPV) yang jadi penyebab utama kanker serviks dan rahum.

  1. Konsumsi makanan dengan asam ellagic

Untuk melawan kanker serviks, asam ellagic berperan penting. Bukti ilmiah telah menunjukkan bahwa asam ellagic secara efektif bisa menghilangkan penyebab kanker serviks serta berfungsi sebagai detoks racun. Asam ellagic terdapat pada buah berry merah seperti raspberry dan kacang-kacangan seperti kenari dan pecan.

5 Hal Yang Wanita Perlu Tahu Soal Kanker Serviks

Berikut adalah hal-hal yang perlu wanita ketahui tentang kanker serviks, mulai dari pernikahan dini sampai dengan penggunaan pil KB dalam waktu lama.

Kanker serviks adalah kanker yang muncul pada leher rahim wanita. Leher rahim sendiri berfungsi sebagai pintu masuk menuju rahim dari vagina. Semua wanita dari berbagai usia berisiko menderita kanker serviks. Tapi, penyakit ini cenderung memengaruhi wanita yang aktif secara seksual.

“Untuk penderita kanker serviks, jumlahnya juga sangat tinggi. Setiap tahun tidak kurang dari 15.000 kasus kanker serviks terjadi di Indonesia. Itu membuat kanker serviks disebut sebagai penyakit pembunuh wanita nomor 1 di Indonesia,” Prof.DR.dr. Aru Wicaksono, Ketua Yayasan Kanker Indonesia (YKI)

Berikut adalah hal-hal yang perlu wanita ketahui tentang kanker serviks :

  1. Pernikahan Dini Picu Kanker Serviks
    Pada usia tersebut leher rahim belum cukup matang karena itu hubungan seks di usia muda rentan menimbulkan infeksi HIV dan memicu kanker. Kondisi ini diperparah jika daya tahan tubuh lemah. Di usia tersebut leher rahim belum matang. Selain itu, selaput dara juga bisa menahan infeksi virus lewat hubungan seksual.
  2. Toilet Kotor Bisa Sebarkan Virus Kanker Serviks
    Kaum wanita harus ekstra waspada, sebab ternyata penyebab kanker serviks juga bisa akibat penggunaan fasilitas umum seperti toilet. Kita tidak pernah tahu virus dan kuman jenis apa yang ada di fasilitas umum. Jadi, harus berhati-hati jika menggunakan toilet yang mungkin sudah digunakan penderita kanker mulut rahim ini sebelumnya.
  3. Perokok Aktif
    Tembakau mengandung banyak bahan kimia yang dapat membahayakan tubuh. Wanita yang merokok dua kali lipat lebih beresiko terkena kanker serviks daripada wanita yang tidak merokok.
  4. Diet Rendah Buah-Buahan dan Sayuran
    Wanita yang dietnya tidak terdiri dari cukup buah-buahan dan sayuran diketahui memiliki risiko lebih tinggi untuk terkena kanker serviks.
  5. Penggunaan Pil KB dan Intrauterine Jangka Panjang
    Ada bukti bahwa penggunaan kontrasepsi oral berkelanjutan dalam waktu lama meningkatkan resiko kanker serviks. Sebuah studi terbaru menemukan bahwa wanita yang belum pernah menggunakan perangkat intrauterine (IUD, perangkat kontrasepsi yang ditanamkan ke dalam rahim untuk mencegah kehamilan) berisiko untuk terkena kanker serviks.

Pada tahap awal, kanker serviks biasanya tidak memiliki gejala. Gejala kanker serviks yang paling umum adalah pendarahan pada vagina yang terjadi setelah berhubungan seks, di luar masa menstruasi, atau setelah menopause. Meski terjadi pendarahan, belum berarti menderita kanker serviks. Jika dicurigai terdapat kanker serviks, sebaiknya menemui dokter spesialis.

*Diolah dari berbagai sumber.

Meski Gratis, Layanan Deteksi Dini Kanker Rahim Ini Masih Jarang Dimanfaatkan Masyarakat

Tingkat kesadaran masyarakat melakukan IVA test masih sangat rendah, jelas Sekteraris Dinas Kesehatan Kota (DKK), meskipun layanan ini Gratis.

Layanan deteksi dini kanker rahim yang sering disebut Inspeksi Visual dengan Asam Asetet (IVA) test, diketahui belum banyak diakses masyarakat, kendati fasilitasi ini diberikan secara gratis. Padahal, pemeriksaan dini potensi kanker rahim ini, sangat penting bagi kalangan ibu-ibu berusia lebih dari 40 tahun yang tergolong rentan menderita penyakit mematikan itu.

Tingkat kesadaran masyarakat melakukan IVA test masih sangat rendah, jelas Sekteraris Dinas Kesehatan Kota (DKK), Purwanti menjawab wartawan, di Balaikota, Rabu (12/4/2017), sehingga perlu upaya lain menggerakkan minat warga. Kemungkinan terbaik memperluas jangkauan layanan IVA test, melakukan jemput bola lewat program ketuk pintu dengan mendatangi rumah-rumah penduduk melakukan pemeriksaan di rumah masing-masing.

Berdasar pengalaman sebagimana dilakukan dalam penanganan pengidap Tuberkoluse (TB), program ketuk pintu, menurutnya, cukup efektif. Tingkat kesadaran penderita TB untuk memeriksakan diri, selama ini juga relatif rendah, namun melalui program ketuk pintu, ratusan pasien baru dapat terlayani secara maksimal. “Sistem ketuk pintu juga akan diterapkan dalam pelayanan IVA test, dengan menggandeng pengurus PKK di tingkat Rukun Tetangga (RT),” jelas Purwanti sembari menyebutkan, selain pula meningkatkan intensitas sosialisasi.

Berbeda dengan layanan cek laboratorium gratis, termasuk general check up, menurutnya, sejak diluncurkan awal tahun 2016 lalu, minat masyarakat cukup tnggi, yakni sekitar 150 orang per hari. Peminat layanan cek laboratotium gratis tak saja sebatas masyarakat berpenghasilan rendah, tetapi juga kalangan Pegawai Negeri Sipil (PNS) ber-Kartu Tanda Penduduk (KTP) Solo dengan usia lebih dari 40 tahun.

Peningkatan minat masyarakat memeriksakan kesehatan diri sebelum menderita sakit, dinilai sangat postif terkait dengan spirit Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) yang sejatinya memang sebagai fasilitas layanan kesehatan bersifat preventif. Selama ini, layanan kesehatan di Puskesmas, cenderung bersifat kuratif, sebab masyarakat yang datang pada umumnya untuk berobat atas penyakit yang dideritanya.

Sekarang, warga yang datang ke Puskesmas tak saja pasien yang tengah menderita sakit, tetapi juga kelompok masyarakat dalam kondisi sehat untuk memeriksakan kesehatan diri secara dini. Mencegah penyakit sejak awal, jauh lebih efektif dalam menciptakan masyarakat yang sehat, ketimbang datang ke fasilitas layanan kesehatan setelah menderita sakit. Pun biaya yang diperluakan relatif lebih murah.

SUMBER

Ingat! Kanker Serviks 100 Persen Bisa Dicegah

Kanker serviks sudah diketahui sebabnya, yaitu HPV. Vaksinnya sudah ada. Deteksi dininya sudah ada, papsmear dan IVA, jadi ini 100 persen bisa dicegah.

Kanker serviks menjadi salah satu dari 10 kanker terbanyak di Indonesia, setelah kanker payudara. Terlebih, kebanyakan kanker serviks ditemukan dalam stadium lanjut. Padahal, seyogianya kanker serviks bisa dicegah.

“Kanker serviks sudah diketahui sebabnya, yaitu HPV. Vaksinnya sudah ada. Deteksi dininya sudah ada, papsmear dan IVA (Inspeksi Vagina dengan Asam Asetat). Jadi ini 100 persen bisa dicegah,” kata Prof Dr dr Andrijono SpOG, KFER dalam Forum Ngobras di Hongkong Cafe, Jakarta Pusat, Selasa (11/4/2017).

Hanya saja, kata Prof Andri, karena vaksin HPV mahal diharapkan vaksinasi bisa masuk program vaksinasi nasional untuk anak-anak perempuan dalam rangka mencegah kanker serviks. Dijelaskan Prof Andri, ada lebih dari 100 jenis HPV atau Human Pappilloma Virus dan hanya 19 jenis yang bisa menyebabkan kanker.

Maka dari itu, selain kanker serviks, infeksi HPV juga bisa memicu kanker penis, dubur, mulut, juga vagina. Hadir dalam kesempatan sama, Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan DKI Jakarta, dr Widyastuti MKM mengatakan saat dilakukan ‘demonstrasi’ vaksin HPV untuk murid-murid sekolah dasar di DKI Jakarta di bulan November 2016, cakupannya 92 persen. Dari target 71.830 anak, jumlah yang mendapat vaksin 66.094 anak.

“Pastinya belum puas ya karena nggak 100 persen. Tapi kami senang banyak sekolah dan orang tua murid yang welcome dengan program ini. Memang masih ada 8 persen yang belum kooperatif atau meragukan. Kita berusaha dekati, dengan program ketuk pintu layani dengan hati, kita datangi, beri edukasi. Lalu kita gandeng juga Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jadi silakan jika orang tua hendak mengakses vaksin ini melalui layanan lain,” tutur dr Widy.

Sementara, Kasubdit Imunisasi Kemenkes RI dr Prima Yosephine mengatakan program vaksinasi HPV untuk anak-anak memang masih dalam tahap demonstrasi, belum masuk program nasional. Sebab, belum ada ‘pengalaman’ dari sudut program apakah memang ini bisa diimplementasikan.

“Terus uji coba, bukan dalam segi keamanan tapi apakah bisa jalan dengan kendaraan ini ibaratnya. Untuk demonstrasi ini dipilih daerah yang cakupan imunisasi lainnya sudah bagus sehingga program ini tidak menggeser program imunisasi lain dan provinsi tersebut ada anggaran untuk operasionalnya. Setelah DKI akan dicoba juga ke provinsi lainnya seperti DI Yogyakarta, Surabaya, Manado, dan Makassar,” pungkas dr Prima.

SUMBER