Lewat 13 Slide Ini, Kamu Bakal Tahu Apa itu Kesehatan Reproduksi Remaja!

Pengen tahu soal kesehatan reproduksi remaja? Coba deh kamu baca 13 slide berikut ini. So pasti kamu bakal lebih tau apa itu kesehatan reproduksi remaja.

DEFINISI KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA

Yaitu kesejahteraan fisik, mental dan sosial yang utuh bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan, dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi serta prosesnya.

Definisi kesehatan reproduksi menurut hasil ICPD 1994 di Kairo adalah keadaan sempurna fisik, mental dan kesejahteraan sosial dan tidak semata-mata ketiadaan penyakit atau kelemahan, dalam segala hal yang berkaitan dengan sistem reproduksi dan fungsi dan proses.

Pengertian kesehatan reproduksi menurut WHO (World Health Organizations) adalah suatu keadaan fisik, mental dan sosial yang utuh, bukan hanya bebas dari penyakit kecacatan dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi serta prosesnya. Atau suatu keadaan dimana manusia dapat menikmati kehidupan seksualnya serta mampu menjalankan fungsi dan proses reproduksinya secara sehat dan aman (Nugroho, 2010).

Menurut konferensi Internasional Kependudukan dan Pembangunan, 1994 Kesehatan Reproduksi adalah Keadaan sejahteravfisik, mental dan sosial yang utuh dalam segala hal yang berkaitan dengan fungsi, peran & sistem reproduksi (BKKBN, 2010)

Kesehatan reproduksi menurut Depkes RI adalah: suatu keadaan sehat, secara menyeluruh mencakup fisik, mental dan kedudukan sosial yang berkaitan dengan alat, fungsi serta proses reproduksi, dan pemikiran kesehatan reproduksi bukan hanya kondisi yang bebas dari penyakit, melainkan juga bagaimana seseorang dapat memiliki seksual yang aman dan memuaskan sebelum dan sudah menikah (Nugroho, 2010)

Definisi kesehatan reproduksi yang ditetapkan dalam Konferensi Internasional Kependudukan dan Pembangunan (International Conference on Population and Development/ ICPD) adalah kesejahteraan fisik, mental, dan sosial yang utuh, bukan hanya tidak adanya penyakit atau kelemahan, tetapi dalam segala hal yang berhubungan dengan system reproduksi dan fungsi serta prosesprosesnya (Ns.Tarwoto,2010).


PELAYANAN KESEHATAN REPRODUKSI ESENSIAL (PKRE)

  • Kesejahteraan Ibu dan Anak
  • Keluarga Berencana
  • Pencegahan dan penanganan ISR/PMS/HIV
  • Kesehatan Reproduksi Remaja

Pelayanan Kesehatan Reproduksi Komprehensif (PKRK): PKRE + Pelayanan dan Penanganan Masalah Usila


STRATEGI KESEHATAN REPRODUKSI

  • Komponen Kesejahteraan Ibu dan Anak: mengurangi kematian ibu → ANC, pelayanan persalinan dan nifas
  • Komponen Keluarga Berencana: untuk PUS → mengatur jumlah dan jarak kelahiran
  • Komponen Pencegahan dan Penanganan Infeksi Saluran Reproduksi (ISR): termasuk Penyakit Menular Seksual dan HIV/AIDS → klinik IMS
  • Komponen Kesehatan Reproduksi Remaja: program kesehatan untuk remaja
  • Komponen Usia Lanjut: ditekankan pada pencegahan komplikasi dan peningkatan kualitas hidup lansia

HAK REPRODUKSI

  • Hak mendapatkan informasi dan pendidikan kesehatan reproduksi
  • Hak mendapatkan pelayanan dan perlindungan kesehatan reproduksi
  • Hak untuk kebebasan berfikir tentang kesehatan reproduksi
  • Hak untuk menentukan jumlah anak dan jarak kelahiran
  • Hak untuk hidup (hak untuk dilindungi dari kematian karena kehamilan dan proses melahirkan)
  • Hak atas kebebasan dan keamanan berkaitan dengan kehidupan reproduksi.
  • Hak untuk bebas dari penganiayaan dan perlakuan buruk termasuk perlindungan dari perkosaan, kekerasan, penyiksaan dan pelecehan seksual.
  • Hak Mendapat manfaat dari kemajuan ilmu pengetahuan yang terkait dengan kesehatan reproduksi
  • Hak atas kerahasian pribadi dengan kehidupan reproduksinya
  • Hak membangun dan merencanakan keluarga
  • Hak atas kebebasan berkumpul dan berpartisipasi dalam politik yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi
  • Hak untuk bebas dari segala bentuk diskriminasi dalam kehidupan berkeluarga dan kehidupan reproduksi.

DEFINISI REMAJA

  • Menurut WHO (badan PBB untuk kesehatan dunia) remaja adalah jika anak berusia 12 sampai 24 tahun.
  • Usia remaja menurut UU perlindungan anak No 23 tahun 2002 adalah 10 – 18 tahun.
  • Pada buku-buku pediatri, pada umumnya mendefinisikan remaja adalah bila seorang anak telah mencapai umur 10 – 18 tahun (untuk anak perempuan) dan 12 – 20 tahun (untuk  anak laki-laki)
  • Menurut UU No. 4 tahun 1979 mengenai kesejahteraan anak, remaja adalah individu yang belum mencapai 21 tahun dan belum menikah
  • Menurut UU Perburuhan, anak dianggap remaja apabila telah mencapai umur 16 – 18 tahun atau sudah menikah dan mempunyai tempat untuk tinggal
  • Menurut UU Perkawinan No 1 tahun 1974, anak dianggap sudah remaja apabila cukup matang untuk menikah, yaitu umur 16 tahun (untuk anak perempuan) dan 19 tahun (untuk anak laki-laki)
  • Menurut Diknas, anak dianggap remaja bila anak sudah berumur 18 tahun, yang sesuai dengan saat lulus Sekolah Menengah

TAHAPAN REMAJA

  • Masa remaja awal/dini (early adolescence): umur 11 – 13 tahun
  • Masa remaja pertengahan (middle adolescence)  : umur 14 – 16 tahun
  • Masa remaja lanjut (late adolescence) : umur 17 – 20 tahun

PERMASALAHAN PADA REMAJA

  • Remaja aktif seksual sebelum tercapai kematangan mental dan social
  • Kehamilan yang tidak diinginkan (KTD)
  • Kondisi remaja yang tidak menunjang kehamilan sehat (anemia, kurang energy dan kalori, dsb)
  • Percobaan pengguguran kandungan (abortus) yang tidak aman oleh tenaga yang tidak terlatih
  • Terkena infeksi menular seksual (IMS)
  • Risiko berganti-ganti pasangan seksual
  • Risiko komplikasi kehamilan dan persalinan
  • Risiko melahirkan bayi berat lahir rendah dan kelainan lainnya

SASARAN

  • Sasaran Utama : kelompok remaja berusia 10 – 19 tahun di sekolah maupun di luar sekolah
  • Sasaran sekunder : orang tua, keluarga yang mempunyai anak remaja, guru/pamong belajar, organisasi pemuda, pemimpin agama
  • Sasaran tertier : petugas kesehatan, petugas lintas sektoral, LSM, organisasi masyarakat

PENGETAHUAN DASAR

  • Pengenalan mengenai sistem, proses dan fungsi alat reproduksi (aspek tumbuh kembang remaja)
  • Mengapa remaja perlu mendewasakan usia kawin serta bagaimana merencanakan kehamilan agar sesuai dengan keinginnannya dan pasanganya
  • Penyakit menular seksual dan HIV/AIDS serta dampaknya terhadap kondisi kesehatan reproduksi
  • Bahaya narkoba dan miras pada kesehatan reproduksi
  • Pengaruh sosial dan media terhadap perilaku seksual
  • Kekerasan seksual dan bagaimana menghindarinya
  • Mengambangkan kemampuan berkomunikasi termasuk memperkuat kepercayaan diri agar mampu menangkal hal hal yang bersifat negatif
  • Hak-hak reproduksi

Five Life Transitions of Youth

  • Melanjutkan sekolah,
  • Mencari pekerjaan,
  • Memulai kehidupan berkeluarga,
  • Menjadi anggota masyarakat, dan
  • Mempraktekan hidup sehat.

TEGAR REMAJA

  • Menunda usia pernikahan,
  • Berperilaku sehat,
  • Terhindar dari resiko TRIAD-KRR (Seksualitas, HIV dan AIDS, dan Napza),
  • Bercita-cita mewujudkan Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera
  • Menjadi contoh, model, idola, dan sumber informasi bagi teman sebayanya.

 

Talkshow Bareng PILAR Sragen di Acara Nongkrong Komunitas POP FM Sragen

Sabtu, 7 Januari 2018, Talkshow bareng PILAR di acara Nongkrong Komunitas POP FM Sragen. Ini merupakan event pertama kali untuk kawan-kawan PILAR Sragen.

Sabtu, 7 Januari 2018, Talkshow bareng PILAR di acara Nongkrong Komunitas POP FM Sragen. Ini merupakan event pertama kali untuk kawan-kawan PILAR Sragen. Dari PILAR ada Ria, Ainia, Putri didampingi oleh Ketua PKBI Ibu dr.Iin.

Selama talkshow, dibahas kapan berdirinya PILAR, kepengurusan, tujuan PILAR, caranya bergabung, dan tanya jawab seputar komunitas. Disini kita berbagi pengalaman dan informasi mengenai PILAR ke masyarakat Sragen.

Mengapa komunitas ini diberi nama PILAR? Komunitas ini (PILAR Sragen) merupakan cabang dari PILAR Jateng (Pusat Informasi & Layanan Remaja) yang didirikan pada Maret 1998 oleh PKBI Jawa Tengah, diawali dan didukung oleh relawan-relawan muda yang sebagian besar adalah mahasiswa kedokteran, psikologi, kesehatan masyarakat, komunikasi dan sosial. Sehingga cabang di Sragen pun bernama PILAR yang juga didukung oleh mahasiswa yang sebagian besar berasal dari bidang kesehatan dan beberapa pelajar yang memiliki komitmen terhadap kesehatan reproduksi remaja.

PILAR Sragen didirikan dan ditetapkan SK Ketua PKBI Cabang Sragen, dr. Iin Dwi Y, M.Kes pada tanggal 9 Agustus 2017 dan dilantik 27 September 2017 di Pendopo Bupati Sragen.

Salah satu tujuan dibentuknya PILAR yaitu untuk memberikan rasa peduli dan tanggungjawab terhadap kesehatan reproduksi pada remaja. Karena populasi remaja skitar 36% dari seluruh populasi penduduk Indonesia dan keberadaan mereka kadang kurang mendapat perhatian. Sehingga remaja banyak yang tidak memiliki kesempatan yang bebas untuk mengambil tindakan dan informasi yang salah atau diterima dengan pemahaman yang salah oleh para remaja. V

PILAR memiliki Visi; Remaja yang bertanggung jawab dan Misi; Meningkatkan pengetahuan remaja, pemahaman, perhatian yang berarti atas kesehatan reproduksinyanya, tanggungjawab seksual dan tingkah laku sosialnya.

Bagaimana Cara Gabung di PILAR? Caranya mudah banget. Bagi mereka yang masuk usia remaja 15-24 tahun, menyukai bidang keremajaan dan kespro, memiliki jiwa kerelawanan, komunikatif dan percaya diri tentunya, bisa dan mampu diajak bekerjasama dalam tim, anda bisa bergabung dengan PILAR Sragen.

Harapan dengan komunitas ini tentu saja semoga tetep kompak dan solid, segera goals dengan program-programnya, terutama pada remaja yang sekarang beraneka ragam pergaulannya mulai dari maraknya penyalahgunaan obat, narkoba, kehamilan tidak diinginkan, bertambahnya angka HIV AIDS di Sragen, perlu kiranya membekali para remaja agar bisa menjadi remaja yang bertanggung jawab, bertanggung jawab pada orangtua, diri sendiri, lingkungannya yang dapat merubah keadaan sekitarnya dengan positif, karena remaja adalah aset bangsa, agent of change.

THST (Tasikmalaya Health School for Teenager), Wajah Baru PMR SMAN 6 Tasikmalaya

Peran PMR sangatlah penting di lingkungan sekolah. Sebab PMR adalah Agen Kesehatan yang berperan sebagai “Peer Education” di sekolah.

PMR (Palang Merah Remaja) adalah sebuah organisasi atau wadah pengembangan diri siswa dalam bidang kesehatan di sekolah.

Ruang lingkup materi yang dipelajari dalam PMR seperti sejarah kepalangmerahan, kepemimpinan, pertolongan pertama, Promkes (Promosi Kesehatan), RSPS (Remaja Sehat Peduli Sesama), Siaga Bencana, Kesja (Kesehatan Remaja), dan Donor Darah.

Kesehatan merupakan aspek yang sangat penting bagi manusia. Bila kesehatan terganggu, otomatis kondisi kekebalan tubuh akan menurun dan rentan terserang penyakit. Bila telah terserang penyakit, maka kegiatan sehari-hari akan terganggu. Apalagi di usia pelajar, bila sudah jatuh sakit, kegiatan pembelajaran akan terganggu bahkan ketinggalan pelajaran.

Di sini, peran PMR sangatlah penting di lingkungan sekolah. Sebab PMR adalah Agen Kesehatan di sekolah yang berperan sebagai “Peer Education” dan pemerhati kesehatan lingkungan sekolah, kesehatan remaja, pertolongan pertama serta promosi kesehatan pada remaja.

Seperti yang dilakukan Deni Frayoga, S.KM, seorang Founder atau pendiri program THST (Tasikmalaya Health School for Teenager). THST merupakan sebuah program yang digagas oleh Deni yang sifatnya lebih mengedepankan promosi kesehatan pada pelajar remaja di Tasikmalaya.

Tujuan dari program THST ini adalah untuk meningkatkan derajat kesehatan di sekolah, khususnya kesehatan pada remaja. Kader THST ini ialah anggota PMR SMAN 6 Tasikmalaya dan telah dimulai dari angkatan pertama PMR, yaitu oleh Ahmad Yudi S saat menjadi pengurus PMR SMAN 6 Tasikmalaya tahun 2015, dan sampai sekarang masih berjalan.

Kang Deny dan Kang Yudi

Program THST yang digagas oleh Deni sendiri berdiri pada tanggal 5 September 2015 yang bergerak di bidang peningkatan derajat kesehatan pada remaja di Tasikmalaya. Kader THST sendiri yaitu dari anggota PMR SMA/SMK yang ada di Tasikmalaya. Kader pertama THST sudah dicanangkan kepada PMR SMAN 6 Tasikmalaya yang di mulai untuk pertama kalinya di bulan September 2015. Program THST ini akan segera meluas gerakannya ke seluruh Kota Tasikmalaya, khususnya SMA/SMK yang ada di Kota Tasikmalaya.

Deni menjelaskan latar belakang didirikannya THST ini karena prihatin dan inisiatif dengan kebiasaan buruk pelajar remaja di Kota Tasikmalaya yang berdampak pada kondisi kesehatan remaja yang rentan terserang berbagai penyakit.

“Melihat permasalahan kesehatan pada pelajar remaja yang ada di Tasikmalaya meliputi masalah penyakit menular dan tidak menular pada remaja, masalah gizi, dan juga masalah kesehatan reproduksi remaja. Itu yang menjadi masalah utama kesehatan remaja yang ada di Tasikmalaya. Dengan didirikannya program THST ini berharap kedepannya bisa menjadi komunitas di kalangan pelajar remaja dalam mencegah masalah kesehatan pada remaja”, ungkapnya.

Deni juga menjelaskan tujuan dibentuknya program THST ini adalah untuk meningkatkan edukasi pada remaja melalui sistem “Peer Education” atau pendidik teman sebaya melalui pembinaan kader kesehatan remaja di THST yang target pembinaanya remaja SMA/SMK dan SMP/MTs di Kota Tasikmalaya.

KSR SMAN 6 Tasikmalaya

Program Kerja THST ini adalah pembinaan KKR (Kader Kesehatan Remaja), branding melalui media seperti media yang digunakan untuk pembinaan KKR. Ruang lingkup THST meliputi penyakit menular dan tidak menular, gizi, kesehatan reproduksi remaja, promosi kesehatan remaja, dan aspek kesehatan lingkungan sekolah.

“Manfaat para remaja khususnya anggota PMR yang mengikuti program THST ini tentu menjadi sebuah “Pengkayaan” knowledge dan skill, bahwa skill mereka tidak hanya di bidang kepalangmerahan saja, tetapi juga ilmu kesehatan yang tidak diajarkan di kepalangmerahan. Mereka juga para anggota PMR yang bergabung di THST ini akan mendapat pembinaan dan pelatihan seputar knowledge dan skill di bidang ilmu kesehatan”, jelas Deni menjelaskan manfaat bagi remaja yang bergabung di program THST.

Pada hari sabtu, 2 Desember 2017, Deni Frayoga dan Saya (Ahmad Yudi S) di undang PMR untuk menghadiri acara PMR di SMAN 6 Tasikmalaya. Perjalanan kami tempuh mulai dari lereng Gunung Galunggung menuju SMAN 6 Tasikmalaya di Kota Tasikmalaya. Waktu yang di tempuh adalah 1 jam dengan menggunakan sepeda motor. Beberapa jam kemudian, kami berdua sampai di SMAN 6 Tasikmalaya.

Sambutan yang sangat hangat dari adik-adik PMR SMAN 6 Tasikmalaya membuat rasa lelah kami berdua seakan menghilang. Nurazijah, Ketua PMR SMAN 6 Tasikmalaya periode 2016-2017, menyapa kami dengan keceriaannya. Kado yang spesial bagi kami berdua, alumni dan senior PMR SMAN 6 Tasikmalaya bisa bertemu dan bersapa ria dengan seluruh anggota PMR SMAN 6 Tasikmalaya, apalagi kejutan tumpeng dari adik-adik PMR untuk merayakan HUT THST yang ke-2 meskipun hari jadi THST telah lewat beberapa bulan yang lalu.

HUT THST yang ke-2

Sebelum mengeksekusi si tumpeng, kami semua foto bersama terlebih dahulu agar momen istimewa ini tidak hengkang begitu saja. Setelah sesi foto selesai, kami langsung berbaris untuk mengeksekusi si tumpeng agar perut kami yang telah lama memberontak segera dikabulkan permintaanya.

Keceriaan dan canda tawa terlihat di wajah para ‘Peer Education’ sambil menyantap hidangannya masing-masing. Kegiatan ngaliweut (makan bersama) ini merupakan adat kebiasaan di PMR SMAN 6 Tasikmalaya setiap sebulan atau 2 bulan sekali untuk menghilangkan kejenuhan dan tentunya memperkuat kekeluargaan PMR SMAN 6 Tasikmalaya.

Setelah acara ngaliweut (makan bersama) selesai, Saya dan Kang Deni bersama seluruh anggota PMR SMAN 6 Tasikmalaya berkumpul di satu ruangan untuk berbagi pengalaman dan pendapat seputar prospek THST kedepannya. Banyak pendapat dari anggota PMR SMAN 6 Tasikmalaya untuk THST kedepannya.

Adapun rencana proker THST kedepannya yang akan dilaksanakan oleh kader THST atau anggota PMR SMAN 6 Tasikmalaya diantaranya pembinaan kesehatan remaja di SMP/MTs di lingkungan sekitar yang tak jauh jaraknya dari SMAN 6 Tasikmalaya, salah satunya PMR SMPN 13 Tasikmalaya. Tugas daripada Kader THST sendiri yaitu memberikan pembinaan dan mentoring para remaja SMP/MTs dengan tujuan meningkatkan derajat kesehatan di sekolah dan mencegah kebiasaan buruk pada remaja yang berdampak pada terganggunya kondisi kesehatan remaja.

KSR SMAN 6 Tasikmalaya

“Kesehatan adalah Investasi utama Bangsa. Remaja yang sehat merupakan generasi penerus Bangsa yang kuat”

 

Tasikmalaya, 2 Desember 2017
Penulis

Ahmad Yudi S

Pelatihan Pembentukan Konselor Sebaya Tingkat SMP & SMA oleh Puskesmas Busang

Kegiatan Pembinaan Konselor Sebaya bagi Siswa/i SMPN 1 Busang dan SMAN 1 Busang berlangsung pada 1 November 2017, dilaksanakan di masing-masing sekolah.

Kegiatan Pembinaan Konselor Sebaya bagi Siswa/i SMPN 1 Busang dan SMAN 1 Busang berlangsung pada 1 November 2017, dilaksanakan di masing-masing sekolah.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Puskesmas Busang, dengan peserta siswa/i kelas VIII SMP N 1 Busang sebanyak 4 orang konselor dan 23 siswa lainnya. Dan peserta SMA sebanyak 25 siswa/i kelas 10, dan 4 orang siswa sebagai konselor.

Sebagai narasumber kegiatan ini yaitu Nelson N.N Ratu, SKM, Dyan Arisca Amd.Keb. (Pengelola Program PKPR) dan Eny .Selvia Amd.Keb.

Pelatihan Konselor Sebaya oleh PKM Busang

Kegiatan diawali dengan membentuk kelompok-kelompok kemudian dilanjutakan dengan permainan. Tanya jawab antar peserta pelatihan tentang masalah-masalah yang terjadi pada diri sendiri, masalah-masalah yang terjadi dikalangan remaja, kemudian bersama-sama mencoba mencari solusinya. Seluruh siswa tampak antusias mengikuti pelatihan tersebut.

Dalam pelatihan ini, siswa juga diajak untuk berperan sebagai konselor. Peserta juga dikenalkan syarat-syarat menjadi konselor. Sebagai konselor wajib memenuhi beberapa syarat yaitu menjadi pendengar yang baik, tidak berlagak menjadi guru (menggurui), dapat menyimpan rahasia, mampu mengembalikan rasa percaya diri, dan membenahi pola pikir negatif kliennya menjadi positive thinking.

Pelatihan Konselor Sebaya di SMPN 1 Busang

Konselor teman sebaya bukan konselor profesional melainkan konselolor teman sebaya yang dapat memberikan bantuan untuk memecahkan masalah kepada teman.

Harapan dari pihak sekolah yaitu agar Konselor yang telah di bentuk mampu mengajak teman-temannya untuk hidup ber-PHBS, memahami apa itu Dampak dari KTD (Kejadian yang tidak diinginkan), bahaya HIV/AIDS, IMS, NAPSA dll, tentang masalah kesehatan Remaja.

Dari kami petugas kesehatan juga berharap agar team konselor yang telah dibentuk yang telah dibekali beberapa materi tentang konselor dan apa saja yang harus dilakukan oleh konselor, mampu berperan aktif dan bekerja sama dengan Pihak Puskesmas.

Pelatihan Konselor Sebaya di SMAN 1 Busang

Pencerah Nusantara Upgrade Pengetahuan Kader Posyandu Remaja SARABBA SMAN 1 Bambalamotu

Pencerah Nusantara Upgrade Pengetahuan Kader Posyandu Remaja SARABBA SMAN 1 Bambalamotu tentang Kespro &Tumbuh Kembang Remaja.

Pada hari Jumat ini, 3/11, kami para kader Posyandu Remaja Sahabat Remaja Bambalamotu (SARABBA) SMAN 1 Bambalamotu mendapatkan materi upgrading Pengantar Kesehatan Reproduksi Remaja dan Tumbuh Kembang Remaja. Materi ini dibawakan oleh Kak Deni dari Pencerah Nusantara.

Ternyata banyak sekali hal penting yang didapatkan dari materi tersebut. Betapa pentingnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi remaja yang harus dipelajari sebelum terjadinya masalah kesehatan reproduksi.

Kami juga mempelajari tentang hak-hak reproduksi. Menurut saya ini wajib diketahui oleh semua remaja. Agar tahu apa yang menjadi hak-hak kita dan terhindar dari segala tindakan yang membahayakan seperti pelecehan dan tindakan – tindakan lainnya yang tidak terpuji yang bisa merugikan kita sebagai remaja.

Namun ada hal penting lainnya juga selain kesehatan reproduksi, yaitu tumbuh kembang remaja. Materi tumbuh kembang remaja ini sangat berkaitan erat dengan kesehatan reproduksi.

Bicara soal tumbuh kembang remaja pasti kita bicara soal pubertas, dan pubertas itu kaitannya dengan perubahan secara kesehatan reproduksi kalau pada laki-laki mengalami nocturnal emission dan perempuan mengalami menarche atau menstruasi pertama.

SARABBA SMAN 1 Bambalamotu

Kelompok saya mempresentasikan tentang sifat rasa ingin tahu atau istilah gaulnya dikenal kepo. Rasa ingin tahu yang tinggi pada masa pubertas akan muncul, dan menimbulkan rasa penasaran yang tinggi. Dampak positif dari rasa ingin tahu yang tinggi adalah kita remaja bisa lebih banyak belajar, mengeksplorasi ilmu pengetahuan dan tentunya akan meningkatkan kreatifitas remaja.

Tapi rasa ingin tahu yang tinggi juga memiliki dampak negatif, terkadang remaja penasaran pada hal-hal negatif dan ingin mencoba. Misalnya kebiasaan “ngelem”, itu karena rasa ingin tahu yang tinggi kemudian mencoba-coba dan akhirnya menjadi kecanduan. Sama halnya juga pada kebiasaan merokok di kalangan remaja. Oleh karena itu disinilah pentingnya pendidikan kesehatan bagi remaja. Dan saya sangat senang dapat kesempatan untuk mengikuti kegiatan upgrading kader posyandu remaja ini.

Selain rasa ingin tahu pada masa remaja, juga terjadinya ketertarikan antara lawan jenis dimana massa ini sangat sering terjadi. Dari setiap apa yang kita lakukan pasti mempunyai hal-hal positif dan negatif. Adapun hal positifnya yaitu membuat kita lebih dewasa, salah satu bentuk prestasi tersendiri, membuat kita lebih termotivasi, mempelajari karakteristik seseorang.

Dan hal negatifnya yaitu, mengurangi daya konsentarsi, membuat kita lebih banyak termenung, memicu terjadinya seks bebas, dapat terjadi kekerasan baik scara fisik maupun batin. Oleh karena itu kita harus menegaskan untuk para remaja, bahwa ketertarikan antar lawan jenis itu boleh tetapi harus ada jaraknya.

Kami juga belajar tumbuh kembang remaja dari aspek perubahan psikis, dan menurut saya ini bisa berdampak positif dan negatif.

Hal yang akan saya lakukan setelah mempelajari materi ini adalah dengan lebih menginformasikan kepada teman-teman remaja minimal siswa-siswi SMAN 1 Bambalamotu tentang kesehatan reproduksi remaja.

Caranya adalah secara langsung seperti pada saat kegiatan posyandu remaja melalui meja konseling, dan saat santai bersama teman di kelas, kantin atau perpustakaan.Saya juga akan menginformasikan secara tidak langsung melalui media sosial agar mereka dapat membaca dan selanjutnya mengakses informasi kesehatan reproduksi remaja.

Saya berharap kepada kakak-kakak dari Pencerah Nusantara untuk terus dibuatkan pertemuan-pertemuan yang membahas kesehatan reproduksi remaja dan tumbuh kembang remaja. Karena materi ini sangat bermanfaat untuk remaja seperti kami.

STOP Pergaulan Bebas, STOP Aborsi, kasihanilah diri sendiri sebelum mengasihi orang lain!

Penjaringan Kesehatan dan Penyuluhan Kespro di SMAN 1 Tuah Gemilang

UPT PKM Sungai Piring kembali melakukan kegiatan penjaringan kesehatan dan penyuluhan kesehatan reproduksi pada remaja di SMAN 1 tuah gemilang, 31 Oktober 2017 lalu.

Sementara itu penjaringan kesehatan peserta didik merupakan salah satu indikator Standar Pelayanan Minimal bidang kesehatan yang menjadi urusan wajib pemerintah daerah. Penjaringan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan status kesehatan peserta didik perlu dilakukan pemeriksaan berkala.

Tujuan diadakanya kegiatan ini untuk meningkatkan derajat kesehatan peserta didik secara optimal dalam mendukung proses belajar.

Sasaran kegiatan meliputi semua siswa/i kelas 10. Dimana waktu pelaksanaannya dilakukan per 6 bulan sekali.

Kegiatan tersebut meliputi pemeriksaan personal hygiene:

  • Pemeriksaan kesgimul(kesehatan gigi dan mulut)
  • Pemeriksaan kes kuku
  • Pemeriksaankes kuping
  • Pemeriksaan kes rambut
  • Pemeriksaan konjungtiva (kelopak mata)

Bersamaan dengan kegiatan tersebut petugas kesehatan juga memberikan materi penyuluhan kesehatan reproduksi remaja.

Menurut WHO kesehatan reproduksi adalah suatu keadaan fisik, mental dan sosial yang utuh, bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan dlm segala aspek yang berhubungan dengan aspek reproduksi, fungsi serta prosesnya.

Secara garis besar kesehatan resproduksi dikelompokkan menjadi 4 golongan:

  • Faktor sosial ekonomi
  • Faktor swadaya
  • Faktor psikologis
  • Faktor biologis

Keberhasilan suatu penyuluhan bisa diukur dari umpan balik audiens yang mau bertanya.

Semoga kegiatan ini membawa dampak yang positif bagi remaja yang sadar dan mau memelihahara kesehatan reproduksinya.

penjaringan kesehatan puskesmas sungai piring

Siswa SMA di Kecamatan Pulau Merbau Dapat Muatan Lokal Ilmu Kesehatan Remaja

UPT Puskesmas Pulau Merbau memasukkan Muatan Lokal Ilmu Kesehatan Remaja di dua sekolah tingkat SMA/ Sederajat di Kecamatan Pulau Merbau.

Tahun ajaran baru telah tiba, tahun ini merupakan tahun ke-II UPT Puskesmas Pulau Merbau memasukkan Muatan Lokal Ilmu Kesehatan Remaja di dua sekolah tingkat SMA/ Sederajat di Kecamatan Pulau Merbau, yaitu MA Hidayatul Mubtadiin Semukut dan MA Hidayatul Rahmah Batang Meranti.

Muatan Lokal Ilmu Kesehatan Remaja yang di gagas oleh UPT Puskesmas Pulau Merbau ini merupakan satu-satunya muatan lokal di sekolah tingkat SMA/ Sederajat yang berbasis kesehatan di Kab Kepulauan Meranti, bahkan di Provinsi Riau.

Mata pelajaran ini merupakan kerja sama lintas sektoral dengan UPTD Pendidikan Kecamatan Pulau Merbau melalui Penandatanganan MoU dengan kedua sekolah tersebut.

Untuk Kelas Pertama di tahun ajaran baru ini, dilakukan kemarin, Rabu 13 September 2017, dengan guru saya pribadi, dr Rio Herison, dengan materi tentang Etika Pergaulan Remaja.

Sistem Pembelajaran Ilmu Kesehatan Remaja Menganut sistem PBL (Problem Base Learning) dengan jadwal sebulan sekali pada hari Sabtu di Minggu ke-III setiap bulannya.

Di kelas ini, siswa diharapkan mampu memahami dan mengerti tentang informasi-informasi kesehatan remaja mulai dari bahaya rokok, sex bebas, bahaya narkoba, HIV-AIDS dan masalah lainnya.

Yang membuat mata pelajaran ini "spesial" dibandingkan dengan penyuluhan kesehatan remaja lainnya adalah, didalam Muatan Lokal ini, siswa tidak hanya mempelajari materi materi yang diberikan akan tetapi juga mengikuti test diakhir materi. Dan nilai Mid semester dan UAS dimasukkan kedalam rapor sekolah.

Pada kelas pertama Muatan Lokal Ilmu Kesehatan Remaja di MA Hidayatul Rahmah diikuti sebanyak 28 orang siswa dan pelaksanaan nya di gedung sekolah MA Hidayatul Rahmah.

Dengan terselenggaranya muatan lokal ini diharapkan dapat membentuk generasi remaja sehat yang berkualitas di Kecamatan Pulau Merbau.

Refleksi Pelantikan Laskar Nusantara Sehat

Belum genap satu tahun peluncuran Laskar Nusantara Sehat  di Kecamatan Kateman sudah kembali melantik kadernya lagi.

Pelantikan Laskar Nusantara Sehat di Kuala Selat dilakukan 30 Juli lalu, dan dilantik 12 Agustus 2017 kemarin di Aula Puskesmas Sungai Guntung. Pelantikan ini dilakukan untuk melanjutkan program Team Based  Nusantara Sehat penempatan UPT Puskesmas Sungai Guntung yang sudah digalakkan setahun lebih.

Lantas, setelah dilantik, apa saja tugas laskar nusantara sehat?

Program khusus untuk anak remaja atau lebih tepatnya Siswa/Siswi SMA/SMK/MA serta SMP/MTs  merupakan jawaban atas kebutuhan kesehatan di lingkungan sekolahnya. Mereka dipilih untuk mewakili setiap sekolah untuk menjadi contoh kader kesehatan. Atau seperti perpanjangan tangan nakes  puskesmas untuk memberikan pendampingan kesehatan.

”28 Oktober 2016 yang lalu, kami UPT Puskesmas Sungai Guntung telah melakukan launching (peluncuran) Laskar Nusantara Sehat yang bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda. Bertempat di Lapangan Balai Rakyat Kecamatan Kateman yang disaksikan oleh Fokipimcam (Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan), Guru, serta masyarakat umum.” Kata Kapus Zainuddin, SKM

Tujuan pelantikannya kepada siswa/siswi yang terpilih bisa menjadi pendamping atau konselor bagi rekan-rekannya di sekolah dan di lingkungan tempat tinggalnya terkait dengan masalah-masalah  kesehatan atau bisa juga menjadi teman curhat konseling kesehatan.

Pelatihan Laskar Nusantara Sehat Sungai Guntung

“Kami sangat mendukung langkah Nusantara Sehat untuk mengadakan kegiatan positif seperti ini di Kecamatan Kateman. Hal ini dapat meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan kepada siswa-siswi sekolah.“ Kata Kamren, S.Sos, Msi Camat Kecamatan Kateman

Besar harapan Team  Based Nusantara Sehat yang 2 bulan efektif waktu selesai penugasan, laskar nusantara sehat ini dapat memberikan perubahan sebagai kader yang melanjutkan inovasi kesehatan di sekolahnya. Tentunya mereka sudah dilatih dari kegiatan rutin yang telah dilakukan semasa bertugas di UPT Puskesmas Sungai Guntung.

Peduli Kesehatan Remaja di Palembang, RZ dan Cita Sehat Punya Program Care For Teens

Care For Teens merupakan sebuah program pembinaan remaja yang digulirkan oleh Rumah Zakat bersama Cita Sehat.

Care For Teens merupakan sebuah program pembinaan remaja yang digulirkan oleh Rumah Zakat bersama Cita Sehat. Kegiatan yang dilakukan diantaranya penyuluhan kesehatan, diskusi dan belajar bersama serta pemeriksaan kesehatan rutin.

Para mentor Care For Teens Palembang yakni Doi, Fiki dan Mariani menggelar kegiatan mentoring atau kelompok pembinaan kesehatan di SMA Ar Rahman, Jl. Tegal Binangun, Jakabaring. Pertemuan wajib dilakukan satu bulan minimal 1 kali pertemuan pada siswa kelas sepuluh, selebihnya pertemuan dilakukan menyesuaikan kondisi.

Pada pertemuan kali ini, para mentor mengajak siswa binaan untuk belajar mengenai kesehatan reproduksi, dua materi yang di sampaikan pada bulan sebelumnya tentang motivasi pentingnya ilmu kesehatan, serta Anemia.

“Iya, jadi kita membentuk lingkaran yang terdiri dari 2 kelompok. Perempuan di mentori oleh mentor perempuan (Mariani), sedangkan untuk laki-laki di mentori oleh laki-laki (Doi dan Fiki). Lokasinya di sekitar sekolah lahan rumput dibawah pohon rindang supaya mereka merasa fresh dan fokus menyimak materi. Agar tidak jenuh juga dalam ruangan.” Ujar Mariani.

Mariani, Doi serta Fiki merupakan mahasiswa S1 Keperawatan dari STIK Siti Khadijah Palembang. Ketiganya memang rutin memberikan edukasi kesehatan kepada adik-adik Care For Teens Palembang.

“Melalui program edukasi remaja yang di konsep dengan kelompok-kelompok kecil ini, dapat memudahkan dalam memberikan pemahaman tentang kesehatan para remaja, terutama dalam mengontrol setiap perkembangan adik-adik remaja ini secara personal. Materi yang di sampaikan bertahap sesuai dengan tujuan akhir dari program yang digulirkan, pertemuan yang dilakukan pun tidak dilakukan seperti halnya di sekolah, tetapi lebih havefun dan friendly agar dapat mengakrapkan antara mentor dan peserta program.” Tutur Sugandi, selaku Fasilitator program Kesehatan Masyarakat di Palembang.

 

Laskar Nusantara Dilantik, Siap Jadi Agent of Change di Sekolah

Senin, 31 Juli 2017, bertempat di SMK An Nur Kuala Selat,  Laskar Nusantara dilantik.

Laskar Nusantara yang sejatinya beranggotakan remaja-remaja sekolah ini diharapkan mampu memegang amanah, menjadi agent of change di sekolahnya, dengan menjadi konselor sebaya.

Adik-adik remaja yang mewakili sekolahnya ini dididik memberikan pelayanan informasi dan konseling serta kegiatan-kegiatan penunjang lainnya, sehingga mampu menjadi perpanjangan tangan dari tenaga kesehatan.

Acara yang berlangsung kurang lebih 3 jam ini, sebelumnya juga di sampaikan materi tentang PIK-R / KRR (Pusat Informasi dan Konseling Remaja/ Kesehatan Reproduksi Remaja) oleh Sdri. Zurly Novi, SKM  dan materi P3K disampaikan oleh dr. Dwi Fitriani Wijaya.