Lewat 13 Slide Ini, Kamu Bakal Tahu Apa itu Kesehatan Reproduksi Remaja!

Pengen tahu soal kesehatan reproduksi remaja? Coba deh kamu baca 13 slide berikut ini. So pasti kamu bakal lebih tau apa itu kesehatan reproduksi remaja.

DEFINISI KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA

Yaitu kesejahteraan fisik, mental dan sosial yang utuh bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan, dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi serta prosesnya.

Definisi kesehatan reproduksi menurut hasil ICPD 1994 di Kairo adalah keadaan sempurna fisik, mental dan kesejahteraan sosial dan tidak semata-mata ketiadaan penyakit atau kelemahan, dalam segala hal yang berkaitan dengan sistem reproduksi dan fungsi dan proses.

Pengertian kesehatan reproduksi menurut WHO (World Health Organizations) adalah suatu keadaan fisik, mental dan sosial yang utuh, bukan hanya bebas dari penyakit kecacatan dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi serta prosesnya. Atau suatu keadaan dimana manusia dapat menikmati kehidupan seksualnya serta mampu menjalankan fungsi dan proses reproduksinya secara sehat dan aman (Nugroho, 2010).

Menurut konferensi Internasional Kependudukan dan Pembangunan, 1994 Kesehatan Reproduksi adalah Keadaan sejahteravfisik, mental dan sosial yang utuh dalam segala hal yang berkaitan dengan fungsi, peran & sistem reproduksi (BKKBN, 2010)

Kesehatan reproduksi menurut Depkes RI adalah: suatu keadaan sehat, secara menyeluruh mencakup fisik, mental dan kedudukan sosial yang berkaitan dengan alat, fungsi serta proses reproduksi, dan pemikiran kesehatan reproduksi bukan hanya kondisi yang bebas dari penyakit, melainkan juga bagaimana seseorang dapat memiliki seksual yang aman dan memuaskan sebelum dan sudah menikah (Nugroho, 2010)

Definisi kesehatan reproduksi yang ditetapkan dalam Konferensi Internasional Kependudukan dan Pembangunan (International Conference on Population and Development/ ICPD) adalah kesejahteraan fisik, mental, dan sosial yang utuh, bukan hanya tidak adanya penyakit atau kelemahan, tetapi dalam segala hal yang berhubungan dengan system reproduksi dan fungsi serta prosesprosesnya (Ns.Tarwoto,2010).


PELAYANAN KESEHATAN REPRODUKSI ESENSIAL (PKRE)

  • Kesejahteraan Ibu dan Anak
  • Keluarga Berencana
  • Pencegahan dan penanganan ISR/PMS/HIV
  • Kesehatan Reproduksi Remaja

Pelayanan Kesehatan Reproduksi Komprehensif (PKRK): PKRE + Pelayanan dan Penanganan Masalah Usila


STRATEGI KESEHATAN REPRODUKSI

  • Komponen Kesejahteraan Ibu dan Anak: mengurangi kematian ibu → ANC, pelayanan persalinan dan nifas
  • Komponen Keluarga Berencana: untuk PUS → mengatur jumlah dan jarak kelahiran
  • Komponen Pencegahan dan Penanganan Infeksi Saluran Reproduksi (ISR): termasuk Penyakit Menular Seksual dan HIV/AIDS → klinik IMS
  • Komponen Kesehatan Reproduksi Remaja: program kesehatan untuk remaja
  • Komponen Usia Lanjut: ditekankan pada pencegahan komplikasi dan peningkatan kualitas hidup lansia

HAK REPRODUKSI

  • Hak mendapatkan informasi dan pendidikan kesehatan reproduksi
  • Hak mendapatkan pelayanan dan perlindungan kesehatan reproduksi
  • Hak untuk kebebasan berfikir tentang kesehatan reproduksi
  • Hak untuk menentukan jumlah anak dan jarak kelahiran
  • Hak untuk hidup (hak untuk dilindungi dari kematian karena kehamilan dan proses melahirkan)
  • Hak atas kebebasan dan keamanan berkaitan dengan kehidupan reproduksi.
  • Hak untuk bebas dari penganiayaan dan perlakuan buruk termasuk perlindungan dari perkosaan, kekerasan, penyiksaan dan pelecehan seksual.
  • Hak Mendapat manfaat dari kemajuan ilmu pengetahuan yang terkait dengan kesehatan reproduksi
  • Hak atas kerahasian pribadi dengan kehidupan reproduksinya
  • Hak membangun dan merencanakan keluarga
  • Hak atas kebebasan berkumpul dan berpartisipasi dalam politik yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi
  • Hak untuk bebas dari segala bentuk diskriminasi dalam kehidupan berkeluarga dan kehidupan reproduksi.

DEFINISI REMAJA

  • Menurut WHO (badan PBB untuk kesehatan dunia) remaja adalah jika anak berusia 12 sampai 24 tahun.
  • Usia remaja menurut UU perlindungan anak No 23 tahun 2002 adalah 10 – 18 tahun.
  • Pada buku-buku pediatri, pada umumnya mendefinisikan remaja adalah bila seorang anak telah mencapai umur 10 – 18 tahun (untuk anak perempuan) dan 12 – 20 tahun (untuk  anak laki-laki)
  • Menurut UU No. 4 tahun 1979 mengenai kesejahteraan anak, remaja adalah individu yang belum mencapai 21 tahun dan belum menikah
  • Menurut UU Perburuhan, anak dianggap remaja apabila telah mencapai umur 16 – 18 tahun atau sudah menikah dan mempunyai tempat untuk tinggal
  • Menurut UU Perkawinan No 1 tahun 1974, anak dianggap sudah remaja apabila cukup matang untuk menikah, yaitu umur 16 tahun (untuk anak perempuan) dan 19 tahun (untuk anak laki-laki)
  • Menurut Diknas, anak dianggap remaja bila anak sudah berumur 18 tahun, yang sesuai dengan saat lulus Sekolah Menengah

TAHAPAN REMAJA

  • Masa remaja awal/dini (early adolescence): umur 11 – 13 tahun
  • Masa remaja pertengahan (middle adolescence)  : umur 14 – 16 tahun
  • Masa remaja lanjut (late adolescence) : umur 17 – 20 tahun

PERMASALAHAN PADA REMAJA

  • Remaja aktif seksual sebelum tercapai kematangan mental dan social
  • Kehamilan yang tidak diinginkan (KTD)
  • Kondisi remaja yang tidak menunjang kehamilan sehat (anemia, kurang energy dan kalori, dsb)
  • Percobaan pengguguran kandungan (abortus) yang tidak aman oleh tenaga yang tidak terlatih
  • Terkena infeksi menular seksual (IMS)
  • Risiko berganti-ganti pasangan seksual
  • Risiko komplikasi kehamilan dan persalinan
  • Risiko melahirkan bayi berat lahir rendah dan kelainan lainnya

SASARAN

  • Sasaran Utama : kelompok remaja berusia 10 – 19 tahun di sekolah maupun di luar sekolah
  • Sasaran sekunder : orang tua, keluarga yang mempunyai anak remaja, guru/pamong belajar, organisasi pemuda, pemimpin agama
  • Sasaran tertier : petugas kesehatan, petugas lintas sektoral, LSM, organisasi masyarakat

PENGETAHUAN DASAR

  • Pengenalan mengenai sistem, proses dan fungsi alat reproduksi (aspek tumbuh kembang remaja)
  • Mengapa remaja perlu mendewasakan usia kawin serta bagaimana merencanakan kehamilan agar sesuai dengan keinginnannya dan pasanganya
  • Penyakit menular seksual dan HIV/AIDS serta dampaknya terhadap kondisi kesehatan reproduksi
  • Bahaya narkoba dan miras pada kesehatan reproduksi
  • Pengaruh sosial dan media terhadap perilaku seksual
  • Kekerasan seksual dan bagaimana menghindarinya
  • Mengambangkan kemampuan berkomunikasi termasuk memperkuat kepercayaan diri agar mampu menangkal hal hal yang bersifat negatif
  • Hak-hak reproduksi

Five Life Transitions of Youth

  • Melanjutkan sekolah,
  • Mencari pekerjaan,
  • Memulai kehidupan berkeluarga,
  • Menjadi anggota masyarakat, dan
  • Mempraktekan hidup sehat.

TEGAR REMAJA

  • Menunda usia pernikahan,
  • Berperilaku sehat,
  • Terhindar dari resiko TRIAD-KRR (Seksualitas, HIV dan AIDS, dan Napza),
  • Bercita-cita mewujudkan Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera
  • Menjadi contoh, model, idola, dan sumber informasi bagi teman sebayanya.

 

Talkshow Bareng PILAR Sragen di Acara Nongkrong Komunitas POP FM Sragen

Sabtu, 7 Januari 2018, Talkshow bareng PILAR di acara Nongkrong Komunitas POP FM Sragen. Ini merupakan event pertama kali untuk kawan-kawan PILAR Sragen.

Sabtu, 7 Januari 2018, Talkshow bareng PILAR di acara Nongkrong Komunitas POP FM Sragen. Ini merupakan event pertama kali untuk kawan-kawan PILAR Sragen. Dari PILAR ada Ria, Ainia, Putri didampingi oleh Ketua PKBI Ibu dr.Iin.

Selama talkshow, dibahas kapan berdirinya PILAR, kepengurusan, tujuan PILAR, caranya bergabung, dan tanya jawab seputar komunitas. Disini kita berbagi pengalaman dan informasi mengenai PILAR ke masyarakat Sragen.

Mengapa komunitas ini diberi nama PILAR? Komunitas ini (PILAR Sragen) merupakan cabang dari PILAR Jateng (Pusat Informasi & Layanan Remaja) yang didirikan pada Maret 1998 oleh PKBI Jawa Tengah, diawali dan didukung oleh relawan-relawan muda yang sebagian besar adalah mahasiswa kedokteran, psikologi, kesehatan masyarakat, komunikasi dan sosial. Sehingga cabang di Sragen pun bernama PILAR yang juga didukung oleh mahasiswa yang sebagian besar berasal dari bidang kesehatan dan beberapa pelajar yang memiliki komitmen terhadap kesehatan reproduksi remaja.

PILAR Sragen didirikan dan ditetapkan SK Ketua PKBI Cabang Sragen, dr. Iin Dwi Y, M.Kes pada tanggal 9 Agustus 2017 dan dilantik 27 September 2017 di Pendopo Bupati Sragen.

Salah satu tujuan dibentuknya PILAR yaitu untuk memberikan rasa peduli dan tanggungjawab terhadap kesehatan reproduksi pada remaja. Karena populasi remaja skitar 36% dari seluruh populasi penduduk Indonesia dan keberadaan mereka kadang kurang mendapat perhatian. Sehingga remaja banyak yang tidak memiliki kesempatan yang bebas untuk mengambil tindakan dan informasi yang salah atau diterima dengan pemahaman yang salah oleh para remaja. V

PILAR memiliki Visi; Remaja yang bertanggung jawab dan Misi; Meningkatkan pengetahuan remaja, pemahaman, perhatian yang berarti atas kesehatan reproduksinyanya, tanggungjawab seksual dan tingkah laku sosialnya.

Bagaimana Cara Gabung di PILAR? Caranya mudah banget. Bagi mereka yang masuk usia remaja 15-24 tahun, menyukai bidang keremajaan dan kespro, memiliki jiwa kerelawanan, komunikatif dan percaya diri tentunya, bisa dan mampu diajak bekerjasama dalam tim, anda bisa bergabung dengan PILAR Sragen.

Harapan dengan komunitas ini tentu saja semoga tetep kompak dan solid, segera goals dengan program-programnya, terutama pada remaja yang sekarang beraneka ragam pergaulannya mulai dari maraknya penyalahgunaan obat, narkoba, kehamilan tidak diinginkan, bertambahnya angka HIV AIDS di Sragen, perlu kiranya membekali para remaja agar bisa menjadi remaja yang bertanggung jawab, bertanggung jawab pada orangtua, diri sendiri, lingkungannya yang dapat merubah keadaan sekitarnya dengan positif, karena remaja adalah aset bangsa, agent of change.

Pencerah Nusantara Upgrade Pengetahuan Kader Posyandu Remaja SARABBA SMAN 1 Bambalamotu

Pencerah Nusantara Upgrade Pengetahuan Kader Posyandu Remaja SARABBA SMAN 1 Bambalamotu tentang Kespro &Tumbuh Kembang Remaja.

Pada hari Jumat ini, 3/11, kami para kader Posyandu Remaja Sahabat Remaja Bambalamotu (SARABBA) SMAN 1 Bambalamotu mendapatkan materi upgrading Pengantar Kesehatan Reproduksi Remaja dan Tumbuh Kembang Remaja. Materi ini dibawakan oleh Kak Deni dari Pencerah Nusantara.

Ternyata banyak sekali hal penting yang didapatkan dari materi tersebut. Betapa pentingnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi remaja yang harus dipelajari sebelum terjadinya masalah kesehatan reproduksi.

Kami juga mempelajari tentang hak-hak reproduksi. Menurut saya ini wajib diketahui oleh semua remaja. Agar tahu apa yang menjadi hak-hak kita dan terhindar dari segala tindakan yang membahayakan seperti pelecehan dan tindakan – tindakan lainnya yang tidak terpuji yang bisa merugikan kita sebagai remaja.

Namun ada hal penting lainnya juga selain kesehatan reproduksi, yaitu tumbuh kembang remaja. Materi tumbuh kembang remaja ini sangat berkaitan erat dengan kesehatan reproduksi.

Bicara soal tumbuh kembang remaja pasti kita bicara soal pubertas, dan pubertas itu kaitannya dengan perubahan secara kesehatan reproduksi kalau pada laki-laki mengalami nocturnal emission dan perempuan mengalami menarche atau menstruasi pertama.

SARABBA SMAN 1 Bambalamotu

Kelompok saya mempresentasikan tentang sifat rasa ingin tahu atau istilah gaulnya dikenal kepo. Rasa ingin tahu yang tinggi pada masa pubertas akan muncul, dan menimbulkan rasa penasaran yang tinggi. Dampak positif dari rasa ingin tahu yang tinggi adalah kita remaja bisa lebih banyak belajar, mengeksplorasi ilmu pengetahuan dan tentunya akan meningkatkan kreatifitas remaja.

Tapi rasa ingin tahu yang tinggi juga memiliki dampak negatif, terkadang remaja penasaran pada hal-hal negatif dan ingin mencoba. Misalnya kebiasaan “ngelem”, itu karena rasa ingin tahu yang tinggi kemudian mencoba-coba dan akhirnya menjadi kecanduan. Sama halnya juga pada kebiasaan merokok di kalangan remaja. Oleh karena itu disinilah pentingnya pendidikan kesehatan bagi remaja. Dan saya sangat senang dapat kesempatan untuk mengikuti kegiatan upgrading kader posyandu remaja ini.

Selain rasa ingin tahu pada masa remaja, juga terjadinya ketertarikan antara lawan jenis dimana massa ini sangat sering terjadi. Dari setiap apa yang kita lakukan pasti mempunyai hal-hal positif dan negatif. Adapun hal positifnya yaitu membuat kita lebih dewasa, salah satu bentuk prestasi tersendiri, membuat kita lebih termotivasi, mempelajari karakteristik seseorang.

Dan hal negatifnya yaitu, mengurangi daya konsentarsi, membuat kita lebih banyak termenung, memicu terjadinya seks bebas, dapat terjadi kekerasan baik scara fisik maupun batin. Oleh karena itu kita harus menegaskan untuk para remaja, bahwa ketertarikan antar lawan jenis itu boleh tetapi harus ada jaraknya.

Kami juga belajar tumbuh kembang remaja dari aspek perubahan psikis, dan menurut saya ini bisa berdampak positif dan negatif.

Hal yang akan saya lakukan setelah mempelajari materi ini adalah dengan lebih menginformasikan kepada teman-teman remaja minimal siswa-siswi SMAN 1 Bambalamotu tentang kesehatan reproduksi remaja.

Caranya adalah secara langsung seperti pada saat kegiatan posyandu remaja melalui meja konseling, dan saat santai bersama teman di kelas, kantin atau perpustakaan.Saya juga akan menginformasikan secara tidak langsung melalui media sosial agar mereka dapat membaca dan selanjutnya mengakses informasi kesehatan reproduksi remaja.

Saya berharap kepada kakak-kakak dari Pencerah Nusantara untuk terus dibuatkan pertemuan-pertemuan yang membahas kesehatan reproduksi remaja dan tumbuh kembang remaja. Karena materi ini sangat bermanfaat untuk remaja seperti kami.

STOP Pergaulan Bebas, STOP Aborsi, kasihanilah diri sendiri sebelum mengasihi orang lain!

Penjaringan Kesehatan dan Penyuluhan Kespro di SMAN 1 Tuah Gemilang

UPT PKM Sungai Piring kembali melakukan kegiatan penjaringan kesehatan dan penyuluhan kesehatan reproduksi pada remaja di SMAN 1 tuah gemilang, 31 Oktober 2017 lalu.

Sementara itu penjaringan kesehatan peserta didik merupakan salah satu indikator Standar Pelayanan Minimal bidang kesehatan yang menjadi urusan wajib pemerintah daerah. Penjaringan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan status kesehatan peserta didik perlu dilakukan pemeriksaan berkala.

Tujuan diadakanya kegiatan ini untuk meningkatkan derajat kesehatan peserta didik secara optimal dalam mendukung proses belajar.

Sasaran kegiatan meliputi semua siswa/i kelas 10. Dimana waktu pelaksanaannya dilakukan per 6 bulan sekali.

Kegiatan tersebut meliputi pemeriksaan personal hygiene:

  • Pemeriksaan kesgimul(kesehatan gigi dan mulut)
  • Pemeriksaan kes kuku
  • Pemeriksaankes kuping
  • Pemeriksaan kes rambut
  • Pemeriksaan konjungtiva (kelopak mata)

Bersamaan dengan kegiatan tersebut petugas kesehatan juga memberikan materi penyuluhan kesehatan reproduksi remaja.

Menurut WHO kesehatan reproduksi adalah suatu keadaan fisik, mental dan sosial yang utuh, bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan dlm segala aspek yang berhubungan dengan aspek reproduksi, fungsi serta prosesnya.

Secara garis besar kesehatan resproduksi dikelompokkan menjadi 4 golongan:

  • Faktor sosial ekonomi
  • Faktor swadaya
  • Faktor psikologis
  • Faktor biologis

Keberhasilan suatu penyuluhan bisa diukur dari umpan balik audiens yang mau bertanya.

Semoga kegiatan ini membawa dampak yang positif bagi remaja yang sadar dan mau memelihahara kesehatan reproduksinya.

penjaringan kesehatan puskesmas sungai piring

Tekan Angka Kehamilan Remaja, Puskesmas Butuh Purworejo Adakan Sosialisasi Kesehatan Reproduksi

Dihadiri tokoh masyarakat, kader kesehatan dan masyarakat sebanyak 35 orang, Puskesmas Butuh Purworejo adakan sosialisasi Kesehatan Reproduksi Remaja.

Dalam rangka mengurangi angka kehamilan remaja yang setiap tahun menyumbangkan angka, UPT Puskesmas Butuh melakukan kegiatan sweping dengan sasaran remaja usia sekolah dan masyarakat.

Salah satunya dengan Sosialisasi Kesehatan Reproduksi Remaja yang berlangsung pada tanggal 26 Oktober 2017, dilaksanakan di Balai Desa Lubang Sampang Kecamatan Butuh Purworejo.

Dihadiri tokoh masyarakat, kader kesehatan dan masyarakat sebanyak 35 orang, dengan nara sumber Ibu Srimulyani, Amd.Keb sebagai penanggung jawab Program UKM dengan materi “Pergaulan Bebas Akibat Kenakalan Remaja, IMS, HIV dan AIDS”. Kegiatan ini berlangsung selama 2 jam.

Yang menarik dari kegiatan ini adalah para remaja, orang tua atau masyarakat mengerti dan paham akibat dari pergulan bebas, harapannya untuk untuk kegiatan ini adalah berkurangnya angka kehamilan remaja diluar nikah akibat pergaulan bebas.

Pentingnya Edukasi Kesehatan Reproduksi Bagi Anak Berkebutuhan Khusus

Edukasi tentang kesehatan reproduksi bagi anak remaja sangat penting. Terlebih untuk anak berkebutuhan khusus.

Edukasi tentang kesehatan reproduksi bagi anak remaja sangat penting. Terlebih untuk anak berkebutuhan khusus. Sama halnya dengan anak-anak remaja normal lainnya, sejak dini edukasi tentang kesehatan reproduksi harus diberikan. Hal ini dilakukan untuk menghindari anak dari kekerasan seksual berbasis gender bagi anak.

Selain orangtua di rumah, sekolah juga menjadi institusi yang tepat untuk menyampaikan pemahaman tentang kesehatan reproduksi pada anak berkebutuhan khusus.

Menurut Country Representative Rutgers WPF Indonesia, Lany Harijanti, sebuah organisasi pusat keahlian dalam kesehatan reproduksi dan pencegahan kekerasan berbasis gender, masih banyak guru atau pengajar yang kurang paham cara menyampaikannya dengan baik.

Beberapa di antaranya, menurut Lany juga masih sungkan membicarakan kesehatan reproduksi karena masih dianggap tabu di masyarakat. Hal ini tentunya menjadi tantangan tersendiri dalam upaya mengurangi kekerasan seksual pada anak, terlebih anak berkebutuhan khusus.

“Biasanya karena yang ditanya malu menjawab gurunya masih belum siap berdiskusi. Biasanya gurunya enggak siap karena banyak berpikir (kesehatan reproduksi) tidak sepantasnya ditanya atau dibicarakan,” ujar Lany kepada VIVA.co.id, di kawasan Kota Tua, Jakarta, Jumat 28 Juli 2017.

Di samping itu, Lany juga mengatakan, bahwa hingga saat ini belum ada materi pendidikan kesehatan reproduksi di Indonesia yang sesuai dengan kebutuhan anak remaja tuna grahita atau keterbelakangan mental.

Menurut Lany, hal yang seringkali ditanyakan terkait dengan kesehatan reproduksi seksual oleh anak berkebutuhan khusus pada dasarnya tak berbeda dengan anak remaja seusianya. Yakni seputar menstruasi, hubungan relasi percintaan, mimpi basah dan lain sebagainya.

“Kami ingin memastikan semua remaja harus mendapat akses yang sama terhadap pendidikan dan layanan kesehatan reproduksi tanpa memandang latar belakang.”

Sumber  viva.co.id

Keren! ini Cara Kreatif Mahasiswa Kesmas FK Unud Sosialisasikan Kespro Remaja

Mahasiswa Kesehatan Masyarakat FK Unud punya ide kreatif dalam menyosialisasikan kesehatan reproduksi remaja. Caranya lewat Cinema in the Bus (CiBus).

Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Udayana (KM FK Unud) punya ide kreatif dalam menyosialisasikan kesehatan reproduksi remaja. Caranya lewat Cinema in the Bus (CiBus).

Sesuai namanya, CiBus ini merupakan aktivitas menonton di dalam bus. Namun sebelum remaja mendapatkan tiket menonton film di dalam bus, mereka harus lolos dalam permainan-permainan yang dilakukan Kisara dan Genre. “Jadi kita juga kolaborasi dengan Kisara dan Genre,” kata Ketua Panitia, Nyoman Yuni Karunia Surya, Senin (24/4).

Setelah lolos dalam permainan itu, remaja mendapatkan tiket menonton di bus secara gratis. Permainan yang dilakukan seputar kesehatan reproduksi remaja. Film yang diputar di dalam bus juga merupakan contoh kehidupan remaja yang berisi pesan-pesan moral.

Film-film yang diputar merupakan pemenang kompetisi yang dilaksanakan KM FK Unud sebelumnya. Pemutaran film yang dibuka Minggu (23/4) di Lapangan Renon itu berlangsung selama 2 hari, Minggu dan Senin (24/4). Setelah Denpasar dan Badung, bus akan berkeliling ke kabupaten lain di Bali seperti Bangli hingga berakhir di Jembrana.

Menurut Yuni, ada dua kelompok remaja, yakni urban dan rural. Remaja urban dinilai lebih aware dengan edukasi semacam ini karena terus terpapar dengan informasi yang sangat cepat. Selain itu di daerah urban juga banyak organisasi remaja, seperti Kisara dan Genre.

Sedangkan remaja rural, tingkat aware-nya kemungkinan masih kecil karena sebagian besar orang tua, guru dan teman-temannya masih tabu dan malu tentang kesehatan reproduksi. Meski demikian, menurut penelitian, remaja urban yang telah mengetahui informasi tentang kesehatan reproduksi tetap melakukan. “Maka dari itu kita juga menyasar semua kalangan dari urban dan rural untuk benar-benar mendapatkan informasi yang tepat dan mereka juga bisa sharing bercerita ke teman-teman organisasi remaja. Karena kita hampir sebaya umurnya jadi mereka lebih enak untuk ngobrol,” terangnya.

Dengan acara CiBus tersebut ia berharap remaja dapat bersikap dan berprilaku yang baik sesuai dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki. “Kalau pacaran, pacaran yang sehat, dan kalau melakukan hubungan seks dini, sudah tahu akibatnya, jadi mereka lebih aware,” ujarnya.

SUMBER

UMP Sosialisasi Kesehatan Reproduksi Bagi Masyarakat Desa

Kesehatan reproduksi remaja menjadi perhatian bagi para mahasiswa Universitas Muhammadiyah Kabupaten Purworejo (UMP)

Kesehatan reproduksi remaja menjadi perhatian bagi para mahasiswa Universitas Muhammadiyah Kabupaten Purworejo (UMP). Mengingat pendidikan dan pemahaman terkait KRR cukup penting bagi masa depan kehidupan para generasi. Termasuk didalamnya kiat-kiat hidup sehat pada usia remaja dan pencegahan pergaulan bebas pada usia remaja.

“Saat ini sudah memasuki era teknologi yang teramat bebas, lepas dan tanpa batas dalam menerima arus informasi dari berbagai media terutama gawai dan internet. Ini menjadi tantangan yang semakin berat ke depan. Sebagai civitas akademika, kelompok KKN 22 berkomitmen untuk memberikan kontribusi dalam upaya membangun generasi muslim yang sehat dan hebat,” kata Ketua Pelaksana Kegiatan dari mahasiswa PBSI UMP Hengky Kusnadi,” Sabtu (15/04/2017).

Ketua PDNA Purworejo  Nur Ngazizah SSi Mpd menjelaskan terkait ciri-ciri primer dan sekunder pubertas pada pria dan wanita yang mana secara medis masa pubertas merupakan tanda kemampuan seseorang untuk memiliki keturunan.

SUMBER