Mahasiswa Kesmas Univ Al Asyariah Mandar Gelar Penyuluhan, Ini Respon Kepala Desa Duampanua

Semoga dengan adanya penyuluhan dari Mahasiswa Kesmas Univ Al Asyariah Mandar ini,  warga Duampanua termotivasi untuk menjaga kebersihan lingkungan, terutama limbah kotoran hewan.

Mahasiswa Kesehatan Masyarakat  dari Universitas Al Asyariah Mandar mengadakan penyuluhan bagi masyarakat Desa Duampanua, Kecamatan Anreapi, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, Jum’at 2 Februari 2018. Kegiatan  ini dalam rangka Praktek Belajar Lapangan (PBL).

Bertempat di Kediaman Kepala Desa Duampanua, acara tersebut dihadiri oleh 25 orang yang sebagian besar teridiri dari para kelompok tani dari berbagai Dusun di Desa Duampanua.

Penyuluhan Bokashi Mahasiswa Kesmas Univ Al Asyariah Mandar

Tema penyuluhan kali ini tentang “Bagaimana Menangani Sampah Organik” dengan narasumber Bapak A. Mukmin, SP, Supervisior BPP Anreapi.

Melalui penyuluhan ini, mahasiswa menyampaikan tentang cara pengolahan sampah organik menjadi Pupuk Bokashi. Pupuk Bokashi sendiri ialah singkatan dari Bahan Organik Kaya Akan Sumber Hayati yang merupakan pupuk kompos yang dihasilkan dari proses fermentasi atau peragian bahan organik dengan teknologi EM4 (Effective Microorganisme 4).

Penduduk Desa Duampanua mayoritas berprofesi sebagai petani. Dan  sekitar  50% penduduknya memelihara hewan ternak di rumah, ini tentu menjadi masalah tersendiri bagi kesehatan masyarakat setempat.

Selain dapat berguna sebagai pupuk, langkah ini juga  menjadi salah satu cara untuk mengatasi kotoran hewan yang dapat merusak sanitasi lingkungan. Sebagai bonus, limbah kotoran hewan Warga Praktek Pembuatan Pupuk Bokashipun juga dapat diolah sebagai Biogas.

 

Selama acara berlangsung masyarakat yang hadir terlihat antusias, terutama ketika sesi narasumber mempraktekan  bagaimana pembuatan pupuk Bokashi. Peserta yang hadir pun berlomba-lomba mengajukan pertanyaannya. Tidak terasa, penyuluhan sore itu pun telah berlangsung sekitar 3 jam.

Kepala Desa Duampanua, Bapak H. Arifin pun mengucapkan terimakasih, serta menyampaikan harapannya. Semoga dengan adanya penyuluhan yang diselenggarakan oleh para Mahasiswa Praktek Belajar Lapangan (PBL) ini,  dapat mendorong para warga Desa Duampanua untuk senantiasa memperhatikan kebersihan lingkungan, terutama dari bahaya limbah kotoran hewan. Serta masyarakat Desa Duampanua mampu menerapkan pengolahan limbah tersebut sebagai sesuatu yang berguna, seperti pupuk Bokashi ataupun Biogas.

Tenaga Kesehatan Masyarakat Sekaligus Pekerja Seni “Why Not” kan?

Cita-citaku lebih ingin sebagai pekerja seni, dan menjadi tenaga kesehatan merupakan permintaan orang tuaku. Salah jurusan? Ya, tapi kesalahan yang indah!

Nama saya Yulyana, Lahir di ibu kota Sulawesi Tengah tepatnya di Palu, 09 Mei 2000. Saya anak pertama dari dua bersaudara, buah pasangan dari Anjaz Kadri dan Lu’lu. Yuly adalah panggilan akrab saya.

Saya terlahir dikeluarga yang sangat sederhana. Ayah saya seorang Jurnalis di Media Surat Kabar swasta, sedangkan Ibu saya bekerja sebagai seorang guru di Madrasah Aliyah. Sejak kecil saya sudah diperkenalkan musik oleh ayah dan ibu saya.

Ketika berumur 6 tahun, saya memulai pendidikan di MIS Alkhairaat Boyaoge. Setelah lulus saya melanjutkan pendidikan di MTs Alkhairaat Pusat Palu tahun 2011. Selepas lulus dari MTs di tahun 2014, saya melanjutkan pendidikan di MA Alkhairaat Pusat Palu.

Ketika menginjak kelas VIII SMP, saya mewakili sekolah dalam perlombaan singing contest antar sekolah se-Kota Palu, dan berhasil menjadi juara ke 3 dalam perlombaan tersebut. Saya juga pernah mewakili sekolah di acara singing contest kategori female dalam perlombaan english camp se-Kota Palu, dan alhamdulillah berhasil meraih juara ke-2.

Juara 2 singing contest kategori female

Tentu saja ini membuat hati saya senang dan semakin bersemangat dalam mengembangkan bakat yang saya miliki. Sejak saat itu saya lebih sering diikut sertakan mengikuti ajang-ajang perlombaan menyanyi untuk mewakili sekolah.

Selain itu saya juga aktif dalam berbagai kegiatan di sekolah, saya bergabung dengan organisasi PMR dan juga pernah menjabat sebagai sekretaris Persatuan Pelajar Islam Alkhairaat.

Saat ini, saya kuliah Semester I Prodi Kesehatan Masyarakat Konsentrasi Manajemen Rumah Sakit di STIKes Surya Global Yogyakarta.

Sedikit curhat ya, saya yakin kalimat-kalimat yang sangat panjang ini akan membuat kalian malas membaca. Tapi saya ingin membagikan sedikit pengalaman saya buat teman-teman semua yang mungkin niatnya belum lurus dan dihadapi persoalan seperti yang pernah saya alami ini.

Jadi, pertama kali disuruh masuk kuliah kesehatan masyarakat, saya itu agak ragu. Ragunya kenapa? Karena takut kalau salah jurusan! Ya, karena memang pengennya saya jadi pekerja seni, bukan jadi seorang tenaga kesehatan.

Entah kenapa memang jiwa raga saya prefer ke seni musik dan tarik suara (menyesuaikan dengan bakat). Dulu itu pengen sekali lanjutkan studi di ISI Yogyakarta, ingin mengembangkan bakat dan potensi yang saya miliki disana. Tapi apalah daya orang tua tak mengizinkan dan lebih memilih saya melanjutkan studi di STIKes.

Awalnya sih nggak srek gimanaaa gitu, takut kalau nanti nilai bakalan anjlok gara-gara ngambil studi yang tidak sesuai dengan minat bakat yang kita miliki. Tapi saya terus yakinkan diri saya bahwa apapun pilihan orang tua pasti yang terbaik buat anaknya, walaupun diawal rasanya sangat sulit. Orang tua saya pun selalu yakinkan diri saya bahwa saya bisa melewati semunya.

Sebenarnya gak ada yang namanya salah jurusan. Semua itu cuma persoalan niat. Kalo niat kita emang tulus dan ikhlas buat jalani semuanya, ada saja keindahan, kenikmatan, dan kemudahan yang Allah kasih, walaupun pada awalnya tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan.

mahasiswa kesmas STIKes Surya Global Yogyakarta

Masih banyak kok cara lain dan wadah yang bisa menampung bakat dan potensi yang kita miliki, semuanya sudah tersedia di dunia ini. Tinggal bagaimana cara kita menempatkan diri dan tak henti untuk mencari tau hal-hal yang dapat membantu kita untuk mengembangkan potensi itu.

Dan sejauh ini, saya nyaman dengan jurusan yang orang tua saya pilih walaupun memang ada sedikit kesulitan, he..he..

Jadi seorang tenaga kesehatan masyarakat sekaligus pekerja seni why not kan? Toh bisa nambah lebih banyak pundi-pundi rupiah wkwkwk..

Semoga berfaedah yah kawan. Kalau kamu, apa awalnya juga salah jurusan?

Meski Gagal Jadi Perawat, Aku Bangga Kini Jadi Mahasiswa Kesehatan Masyarakat

Dulu saya ingin jadi perawat, kuliah di Poltekkes. Keliatan deh kalau FKM ini pilihan kedua, tapi biarlah, toh kini saya bangga bisa jadi Mahasiswa Kesmas.

Dulu saya ingin sekali bisa jadi perawat dan kuliah di Poltekkes. Keliatan deh kalau FKM ini pilihan kedua, tapi biarlah, toh kini saya bangga bisa jadi Mahasiswa Kesehatan Masyarakat.

Saya juga punya cita-cita ingin jadi novelis seperti Donna William, George Orwell, Andrea, Tereliye, Sujiwo Tedjo. Isi novel mereka sering merombak otak dan hati saya. Untuk urusan jadi penulis, saya banyak ikut seminar karya tulis dan sastra.

Buku Favorit

Orang tua selalu mendukung penuh atas apa yang saya lakukan asal itu positif mereka mendukung. Ayah saya, Soleh Suadi dan Ibu saya Tri Wahyuni, sehari-hari bekerja sebagai guru. Saya punya kakak 3 orang, satu merantau di Sulawesi dan kakak pertama tinggal di Sleman. Saya alumni SMA 2 Sleman, dan kini kuliah di FKM Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta.

Awal kuliah di FKM ini, karena sebenarnya saya diterima di luar kota, tapi orang tua belum membolehkan. Sedangkan test untuk masuk di Poltekkes saya tidak juga lolos. Kebetulan ada kawan yang juga Sarjana Kesmas dan kini lanjut S2-nya di Surabaya, dia menyarankan agar saya masuk Keseheatan Masyarakat.

Kartu peserta ujian SBMPTN

Yang pertama kali saya bayangkan tentang Kesmas ini yaitu “sosialisasi dan kepedulian”. Saya merasa bersyukur sekali, apalagi setelah membaca kisah di salah satu artikel di Kesmas-ID, kisah yang ditulis Kak Darwis itu, jadi makin bangga deh bisa kuliah di FKM ini.

Pengalaman yang paling berkesan waktu awal kuliah adalah pelajaran dan kegiatannya. Pelajaran di FKM itu ternyata gabungan antara sosial dan sains, itu luar biasa. Dan kegiatannya banyak manfaatnya, apalagi klo terjun ke maasyarakat.

Harapan kedepannya semoga saya dan teman-teman kesmas ini mampu merubah masyarakat Indonesia untuk hidup lebih sehat, dengan pendekatan preventif – promotif.

Mahasiswa Kesmas STIKes Indramayu Gelar Overa Van Campak Rubella di SMP Unggulan

Selasa, 1/8-17, mahasiswa Kesehatan Masyarakat STIKes Indramayu menggelar “Overa Van Campak Rubella” dalam acara kampanye Imunisasi Campak-Rubella (MR).

Indramayu, Selasa, 1/8-17, mahasiswa Kesehatan Masyarakat STIKes Indramayu menggelar “Overa Van Campak Rubella” dalam acara kampanye Imunisasi Campak-Rubella (MR) yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Indramayu di SMP Unggulan Indramayu.

Dalam overa tersebut mahasiswa Kesehatan Masyarakat STIKes Indramayu menyampaikan pentingnya Imunisasi Campak-Rubella (MR) agar bisa melindungi generasi emas Indonesia.

Mahasiswa juga menghimbau kepada siswa/siswi yang hadir untuk mengikuti Imunisasi MR dan ibu-ibu yang memiliki anak atau saudara yang usia 9 bulan – 15 tahun kurang untuk melakukan imunisasi yang dilaksanakan dalam dua fase yaitu Fase Pertama pada Bulan Agustus sasarannya anak  SD/MI/SMP/MTS atau sederajat. Sedangkan fase kedua dilakukan di Posyandu, Puskesmas dan fasilitas kesehatan lainnya sasarannya bayi dan anak yang belum bersekolah serta anak usia sekolah, namun tidak bersekolah.

Overa Van Campak Rubella mampu menggugah perwakilan pengurus OSIS SMP di Indramayu dan siswa-siswi SMP Unggulan untuk melakukan imunisasi MR, siswa mengaku takut untuk di imunisai namun setelah melihat overa van campak rubella dari mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indramayu menjadi tidak takut justru malah menjadi takut kalau tidak di imunisasi.

Kampanye MR ini dihadiri oleh Wakil Bupati Indramayu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, Kepala Puskemas Se-Indramayu, Kepala Dinas Pendidikan, Kapolres Indramayu, dan Perwakilan dari Pengurus OSIS SMP di Indramayu.

Tujuan kampanye ini untuk mensukseskan program Imunisasi MR di Indramayu. Dalam sambutannya, Wakil Bupati Indramayu mengajak seluruh elemen yang terlibat dalam pelaksanaan Imunisasi MR ini bisa berperan aktif untuk mengajak masyarakat yang memiliki anak usia 9 bulan sampai dengan kurang dari 15 tahun untuk melaksanakan imunisasi MR.

Dengan demikian kekebalan tubuh masyarakat Indramayu terhadap campak rubella bisa meningkat dan bisa mensukseskan program pemerintah yaitu Indonesia Bebas Rubella pada tahun 2020.