Bubur Sempolet, Makanan Bergizi Khas Melayu

Bubur Sempolet, selain memiliki rasa yang enak dan unik, makanan ini memiliki manfaat kesehatan yang bagus karena kaya akan gizi.

Provinsi Riau ialah salah satu Daerah terbesar yang ada di Pulau Sumatera yang memiliki 12 Kabupaten/Kota dengan wilayah yang sangat luas.

Berbicara masalah budaya, Riau tak akan pernah ada habisnya. Provinisi yang memiliki potensi wisata yang indah ini selalu menjadi daya tarik setiap orang untuk mengunjunginya. Dilihat dari sejarahnya, Provinsi ini memiliki berbagai makanan khas yang unik. Ada beberapa makanan khas dari Riau yang sangat kental dengan budaya masyarakat, salah satu yang sangat menarik adalah Bubur Sempolet.

Makanan ini biasanya ditemukan pada masyarakat Melayu di Kabupaten Indragiri Hilir, Bengkalis, Meranti dan Siak. Tentunya asal-usul sejarahnya tidak jauh karena atas pengaruh budaya, lingkungan, kebiasaan masyarakat yang di daerahnya memiliki penghasillah sagu yang cukup besar. Menggunakan bahan dasar Sagu berisi sayuran dan berbagai seafod dengan rasa pedas sangat memanjakan lidah.

Selain memiliki rasa yang enak dan unik, makanan ini memiliki manfaat kesehatan yang bagus karena kaya akan gizi.

Berikut rincian kandungan gizi yang terdapat pada makanan sempolet :

1. Pakis mengandung Beta Karoten, Vitamin B Kompleks, Protein Nabati, Kadar Lemak yang rendah

2. Sagu mengandung Kabohodrat, Protein, Serat, Kalsium, Zat Besi

3. Udang mengandung Protein Hewani, Lemak Tak Jenuh, Vitamin B1, Vitamin A, Mineral Chitosan, Klorin, Iodin, Fosforun, dan Rendah Kalori.

4. Kerang mengandung Asalm Lemak Omega-3, Yodium, Protein, Vitamin A, Vitamin E, Vitamin B12, Selenium, Magnesium Zink, Kaliuim, dan Zat Besi

5. Kangkung mengandung Protein, Zat Besi, Vitamin C, Lemak, Vitamin A, Karbihidrat, Fosfor, Serat, dan Kalsium

6. Siput Gonggong mengandung Karbohidrat, Protein, dan Lemak

Proses pengolahan makanan ini cukup sederhana yaitu tepung sagu di campurkan pada air mendidih sambil diaduk-aduk sampai mengental dan menjadi kuah. Lalu ditambahkan dengan sayuran serta ikan serta bumbu masakan sederhana. Proses pemasakan cukup hanya sekitar 15 menit saja lalu siap di hidangkan. Bahan makanan dari sagu ini di produksi sendiri oleh masyarakat dengan adanya kilang-kilang pengolahan sagu masayarakat di sekitar.

Bagi masyarakat membuat dan mengkonsumsi makanan ini tidak semata-mata hanya untuk mengenyangkan perut. Tak lain juga dapat melesttarikan budaya yang merupakan kearifan local yang terus dijaga untuk generasi yang selanjutnya.

Sumber dinkes.inhilkab.go.id

Presiden Sayangkan belanja Rokok lebih banyak dibandingkan Makanan bergizi

Presiden Joko Widodo kembali menggelar rapat terbatas mengenai masalah pertembakauan, Selasa (14/3/2017).

Jokowi mengingatkan kembali apa yang pernah disampaikannya pada ratas sebelumnya, pada 14 Juni 2016.

Saat itu, Jokowi menyebutkan bahwa persoalan tembakau harus dipandang dari dua aspek.

Pertama, berkaitan dengan kepentingan melindungi rakyat dari gangguan kesehatan, dan melindungi kepentingan masa depan generasi penerus, anak-anak Indonesia.

“Informasi yang saya terima, rokok menempati peringkat kedua konsumsi rumah tangga miskin dan rumah tangga miskin lebih memilih belanja rokok daripada belanja makanan bergizi,” kata Jokowi, saat membuka ratas, di Kantor Presiden, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (14/3/2017).

Dana yang dikeluarkan untuk tembakau, lanjut Jokowi, 3,2 kali lebih besar dari pengeluaran telor dan susu; 4,2 kali dari pengeluaran beli daging; 4,4 kali dari biaya pendidikan, dan 3,3 kali dari biaya kesehatan.

“Tentu ini akan berdampak pada kualitas SDM di masa yang akan datang. Dan konsumsi produk tembakau dengan jumlah yang tinggi juga menyebabkan tingginya biaya kesehatan yang harus ditanggung negara, dan yang ditanggung masyarakat,” ujar Jokowi.

Berdasarkan data dari BPJS Kesehatan, tahun 2015, lebih dari 50 persen biaya pengobatan dihabiskan untuk membiayai penderita penyakit tidak menular yang salah satunya disebabkan konsumsi rokok dan paparan asap rokok.

Namun, Jokowi juga meminta jajarannya memerhatikan aspek kedua, yakni mengenai keberlangsungan hidup para petani tembakau.

“Ini juga penting. Kemudian, kerja pertembakauan, yang hidupnya sangat bergantung pada hasil tembakau,” kata Jokowi.

Oleh karena itu, Jokowi meminta laporan Menteri Pertanian mengenai langkah-langkah konkret yang telah dilakukan dalam rangka peningkatan kesejahteraan petani tembakau.

Jokowi juga meminta laporan Menteri Tenaga Kerja mengenai kondisi ketenagakerjaan dan perlindungan bagi pekerja pabrik di industri hasil tembakau.

Belum diputuskan

Dalam rapat terbatas ini, pemerintah belum memutuskan sikap apakah menyetujui atau menolak usulan Rancangan Undang-Undang Pertembakauan yang sudah diajukan oleh DPR.

“Pemerintah belum sepakat. Prosesnya seperti apa, sedang kita cari langkah-langkah,” kata Menteri Hukum dan HAM Yasonna H Laoly.

Sejak diusulkan oleh DPR, RUU Pertembakauan telah memicu polemik.

Sejumlah organisasi kesehatan menentang RUU yang diklaim mengakomodasi kepentingan industri rokok, petani tembakau, dan kesehatan masyarakat itu.

Bahkan, kalangan praktisi hukum menilai RUU ini bertentangan dengan 14 undang-undang lain.

Presiden Joko Widodo memiliki waktu hingga 19 Maret 2017 untuk memberikan jawaban kepada DPR apakah RUU ini jadi dibahas bersama antara pemerintah dengan DPR atau tidak.

Sumber :