Tekan Malaria, Dinkes Purworejo Lakukan Kegiatan MBS Screening

Dinkes Purworejo lakukan kegiatan MBS (Mass Blood Survey) screening pada Senin 30 Oktober 2017 sasar pendatang jelang acara “Jolenen” di Desa Somongari.

Dinkes Purworejo lakukan kegiatan MBS (Mass Blood Survey) screening pada Senin 30 Oktober 2017 sasar pendatang jelang acara "Jolenen" di Desa Somongari, Kec. Kaligesing, Kab Purworejo.

Acara Jolenan/ merti desa merupakan tradisi yang setiap 2 tahun sekali dilakukan di Desa Somongari. Dan pada saat itulah warga Somongari yang merantau di luar kota pulang ke Desa Somongari.

Dengan adanya MBS ini diharapkan dapat menekan penularan malaria. Karena Desa Somongari dalam 2 tahun ini selalu muncul kasus Malaria.

Kegiatan MBS screening merupakan kegiatan preventif penularan kasus Malaria.

Kegiatan tersebut diadakan oleh Dinas Kesehatan Kab.Purworejo Bagian P2, JMD (Juru Malaria Desa), DinKes Provinsi Jateng bagian Malaria, dan Puskesmas Kaligesing.

Sasaran kegiatan adalah para perantau dari berbagai daerah di indonesia. Kegiatan tersebut di koordinasi oleh Bapak Widonarto, S.T bagian P2 Dinkes Kab.Purworejo, dan Purbayu Andhianto Programer Malaria UPT Puskesmas Kaligesing.

Kegiatannya berupa pengecekan darah bagi pendatang oleh JMD (Juru Malaria Desa) se-Kab.Purworejo sebanyak 30 orang. Kegiatan MBS dilakukan di 5 Pos di Desa Somongari.

Tekan Malaria, Ini Perjuangan Nakes Puskesmas Teluk Kepayang

Ini merupakan perjalanan kami petugas kesehatan Puskesmas Teluk Kepayang menuju Desa Batu, Kecamatan Kusan Hulu pada 16 s/d 18 Oktober 2017 lalu.

Ini merupakan perjalanan kami petugas kesehatan Puskesmas Teluk Kepayang menuju Desa Batu, wilayah yang ada didaerah Kalimantan Selatan tepatnya dikabupaten Tanah Bumbu Kecamatan Kusan Hulu pada 16 s/d 18 Oktober 2017 lalu.

Desa batu bulan namanya, desa yang terletak ditengah hutan belantara kalimantan yang dihuni oleh mayoritas penduduknya bekerja dipendulangan emas. Medan yang sulit dan terjal yang akan kita jumpai ketika melewati jalan tersebut. Para petugas kesehatan Puskesmas Teluk Kepayang harus menyiapkan fisik dan mental untuk menjangkau  wilayah tersebut.

Untuk menjangkau wilayah itu memerlukan waktu kira kira 8 jam dari Puskesmas Teluk Kepayang untuk sampai kedesa tersebut. Daerah tersebut adalah salah satu daerah zona merah endemis malaria, yang membuat para petugas kesehatan harus mempunyai strategi khusus untuk menekan penularan angka kejadian Malaria.

Mulai dari kegiatan MBS Malaria, pembagian kelambu massal, penyemprotan dinding rumah (ILS), dan POM Filariasis. Sungguh tidak mudah untuk melancarkan kegiatan ini. Banyak kendala yang dihadapi mulai dari medan yang sulit serta pemahaman masyarakat yang masih rendah.

Purworejo, Kabupaten Endemik Malaria Tertinggi se Pulau Jawa

Kabupaten Purworejo dikenal sebagai daerah endemik malaria. Kabupaten tertinggi jumlah kasus penderita penyakit malaria di Pulau Jawa.

Kabupaten Purworejo Jawa Tengah, yang dikenal sebagai daerah endemik malaria. Purworejo dinobatkan sebagai kabupaten tertinggi jumlah kasus penderita penyakit malaria di Pulau Jawa.

Hal itu mengemuka saat acara Pertemuan Sosialisasi Pencegahan Malaria di Daerah Fokus Provinsi Jawa Tengah tahun 2017 di Pendopo Kabupaten Purworejo, Rabu (30/08/17).

Peserta tidak hanya diikuti oleh perwakilan dari Kabupaten Purworejo saja, namun juga berasal dari Banyumas, Purbalingga, Kebumen, Magelang, dan Banjarnegara. Daerah-daerah tersebut juga merupakan kabupaten endimis malaria di Jawa Tengah.

“Hingga Agustus ini, penderita malaria tertinggi di Jawa Tengah masih Kabupaten Purworejo,” ungkap Tatik Murhayati, Kasi Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah.

Dia mengatakan dari 16 Kecamatan di Kabupaten Purworejo, sebanyak 6 kecamatan masuk wilayah endemis malaria. Jumlah tersebut merupakan jumlah kecamatan terbanyak yang mengalami endemis malaria di Provinsi Jawa Tengah. Keenam kecamatan tersebut yakni Kecamatan Bener, Bagelen, Gebang, Loano, Kaligesing dan Kemiri.

“Untuk Kecamatan Kemiri kasusnya impor, beberapa waktu lalu sudah menjadi kecamatan bebas malaria,” katanya.

Impor itu kata dia, berawal dari adanya warga pendatang yang terjangkit malaria yang kemudian menetap di wilayah itu. “Warga pendatang itu kemudian menularkan malaria,” lanjutnya.

Melihat jumlah penderita yang banyak, kata Tatik, pihaknya telah mempersiapkan kelambu sebagai upaya perlindungan dan pencegahan bagi masyarakat Kabupaten Purworejo agar tidak terjangkit penyakit malaria. Dari total kelambu yang disediakan pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Purworejo mendapat jatah kelambu terbanyak dibandingkan kabupaten lain.

“Tahun 2017 melalui APBD kita siapkan 37.500 kelambu untuk 18.591 KK di 6 kabupaten. Untuk Purworejo sendiri mendapat 25.234 kelambu,” ujar Tatik.

Selain melakukan pencegahan dengan pemasangan kelambu, masyarakat harus memakai pakaian tertutup, khususnya di wilayah endemik malaria saat tidur dan juga di malam hari. Selalu hidup bersih dan sehat dengan membersihkan sanitasi, genangan air atau tumpukan kotoran.

Sementara itu Kabid Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Kabupaten Purworejo, dr Darus menyatakan jika Purworejo memiliki kasus malaria tertinggi tidak hanya se – Jawa Tengah namun tertinggi seluruh Jawa.

“Dari tahun 2015 hingga sekarang saja sudah lebih dari 1.000 kasus, itu artinya Purworejo memiliki angka kasus tertinggi se Jawa,” ungkap Darus.

Darus menambahkan, penderita penyakit yang disebabkan oleh nyamuk anopheles itu membutuhkan cukup waktu untuk penyembuhan dan kontrol kembali untuk pencegahan.

“Memang butuh waktu, yang pasti menghilangkan sumber penularan malaria ya caranya penderita harus diobati secara tuntas,” tandasnya.

Sumber detik.com

Dinkes Nabire: Angka Penderita Malaria Menurun Dibanding Tahun Lalu

Angka penderita malaria di Kabupaten Nabire, sejak Januari hingga Juni tahun ini menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Hal itu disampaikan pengelola program malaria Dinkes Nabire, Yenni Derek, Rabu (22/8/17).

Menurutnya penderita malaria diukur dari beberapa indikator, di antaranya slide parasit indeks (SPR) dan anual parasit indeks (API).

“Bila dibandingkan dengan pada 2016, dari 54.147 pasien yang diperiksa positif terjangkit sebanyak 9.422 kasus. Sementara tujuh bulan terakhir tahun ini, dari 26.479 yang diperiksa hanya ada 1.872 kasus,” katanya.

Dikatakan Yenni, dari 32 puskesmas yang ada, terdapat 26 tenaga mikroskopis kendati alat mikroskopnya baru 12 buah. Meski demikian, pihaknya tetap berupaya agar program bisa berjalan efektif.

“Kami akan berupaya dengan program yang ada guna menurunkan penderita malaria termasuk bekerjasama dengan berbagai pihak, salah satunya dengan Sub Recipion Yayasan Caritas Timika Papua (SRYCTP), dengan mengadakan pengambilan darah massal atau Mass Blood Survey (MBS),” katanya.

Terpisah Kabid P2P Dinkes Nabire dr. Frans Sayori, mengatakan pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah menginstruksikan seluruh unit layanan kesehatan, baik rumah sakit, puskesmas, maupun klinik-klinik swasta agar menggunakan obat anti malaria (OAM), dalam penyembuhan pasien penyakit malaria.

“Ini instruksi kementerian. Apabila ada masyarakat yang merasa demam jangan langsung mengonsumsi obat lain. Harus periksa darah dulu, sebab belum tentu demam itu malaria,” imbaunya.

Kemenkes Kirim 1 Juta Kelambu Untuk Tekan Angka Malaria di Papua

Papua mendapatkan 1.195.500 kelambu antimalaria dari Kemenkes dan akan dibagikan kepada masyarakat sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan.

Dinas Kesehatan Provinsi Papua menyosialisasikan pekan pendistribusian kelambu antimalaria yang akan didistribusikan secara massal di Papua dalam tahun ini. Sosialisasi akan dilakukan hari ini, Kamis (10/8/2017), melibatkan masing-masing Dinas Kesehatan dari 28 kabupaten dan satu kota di Provinsi Papua. Para pemangku kepentingan terkait lainnya juga diundang sebagai peserta dalam kegiatan tersebut.

Kepala Unit Pelaksana Teknis AIDS, TB dan Malaria (ATM) Dinas Kesehatan Provinsi Papua Berri S Wopari, mengatakan malaria merupakan salah satu penyakit yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat.

“Penyakit ini berdampak pada penurunan kualitas sumber daya manusia dan berpengaruh terhadap peningkatan angka kesakitan dan kematian ibu hamil maupun melahirkan, bayi dan balita,” ujarnya.

Papua mendapatkan 1.195.500 kelambu antimalaria dari Kementerian Kesehatan dan akan dibagikan kepada masyarakat sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan.

“Pengiriman satu juta lebih kelambu itu masih dalam perjalanan,diperkirakan dalam waktu dekat tiba di Papua dan didistribusikan ke tiap kabupaten,” katanya.

Dia mengatakan distribusi kelambu antimalaria ini dilakukan guna mencegah penyebaran salah satu penyakit menonjol di provinsi paling timur Indonesia itu.

Menurutnya kelambu itu langsung dikirim dari Kementerian Kesehatan ke masing-masing kabupaten di Papua sesuai dengan data yang dilaporkan dari masing-masing Dinkes kabupaten/kota ke Dinas Kesehatan Papua lalu dilaporkan ke Kementerian Kesehatan.

“Jadi pengirimannya tidak ke Dinas Kesehatan Provinsi tetapi langsung ke Dinas Kesehatan kabupaten/kota, lalu dilanjutkan distribusinya. Dinkes Papua hanya mengontrol kabupaten mana yang sudah menerima, kemudian kabupaten mana yang belum,” ujarnya.

Bery menuturkan mereka yang bisa menerima kelambu ini yakni ibu hamil, anak-anak yang telah mendapatkan imunisasi lengkap, dan mereka yang datang ke puskesmas terdiagnosa sakit malaria.

“Ini kami rencanakan untuk didistribusikan terus sampai ke kampung-kampung yang ada dimasing-masing kabupaten/kota di Papua,” ujarnya.

Pembagian kelambu malaria ini merupakan program pemerintah yang sangat membantu. Dari sisi efektivitas untuk pengendalian malaria sangat baik dan daya tahan dari kelambu ini selama tiga tahun.

“Ini berbeda dengan upaya penanganan malaria lainnya misalnya penyemprotan di rumah yang daya racun obatnya hanya tiga sampai empat bulan, selanjutnya racun obat itu sudah hilang. Kelambu antimalaria ini daya tahannya selama tiga tahun. Yang penting cara perawatannya sesuai petunjuk,” ujarnya.

Ia menambahkan jika perawatan kelambu antimalaria itu sesuai petunjuk akan memberikan perlindungan maksimal kepada masyarakat dari gigitan nyamuk.

Sumber tabloidjubi.com

Dinkes Purbalingga Waspadai Migrasi Malaria Dari Pemudik

Kemungkinan penyakit malaria terbawa oleh para pemudik menjadi perhatian khusus Dinas Kesehatan (Dinkes) Purbalingga.

Kemungkinan penyakit malaria terbawa oleh para pemudik menjadi perhatian khusus Dinas Kesehatan (Dinkes) Purbalingga. Sebab, di Purbalingga pernah terjadi kasus malaria yang diduga dibawa oleh pemudik dan beberapa wilayah dikategorikan endemis malaria.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Purbalingga, Hanung Wikantono mengatakan wilayah endemis malaria tersebut yakni Desa Tetel dan Tegalpingen, Kecamatan Pengadegan. Selanjutnya Desa Sidareja serta Desa Selakambang, Kecamatan Kaligondang.

“Desa tersebut merupakan wilayah endemis terhadap serangan penyakit malaria, pernah juga terjadi kasus malaria yang diduga dibawa oleh pemudik,” kata Hanung, Kamis (22/6).

Antisipasi kemungkinan migrasi penyakit tersebut, Dinkes melibatkan juru malaria desa, poliklinik kesehatan desa (PKD) dan Puskesmas untuk melakukan surveilance migrasi penyakit malaria. Kewaspadaan terhadap penyakit tersebut diutamakan kepada pemudik dari luar Jawa yang mengalami demam tinggi. Kondisi demam dikatakan merupakan salah satu gejala penyakit akibat gigitan nyamuk Anopheles.

“Memang tidak hanya penyakit malaria saja yang kami awasi, kemungkinan penyakit lain yang dibawa oleh pemudik juga ada. Kepada pemudik dan masyarakat yang mengalami gejala penyakit tertentu untuk segera memeriksakan ke puskesmas terdekat,” kata Hanung yang didampingi Kepala Bidang Pencegahan dan pemberantasan penyakit, Semedi.

Selain malaria, Dinkes juga mewaspadai penyakit demam berdarah yang bisa dibawa oleh para pemudik khususnya berasal dari luar Jawa. Dia meminta kepada petugas kesehatan di lapangan agar segera melaporkan jika ada gejala penyakit malaria atau penyakit lain yang ditimbulkan oleh para pemudik. Selambat-lambatnya 24 jam, laporan itu harus sudah disampaikan kepada Dinkes agar ditindaklanjuti dengan cepat.

“Penyakit demam berdarah ini perlu diwaspadai. Sejak Januari hingga Juni 2017 ini sudah ada korban empat orang meninggal dari 186 kasus yang ditangani,” kata Hanung.

Selain penyakit malaria dan demam berdarah, penyakit yang juga perlu diwaspadai yakni keracunan makanan dan diare. Penyakit diare kebanyakan dialami oleh masyarakat pasca Lebaran.

Untuk kesehatan pemudik dan masyarakat, Dinkes membuka operasional seluruh puskesmas baik yang rawat jalan maupun yang rawat inap. Puskesmas-puskesmas tersebut diintruksikan siap memberikan layanan meski hari libur.

Bagi kesehatan pemudik, telah diterjunkan personel kesehatan di sejumlah posko pemudik masing-masing di terminal Bukateja, SPBU Kalimanah, pos Bayeman Karangreja, terminal Bobotsari, dan di kantor Dinas Kesehatan.

“Setiap pos kesehatan kami tempatkan 12 orang secara shif dan bertugas selama 14 hari saat arus mudik dan balik,” kata Hanung.

Sumber merdeka.com

Tak Ada Ambulans, Seorang Ibu Ditandu Sejauh 9 Km ke Rumah Sakit

Kejadian ini dialami oleh masyarakat Desa Bahenap, Kec. Kalis Kabupaten Kapuas Hulu. Puskesmas terdekat di Kec. Kalis sekitar 39 kilometer dari pusat desa.

“Fenomena Sekitar”, demikian judul unggahan foto yang diunggah Selvianus Saludan di akun media sosial Facebook miliknya menggugah hati. Postingan tersebut menjadi viral di ranah jagat maya media sosial.

Dalam foto-foto yang diunggah tersebut, tampak seorang perempuan digotong menggunakan tandu oleh sejumlah pria. Selvianus juga mengunggah sebuah video berdurasi singkat yang menggambarkan suasana saat itu.

Ini Bukan Hoax apa lagi Sekedar pencitraan, ini terjadi disekitar kita. di jaman yang katanya pemerintah telah berbuat dengan adil khususnya dalam pembangun infrastruktur jalan. tetapi kita masih terjadi kesenjanganan dimana – mana,” tulis Selvianus dalam postingan yang diunggah pada Sabtu (10/6/2017).

dalam 2 minggu terakhir saya sudah menjumpai dua kasus dimana warga yang sakit harus harus dibawa dengan bersusah payah untuk sampai ke RS. kejadian ini dialami oleh masyarakat Desa bahenap, Kec. kalis Kabupaten Kapuas Hulu, ini bukan kali pertama masyarakat mengalami hal ini, setiap ada warga yang sakit dan ingin di rawat di RS harus melawati medan yang sama,”

Selain itu, bukan hanya desa ini yang mengalami nasib seperti ini, masih banyak desa-desa lainnya, khususnya desa – desa yang berada di daerah perhuluan, yang secara akses hampir terisolasi, pemerintah pun hampir bisa dipastikan tidakakan mengunjunginya. Jadi wajar kalau masih banyak yang berpendapat bahwa pembangunan didaerah ini masih terfokus pada daerah – daerah tertentu, karena ada daerah yang selalu mendapat bangunan dan tidak sedikit yang belum pernah mendapatkan sama sekali. kalau pembangunan dari pemerintah itu ibaratkan kue, mungkin ada daerah/desa yang sampai muntah – muntah makannya namun masih tetap dikasi bagian/jatah, ini mungkin karna desa ini adalah basisnya (Mungkin), tetapi disisi lain ada daerah/desa yang tidak dapat sama sekali, sampai kelaparan, seolah seperti anak tiri. seolah kami yang tinggal di pedalaman dilarang untuk sakit, karna apabila sakit untuk berobat ke RS bukan pekara mudah, salah – salah penyakit bisa semakin parah” sambungnya kemudian.

Saat dikonfirmasi Kompas.com, Selvianus mengatakan, dua perempuan yang dilihatnya tersebut masing-masing mengalami keguguran karena hamil di luar kandungan dan yang satunya terkena tipes dan malaria.

Seorang Ibu Ditandu Sejauh 9 Km ke Rumah Sakit

Salah satu yang di ditandu itu bernama Nuryana, warga Desa Bahenap, Kecamatan Kalis, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.

“Beliau mengalami sakit kurang lebih dua minggu yang lalu, namun karena bidan desa tidak dapat menanganinya dia dirujuk ke RS Putussibau,” kata Selvianus.

Dia menambahkan, foto itu diambil pada tanggal 8 Juni 2017. Akses jalan yang begitu parah, sambung Selvianus, menjadi kendala untuk membawanya ke Putussibau.

“Jarak tempuh dari desa itu ke desa terdekat sebenarnya tidak begitu jauh, hanya kurang lebih 9 Kilometer, namun akses tidak bisa dilewati kendaraan roda empat,” ungkapnya.

Sementara itu, jarak tempuh ke Puskesmas terdekat di Kecamatan Kalis sekitar 39 kilometer dari pusat desa.

Sumber regional.kompas.com

Dinkes NTT Bentuk Komisi Ahli Malaria

Pemerintah Provinsi NTT melalui Dinas Kesehatan NTT membentuk Komisi Ahli Malaria NTT. Proses pembentukannya diawaki dengan workshop.

Pemerintah Provinsi NTT melalui Dinas Kesehatan NTT membentuk Komisi Ahli Malaria NTT. Proses pembentukannya diawaki dengan workshop.

Workshop Pembentukan Komisi Ahli Malaria NTT berlangsung di Aula Edelweis Hotel Naka Kupang, Jumat (2/6/2017) pagi.

Peserta berasal dari dinas kesehatan NTT, dinas kesehatan kabupaten/kota, institusi pendidikan, organisasi profesi dan pers.

Sekretaris Dinas Kesehatan NTT, Klemens Kesule Hala, SH, M.Hum saat membuka warkshop, mengatakan program pengendalian malaria di NTT saat ini difokuskan untuk mencapai percepatan eliminasi sebagai upaya mewujudkan masyarakat yang hidup sehat, yang terbebas dari penularan maria secara bertahap sampai tahun 2023.

“Salah satu strategi percepatan adalah penguatan dukungan pemerintah, swasta institusi pendidikan, organisasi profesi, pers dan pihak lain yang terkait,” kata Kesule Hala.

Workshop pembentukan Komisi Ahli Malaria NTT menindaklanjuti Kepmenkes 293/Menkes/SK/IV/2009 tentang Eliminasi Malaria di Indonesia, Kemmenkes 131/Menkes/SK/III/2012 tentang Forum Basional Gerakan Berantas Kembali Malaria (Gebrak Malaria) dan Pergub Nomor 11 tahun 2017 tentang Eliminasi Malaria di Provinsi NTT.

Sumber kupang.tribunnews.com

Cegah Malaria, Kemenkes Imbau Masyarakat Gunakan Ini saat Tidur

Salah satu upaya pencegahan yang bisa dilakukan adalah memasang kelambu. Langkah ini 80 persen efektif mencegah gigitan nyamuk pembawa parasit malaria.

Sebagai negara tropis, Indonesia masih belum bisa terbebas dari kasus malaria. Dari 514 kabupaten/kota di Indonesia, baru 247 kabupaten/kota 247 yang dinyatakan bebas malaria. Sedangkan sisanya masih berada di endemis menengah dan tinggi malaria.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, M. Subuh mengatakan, salah satu upaya pencegahan yang bisa dilakukan adalah memasang kelambu. Langkah ini, menurut dia, 80 persen efektif mencegah gigitan nyamuk Anopheles sp yang membawa parasit malaria. Nyamuk menggigit pada umumnya mulai dari jam 6 sore hingga jam 6 pagi.

“Keberhasilan di daerah Purworejo bisa mengurangi 200 angka kejadian malaria atau annual parasite incidence (API) dalam waktu 6 tahun menjadi di bawah 3 salah satunya karena bupati dan seluruh komponen di Purworejo mensosialisasikan pemakaian kelambu,” ujar M Subuh pada temu media Hari Malaria Sedunia di Jakarta, Senin (17/4/2017).

Sedangkan saat berada di luar rumah, Subuh menghimbau, agar masyarakat di daerah endemi menengah dan tinggi menggunakan pakaian lengan panjang atau lotion anti nyamuk. Apalagi jika di sekitar tempat tinggal mereka masih terdapat rawa atau ladang yang disukai nyamuk.

“Kita temukan juga masyarakat mempunyai lahan perkebunan misalnya durian, mereka memanen pada malam hari, disitulah mereka terkena gigitan. Ada juga kita temukan warga yang tidak punya sanitasi, mereka sering keluar di malam hari untuk buang air kecil atau buang air besar,” tambah dia.

Gejala malaria sendiri meliputi demam, menggigil berkeringat dan dapat disertai sakit kepala, mual, muntah, diare, dan nyeri otot atau pegal-pegal.

SUMBER