Mari Kaka Kitorang Patungan Untuk Asmat!

Mari Kaka Kitorang Patungan Untuk Asmat!!! Bersama kita berangkatkan Kapal Kemanusiaan (KK) menuju Papua dengan membawa 100 ton bantuan pangan dan medis serta seratus relawan termasuk tenaga medis dan ahli gizi. Menyasar penderita campak dan gizi buruk yang ada di Kabupaten Asmat, Papua.

Kamu anak muda yang peduli dengan saudara-saudara kita di Asmat, papua?

Mari Kaka Kitorang Patungan Untuk Asmat!!! Bersama kita berangkatkan Kapal Kemanusiaan (KK) menuju Papua dengan membawa 100 ton bantuan pangan dan medis serta seratus relawan termasuk tenaga medis dan ahli gizi. Menyasar penderita campak dan gizi buruk yang ada di Kabupaten Asmat, Papua.

Berdonasi 130K++ dengan membeli kaos kece #Pantunganuntukasmat kita sudah ikut turun tangan membantu saudara-saudara kita di Asmat. Seluruh keuntungan dalam penjualan Kaos ini akan disalurkan melalui ACT (Aksi Cepat Tanggap) dalam Kapal Kemanusiaan untuk Papua.

Kaos combed 30s warna Blue Navy.

Ingin memesan? Silahkan WA/sms ke :

  • Mardiana : 081355623408
  • Santa : 082167447155
  • Yhuni : 081213920733
  • Naomi : 081280582679

Dengan format:

Nama_Ukuran Kaos_lengan panjang/pendek_Alamat lengkap_No.hp

Jika sudah dikonfirmasi jumlah pembayaran, silahkan transfer ke rekening BRI a/n Mardiana: 4985.01.002961.53.7

PO sampai dengan tgl 19 Feb 2018

Kitorang Samua Basodara, Katong untuk Papua.

Ko Traa Kosong Kawan!

#NSBersatu #NSuntukAsmat #PatunganUntukAsmat #KapalKemanusiaanUntukPapua

Atasi Gizi Buruk, Alumni Nusantara Sehat Siap Tugas ke Asmat!

“Di Asmat akan kita tingkatkan Nusantara Sehat. Kami punya terobosan untuk mengirim dokter spesialis,’ kata Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Ibu Nila Farid Moelok.

Beberapa hari lalu kita mendengar bersama tentang aksi yang dilakukan oleh Ketua BEM UI yang sangat viral di media sosial. Aksi tersebut dilakukan saat Bapak Presiden Jokowi menghadiri acara Dies Natalis Ke-68 di Balaiarung Depok, Jum’at (2/2/2018).

Zaadit Taqwa menyampaikan, kartu kuning yang diberikan ke Jokowi adalah  peringatan yang diberikan untuk melakukan evaluasi di tahun keempat. Karena ada sejumlah permasalahan di pemerintah terutama yang paling disoroti adalah kasus gizi buruk di Asmat, Papua.

Isu gizi buruk di Asmat berdasarkan data Kemenkes menyebutkan, terdapat 646 anak terkena wabah campak dan 144 anak menderita gizi buruk di Asmat. Selain itu, ditemukan juga 25 anak suspect campak serta 4 anak yang terkena campak dan gizi buruk.

Menteri Kesehatan Republik Indonesia  Ibu Nila Farid Moelok berencana akan mengirimkan tenaga kesehatan ke Asmat Papua yang akan bertugas 2 tahun mengabdi dengan basis tim dan individual.

“Di Asmat akan kita tingkatkan Nusantara Sehat. Kami punya terobosan untuk mengirim dokter spesialis,’ kata beliau.

Program Nusantara Sehat sudah berjalan sejak tahun 2015 dan terus berlangsung sampai saat ini dengan mengirimkan tenaga kesehatan ke DTPK dan DBK berbentuk tim dan individual ke seluruh Indonesia.

Ada yang menarik ketika kami menerima informasi pembukaan pendaftaran tenaga nusantara sehat yang ke Asmat, Papua. Melalui grub whatts app, muncul percakapan yang memuat ajakan daftar nama yang bersedia tugas ke sana.

Hutomo :“Ayo bikin daftar nama sebagai berikut, ‘Saya siap tugas ke Asmat Papua’ . Tolong lanjut (tulis nama) bagi yang bersedia.”

BDP : ”Butuh berapa (tenaga kesehatan)?.”

Hutomo,”Ini untuk alumni ns(nusantara sehat).”

Tidak lama setelah pesan ini disampaikan, bermunculan para tenaga nusantara sehat batch 2 yang menulis nama bersedia untuk ditempatkan di Asmat Papua. Ada profesi perawat, bidan, tenaga kesehatan masyarakat, gizi dan tenaga lainnya.

Ardiyansah : ,”Memang persoalan gizi buruk di Asmat ataupun permasalahan kesehatan di lainnya di Papua secara umum mungkin tidak sederhana yang kita fikirkan…”

Sebelum ditugaskan ke penempatan, tenaga kesehatan yang sudah lolos seleksi akan mendapatkan pelatihan dan pembekalan khusus di Pusdikkes TNI AD Jakarta. Penguatan mental sebelum bertugas sangat penting karena permasalahan yang dihadapi di lapangan tidak cukup hanya berbekal dari teori dari bangku kampus.

Tenaga nusantara sehat khususnya batch 1 dan 2 telah menyelesaikan tugas pengabdian selama 2 tahun yang tidak diragukan lagi pengalamannya. Sebagian besar mereka melanjutkan dengan ikut serta penugasan khusus nusantara sehat individu, dan sebagian lainnya masih menunggu pemberangkatan tahap selanjutnya.

Maka ketika ada pertanyaan adakah yang bersedia tugas ke Asmat Papua?,  Kami beri jawaban tidak sedikit tenaga Nusantara Sehat yang sedia untuk mengabdi ke masyarakat dimanapun berada.

SKM Nusantara Sehat, Mengabdi Untuk Kesehatan Masyarakat Pulau Terluar

Neni Yulita, lulusan SKM, hampir dua tahun ini ditempatkan di salah satu pulau terluar di Kepulauan Sangihe, Nusa Tabukan, dalam program Nusantara Sehat.

Bertugas di daerah terpencil, jadi tantangan tersendiri bagi Neni Yulita. Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM) ini, hampir dua tahun ditempatkan di salah satu pulau terluar di Kepulauan Sangihe, Nusa Tabukan.

 

Laporan: Sriwani Adolong, Sangihe

NENI memulau tugasnya di Nusa Tabukan pada 2 Desember 2016. Program Nusantara Sehat yang menempatkannya di sana. Nusa Tabukan masuk daftar pulau terluar di Indonesia. Lokasinya cukup jauh dari ibu kota Kepulauan Sangihe, Tahuna. Sekira 2,5 jam paling cepat. Itupun harus menempuh transportasi laut dan darat. Transit di Kecamatan Petta. Sebagai tenaga kesehatan di wilayah kepulauan, Neni harus ekstra kerja.

Profesinya menuntut dia harus memberi pengetahuan pada masyarakat terkait hidup sehat. Fokusnya mengatasi permasalahan kesehatan masyarakat melalui pendekatan promotif dan preventif. “Dititikberatkan pada upaya pencegahan. Mempertahankan masyarakat sehat agar tetap sehat dan memberikan dorongan kepada mereka yang sakit agar memperhatikan kesehatannya,” jelas perempuan asal Provinsi Jambi ini.

Dikisahkannya, berbagai kendala harus dihadapi. Mulai dari jaringan internet sulit, sehingga sering ketinggalan informasi. Apalagi jika ada informasi penting dari Dinas Kesehatan, terkadang nanti bisa diketahui keesokan harinya. “Selain itu medannya harus naik turun gunung dengan jalanan licin,” ceritanya, pada Manado Post.

Neni pun harus menjajal kampung yang satu, ke kampung lain. Alat transportasinya adalah perahu. Cuaca ekstrem sering ditemui. Namun harus ditempuh untuk melihat kondisi masyarakat.

Namun dia bersyukur kesulitan tersebut bisa hilang karena masyarakat dan pemerintah kecamatan maupun kampung sangat ramah dan baik. “Yang membuat betah juga banyak ikan. Saya sering makan ikan,” katanya tersenyum. Hal itu juga yang membuat Neni jarang meninggalkan lokasi tugas. “Saya ke Tahuna nanti ketika ada yang perlu dikonsultasikan atau diinformasikan ke dinas. Lain dari itu tinggal di tempat tugas karena harus terus melihat kondisi masyarakat,” ungkapnya.

Dia berharap aktivitas di Puskesmas bisa berjalan lancar meski terkendala listrik karena masih menggunakan PLTS. Agar semua masyarakat dapat terlayani dengan baik. “Di pulau ini saya sadar kesehatan masyarakat sangat mahal. Sehingga saya ingin terus berupaya agar kedepannya masyarakat pulau mendapat pelayanan kesehatan yang baik,” tutup Nenu.

Sumber http://manadopostonline.com/read/2018/01/24/Gigihnya-Tenaga-Kesehatan-Mengabdi-di-Pulau-Terpencil/29426

Budayakan GERMAS, Pegawai Puskesmas Orong Lakukan Senam Bersama

Penerapan Germas di lingkungan Puskesmas Orong salah satunya adalah dengan melakukan senam pagi bersama setiap hari Jum’at setelah pelaksanaan apel pagi.

Orong – 17/11/2017, Perubahan pola penyakit yang ada di Indonesia dari penyakit menular kepada penyakit tidak menular yang semakin tinggi menjadi sebuah kajian tersendiri bagi para promotor kesehatan khususnya kementrian kesehatan republik Indonesia. Menindaklanjuti hal tersebut, sangat penting dalam melakukan perbaikan lingkungan dan perubahan prilaku ke arah yang lebih sehat untuk mewujudkan masyarakat yang sehat.

Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) merupakan salah satu kegiatan yang sedang di gencarkan oleh kementrian kesehatan guna mengurangi angka kematian dan kesakitan akibat penyakit tidak menular dengan harapan masyarakat bisa meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuannya untuk berprilaku sehat.

Puskesmas Orong Kecamatan Welak Kabupaten Manggarai Barat sebagai pusat pengembangan kesehatan masyarakat berkomitmen untuk mewujudkan masyarakat Welak yang sehat dan mandiri pada tahun 2020 sebagaimana tertera pada Visi Puskesmas, salah satu cara yang di tempuh adalah dengan membudidayakan GERMAS di lingkungan Puskesmas dan dimasyarakat.

Penerapan Germas di lingkungan puskesmas Orong salah satunya adalah dengan melakukan senam pagi bersama di depan halaman puskesmas setiap hari Jum’at setelah pelaksanaan apel pagi yang di pimpin langsung oleh Ibu Patrisia Sinarti Murti selaku Kepala Puskesmas Orong.

Pencerah Nusantara atau Nusantara Sehat? Yuk Kepoin Keduanya!

Pengen tahu beda Pencerah Nusantara dengan Nusantara Sehat? Yuk baca ulasan ini, sapa tahu kamu juga jadi minat ikut gabung PN 6, pendaftaran s.d 1 Des’17.

Bagi sebagian besar tenaga kesehatan muda di Indonesia, tentu sudah tidak asing lagi mendengar program Pencerah Nusantara dan Nusantara Sehat, namun belum banyak yang mengetahui perbedaan Pencerah Nusantara dengan Nusantara Sehat. Pencerah Nusantara adalah gerakan sosial intervensi kesehatan berbasis tim yang berfokus pada penguatan layanan kesehatan primer di daerah bermasalah kesehatan.

Namun, seringkali teman-teman tenaga kesehatan muda bingung tentang keduanya. Apa sih persamaan dan perbedaan antara Pencerah Nusantara dengan Nusantara Sehat? Siapa saja yang boleh mengikuti Pencerah Nusantara dan Nusantara Sehat? Yuk, simak enam hal yang perlu kamu ketahui tentang Pencerah Nusantara dan Nusantara Sehat!

1. Pencerah Nusantara adalah Inisiatif yang Melahirkan Nusantara Sehat

Pencerah Nusantara pertama kali diresmikan pada tahun 2011 oleh Kantor Utusan Khusus Presiden RI untuk Millenium Development Goals (MDGs) yang pada saat itu dikepalai oleh Prof. Nila Moeloek. Angkatan pertama tim Pencerah Nusantara diberangkatkan tepat pada hari Sumpah Pemuda di tahun 2012 dan ditempatkan di tujuh lokasi pengabdian yang lokasinya terletak di daerah perifer nusantara.

Setelah tiga tahun masa pengabdian, Pencerah Nusantara mulai menyebarkan dampak perubahan di ketujuh lokasi penempatan. Dengan bukti-bukti penelitian yang sudah terkumpul selama tiga tahun pertama intervensi, Kementerian Kesehatan RI memutuskan untuk mengadopsi Pencerah Nusantara menjadi program skala nasional yang kelak bernama Nusantara Sehat. Program Nusantara Sehat pun secara resmi diluncurkan pada tahun 2015.

2. Manajemen Pengelolaan

Sejak Kantor Utusan Khusus Presiden RI untuk MDGs memasuki masa purna tugas, tongkat estafet pengelolaan program Pencerah Nusantara dilanjutkan oleh Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI). Sebagai organisasi masyarakat sipil, CISDI memiliki otoritas penuh dalam mengembangkan inovasi dan manajemen program Pencerah Nusantara. CISDI juga mengusung semangat kolaborasi dengan melibatkan multi sektor dan multi aktor seperti akademisi, organisasi profesi, sektor bisnis, praktisi media dan pemerintah daerah dalam mendukung pelaksanaan Pencerah Nusantara.

Perbedaan Pencerah Nusantara dengan Nusantara Sehat yang lain adalah Nusantara Sehat dikelola secara penuh oleh Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI. Sebagai program resmi pemerintah, implementasi Nusantara Sehat berjalan sesuai dengan regulasi dan program prioritas pemerintah.

3. Lokasi Penempatan

Sesuai dengan Nawa Cita, Presiden Joko Widodo memprioritaskan pembangunan negeri ini di Daerah Tertinggal, Perbatasan dan Kepulauan. Umumnya, karakter daerah tersebut banyak mengalami keterbatasan khususnya terkait akses listrik, infrastruktur, dan jaringan telekomunikasi. Namun demikian, niat mulia teman-teman Nusantara Sehat tidak pernah berhenti hanya karena keterbatasan sarana prasarana karena mereka sadar bahwa justru disitulah tantangan yang sebenarnya.

Di sisi lain, Pencerah Nusantara memprioritaskan intervensi kesehatan di Daerah Bermasalah Kesehatan (DBK). Masih banyak daerah di Indonesia yang sudah mendapat aliran listrik, jaringan telekomunikasi, infrastruktur yang cukup serta memiliki fasilitas dasar kesehatan namun masih menghadapi tantangan kesehatan. Hal ini terjadi diantaranya akibat tidak meratanya distribusi tenaga kesehatan, belum optimalnya kolaborasi lintas sektor di lingkungan setempat serta determinan sosial lainnya.

4. Pengembangan Inovasi

Menilik lebih lanjut dari lokasi penempatan kedua program, tentu ada sedikit perbedaan dalam tujuan utama implementasi serta pengembangan inovasi yang dilakukan program Pencerah Nusantara dan Nusantara Sehat.

Program Nusantara Sehat bertujuan untuk menggenapi distribusi tenaga kesehatan di daerah-daerah yang tertinggal dan berlokasi di daerah perbatasan serta kepulauan. Kementerian Kesehatan RI sepenuhnya sadar bahwa sudah menjadi tanggungjawab dari pemerintah untuk mendukung pemerataan tenaga kesehatan di seluruh pelosok negeri. Hal ini terbukti mampu menjawab tantangan terkait distribusi tenaga kesehatan yang seringkali dianggap tidak seimbang antara daerah perkotaan dan daerah tertinggal. Inovasi yang dikembangkan pun sejalan dengan Standard Operating Procedure yang sudah ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan RI.

Sedikit berbeda dengan Nusantara Sehat, Pencerah Nusantara bertujuan untuk memperkuat layanan kesehatan primer di Daerah Bermasalah Kesehatan (DBK). Dalam praktiknya, Pencerah Nusantara berkolaborasi dengan Puskesmas setempat dalam melakukan penguatan layanan Puskesmas. Termasuk di dalamnya tindakan promotif, preventif, kuratif, manajemen puskesmas sekaligus mendorong partisipasi lintas sektor dari perangkat desa dan masyarakat untuk mewujudkan Indonesia yang lebih sehat dan berdaya. Tidak berhenti sampai disitu, pengembangan inovasi yang dilakukan pun cukup mengejutkan. Dari mulai berkolaborasi dengan sektor swasta, komunitas, akademisi dan organisasi masyarakat sipil lain, Pencerah Nusantara juga tengah mengembangkan layanan telekonsultasi jarak jauh yang diharapkan dapat mengurangi angka rujukan di Puskesmas.

5. Satu tahun VS dua tahun. Pilih yang mana?

Jika kamu mempertimbangkan durasi pengabdian atas berbagai alasan, Pencerah Nusantara menempatkan tenaga kesehatan muda profesional selama satu tahun di daerah penempatan. Sementara itu, Nusantara Sehat secara resmi menugaskan tim kesehatan untuk ditempatkan selama dua tahun di daerah penempatan yang lokasinya memenuhi kriteria Daerah Tertinggal, Perbatasan dan Kepulauan.

6. Kolaborasi Interprofesi

Pencerah Nusantara dan Nusantara Sehat percaya bahwa intervensi kesehatan harus dilakukan secara bersama-sama oleh tenaga kesehatan muda secara lintas profesi. Dalam praktiknya, Pencerah Nusantara memberangkatkan tim kesehatan yang terdiri dari dokter, dokter gigi, perawat, bidan, tenaga kesehatan masyarakat dan pemerhati kesehatan non-medis dalam satu tim yang umumnya terdiri dari lima hingga enam orang. Sementara Nusantara Sehat memberangkatkan tim dengan jumlah anggota yang sedikit lebih besar, yaitu delapan orang tenaga medis. Dalam penerapan kolaborasi interprofesi, keahlian dari masing-masing tenaga kesehatan muda profesional dan pengalaman yang mereka miliki akan saling melengkapi sehingga memperkaya intervensi program yang dilakukan.

Keren bukan?

Nah, sekarang kamu sudah paham kan perbedaan Pencerah Nusantara dengan Nusantara Sehat? Kalau kamu adalah pemuda Indonesia yang ingin berkontribusi langsung pada pembangunan kesehatan di negeri ini, Pencerah Nusantara mengajak kamu untuk bergabung sebagai Pencerah Nusantara Angkatan 6. Yuk kunjungi www.pencerahnusantara.org sebelum pendaftaran ditutup pada tanggal 1 Desember 2017!


Penulis:
Outreach and Partnership Division
Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI)

Aplikasi GERMAS di Wilayah Pedalaman, Apa Bisa?

Apakah bisa menerapkan GERMAS di wilayah pedalaman? Jawabnya adalah “HARUS”! Dalam hal ini perlu kerjasama lintas sektor terkait agar tujuan ini tercapai.

Hidup di zaman milenial seperti pedang bermata dua, bermanfaat  karena segalanya dimudahkan dengan teknologi. Lapar sedikit, bisa buka aplikasi dan memesan makanan dan bisa diantar sampai kerumah.

Terkait makanannya, belum tentu makanan yang kadar GGL (gula, garam, dan lemak) sudah sesuai dengan asupan minimal per hari. Menjadi tidak baik jika aktivitas diatas dilakukan berulang dan berkesinambungan sehingga menyebabkan gangguan kesehatan.

Terbukti dari program JKN bahwa penyakit yang menjadi mayoritas dalam pembiayaan adalah penyakit degenartif, seperti jantung koroner, stroke, diabetes, kanker, gagal ginjal, dimana penyakit tersebut disebabkan oleh pola hidup yang tidak sehat.

Tahun 2016, Kementerian Kesehatan meluncurkan program kesehatan yaitu GERMAS, Gerakan Masyarakat Hidup Sehat. Yang berisi 7 komponen didalamnya, yaitu:

  1. Melakukan aktivitas fisik
  2. Mengkonsumsi buah dan sayur
  3. Tidak merokok
  4. Tidak mengkonsumsi alkohol
  5. Memeriksa kesehatan secara rutin
  6. Membersihkan lingkungan
  7. Menggunakan jamban

Dari 7 komponen diatas yang menjadi fokus utama saat ini adalah 3 diantaranya, yaitu melakukan aktivitas fisik, mengkonsumsi buah dan sayur, memeriksa kesehatan secara rutin.

Untuk wilayah perkotaan yang dihuni kaum milenial mungkin bukan masalah karena semuanya bisa diakses dengan mudah, hanyakesadaran yang menjadi dinding untuk bisa melakukannya.

Saat ini di daerah lain telah banyak kegiatan untuk mendukung GERMAS, mulai dari tingkat desa, bahkan swasta. Pertanyaannya sekarang, apakah germas bisa diterapkan di wilayah pedalaman terutama di Indonesia Timur? Mari kita bahas satu per satu.

1. Melakukan Aktivitas Fisik

Di daerah pedalaman alat transportasi masih sangat terbatas. Kehidupan sehari-hari mereka adalah berkebun, berburu, dan menjala ikan. Semua itu mereka lakukan dengan berjalan kaki yang jaraknya bisa ditempuh 2-3 jam dengan berjalan kaki. Artinya, mereka sudah mengakomodir untuk aktivitas fisik yang dianjurkan, bahkan lebih.

Melakukan Aktivitas Fisik

2. Mengkonsumsi Buah dan Sayur

Seperti yang sudah dijelaskan diatas, keseharian mereka adalah berkebun. Banyak jenis sayuran dan buah-buahan yang bisa mereka tanam. Singkong, kangkung, bayam, kubis, pepaya, nanas, durian, rambutan, jambu, hingga buah mereh yang kaya akan antioksidan. Mereka telah berkebun sejak lama. Bagi yang telah mengerti tentang ekonomi, mereka bisa menjualnya ke pasar, masyarakat.

makan buah dan sayur

Namun, mengapa masih ditemukan banyak kasus gizi buruk? Melihat kemungkinan ditatas seharusnya kecukupan gizi mereka telah tercukupi. Yang menjadi masalah adalah determinan sosial dalam perilaku mereka, Poligami.

Dalam satu rumah bisa diisi dengan keluarga yang berisi 1 suami, 3 istri, dan 12 orang anak, dan dalam satu Distrik (Kecamatan) memiliki lebih dari 1.000 KK. Berapa anak-anak yang memiliki kemungkinan untuk gizi buruk? Banyak sekali. Status ekonomi mereka tidak mencukupi untuk menghidupi semua anak-anak mereka.

gizi buruk

Sektor kesehatan telah berusaha melakukan tugas mereka, bahkan tidak sedikit yayasan nasional dan internasional yang turut membantu untuk menekan angka gizi buruk. Mirip seperti fenomena gunung es, sangat samar untuk melihat angka pasti dari jumlah kasus ini.

Memang tidak semua wilayah di Papua memiliki kasus seperti diatas, masih ada beberapa wilayah yang ber-KB dan bisa mencukupi asupan gizi mereka.

3. Tidak Merokok dan Tidak Minum Alkohol

2 sahabat karib ini sangat susah dikendalikan. Jangankan di pedalaman, di perkotaan yang mayoritas kaum terpelajar dan memahami resikonya saja masih bergelut mesra dan tidak bisa beralih dari rokok dan alkohol.

Setidaknya beberapa dari mereka mengerti bahwa merokok di dekat bayi/balita itu tidak baik, jadi beberapa dari mereka bisa mengurangi jumlah perokok pasif.

4. Memeriksa Kesehatan Secara Rutin

Masalah yang ditemui dalam poin ini adalah pemeriksaan ibu hamil. Kesadaran mereka masih sangat kurang untuk poin yang satu ini. Kesadaran mereka untuk memeriksakan kehamilan mereka masih minim, karena sebagian dari mereka berpikir, selama masa hamil tidak sakit, dan masih bisa beraktivitas, maka semuanya akan baik-baik saja.

Sementara, status gizi ibu perlu diperhatikan akan berat badannya, kecukupan Fe, dan lainnya yang menunjang masa kehamilan. Hal ini yang cenderung luput dari perhatian mereka yang beresiko bayi lahir dengan BBLR

pemeriksaan kesehatan

5. Menggunakan Jamban

Indonesia ditargetkan untuk 100% bebas buang air besar sembarangan tahun 2019. Selama tahun berjalan 2017 ini, jumlah Distrik di salah satu Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat yang mendeklarasikan ODF (Open Defecation Free) baru berjumlah 2 Distrik. Masih jauh dibandingkan Kabupaten lain di Indonesia Barat.

Jumlah jamban pribadi masih sangat minim, hal ini disebabkan beberapa faktor penting, diantaranya adalah ketersediaan sumber air bersih.

jamban sehat

Wilayah pegunungan mungkin memiliki air bersih, namun ketersediaan sumber daya lain seperti listrik atau pompa air untuk disalurkan ke rumah masih terbatas.

Beruntungnya, saat ini pembangunan Indonesia Timur menjadi prioritas, beberapa Distrik telah memanfaatkan Dana Desa untuk membangun jamban komunal dan ketersediaan Solar Cell atau generator untuk mesin pompa mereka.

Apakah berhasil? Masih belum sepenuhnya. Lagi-lagi determinan sosial memaksa petugas kesehatan bekerja lebih keras agar mereka bisa mencanangkan ODF (Open Defecation Free), yaitu KEBIASAAN.

Mereka masih belum terbiasa menggunakan jamban, meski jamban dan air telah tersedia.

Melihat penjabaran diatas, pertanyaan “Apakah bisa menerapkan GERMAS di wilayah pedalaman?”, jawabannya adalah “HARUS”!

Bisa tidak bisa GERMAS harus dilaksanakan dan digencarkan untuk menyelesaikan polemik diatas. Masih banyak PR yang harus dikerjakan untuk kita semua. Bukan hanya sektor kesehatan, namun sektor lain selaku pendukung keberhasilan.

Petugas kesehatan bukanlah pahlawan super yang bisa mengatasi masalah diatas sendirian.

Meskipun seandainya petugas kesehatan adalah pahlawan super, maka petugas kesehatan memerlukan bantuan dari pahlawan super lain dalam hal ini lintas sektor terkait agar tujuan ini bisa tercapai, karena masalah yang ada di Indonesia, adalah masalah kita semua.

tenaga kesehatan indonesia

Bongkar Celengan, 15 Orang Nusantara Sehat Ikuti Pelatihan Nasional di Makassar

Berangkat dari pelosok-pelosok negeri, 15 orang Tim Based Nusantara Sehat ikuti Pelatihan Nasional Manajemen dan Kepemimpinan Puskesmas di Makassar.

Berangkat dari pelosok-pelosok negeri, 15 orang Tim Based Nusantara Sehat dengan profesi Tenaga Kesehatan Masyarakat dan penempatan yang berbeda-beda, bongkar celengan untuk ikuti Pelatihan Nasional Manajemen dan Kepemimpinan Puskesmas yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Sarjana Kesehatan Masyarakat Indonesia (PERSAKMI) di Hotel Jolin Makassar.

Hal ini menuai apresiasi dari Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK), “Saya sangat terkejut sekali dengan kehadiran adik-adik sekalian. Saya tahu pelatihan ini tidak murah, tapi adik-adik mengikuti pelatihan ini by pocket. Sungguh luar biasa!” ungkap Bapak Andi Mansur Sulolipu, S.KM, M.Kes selaku fasilitator.

“Kalau seperti ini, nanti kita akan buatkan pelatihan yang memang benar-benar dibutuhkan adik-adik Nusantara Sehat.” tambahnya yang tidak bisa menyembunyikan raut wajah kagumnya kepada peserta dari Nusantara Sehat.

Pelatihan yang dilaksanakan pada tanggal 20-21 Oktober ini dikutsertakan 45 peserta, 15 diantaranya adalah Nusantara Sehat Batch 4 dan 5.

Nusantara Sehat Ikuti Pelatihan

Mayoritas peserta yang memegang jabatan sebagai Kepala Puskesmas dan diberangkatkan dengan SPPD (Surat Perintah Perjalanan Dinas) tidak membuat mereka kecil hati.

“Saya merasa saya perlu materinya untuk mengupgrade ilmu. Di daerah penempatan, pelatihan manajemen Puskesmas jarang diadakan. Kalau diadakan pun pasti PNS. Terlebih ini pelatihan nasional jadi harapannya mampu dapat cerita dan pengalaman dari wilayah lain yang mungkin bisa diadopsi di penempatan saya” jelas Ni’mah peserta dari Nusantara Sehat Batch 4 penempatan Papua Barat.

“Saya merasa pelatihan ini penting baik untuk meningkatkan kualitas diri, materinya juga bisa membantu dalam pengakreditasian Puskesmas.” Tambah Al peserta dari Nusantara Sehat Batch 4 penempatan Sumatera Utara.

Meskipun tidak difasilitasi dengan baik oleh instansi terkait, tidak memutuskan semangat peserta dari tim Nusantara Sehat ini dalam melakukan perjalanan yang berhari-hari dengan akses laut, darat dan udara.

“Pelatihan seperti ini sangat bagus, namun kalau biayanya mandiri tidak semua bisa mengikutinya dengan alasan dana.” ungkap Neni Yunita salah satu Nusantara Sehat Batch 5 penempatan Sulawesi Utara.

“Saya harap kedepannya pelatihan-pelatihan seperti ini dapat bekerjasama dengan Dinas ataupun Instansi terkait, agar tenaga kesehatan dapat meng-upgrade ilmunya dan pelayan kesehatan menjadi lebih baik.” tambahnya.

Untuk Nusantara Sehat Batch 2 Sungai Guntung yang Hebat dan Menebar Manfaat

Terimakasih Nusantara Sehat Dua Sungai Guntung, atas apa yang telah kalian berikan untuk Puskesmas dan kampung halamanku yang paling kucintai ini.

Awal Desember 2015 lalu adalah awal kali mereka menginjakkan kaki di bumi Kateman, sebuah kota kecil daerah pinggiran yang maju pesat perkembangannya namun cukup memprihatinkan pula permasalahannya.

Hendri, Bagus, Dedeh, Diyan, Faridah dan Sabrina. Ya, mereka adalah anggota Tim Nusantara Sehat yang di tempat tugaskan di Kateman. Mereka adalah 6 Anak Bangsa pilihan rekrutan Kementerian Kesehatan yang dipilih Kemekes untuk mensukseskan program pemerintah membangun Kesehatan Indonesia dari Pinggiran.

Aku masih ingat, di pelabuhan HK Sungai Guntung-lah kami (Aku, Atasanku juga salah satu temanku bernama ‘Heri’) menjemput awal kali mereka datang ke Kateman. Berjumlah Enam orang; Dua Lelaki Sejati, Empat Wanita Bermutu Tinggi.

Mereka memang berbeda profesi tapi selalu bersinergi, memang berbeda satu dan lainnya dalam berbagai hal tapi selalu saling melengkapi. Ah, mereka hebat dan menebar banyak manfaat. Wajar bila kepergian mereka kemarin membuat sedih dan meneteskan air mata Petugas Puskesmas Sungai Guntung dan masyarakat yang pernah berbaur dengan mereka.

Aku pun masih ingat, awal kali mereka bekerja di UPT Puskesmas Sungai Guntung gedungnya kurang indah hingga ia ikut andil bersama saat kami berpindah ke gedung yang lebih kokoh, indah dan megah. Aku yakin mereka pasti masih ingat bagaimana kami melansir barang-barang yang banyak itu. Ada kebahagiaan yang luar biasa waktu ini karena hijrah dari gedung lama ke gedung baru yang megah dan indah.

Sebenarnya, hanya kurang beberapa minggu lagi, maka genap dua tahun mereka mengabdikan diri di Sungai Guntung. Hampir dua tahun itu bukan waktu yang singkat. Tentu banyak hal yang mereka rasakan dan mereka sumbangsihkan untuk Sungai Guntung khususnya di bidang kesehatan. Banyak pula kenangan yang tersimpan melekat, tentancap kuat dihatinya khususnya di Puskesmas Sungai Guntung.

Maka wajar jika perpisahan yang mereka lakoni ini agak berat. Maka kami semua pun maklum jika saat mengantar mereka pulang di Pelabuhan HK tempat awal mereka menginjakkan kaki di Sungai Guntung banyak air mata yang merembes darinya dan juga dari rekan kerjanya. Itu bukan karena mereka cengeng tapi karena berpisah memanglah hal yang berat.

Terimakasih NS Dua Sungai Guntung, atas segala yang telah kalian beri dan kalian bagi khususnya untukku, Puskesmas dan Sungai Guntung kampung halamanku yang paling kucintai ini.

Jangan pernah lupakan kenangan manis yang pernah kalian ciptakan dan ingat-ingatlah kenangan yang kalian dapatkan, tapi kuburlah dalam-dalam kenangan buruk yang ada dikampung ini. Terlebih jika Ada hal yang tak menyedapkan dari pribadi kawanmu yang nakal dan jahil ini, yang terkadang bicaranya tak terkontrol, candaan yang terlalu berlebihan.

Beberapa hari, minggu, bulan bahkan tahun ke depan pasti ada yang kalian rindui di Kateman ini. Maka, bila rindu dan berkesempatan kunjungilah kami yang ada di Sungai Guntung ini. Bukankah kalian ingin melihat kebun toga dibelakang Puskesmas yang telah kalian garap? Bukankah kalian juga ingin melihat bagaimana perkembangan Anak-Anak Laskar Nusantara Sehat? Bukankah kalian juga sangat ingin melihat bagaimana gedung di sebelah kiri Puskesmas beranggaran 5 milyaran lebih yang baru di kerjakan kemarin berdiri megah, gagah dan indah? Pasti mau-lah ya.

Satu lagi, dengan kepergian kalian maka kuranglah langgananku. Hehehe. Tak kudengar lagilah bagaimana kalian meneriakiku saat aku sedang berjualan.

Terakhir Untuk kalian Tim Nusantara Sehat Bacth 2, rekan kerjaku sekaligus teman. Aku ucapkan terima kasih berjuta kali. Maafkan kawanmu yang tak bisa memberi lebih ini. Kapan-kapan datanglah kembali, kota yang aku cintai ini. Semoga di mana pun kalian berada Allah selalu memberikan Kesehatan, kebaikan, keberkahan juga kesuksesan selalu dalam genggaman kalian. Aamiin.

Sungai Guntung, 01 November 2017

Penulis:
Agusman 17an
Pemuda yang Bermimpi Berjaya, Bangsanya Berdaya dan Dirinya Dirindukan Syurga.

Gabung di Nusantara Sehat, Bukanlah Satu Pekerjaan, Tapi Ini Pengabdian!

inilah yang bisa kami bagi cerita tentang perjuangan 5 orang pemuda di Tepi Samudra. Nusantara Sehat, bukanlah satu pekerjaan, tapi ini pengabdian!

Awalnya  saya gak nyangka bisa gabung di Nusantara Sehat.

Saya menjadi seorang SKM ini seperti orang yang mengalami kecelakaan yang beruntung.

Kenapa beruntung? Iyalah, dulu sempat diterima di kedokteran di salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta. Tapi karena kondisi, akhirnya saya tidak lanjutkan, dan memilih untuk kuliah di FKM UAD Yogyakarta. Di UAD, saya lulus peminatan Manajemen RS.

alumni FKm UAD Yogyakarta

Setelah lulus, saya coba daftar Pencerah Nusantara, tapi gak lolos, sampai akhirnya saya coba daftar di Nusantara Sehat dan dinyatakan Lolos tergabung di Nusantara Sehat Batch 4.

Sekitar bulan September 2016, saya mulai menjalani pendidikan di Pusdikkes TNI AD bersama 273 anggota lainnya. Selama 40 hari kami ditempa, kami mendapatkan materi seputar kesehatan, mental, fisik, juga terjun ke lapangan, praktek di Puskesmas. Kami juga sempat pemusatan latihan fisik di BPPK Ciloto selama 3 hari.

Pendidikan Nusantara Sehat

Sampai pada hari pengumuman, akhirnya saya dan tim tahu, bahwa kami akan ditugaskan ke Puskesmas Labuhan Hiu, Kec. Pulau-pulau Batu Timur, Kab. Nias Selatan Sumatera Utara.

Perjalanan ke lokasi saya dan tim, berangkat dari Bandara Soekarno hatta, terbang menuju Bandara Kuala Namu Medan. Dilanjutan penerbangan ke Gunung Sitoli Nias. Kemudian kami masih harus lanjut perjalanan darat 4-5 jam menuju Kab. Teluk Dalam. Kemudian, kami harus nyebrang laut dengan jarak tempuh 6-7 jam perjalan laut ke Pulau Tello menggunakan Kapal Roro. Kemudian masih harus lanjut perjalanan laut 6-7 jam menuju Kecamatan Pulau-Pulau Batu Timur menggunakan Kapal Nelayan.

peta kabupaten nias selatan

Perjuangan belum berakhir. Sesampainya di lokasi Puskesmas, saya dan rekan tim, saling pandang, ketika melihat kondisi Puskesmas yang memprihatinkan. Kawan Apoteker saya sempat “kerdip mata”, seolah dia berkata “Sudah lah Bang, kita hadapi aja”.

Merapikan Stok Obat

Satu waktu kami juga lakukan kegiatan kunjungan desa. Sampai di satu Desa Labuhan Rima, kami bertemu dengan keluarga Bapak Yusrin, dimana istri beliau dalam keadaan sakit. Sempat dibawa berobat ke klinik di Kecamatan Pulau Tello, kemudian berangkatlah mereka ke Gunung Sitoli. Sesampainya di Gunung Sitoli, Dokter yang memeriksa istri beliau bilang, “Penyakit ini Hepatitis. Percuma saya obati. Karena gak juga akan sembuh. Hatinya sudah rusak. Berdo’a sajalah”.

Satu pengalaman menarik juga pernah saya alami bersama tim. Waktu itu kami melakukan kunjungan ke Desa Lagan. Disana ada satu keluarga yang tinggal terpencil, jauh dari pusat desa. Lokasinya ada diatas bukit, dimana hanya ada jalan setapak, bahkan beberapa lokasi tampak seperti hutan tanpa jalan.

Perjalanan menuju Desa Lagan

Disana tinggal satu keluarga Bapak Yatieli Nazara, dimana istri beliau sudah meninggal, dan kini ia tinggal dengan 7 orang anak. Pada saat kami lakukan pemeriksaan kesehatan, kami cek tensi beliau sampai 180 bahkan pernah sampai 240 mmHg.

Ada banyak pengalaman yang rasanya tak habis-habis untuk diceritakan. Tapi setidaknya inilah yang bisa kami bagi cerita tentang perjuangan 5 orang pemuda Nusantara Sehat di Tepi Samudra.

Bergabung di Nusantara Sehat, bukanlah satu pekerjaan, tapi ini pengabdian!

Kab. Nias Selatan Sumatera Utara

Pelatihan Pengolahan Makanan Sehat dan Pembuatan Jenis Makanan Baru Berbahan Dasar Lokal Sagu

Puskesmas Kokoda adakan Pelatihan Pengolahan Makanan Sehat dan Pembuatan Jenis Makanan Baru Berbahan Dasar Lokal Sagu , 26 Oktober 2017 lalu.

Puskesmas Kokoda adakan Pelatihan Pengolahan Makanan Sehat dan Pembuatan Jenis Makanan Baru Berbahan Dasar Lokal Sagu di SMP N 1 Kokoda, 26 Oktober 2017 lalu.

Kegiatan ini menyasar Ibu-ibu Kader Kesehatan Puskesmas Kokoda, dan dihadiri 30 orang peserta.

Dalam kegiatan kali ini disampaikan juga tentang Pentingnya Makanan sehat dan cara pengolahan makanan, disampaikan oleh Nurhapna, Amd.Keb., S.KM. Materi Pembuatan cendol berbahan sagu disampaikan oleh Trisnawati Kasengke, Amd. Farm. Dan Pembuatan agar-agar pucuk sagu, disampaikan oleh Musdalipah Amd. Keb.

pelatihan pembuatan makanan sehat

Berkat kerja sama yang baik antar semua petugas dan peserta pelatihan kegiatan pelatihan ini dapat berjalan sesuai yang diharapkan.

Hasil olahan makanan pun dapat dinikmati semua petugas dan peserta pelatihan, bahkan dapat ditampilkan dan dibagikan kepada petugas dan peserta refresing kader dan panitia penyelenggara hari ulang tahun Distrik Kokoda.

Harapan kami dengan adanya kegiatan pelatihan ini yaitu peserta pelatihan dapat mengimplementasikannya di rumah masing-masing, sehinga menu makanan masyarakat Kokoda yang berbahan sagu lebih bervariasi lagi, tidak hanya Papeda saja.

Semoga kegiatan ini dapat diselenggarakan lagi tetapi dengan jenis makanan yang lain lagi kedepannya.

peserta pelatihan pengolahan makanan sehat