Bongkar Celengan, 15 Orang Nusantara Sehat Ikuti Pelatihan Nasional di Makassar

Berangkat dari pelosok-pelosok negeri, 15 orang Tim Based Nusantara Sehat ikuti Pelatihan Nasional Manajemen dan Kepemimpinan Puskesmas di Makassar.

Berangkat dari pelosok-pelosok negeri, 15 orang Tim Based Nusantara Sehat dengan profesi Tenaga Kesehatan Masyarakat dan penempatan yang berbeda-beda, bongkar celengan untuk ikuti Pelatihan Nasional Manajemen dan Kepemimpinan Puskesmas yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Sarjana Kesehatan Masyarakat Indonesia (PERSAKMI) di Hotel Jolin Makassar.

Hal ini menuai apresiasi dari Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK), “Saya sangat terkejut sekali dengan kehadiran adik-adik sekalian. Saya tahu pelatihan ini tidak murah, tapi adik-adik mengikuti pelatihan ini by pocket. Sungguh luar biasa!” ungkap Bapak Andi Mansur Sulolipu, S.KM, M.Kes selaku fasilitator.

“Kalau seperti ini, nanti kita akan buatkan pelatihan yang memang benar-benar dibutuhkan adik-adik Nusantara Sehat.” tambahnya yang tidak bisa menyembunyikan raut wajah kagumnya kepada peserta dari Nusantara Sehat.

Pelatihan yang dilaksanakan pada tanggal 20-21 Oktober ini dikutsertakan 45 peserta, 15 diantaranya adalah Nusantara Sehat Batch 4 dan 5.

Nusantara Sehat Ikuti Pelatihan

Mayoritas peserta yang memegang jabatan sebagai Kepala Puskesmas dan diberangkatkan dengan SPPD (Surat Perintah Perjalanan Dinas) tidak membuat mereka kecil hati.

“Saya merasa saya perlu materinya untuk mengupgrade ilmu. Di daerah penempatan, pelatihan manajemen Puskesmas jarang diadakan. Kalau diadakan pun pasti PNS. Terlebih ini pelatihan nasional jadi harapannya mampu dapat cerita dan pengalaman dari wilayah lain yang mungkin bisa diadopsi di penempatan saya” jelas Ni’mah peserta dari Nusantara Sehat Batch 4 penempatan Papua Barat.

“Saya merasa pelatihan ini penting baik untuk meningkatkan kualitas diri, materinya juga bisa membantu dalam pengakreditasian Puskesmas.” Tambah Al peserta dari Nusantara Sehat Batch 4 penempatan Sumatera Utara.

Meskipun tidak difasilitasi dengan baik oleh instansi terkait, tidak memutuskan semangat peserta dari tim Nusantara Sehat ini dalam melakukan perjalanan yang berhari-hari dengan akses laut, darat dan udara.

“Pelatihan seperti ini sangat bagus, namun kalau biayanya mandiri tidak semua bisa mengikutinya dengan alasan dana.” ungkap Neni Yunita salah satu Nusantara Sehat Batch 5 penempatan Sulawesi Utara.

“Saya harap kedepannya pelatihan-pelatihan seperti ini dapat bekerjasama dengan Dinas ataupun Instansi terkait, agar tenaga kesehatan dapat meng-upgrade ilmunya dan pelayan kesehatan menjadi lebih baik.” tambahnya.

Perbedaan PERSAKMI Dengan IAKMI

Dalam sebuah diskusi dan dialog, Sdr. Agus Fardin, SKM bertanya tentang organisasi PERSAKMI dan IAKMI. Dan ini adalah tanggapan saya menanggapi pertanyaan Pak Agus Fardin (Dinkes Aceh Selatan) yang juga salah satu alumin FKM USU tersebut.

Dalam kesempatan dialog itu, Pak Agus bertanya, “tentang : PERSAKMI (Perhimpunan Sarjana Kesehatan Masyarakat Indonesia) apa bedanya dengan IAKMI (Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia)?”

~ Penjelasan Saya:

Bang Agus, IAKMI itu adalah organisasi profesi kesehatan masyarakat yang berdiri sejak 1971. Keanggotaan IAKMI adalah semua ahli kesehatan masyarakat dengan latar belakang kesarjanaan kesehatan, baik Sarjana Kedokteran, Kedokteran Gigi, Farmasi, Gizi, SKM, Perawat/Ners, Kesehatan Lingkungan, Sarjana Farmasi/ Apoteker, dsb. Disamping itu, keanggotaan IAKMI, bisa juga berasal dari Sarjana Non Kesehatan seperti Sarjana Hukum, Sarjana Ekonomi, Sarjana Sosial, Sarjana Teknik, Sarjana Agama, Sarjana Sarjana Pendidikan dan sebagainya, asal saja dengan syarat bahwa pendidikan S2 nya (Program Pasca Sarjana) atau S3 (DOKTORAL) adalah Kesehatan Masyarakat/Public Health, maka bisa menjadi anggota IAKMI. Hal tersebut sesuai dengan peraturan organisasi yang tertuang dalam Anggaran Dasar, pasal 8 dan Anggaran Rumah Tangga pasal 3 s.d 7 IAKMI.

SKM, Saya Kuat dan MampuSedangkan PERSAKMI adalah organisasi profesi kesehatan masyarakat yang keanggotaannya khusus lulusan FKM/Prodi IKM yg bergelar Sarjana Kesehatan Masyarakat ((SKM). Bila seseorang lulusan S1 SKM kemudian meraih gelar S2 (pasca sarjana) dan atau S3 (Doktoral) baik linear atau tidak, tetap bisa menjadi anggota PERSAKMI. Syarat utama menjadi anggota persakmi adalah S1 nya SKM.

Dengan demikian maka selain atau non SKM, jelas tentu tidak dapat menjadi anggota PERSAKMI. Sehingga bagi kawan-kawan para SKM di Prov. Aceh dan bahkan se Indonesia, organisasi PERSAKMI ini yang sudah berbadan hukum dari Kementerian Hukum dan HAM, nomor : AHU-07.AH.01.06. Tahun 2010 ini adalah organisasi resminya. Dengan demikian, maka PERSAKMI ini bagi para SKM adalah merupakan tempat/wadah menyampaikan gagasan, ide, pembinaan wawasan berorganisasi, berkumpul, bergabung, berdiskusi, bergembira dan bahkan bersusah-susah atau ber payah-payah, saling mendukung sesama SKM baik dalam bekerja, advokasi hukum, dan sebagainya dalam rangka memajukan kesmas dan SKM itu sendiri.

Ya hanya di PERSAKMI para SKM bisa lebih kreatif, inovatif dan membangun kemandirian profesi, sehingga ada Motto dikalangan para SKMers (aktivis/anggota/kader PERSAKMI) bahwa ORGANISASI PERSAKMI INI, ANGGOTANYA HOMOGEN atau satu genetik/sama dan sejenis, dengan istilah lainnya “PERSAKMI adalah RUMAH para SKM.

Tentu dapat saya gambarkan bahwa, semua anggota PERSAKMI dapat menjadi anggota IAKMI, tetapi anggota IAKMI belum tentu dapat menjadi anggota PERSAKMI.

Sementara itu, organisasi PERSAKMI mempunyai struktur kepengurusan berjenjang. Dimulai dari Pengurus Pusat PERSAKMI…ini level/tingkat Nasional, kemudian Pengurus Daerah PERSAKMI, level/tingkat Provinsi dan terakhir Pengurus Cabang, ini level/tingkat Kab/Kota. Pada periode kepengurusan PP PERSAKMI pusat tahun 2013 – 2017, Ketua Umum Dr. Hanifa Maher Denny, SKM, M. Sc. PH,. dan Sekretaris Umum : Kusyogo, SKM, MKM.

Dengan gambaran diatas, “Maka kedua organisasi ini sama-sama bergerak memajukan isu-isu kesehatan masyarakat agar tetap menjadi tema dan topik aktual dalam pembangunan kesehatan baik tingkat nasional, provinsi maupun kab/kota.”

Bila bang Agus ingin berdiskusi lebih luas tentang isu-isu kesehatan masyarakat dengan lintas profesi mungkin wadahnya bisa di IAKMI. Kalau bang Agus hanya ingin berdiskusi tentang profesi, pembinaan, legalitas dan bahkan peningkatan kualitas dan masa depan para lulusan khusus SKM yang setiap tahun di produksi oleh 6 Perguruan Tinggi/Universitas khususnya yang ada di Prov. Aceh melalui FKM/Prodi IKM, Abang bisa dapatkan info tersebut di PERSAKMI.

Untuk di level/tingkat Prov. Aceh, Pengurus Daerah PERSAKMI baru dibentuk pada Juni 2015 tahun lalu melalui Musda Perdana di Banda Aceh, dengan pemegang mandat pembentukannya oleh Pak Asnawi, SKM, Msc.PH, Ph.D (salah seorang tokoh kesmas di Aceh).

Memang masih banyak kawan-kawan yang bertanya tentang PERSAKMI dengan IAKMI, baik perbedaannya, persamaannya dan kiprah keanggotaaannya.

Quote Syaifuddin Abdul Malik, SKM

Sebagai tambahan, bahwa PERSAKMI ini adalah organisasi khusus untuk SKM saja. Jadi kira-kira sama dengan Organisasi Profesi lainnya seperti PPNI khusus perawat, IBI khusus Bidan, IDI khusus dokter, PERSAGI khusus sarjana gizi, HAKLI khusus Ahli Kesehatan Lingkungan, PDGI khusus dokter gigi, IAI khusus Apoteker, dsb.

Inilah sekilas PERBEDAAN PERSAKMI dengan IAKMI yang bisa saya jelaskan dan gambarkan dengan harapan bahwa semua kawan sejawat SKM dimanapun berada bisa memahaminya.

Sekali lagi, harapan kami, ini dapat memperjelas dari apa yang selama ini menjadi pertanyaan di setiap pikiran para SKM. Semoga bermanfaat dan menjadi referensi baru bagi kita.

Semoga PERSAKMI dan IAKMI terus dapat bersinergi dalam memajukan dan meningkatkan derajat dan kualitas kesehatan masyarakat sesuai kompetensi dan kewenangannya dengan tetap saling menghargai dan menghormati perbedaan serta independensi masing-masing organisasi. Sebagai catatan penting bahwa perbedaan antara organisasi PERSAKMI dengan IAKMI adalah bahwa organisasi PERSAKMI merupakan organisasi dan wadah bagi seluruh SKM di Indonesia dengan tujuan menghimpun, mengadvokasi, membina dan memperkuat serta memperjuangkan kepentingan dan kebutuhan pokok para SKM serta profesi kesmas.

Karena dalam UU 36/2014 TTG TENAGA KESEHATAN disebutkan bahwa organisasi profesi kesehatan itu adalah organisasi yang menghimpun para tenaga kesehatan yg sejenis dan seminat/serumpun, .maka bagi SKM tentu PERSAKMI adalah organisasi yang tepat untuk wadahnya. Ketentuan ini juga berlaku bagi masing-masing jenis tenaga dan profesi kesehatan di Indonesia.

Sedangkan IAKMI merupakan organisasi tempat wadah bagi semua jenis tenaga dan profesi kesehatan yang ada di Indonesia sebagai lintas profesi dengan beragam kesarjanaan kesehatan yang setuju dan bersedia bergabung dengan tetap bergerak sesuai visi dan misi IAKMI yang tertulis di AD/ART-nya.
Dengan begitu maka sangat terang benderang perbedaan kedua organisasi ini yang mungkin selama ini dianggap sama oleh khusus nya para SKM yang baru lulus dari Pergutuan Tinggi FKM /PS IKM.

Dan sebagai akhir dari dialog ini, saya ingin mengucapkan “Selamat bergabung di PERSAKMI” bagi Pak Agus Fardin dan seluruh SKM-SKM di seluruh Aceh.

Penjelasan Singkat Mengenai Organisasi Profesi SKM, PERSAKMI

sejak 2010, organisasi PERSAKMI menjadi organisasi profesi SKM yang SAH dan RESMI di Indonesia dengan SK PENGESAHAN dari Kemenkumham RI.

Seorang kawan sejawat SKM yaitu adinda Cak Erhaem Ae bertanya kepada saya tentang wadah atau organisasi SKM yang sebetulnya bagaimana dan yang mana? Dan kenapa sampai saat ini urusan semua kepentingan SKM termasuk kebijakan seputar kesmas masih kurang jelas?

Saya jawab begini:

Adinda Cak Erhaem Ae yang saya banggakan, sebagai seorang SKM wajar butuh informasi dan penjelasan yang baik bila dinda bertanya tentang hal diatas.

Pertama, bahwa sejarah panjang para lulusan SKM generasi awal di Indonesian ini, belum mempunyai wadah atau organisasi.

Namun tercat dalam sejarah bahwa organisasi yang dapat dijadikan rumah dan tempat berkumpul oleh para SKM pendahulu tersebut pada saat itu adalah organisasi IAKMI yg lahir sejak 1971. Organisasi IAKMI ini, bisa menerima anggotanya dari berbagai lulusan/ sarjana kesehatan apa saja dengan syarat berminat dan setuju dengan visi, misi, tujuan IAKMI sebagaimana yang digariskan organisasi IAKMI yang tertulis di AD dan ART IAKMI.

Bertahun tahun lamanya para SKM telah menjadi bagian dari keanggotaan IAKMI bersama dengan kawan-kawan lain yang juga menjadi anggota IAKMI dengan latar belakang pendidikan/ sarjana kesehatan lainnya, baik dari Sarjana Farmasi, Apoteker, Dokter, Dokter Gigi, S. Kep/ Ners, Sarjana Gizi, bahkan juga para Master dan Doktor Kesehatan lainnya.

Dengan beragamnya latar belakang pendidikan para anggota IAKMI ini, memang telah membuat diskusi dan bahasan tentang kesmas di Indonesia menjadi lebih luas dan bervariasi karena ditelaah dari berbagai sudut pandang anggotanya sesuai latar belakang kesarjanaannya.

Dengan demikian maka selama periode tersebut semua kebijakan tentang masalah kesmas dan kebijakannya, IAKMI sangat berperan penting. Bahkan menjadi mitra Kemenkes RI tentang pelaksanaan upaya kesehatan masyarakat di Indonesia. Pada posisi seperti itu, tentunya semua program kesmas dan termasuk pendidikan tenaga kesmas, Kemenkes RI selalu bergandengan tangan dgn organisasi IAKMI.

Seiring berjalannya waktu dan telah banyak munculnya lulusan SKM dari FKM yang ketika itu tercatat ada 5 yaitu FKM UI, UNAIR, UNDIP, UNHAS belakangan USU, baik dicermati dari jumlah lulusannya dan juga tingkat pendidikan yang sudah banyak S2, S3 Doktor/Ph.D, sampai pada level Guru Besar/ Profesor Kesmas, maka para sarjana SKM, Master, Doktor dan Profesor tersebut berinisiatif dan bermusyawarah untuk membentuk organisasi khusus untuk para SKM saja. Jadi semacam organisasi profesi KESMAS yang khusus beranggotakan bergelar SKM.

Inisiatif dan inovasi utk membuat dan membentuk organisasi khusus SKM ini bukanlah mudah. Banyak ditemui rintangan, onak dan duri bahkan berbagai ancaman/ intimidasi yang datang silih berganti kepada para inisiator-inisiator penggagas pembentukan organisasi tersebut.

Tentu sejarahnya panjang dan berliku, tentu tidak mungkin diurai disini. Inisiatif ini, bila tidak salah catat, dimulai sejak tahun 1998 di Makassar. Banyak tokoh-tokoh SKM yang berjuang pada masa-masa perjuangan tersebut. Tentunya tokoh-tokoh tersebut adalah orang-orang organisatoris ketika mereka masih mahasiswa di FKM-FKM yang ada saat itu.

Maka melalui pertemuan para tokoh-tokoh SKM-Master-Doktor dan Profesor Kesmas dan melaui mufakat musyawarah di Makassar tersebut, lahirlah organisasi khusus para SKM kita yaitu organisasi PERSAKMI dengan sebutan Persatuan Sarjana Kesehatan Masyarakat Indonesia.

Dalam perjalanannya, PERSAKMI yg baru terbentuk tersebut, disosialisasikan,diperkenalkan ke berbagai pihak dan lembaga pemerintah sebagai organisasi profesi para SKM.

Karena anggota PERSAKMI adalah WAJIB lulusan SKM saja dan tidak boleh sarjana lain sesuai AD dan ART organisasi, maka diyakini cocok untuk menjadi organisasi profesi kesmas yang menaungi para SKM di Indonesia.

Namun memang, waktu itu organisasi PERSAKMI kita ini belum terdaftar di Kemenkumham RI sebagai organisasi yang terdaftar resmi disebabkan sesuatu dan kondisi tertentu.

Kemudian singkatnya, pada Musyawarah Nasional thn 2008/2009 disepakati perubahan namanya dari PERSATUAN menjadi PERHIMPUNAN dengan tetap disingkat PERSAKMI.

Nah pada tahun 2010, oleh PENGURUS PUSAT PERSAKMI yang ketika itu dipimpin Ketua Umum Ibu Hanifa Maher Denny, SKM, MSc. PH, Ph. D, beserta kawan-kawan pengurus lainnya, mendaftarkan organisasi PERSAKMI kita ini Ke KEMENKUMHAM RI. Dan Alhamdulillah, sejak 2010, organisasi PERSAKMI menjadi organisasi profesi SKM yang SAH dan RESMI di Indonesia dengan SK PENGESAHAN dari Kemenkumham RI.

Adinda Cak Arhaem Ae yang saya banggakan, setelah resmi dan sah menjadi organisasi profesi para SKM di Indonesia, ternyata perjuangan PERSAKMI untuk menghimpun para SKM se Nusantara agar bersatu, senasib dan sepenanggungan, bersama-sama berjuang memperbaiki dan memperkokoh jati diri sebagai SKM, membangun hubungan dengan berbagai pihak dan lembaga pemerintah khususnya Kemenkes RI dan Kemendikti RI agar bisa berkolaborasi, bekerjasama dan bermitra dalam segala hal kebijakan tentang kesmas di negara kita ini.

Tidak mudah seperti membalik tangan. Banyak hambatan dan rintangan. Baik rintangan dari dalam sendiri yaitu dari sesama sejawat SKM. Ada yang masih pesimis dengan kehadiran organisasi PERSAKMI dan bisa jadi masih mencibir organisasi kita ini. Padahal dia adalah SKM, JATI DIRINYA SKM, BERGELAR SKM, tetapi masih kurang sreg atau kurang bergembira dengan hadir dan terbentuk nya organisasi PERSAKMI ini.

Juga terasa tantangan dari luar Persakmi sendiri, ini cukup banyak dan tajam. Bahkan maaf, ada yang menganggap kehadiran PERSAKMI ini sebagai ancaman dan bahkan diasumsikan sebagai organisasi yang kurang dan tidak diperlukan. Bila tidak berlebihan, dapat dikatakan bahwa inisiator-inisiator dan aktivis PERSAKMI waktu itu berjuang dengan berdarah-darah. Berbagai tantangan dan hambatan ini, sampai saat ini masih berjalan dan terus menghantam organisasi para SKM kita ini.

Namun demikian, walaupun organisasi PERSAKMI belum berdaulat, belum bisa berdaulat, mandiri dan independen memikirkan, merencanakan, mengambil kebijakan dan bermitra sejajar dengan lembaga pemerintah sebagaimana yang telah diperoleh oleh organisasi profesi kesehatan lainnya seperti PPNI, IBI, IDI, PDGI, HAKLI, PERSAGI, IAI, PORMIKI, PATELKI, IKATEMI dan organisasi profesi lainnya yang telah mandiri dan independen mengurus kepentingan dan pendidikan profesi serta anggotanya, kita tidak boleh patah semangat apalagi mundur.

Kita wajib berjuang dan optimis sambil berdoa agar suatu ketika nanti organisasi PERSAKMI ini dapat menjadi mitra dan berkolaborasi dengan pemerintah baik Kemenkes dan Kemendikti serta lembaga lainnya dalam hal urusan-urusan SKM, PENDIDIKAN DAN PROFESI SKM, Kebijakan Kesmas di Indonesia serta lainnya seperti organisasi profesi kesehatan lainnya.

Karena hanya ini yang kita miliki dan memang hanya PERSAKMI ini punya kita. Rumah besar kita. Wadah tempat mengasah dan menaungi para SKM. Organisasi tempat berhimpun yang anggotanya se hati, se jiwa dan serumpun.
Dapat saya tambahkan adinda bahwa niat baik, permintaan dan doa kita di PERSAKMI ini sesungguhnya sangat sederhana saja. Yaitu kita dapat mengurus urusan kita sendiri para SKM dan kepentingan SKM saja. Hanya itu saja.

Kita tidak bermaksud mencapuri urusan profesi lain apalagi niat mencaplok urusan profesi lain yang bukan profesi kesmas. Jadi sangat sederhana dan tidak rumit bukan?

Namun untuk memperoleh hak atas kedaulatan kemandirian dan independensi tersebut, terasa sangat berat dan butuh energi yang besar.

Bila adinda bertanya kapan hak-hak tersebut dapat diperoleh oleh organisasi PERSAKMI atas semua urusan SKM di Indonesia?

Wallahu A’lam bissawab.

Semua itu tentunya kita berdoa kepada Allah SWT agar dimudahkan semua usaha dan perjuangan kita dan sebaliknya semoga semua penghalang, perintang dan orang atau pihak yang belum berkenan dengan kehadiran Organisasi PERSAKMI kita ini, diberikan kesadaran dan kebesaran jiwa sehingga dibuka pintu-pintu pencerahan menuju kesucian hati dan pikiran.

Kedua, adinda segerakan cepat selesai dan bisa bergelar SKM, dan mohon bantu perjuangan PERSAKMI tersebut sebagai kader muda agar tercapai cita cita kemandirin dan kedaulatan SKM saat ini dan dimasa depan. Karena selama itu blm tercapai, maka kepada adinda di mohon jangan berhenti berjuang.

Karena perjuangan tidak mengenal lelah, perjuangan adalah ibadah. Untuk harga diri, martabat dan kedaulatan profesi sendiri.

Baiklah adinda, selamat bergabung dan berjuang adinda. Kobarkan semangat bersatu kepada semua SKM untuk bersatu berjuang demi kemandirian mengurus urusan kita secara Sah dan Independen. Amin.

Oleh: Saifuddin Abdul Malik
Ketua PERSAKMI ACEH

Begini Cara Persakmi Bantaeng Peringati Hari Tanpa Tembakau Sedunia

Persakmi Kabupaten Bantaeng, menggelar aksi bagi-bagi bunga di Jl Raya Lanto, Kecamatan Bantaeng, Rabu (31/5/2017) sore.

Perhimpunan Sarjana Kesehatan Masyarakat Indonesia (Persakmi) Kabupaten Bantaeng, menggelar aksi bagi-bagi bunga di Jl Raya Lanto, Kecamatan Bantaeng, Rabu (31/5/2017) sore.


FOKUS: Hari Tanpa Tembakau Sedunia


Hal itu dilakukan sebagai bentuk kampanye peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2017.

Sebanyak 700 tangkai bunga yang dibagikan kepada pengguna jalan yang melintas.

Mereka juga membagikan brosur peringatan bahaya merokok dan sticker kawasan tanpa rokok.

“Melalui momen ini, kami berharap masyarakat bisa sadar bahwa kebiasaan merokok itu sangat tidak baik untuk kesehatan,” kata Ketua Persakmi Bantaeng, Iwan Setiawan kepada TribunBantaeng.com.

Iwan menambahkan bahwa satu batang rokok itu sama dengan menghisap sekitar 400 jenis bahan kimia.

Di tempat yang sama, juga dilakukan promosi kesehatan melalui pengeras suara.

Mereka gabungan dari Persakmi, Saka Bakti Husada, Tenaga Promkes Puskesmas, Tenaga Tenyakit Tidak Menular Puskesmas, Forum Anak Butta Toa, dan Bidan Desa.

Sumber makassar.tribunnews.com

Persakmi Sulsel Gelar Pelatihan Nasional Untuk Wujudkan Kota Sehat

Persakmi Sulsel gelar Pelatihan Nasional Pengembangan Kapasitas Healthy Cities Kabupaten dan Kota di Indonesia pada Kamis-Sabtu (11-13/5/2017) di Makassar.

Perhimpunan Sarjana Kesehatan Masyarakat Indonesia (Persakmi) Sulsel gelar Pelatihan Nasional Pengembangan Kapasitas Healthy Cities Kabupaten dan Kota di Indonesia.

Kegiatan yang akan berlangsung selama tiga hari, Kamis-Sabtu (11-13/5/2017) tersebut dipusatkan di Hotel Yasmin, Jl Jampea, No 5 Pattunuang, Makassar untuk pemberian materi kepada peserta.

Selanjutnya untuk kunjungan lapangan pada hari, Sabtu (13/5/2017) akan dipusatkan di dua tempat yaitu di salah satu RT di Kelurahan Makkio Baji Makassar dan di Pusat Pengolahan Sampah di daerah Toddopuli Makassar.

“Selama pelatihan peserta akan menerima materi tentang Healthy Cities dan juga kunjungan lapangan, dimana peserta akan kita bawah ke tempat pengolahan sampah di daerah Toddopuli dan di Kelurahan Makkio Baji,” ungkap Ketua Persakmi Sulsel, Sukri Palutturi SKM MKes MScPH PhD, Kamis (11/5/2017).

Pelatihan Healthy Cities tersebut diikuti oleh utusan dari 24 Kabupaten dan Kota di Sulawesi Selatan serta utusan dari Jogja, Semarang, Kalimantan Timur, Papua, dan Sulawesi Tengah.

Sukri Palutturi menegaskan bahwa Persakmi melalui pelatihan tersebut mengajak kepada masyarakat pada umumnya untuk bersama-sama membangun Kota yang sehat, aman dan nyaman untuk semua.

“Pelatihan ini menjadi sangat penting sebagai bentuk tanggungjawab kita untuk melihat dan mewujudkan kota-kota yang aman, nyaman dan sehat bagi semua elemen masyarakat,” kata Sukri Palutturi.

“Untuk mewujudkan kota yang aman, nyaman dan sehat memang dibutuhkan kolaborasi semua stockholder bukan hanya tenaga kesehatan,” lanjut Sukri Palutturi menggambarkan cara mewujudkan kota yang aman nyaman dan sehat.

Sumber makassar.tribunnews.com