UAS Sosio Antropologi Kesehatan, Mahasiswa Kesmas Respati Tasikmalaya Gelar Pentas Seni Budaya Bertema Promkes, Keren!

Mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat Tingkat 1, STIKes Respati Tasikmalaya, dalam rangka Ujian Akhir Semester (UAS) Mata Kuliah Sosio Antropologi dengan Dosen pembimbing Sinta Fitriani, S.KM, M.KM, Kamis, 8 Februari 2018 lalu, berupa ujian praktek pentas seni tentang Promosi Kesehatan.

Dikisahkan, Asep, pemuda desa anak juragan Jengkol yang tak sabar ingin meminang gadis pujaan hatinya, Ikoh, gadis desa putri suami istri Pipih (Sosok Ayah: Aki Bedegong) dan Mimih.

Sejak awal pertemuannya, Asep ingin segera menikahi Ikoh. Setelah mendapat restu dari Pipih, karena ia sangat percaya bila putrinya berumah tangga dengan anak juragan jengkol hidupnya akan makmur meski usia mereka berdua masih terbilang cukup muda (pernikahan tetap berlanjut meski Mimih tidak sependapat dengan Pipih, keputusan kepala keluarga dianggap mutlak tanpa berani disanggah).

Tak lama menikah, Ikoh mulai mengandung. Segala macam makanan dibawa Pipih untuk dikonsumsi Ikoh putri kesayangannya, berharap sang jabang bayi yang dikandungnya dapat tumbuh sehat nantinya.

Suatu hari, Pipih merokok didekat Ikoh yang sedang hamil, dan Mimih pun menghampirinya, mengingatkannya agar ia tidak merokok dekat Ikoh lantara ia sedang hamil, tidak baik untuk ibu dan calon bayinya. Piph pun segera mematikan rokoknya tanpa basa-basi lantaran saking sayangnya dengan putrinya.

Selang berapa bulan, Ikoh pun melahirkan. Pipih yang masih memegang teguh tradisi, meminta Asep untuk segera memanggil Paraji (ed: dukun bayi/beranak) namun Mimih pun menentang. Ia bilang jaman sekarang sudah ada Bidan Desa. Setelah cekcok, Pipih pun akhirnya mengalah, ia mau kelahiran cucunya ini dibantu oleh Bidan Desa di kampungnya. Persalinan pun berjalan lancar dan lahirlah bayi Ikoh yang sehat, yang kemudian diberi nama Johnson.

Selama masa pertumbuhannya, Johnson tidak pernah dibawa ke Posyandu. Karena anak kesayangan, segala macam makanan yang dimintanya diberi. Memasuki masa anak-anak, Johnson menjadi anak yang gemuk (Obesitas). Sesak napas dan diolok-olok oleh temannya.

Akhirnya Ikoh pun membawa Johnson ke Dokter untuk konsultasi. Dokter memberi saran, agar mengurangi porsi makanan berlebih dan mencoba untuk pola makan diet seimbang, jangan berlama-lama anak nonton tv, serta rutin menyuruh anaknya berolahraga.

Setelah itu, Ikoh pun menjalani semua yang disarankan Dokter kepadanya. Atas usahanya, berat badan Johnson pun berhasil turun dan ideal seperti anak pada umumnya, dan kini Johnson pun menjadi anak yang sehat dan kuat. SELESAI.


Cerita diatas adalah gambaran kisah pementasan yang dilakukan oleh mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat Tingkat 1, STIKes Respati Tasikmalaya, dalam rangka Ujian Akhir Semester (UAS) Mata Kuliah Sosio Antropologi dengan Dosen pembimbing Sinta Fitriani, S.KM, M.KM, Kamis, 8 Februari 2018 lalu, berupa ujian praktek pentas seni tentang Promosi Kesehatan.

Pentas seni yang disajikan oleh mahasiswa sangat beragam, ada yang dengan cara senam maupun bobodoran/ teater sunda. Kegiatan ini dihelat di Graha Bakti Respati, 5-8 Februari 2018.

Pentas Seni UAS Sosio Antropologi kesehatan

Dalam mata kuliah Sosio Antropologi Kesehatan, didalamnya mempelajari tentang sosiologi, biologi, humaniora, hingga etnografi. Untuk tugas praktek Promosi Kesehatan, kebetulan kelompok saya sendiri mementaskan Bobodoran (teater sunda) yang mengangkat judul “Baby Johnson”. Dengan jumlah anggota kelompok sebanyak 7 orang, saya sendiri memerankan sebagai “Aki Bedegong (Pipih/ Ayah Ikoh)” dimana seorang ayah yang teguh memegang tradisi.

Dalam mementaskan sisi kehidupan di masyarakat, diselipkan nilai-nilai promosi kesehatan, seperti dampak dari kawin di usia muda, jarang cek kesehatan ke fasilitas kesehatan, hingga dampak obesitas terhadap aktivitas sehari-hari.

Adegan tenaga kesehatan memberikan penyuluhan kepada masyarakat diselipkan dibagian cerita yang dipentaskan. Agar tidak kaku, pola tingkah dagelan menjadi pencair suasana serta pendukung jalannya cerita agar teater tidak monoton.

Seperti yang kita ketahui bersama, banyak tantangan yang dihadapi, salah satunya bagaimana caranya agar promosi kesehatan yang disampaikan kepada masyarakat dapat dipahami dan diterima. Yang menjadi tantangan utama adalah masyarakat yang masih kental dengan adat istiadat. Tentunya masyarakat yang masih kental dengan adat akan dengan keras menolak bila promosi kesehatan yang disampaikan bertentangan dengan kebiasaan adat istiadat yang telah turun temurun di masyarakatnya.

Dari gambaran diatas, pentas seni bisa dijadikan jalan alternatif bagi tenaga kesehatan yang hendak melakukan penyuluhan atau sosialiasi kepada masyarakat, termasuk masyarakat yang masih kental dengan adat.

Promosi kesehatan berbalut kesenian merupakan sebuah inovasi dalam penyampaian informasi kesehatan kepada masyarakat. Terlebih kita seringkali melakukan penyuluhan kesehatan dengan cara mengumpulkan masyarakat di satu tempat, kemudian kita menjadi pembicara layaknya seperti suasana workshop bahkan seminar.

Agar informasi kesehatan yang disampaikan mudah diterima dan dapat dimengerti, salah satu caranya dengan mengkolaborasikan kesenian dengan promosi kesehatan, atau saya menyebutnya “Promkes berbalut Kesenian” atau kesenian berbau Promkes.

Tujuan promosi kesehatan dengan kolaborasi kesenian bukan untuk mengubah nilai tradisi yang ada, melainkan memperbaiki kebiasaan buruk yang masih mengakar dimasyarakat yang mengakibatkan gangguan kesehatan dengan cara penyuluhan berupa kesenian berbau promosi kesehatan. Harapan selain dapat dimengerti dan diterima masyarakat, tentunya juga turut serta dalam melestarikan kesenian daerah. Seperti jargonnya pegiat kesehatan masyarakat, mencegah lebih baik daripada mengobati.

Ilmu kita memang di kesehatan, tapi tidak ada salahnya kita belajar kesenian. Karena, dari situlah kita mengerti seluk beluk masyarakat dan solusi dari permasalahan kesehatan di masyarakat.

Mahasiswa Kesmas Respati Tasikmalaya

PBL, Mahasiswa Prodi Kesmas Unmuh Pontianak Beri Penyuluhan Tentang ISPA di Desa Tebang Benua

Mahasiswa Prodi Kesmas Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Pontianak beri penyuluhan kesehatan bagi warga Desa Tebang Benua, Kecamatan Tayan Hilir, Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat, pada tanggal 16 februari 2018.

Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka kegiatan Praktek Belajar Lapangan, yang kami lakukan selama 1 bulan, sejak tanggal 7 Februari hingga 5 Maret 2018 mendatang. Adapun anggota Tim PBL kami di Desa Tebang Benua ini antara lain; Hendri Fitrian (Ketua Kelompok), Anis Setyaningsih, Lili Alfiani, Utin Utami Karlina, Rita Andriati.

PBL Mahasiswa Prodi Kesmas unmuh Pontianak di Desa Tebang Benua

Materi penyuluhan kesehatan yang disampaikan  dalam kesempatan kali ini adalah tentang kejadian ISPA pada balita di Desa Tebang Benua, Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian ISPA, dan Cara Pencegahan Penyakit ISPA.

Penyuluhan ini dihadiri oleh 43 orang, terdiri ibu-ibu Desa Tebang Benua yang mempuyai balita, kader Posyandu dan Bidan Desa.

Warga Desa Tebang Benua

Ibu-ibu Desa Tebang Benua sangat antusias mengikuti penyuluhan kesehatan ini. Mereka juga aktif bertanya kepada narasumber terkait penyakit ISPA ini.

Harapan kami sebagai penulis, semoga apa yang kami sampaikan sangat bermanfaat bagi masyarakat Desa Tebang Benua, bisa merubah perilaku masyarakat menjadi hidup lebih sehat dan menjaga makanan yang dikonsumsi anaknya maupun keluarganya. Dan materi yang kami sampaikan ini semoga bisa menyampaikan kembali pada kekeluarganya, atau rekan yang tidak bisa hadir dalam pertemuan ini.

Penyuluhan ISPA di Tebang Benua

Bidan Desa, Ibu Dayang Tri Nugrahyu. A Md. Keb, juga menyampaikan harapannya, agar masyarakat setelah ini mau dan mampu merubah perilakunya menjadi lebih sehat, rajin membawa anaknya ke Posyandu, kerana imunisasi juga sebagai pencegah penyakit ISPA.

Ini Cara Mahasiswa Kesmas Univ Lambung Mangkurat Cegah Warga Desa Ambawang Terus Bakar Sampah

Warga Desa Ambawang, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Tanah Laut membangun TPS Sampah untuk mengatasi masalah pembakaran sampah di wilayah mereka.

Warga Desa Ambawang, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Tanah Laut membangun Tempat Penampungan Sementara (TPS) Sampah untuk mengatasi masalah pembakaran sampah di wilayah mereka.

Mahasiswa yang tergabung di Kelompok 9 PBL (Pengalaman Belajar Lapangan) Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat, beranggotakan Muhammad Andri Hasymi Fairiza, Muhammad Reyzaldy Rahim, Akmaliyani, Nor Riski, Sartika, dan Selfi Oktafiani, melakukan kegiatan intervensi kesehatan kepafa masyarakat.

Kelompok 9 PBL mahasiswa kesmas unlam

Kegiatan intervensi meliputi kegiatan penyuluhan kepada warga tentang pengelolaan sampah yang baik dengan membuang sampah ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS). Kemudian, bersama dengan warga, mahasiswa membangun TPS pertama di Desa Ambawang.

Kegiatan ini dalam rangka menjadikan warga Desa Ambawang lebih peduli pada kesehatan dengan lebih memilih membuang sampah ke TPS daripada membakar sampah rumah tangga.

Warga sangat mengapresiasi kegiatan penyuluhan dan pembangunan TPS yang telah terlaksana sejak 17 Januari sampai  1 Februari 2018 lalu. Hal itu terbukti dengan keaktifan dan antusiasme warga yang mengikuti penyuluhan, berpartisipasi aktif dalam membangun TPS dan sudah mulai membuang sampah ke dalam TPS.

TPS Sampah Warga Desa Ambawang

“Kami selaku mahasiswa yang PBL di Desa Ambawang ini berharap apa yang sudah kami bangun bersama warga melalui pemberdayaan ini dapat membantu warga dalam mengatasi permasalahan kesehatan yang dihadapi warga sini.” ujar Hasymi selaku Ketua Kelompok PBL.

5 Fakta Prodi Kesehatan Masyarakat STIKes Umitra Lampung, No. 2 Paling Spesial!

Buat kamu yang tinggal di daerah Lampung dan sekitarnya, berikut ini 5 fakta yang harus diketahui tentang STIKes Umitra Lampung khususnya Prodi Kesmas.

Memilih tempat kuliah, berarti menentukan langkah awal kita dalam mewujudkan cita-cita. Karena secara tidak langsung kita akan memilih jurusan yang akan di tekuni selama beberapa tahun sesuai dengan target yang telah ditentukan. Itulah mengapa ada beberapa orang yang pindah tempat kuliah bahkan jurusan juga.

Di era modern seperti sekarang ini, ada banyak cara dalam memilih tempat kuliah dan jurusan, seperti browsing di internet untuk mengetahui tempat kuliah yang kita inginkan,  cari tahu biaya kuliah di kampus tersebut, termasuk aktivitas kegiatan kemahasiswaan serta mitra strategis yang dimiliki kampus tersebut.

Nah, buat kamu yang tinggal di daerah Lampung dan sekitarnya, berikut ini 5 fakta yang harus diketahui tentang STIKes Umitra Lampung khususnya Prodi Kesehatan Masyarakat:

Pertama, Prodi Kesehatan Masyarakat STIKes Umitra Lampung dibuka sejak 6 Juni 2001, dengan visinya “Unggul dan berdaya saing bidang Manajemen Kesehatan Masyarakat pada tahun 2017”.

Kedua, Umitra Lampung khususnya Prodi Kesehatan Masyarakat memiliki lima peminatan yang menjadi unggulan yaitu Promosi Kesehatan, Kesehatan Keselamatan Kerja (K3), Epidemologi, Manajemen Pelayanan Kesehatan dan Kesehatan Reproduksi .

Ketiga, aktivitas belajar mengajar di Umitra lampung, khususnya prodi kesehatan masyarakat sejak 2015 sudah menggunakan Kurikulum Nasional Kesehatan Masyarakat. Dan tahun 2016 pertama kali mengikuti Uji Kompetensi Kesehatan Masyarakat di kampus Umitra Lampung.

Ada tiga jenis praktikum mahasiswa kesehatan masyarakat yakni praktik di kampus Umitra (Mata Kuliah Biomedik), Praktik Belajar Lapangan (PBL) langsung ke masyarakat di beberapa kabupaten di Provinsi Lampung dan Pratik Kerja Lapangan (PKL) di Institusi Kesehatan di luar Provinsi Lampung (biasanya di P.Jawa).

Sedangkan aktivitas organisasi mahasiswa kesehatan masyarakat bernaung di bawah organisasi internal di STIKES UMITRA yakni Himpunan Mahasiswa Kesehatan (HIMAKES) dan juga bergabung di organisasi eksternal kampus menjadi Penggerakan Anggota Muda IAKMI (PAMI) Lampung.

Keempat, mengenai biaya kuliah di STIKes Umitra Lampung tidak jauh berbeda dengan kampus kesehatan lainnya. Mahasiswa bisa memilih sistem pembayaran langsung full satu semester atau biaya perbulan menyesuaikan kondisi keuangan orang tua/mahasiswa.

Kelima, hal yang perlu lebih diketahui kawan-kawan yaitu Prodi Kesehatan Masyarakat di Umitra Lampung adalah memiliki kerjasama dalam negeri diantaranya dengan Pemda Kab. Sleman Yogyakarta, Pemda Kab. Pringsewu, Kab. Pesawaran, Kab. Lampung Tengah, Kota Bandar Lampung, Kota Metro dan beberapa RS Pemerintah dan juga RS Swasta. Untuk kerjasama luar negeri STIKes Umitra bermitra dengan beberapa kampus di Filipina dan Malaysia.

Demikianlah sedikit informasi mengenai kampus Umitra Lampung khususnya Prodi Kesehatan Masyarakat yang tertarik untuk kuliah dibidang kesehatan.

Ini Alasanku Jatuh Cinta Sama Jurusan Kesehatan Masyarakat

Rasanya lucu ketika mengingat awal mula saya bisa masuk jurusan kesehatan masyarakat adalah karena fikiran tersebut. Mau tahu kisah selengkapnya?

Nama saya Nadhirul Mundhiro, biasanya supaya lebih mudah orang-orang panggil saya Mumun, si pemimpi yang sedang berproses. Lahir di Lamongan, 10 Desember 1997, saya anak kedua dari Moh. Kholil dan Kiswati. Saya Alumni dari SMAN 6 Tangerang Selatan.

Semua berawal ketika saya masih SMA. Saya menemukan fakta bahwa saya tertarik akan dunia kesehatan, berhubungan dengan orang banyak dan sangat bahagia ketika kehadiran saya dapat membantu serta membuat orang lain tersenyum.

Ceritanya waktu itu saya melihat Puskesmas yang selalu ramai dikunjungi oleh masyarakat, kemudian langsung terfikirkan oleh saya bagaimana caranya untuk membuat puskesmas ini sepi. Puskesmas sepi, karena masyarakat semuanya sehat dan masyarakat tersenyum bebas tanpa menahan sakit. Rasanya lucu ketika mengingat awal mula saya bisa masuk kesehatan masyarakat adalah karena fikiran tersebut.

Ya, ini awal saya mencari-mencari sumber informasi di Google jurusan apa yang sekiranya cocok dan pada akhirnya saya melangkahkan kaki saya dengan berkuliah di jurusan Kesehatan Maysarakat dimana fokusnya adalah promotif dan preventif.

Waktu itu saya mendaftar di PTN dengan jurusan Kesehatan Masyarakat dan Biologi (yang ini karena saya suka pelajarannya makanya saya memilih ini juga) namun sayangnya saya tidak diterima di PTN yang saya tuju. Waktu itu ada 3 PTN yang saya coba dan pada akhirnya orang tua menyuruh saya Akutansi katanya kerjanya bakal terjamin dibanding di Kesehatan Masyarakat.

Namun saya berfikir ini loncat banget dari jurusan waktu di SMA yaitu IPA, ya memang tidak apa-apa namun alasan lain adalah saya orangnya kurang suka itung-itungan apalagi akutansi akan berhubungan dengan angka dan lagi-lagi keinginan saya untuk masuk kesmas entah mengapa bisa sekuat ini. Sampai akhirnya sudah tidak memungkinkan untuk mendaftar di negeri, jatuhlah pilihan di UMJ.

Saya dan mamah saya sudah masuk ke gedung UMJ dan melihat brosur yang awalnya tujuan saya dan mamah saya ke UMJ adalah untuk ke gedung fakultas ekonomi dan bisnis, ternyata di brosur itu ada fakultas kedokteran dan kesehatan dan tertera Prodi Kesehatan Masyarakat yang membuat saya langsung bahagia seketika, dan saya langsung mencoba lobbying mamah untuk ke gedung tersebut.

Setelah mengambil formulir Akutansi saya juga mengambil formulir untuk Kesehatan Masyarakat. Setelah sampai rumah kembali lagi saya mencoba untuk melobbying orang tua ya sangat susah waktu itu karena tetap menginginkan saya masuk akutansi namun pada akhirnya saya diizinkan untuk masuk Kesehatan Masyarakat.

nadhirul mundhiro

Sekarang, saya semester 5 dan mengambil peminatan Epidemiologi. Untuk tahun saya peminatan, yang terbuka adalah Kesling, K3, Manajemen RS dan Epidemiologi karena mahasiswa yang minat akan peminatan tersebut lebih dari 15 orang.

Nah kenapa saya memiliki peminatan ini karena Epidemiologi merupakan ilmu yang biasa disebut Mother of Public Health. Epidemiologi tidak hanya mempelajari distribusi penyakit dan faktor faktor penyebab penyakit, tetapi juga mengkaji segala macam masalah kesehatan. Seperti pernyataan dari  WHO berikut ini “Epidemiology is the study of the distribution and determinants of health-related states or events (including disease), and the application of this study to the control of diseases and other health problems.”

Dapat disimpulkan bahwa epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari penyakit, distribusi penyakit, faktor faktor penyebab terjadinya penyakit dan cara penyelesaian masalah kesehatan dalam suatu populasi. Maka dari itu tidak heran bahwa epidemiologi dikatakan sebagai mother of public health.

Banyak orang bilang, anak epidemiologi itu terkenal sangat sibuk, jago penelitiannya, menyeramkan, susah dan banyak tugasnya, tapi menurut saya peminatan epidemiologi itu seru, intinya menikmati proses. Mimpi saya semoga dapat kerja di  WHO,  Kementrian Kesehatan atau di berbagai institusi terutama yang berfokus pada penelitian penyakit seperti Plan International, LSM/NGO, bisa juga yang bentuknya pegabdian masyarakat gitu.

Selain kuliah, saya juga aktif diberbagai organisasi yaitu Ikatan Senat Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia (ISMKMI), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Himpunan Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia (HIMA KESMAS FKK UMJ) dan Pusat Informasi Konseling Mahasiswa (PIKM).

Selain itu saya juga aktif dalam kegiatan volunteer, seperti kegiatan dari CISDI yaitu “Penggerak Nusantara”, Forum For Young Indonesia “OUR FOOD OUR FUTURE”, NCDFREE, Indonesia Conference on Tobacco or Health Youth Forum 2017, dll. Serta mengikuti berbagai konferensi, workshop, diskusi dll.

nadhirul - ncd free

Saya bangga menjadi bagian dari mereka karena saya selalu percaya, mereka yang bukan siapa-siapa selalu punya kesempatan untuk menjadi manusia berharga. Berharga, karena tak ternilai, tak ternilai karena mereka memberi nilai-nilai tanpa meminta dinilai. Mereka adalah pemberi berbagai warna sembari merajut sejuta asa bagi manusia-manusia lainnya, “It is such a beautiful miracle that we are here”.

Bersyukur karena Allah memperkenankan saya berada didalam lingkaran kisah yang menurut saya luar biasa ini. Kisah tentang perjalanan menggapai ridha-Nya, tentang berjuang karena-Nya, tentang setiap peluh yang bercucuran demi memperjuangkan kebenaran, langkah juang yang kita sama tahu tak akan mudah, namun pada akhirnya dengan menyebut nama-Nya kita menetapkan langkah kita berjuang disini. One simple intervention can tackle multiple societal challenges 🙂

Saya juga punya dosen favort. Dan Dosen favorit saya ialah semua dosen yang telah mengajarkan saya di prodi Kesehatan Masyarakat FKK UMJ. Kenapa? Mereka it supporting system yang luar biasa, bukan cuman sekedar mengajar tapi juga layaknya Ayah dan Ibu, terkadang dapat menjadi sahabat.

Mereka yang selalu mengajarkan tentang apa itu kesehatan masyarakat yang sesungguhnya yang semakin meyakinkan kita gak salah pilih jurusan. Mereka selalu kasih kritik dan saran yang bener-bener ngebangun diri saya, mereka juga yang selalu kasih akses saya buat ikutan berbagai forum kesehatan yang ada dan yang paling penting adalah mereka tidak pelit berbagi pengalaman.

Ya ini pendapat saya, saya senang dengan dosen-dosen yang tidak hanya asyik ketika memberikan materi-materi akademik, ataupun yang kalau kasih nilai itu baik. Saya selalu menyukai dosen yang juga memberikan saya sudut pandang lain bukan hanya dari pelajaran, tetapi juga kehidupan yang ”Real” nyata. Karena saya orangnya juga suka cerita dalam arti lain berbagi pengalaman, maka dari itu saya bersyukur sangat bisa mengenal dosen-dosen hebat yang selalu mengajari saya banyak hal, sehingga saya bisa mengerti dan memahami makna dari hidup dan kehidupan.

Berawal dari instagram Kesmas-ID yang lewat karena ada yang LIKE waktu itu, saya langsung buka profil instagramnya seketika langsung Jatuh Cinta. Yang saya tangkap selama ini Kesmas-ID itu ada untuk membangun SKM agar dikenal masyarakat lebih luas, melawan berita-berita hoax terkait kesehatan dan banyak cerita-cerita inspiratif dari lulusan-lulusan SKM yang semakin membuat saya selalu bersemangat untuk bergerak, bergerak dan bergerak serta membuat saya semakin mengerti apa itu SKM.

Semoga kedepan Kesmas-ID selalu sukses, bergerak, selalu menginspirasi dan semoga saya bisa jadi bagian dari Kesmas-ID Institute, Amin.

Tenaga Kesehatan Masyarakat Sekaligus Pekerja Seni “Why Not” kan?

Cita-citaku lebih ingin sebagai pekerja seni, dan menjadi tenaga kesehatan merupakan permintaan orang tuaku. Salah jurusan? Ya, tapi kesalahan yang indah!

Nama saya Yulyana, Lahir di ibu kota Sulawesi Tengah tepatnya di Palu, 09 Mei 2000. Saya anak pertama dari dua bersaudara, buah pasangan dari Anjaz Kadri dan Lu’lu. Yuly adalah panggilan akrab saya.

Saya terlahir dikeluarga yang sangat sederhana. Ayah saya seorang Jurnalis di Media Surat Kabar swasta, sedangkan Ibu saya bekerja sebagai seorang guru di Madrasah Aliyah. Sejak kecil saya sudah diperkenalkan musik oleh ayah dan ibu saya.

Ketika berumur 6 tahun, saya memulai pendidikan di MIS Alkhairaat Boyaoge. Setelah lulus saya melanjutkan pendidikan di MTs Alkhairaat Pusat Palu tahun 2011. Selepas lulus dari MTs di tahun 2014, saya melanjutkan pendidikan di MA Alkhairaat Pusat Palu.

Ketika menginjak kelas VIII SMP, saya mewakili sekolah dalam perlombaan singing contest antar sekolah se-Kota Palu, dan berhasil menjadi juara ke 3 dalam perlombaan tersebut. Saya juga pernah mewakili sekolah di acara singing contest kategori female dalam perlombaan english camp se-Kota Palu, dan alhamdulillah berhasil meraih juara ke-2.

Juara 2 singing contest kategori female

Tentu saja ini membuat hati saya senang dan semakin bersemangat dalam mengembangkan bakat yang saya miliki. Sejak saat itu saya lebih sering diikut sertakan mengikuti ajang-ajang perlombaan menyanyi untuk mewakili sekolah.

Selain itu saya juga aktif dalam berbagai kegiatan di sekolah, saya bergabung dengan organisasi PMR dan juga pernah menjabat sebagai sekretaris Persatuan Pelajar Islam Alkhairaat.

Saat ini, saya kuliah Semester I Prodi Kesehatan Masyarakat Konsentrasi Manajemen Rumah Sakit di STIKes Surya Global Yogyakarta.

Sedikit curhat ya, saya yakin kalimat-kalimat yang sangat panjang ini akan membuat kalian malas membaca. Tapi saya ingin membagikan sedikit pengalaman saya buat teman-teman semua yang mungkin niatnya belum lurus dan dihadapi persoalan seperti yang pernah saya alami ini.

Jadi, pertama kali disuruh masuk kuliah kesehatan masyarakat, saya itu agak ragu. Ragunya kenapa? Karena takut kalau salah jurusan! Ya, karena memang pengennya saya jadi pekerja seni, bukan jadi seorang tenaga kesehatan.

Entah kenapa memang jiwa raga saya prefer ke seni musik dan tarik suara (menyesuaikan dengan bakat). Dulu itu pengen sekali lanjutkan studi di ISI Yogyakarta, ingin mengembangkan bakat dan potensi yang saya miliki disana. Tapi apalah daya orang tua tak mengizinkan dan lebih memilih saya melanjutkan studi di STIKes.

Awalnya sih nggak srek gimanaaa gitu, takut kalau nanti nilai bakalan anjlok gara-gara ngambil studi yang tidak sesuai dengan minat bakat yang kita miliki. Tapi saya terus yakinkan diri saya bahwa apapun pilihan orang tua pasti yang terbaik buat anaknya, walaupun diawal rasanya sangat sulit. Orang tua saya pun selalu yakinkan diri saya bahwa saya bisa melewati semunya.

Sebenarnya gak ada yang namanya salah jurusan. Semua itu cuma persoalan niat. Kalo niat kita emang tulus dan ikhlas buat jalani semuanya, ada saja keindahan, kenikmatan, dan kemudahan yang Allah kasih, walaupun pada awalnya tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan.

mahasiswa kesmas STIKes Surya Global Yogyakarta

Masih banyak kok cara lain dan wadah yang bisa menampung bakat dan potensi yang kita miliki, semuanya sudah tersedia di dunia ini. Tinggal bagaimana cara kita menempatkan diri dan tak henti untuk mencari tau hal-hal yang dapat membantu kita untuk mengembangkan potensi itu.

Dan sejauh ini, saya nyaman dengan jurusan yang orang tua saya pilih walaupun memang ada sedikit kesulitan, he..he..

Jadi seorang tenaga kesehatan masyarakat sekaligus pekerja seni why not kan? Toh bisa nambah lebih banyak pundi-pundi rupiah wkwkwk..

Semoga berfaedah yah kawan. Kalau kamu, apa awalnya juga salah jurusan?

Mahasiswa Peminatan Kesling Prodi Kesmas STIKes Hang Tuah Pekanbaru Studi Banding ke Bandung

Mahasiswa Peminatan Kesling Prodi Kesmas STIKes Hang Tuah Pekanbaru Studi Banding ke Bandung 20-21 November 2017, diikuti oleh sebanyak 19 orang.

Mahasiwa Peminatan Kesehatan Lingkungan Prodi Kesehatan Masyarakat STIKes Hang Tuah Pekanbaru mengadakan kunjungan Ke Rumah Sakit Santosa Bandung dan ke Bank Sampah Hijau Lestari Bandung.

Kunjungan ini dilaksanakan dlam rangka kegiatan Studi Banding Mahasiswa Peminatan Kesehatan lingkungan STIKes Hang Tuah Pekanbaru pada tanggal 20-21 November 2017.

Kunjungan ke Rumah Sakit bertujuan untuk melihat bagaimana penerapan Kesling di Rumah Sakit sedangkan kunjungan ke Bank Sampah bertujuan untuk melihat bagaimana usaha bank sampah dalam mengelola sampah di masyarakat Kota Bandung.

Kegiatan ini diikuti oleh sebanyak 19 orang mahasiswa Pemintan Kesling dan dipandu oleh Dosen Kesling Bapak Beny Yulianto, SKM, MKL.

Ini Kontribusi Nyata Dosen Prodi IKM STIKes Indramayu Mengatasi Perilaku Merokok di Masyarakat

Sampai dengan hari ke-2 setelah diterapi beliau masih merasakan sugesti positif untuk tetap komitmen berhenti merokok, ujar salah satu warga desa.

Indramayu – Dosen Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat STIKes Indramayu melaksanakan pengabdian masyarakat di Desa Juntiweden, Senin, 14/9 2017 lalu, melibatkan 25 orang mahasiswa kesehatan masyarakat.

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertemakan “Gerakan Berhenti Merokok” yang meliputi kegiatan door to door campaign, konsultasi dan terapi berhenti merokok.

Mengedepankan prinsip pendekatan keluarga, diharapkan dapat menjangkau masyarakat sasaran lebih luas dan lebih mudah masyarakat memahami informasi yang disampaikan.

Dalam penyuluhan ini, disampaikan tentang kandungan berbahaya dalam rokok, bahaya merokok itu sendiri, juga cara berhenti merokok.

Selain penyuluhan secara langsung, warga juga mendapatkan stiker sebagai pengingat terkait bahaya merokok yang ditempel di dinding atau pintu rumah warga.

Sampai dengan hari ke-2 setelah diterapi beliau masih merasakan sugesti positif untuk tetap komitmen berhenti merokok, ujar salah satu warga desa-1

Bagi keluarga yang memiliki anggota keluarga atau kepala keluarga perokok aktif, kami arahkan langsung untuk konsultasi dan mengikuti terapi berhenti merokok di Balai Desa Juntiweden bersama terapis dari Klinik Berhenti Merokok STIKes Indramayu, bapak Idham Latif, S.KM.,M.Epid.

Hasil dari door to door campaign, konseling dan terapi berhenti merokok mendapat respon yang positif dari warga. Salah satu warga yang melakukan terapi berhenti merokok, Bapak Ahmad Sugiarto mengatakan, bahwa sampai dengan hari ke-2 setelah diterapi beliau masih merasakan sugesti positif untuk tetap komitmen berhenti merokok.

Kegiatan pengabdian masyarakat ini diharapkan dapat dilakukan secara berkesinambungan ke seluruh desa yang ada di Kabupaten Indramayu, sebagai kontribusi nyata Dosen Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat STIKes Indramayu untuk mengatasi permasalahan yang ditimbulkan dari perilaku merokok di masyarakat. Serta memberikan solusi secara langsung kepada masyarakat yang ingin berhenti merokok melalui terapi merokok.

Prodi Kesehatan Masyarakat STIKes Umitra Siapkan Tenaga Handal di Bidang Kesehatan

Prodi Kesehatan Masyarakat STIKes Umitra, sejak semester keempat mahasiswa dapat memilih peminatan, sesuai yang diinginkan.

Penyuluhan kesehatan masyarakat, merupakan gabungan berbagai kegiatan dan kesempatan yang berlandaskan prinsip-prinsip belajar untuk mencapai suatu keadaan dimana individu,kelompok atau masyarakat secara keseluruhan ingin hidup sehat, tahu bagaimana caranya dan melakukan apa yang bisa dilakukan secara perorangan maupun secara kelompok dan meminta pertolongan bila perlu dalam mengatasi masalah kesehatanya.

“Aktivitas penyuluhan rutin dilakukan oleh mahasiswa STIKes Umitra, tidak hanya di program studi (prodi) keperawatan, tetapi juga di Prodi Kesehatan Masyarakat dengan didampingi  dosen-dosen yang profesional di bidangnya,” ujar Ir. Affan Zaldi Erya, Waket 3 STIKes Umitra.

Prinsip dasar penyuluhan kesehatan adalah tercapainya perubahan perilaku individu,keluarga dan masyarakat dalam membina dan memelihara perilaku sehat dan lingkungan sehat serta berperan aktif dalam upaya mewujudkan derajat kesehatan yang optimal.

Sasaran jangkauan penyuluhan  adalah kelompok umum : masyarakat umum dan kelompok khusus: masyarakat daerah terpencil, masyarakat didaerah pemukiman baru,  masyarakat yg terkena masalah kesehatan wabah , masyarakat yang rentan terhadap masalah kesehatan: ibu hamil,ibu menyusui, manula,anak-anak. Misal.: di posyandu, posyandu manula, & masyarakat yang ada diberbagai insntitusi atau forum misalnya: rumah sakit,puskesmas,balai pengobatan,sekolah dll.

“Prodi kesehatan masyarakat STIKes Umitra, sejak semester ke empat mahasiswa dapat memilih peminatan, sesuai yang diinginkan.   Peminatan yang disiapkan di prodi kesehatan masyarakat STIKes Umitra, antara lain  epidemiologi, manajemen pelayanan kesehatan, promosi kesehatan, kesehatan keselamatan kerja (K3), dan kesehatan reproduksi,” terang Mr. Aldi.

Peminatan-peminatan tersebut sangat dignifikan dengan dunia kerja yang banyak dibutuhkan bagi tenaga kesehatan masyarakat.  Di Umitra tidak hanya strata 1 kesehatan masyarakat, terdapat pula strata 2, yaitu program pascasarjana kesehatan masyarakat yang telah berjalan proses akademiknya sejak 2009.

Sumber umitra.ac.id