UAS Sosio Antropologi Kesehatan, Mahasiswa Kesmas Respati Tasikmalaya Gelar Pentas Seni Budaya Bertema Promkes, Keren!

Mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat Tingkat 1, STIKes Respati Tasikmalaya, dalam rangka Ujian Akhir Semester (UAS) Mata Kuliah Sosio Antropologi dengan Dosen pembimbing Sinta Fitriani, S.KM, M.KM, Kamis, 8 Februari 2018 lalu, berupa ujian praktek pentas seni tentang Promosi Kesehatan.

Dikisahkan, Asep, pemuda desa anak juragan Jengkol yang tak sabar ingin meminang gadis pujaan hatinya, Ikoh, gadis desa putri suami istri Pipih (Sosok Ayah: Aki Bedegong) dan Mimih.

Sejak awal pertemuannya, Asep ingin segera menikahi Ikoh. Setelah mendapat restu dari Pipih, karena ia sangat percaya bila putrinya berumah tangga dengan anak juragan jengkol hidupnya akan makmur meski usia mereka berdua masih terbilang cukup muda (pernikahan tetap berlanjut meski Mimih tidak sependapat dengan Pipih, keputusan kepala keluarga dianggap mutlak tanpa berani disanggah).

Tak lama menikah, Ikoh mulai mengandung. Segala macam makanan dibawa Pipih untuk dikonsumsi Ikoh putri kesayangannya, berharap sang jabang bayi yang dikandungnya dapat tumbuh sehat nantinya.

Suatu hari, Pipih merokok didekat Ikoh yang sedang hamil, dan Mimih pun menghampirinya, mengingatkannya agar ia tidak merokok dekat Ikoh lantara ia sedang hamil, tidak baik untuk ibu dan calon bayinya. Piph pun segera mematikan rokoknya tanpa basa-basi lantaran saking sayangnya dengan putrinya.

Selang berapa bulan, Ikoh pun melahirkan. Pipih yang masih memegang teguh tradisi, meminta Asep untuk segera memanggil Paraji (ed: dukun bayi/beranak) namun Mimih pun menentang. Ia bilang jaman sekarang sudah ada Bidan Desa. Setelah cekcok, Pipih pun akhirnya mengalah, ia mau kelahiran cucunya ini dibantu oleh Bidan Desa di kampungnya. Persalinan pun berjalan lancar dan lahirlah bayi Ikoh yang sehat, yang kemudian diberi nama Johnson.

Selama masa pertumbuhannya, Johnson tidak pernah dibawa ke Posyandu. Karena anak kesayangan, segala macam makanan yang dimintanya diberi. Memasuki masa anak-anak, Johnson menjadi anak yang gemuk (Obesitas). Sesak napas dan diolok-olok oleh temannya.

Akhirnya Ikoh pun membawa Johnson ke Dokter untuk konsultasi. Dokter memberi saran, agar mengurangi porsi makanan berlebih dan mencoba untuk pola makan diet seimbang, jangan berlama-lama anak nonton tv, serta rutin menyuruh anaknya berolahraga.

Setelah itu, Ikoh pun menjalani semua yang disarankan Dokter kepadanya. Atas usahanya, berat badan Johnson pun berhasil turun dan ideal seperti anak pada umumnya, dan kini Johnson pun menjadi anak yang sehat dan kuat. SELESAI.


Cerita diatas adalah gambaran kisah pementasan yang dilakukan oleh mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat Tingkat 1, STIKes Respati Tasikmalaya, dalam rangka Ujian Akhir Semester (UAS) Mata Kuliah Sosio Antropologi dengan Dosen pembimbing Sinta Fitriani, S.KM, M.KM, Kamis, 8 Februari 2018 lalu, berupa ujian praktek pentas seni tentang Promosi Kesehatan.

Pentas seni yang disajikan oleh mahasiswa sangat beragam, ada yang dengan cara senam maupun bobodoran/ teater sunda. Kegiatan ini dihelat di Graha Bakti Respati, 5-8 Februari 2018.

Pentas Seni UAS Sosio Antropologi kesehatan

Dalam mata kuliah Sosio Antropologi Kesehatan, didalamnya mempelajari tentang sosiologi, biologi, humaniora, hingga etnografi. Untuk tugas praktek Promosi Kesehatan, kebetulan kelompok saya sendiri mementaskan Bobodoran (teater sunda) yang mengangkat judul “Baby Johnson”. Dengan jumlah anggota kelompok sebanyak 7 orang, saya sendiri memerankan sebagai “Aki Bedegong (Pipih/ Ayah Ikoh)” dimana seorang ayah yang teguh memegang tradisi.

Dalam mementaskan sisi kehidupan di masyarakat, diselipkan nilai-nilai promosi kesehatan, seperti dampak dari kawin di usia muda, jarang cek kesehatan ke fasilitas kesehatan, hingga dampak obesitas terhadap aktivitas sehari-hari.

Adegan tenaga kesehatan memberikan penyuluhan kepada masyarakat diselipkan dibagian cerita yang dipentaskan. Agar tidak kaku, pola tingkah dagelan menjadi pencair suasana serta pendukung jalannya cerita agar teater tidak monoton.

Seperti yang kita ketahui bersama, banyak tantangan yang dihadapi, salah satunya bagaimana caranya agar promosi kesehatan yang disampaikan kepada masyarakat dapat dipahami dan diterima. Yang menjadi tantangan utama adalah masyarakat yang masih kental dengan adat istiadat. Tentunya masyarakat yang masih kental dengan adat akan dengan keras menolak bila promosi kesehatan yang disampaikan bertentangan dengan kebiasaan adat istiadat yang telah turun temurun di masyarakatnya.

Dari gambaran diatas, pentas seni bisa dijadikan jalan alternatif bagi tenaga kesehatan yang hendak melakukan penyuluhan atau sosialiasi kepada masyarakat, termasuk masyarakat yang masih kental dengan adat.

Promosi kesehatan berbalut kesenian merupakan sebuah inovasi dalam penyampaian informasi kesehatan kepada masyarakat. Terlebih kita seringkali melakukan penyuluhan kesehatan dengan cara mengumpulkan masyarakat di satu tempat, kemudian kita menjadi pembicara layaknya seperti suasana workshop bahkan seminar.

Agar informasi kesehatan yang disampaikan mudah diterima dan dapat dimengerti, salah satu caranya dengan mengkolaborasikan kesenian dengan promosi kesehatan, atau saya menyebutnya “Promkes berbalut Kesenian” atau kesenian berbau Promkes.

Tujuan promosi kesehatan dengan kolaborasi kesenian bukan untuk mengubah nilai tradisi yang ada, melainkan memperbaiki kebiasaan buruk yang masih mengakar dimasyarakat yang mengakibatkan gangguan kesehatan dengan cara penyuluhan berupa kesenian berbau promosi kesehatan. Harapan selain dapat dimengerti dan diterima masyarakat, tentunya juga turut serta dalam melestarikan kesenian daerah. Seperti jargonnya pegiat kesehatan masyarakat, mencegah lebih baik daripada mengobati.

Ilmu kita memang di kesehatan, tapi tidak ada salahnya kita belajar kesenian. Karena, dari situlah kita mengerti seluk beluk masyarakat dan solusi dari permasalahan kesehatan di masyarakat.

Mahasiswa Kesmas Respati Tasikmalaya

60 Tenaga Honorer Promkes Puskesmas se Riau, Ikuti Orientasi di Pekanbaru

Dinas Kesehatan Prov.Riau mengadakan pelatihan bagi 60 Tenaga Honorer Promkes Puskesmas Angkatan I & II dari 11 Kabupaten yang ada di wilayah Prov. Riau.

Dinas Kesehatan Prov.Riau bagian Promosi Kesehatan mengadakan pelatihan bagi Tenaga Honorer Promkes Puskesmas Angkatan I & II berjumlah sekitar 60 orang dari 11 kabupaten yang ada di Riau.

Kegiatan ini dilaksanakan di Hotel Furaya Pekanbaru, 14 sampai 17 November 2017 mendatang.

Tenaga Honorer Promkes Puskesmas Prov Riau

Adapun tujuan dari di adakannya pelatihan ini adalah agar nantinya tenaga promkes ini mampu membantu melakukan pendekatan secara Advokasi, mampu membantu melaksanakan kebijakan promkes dengan cara ABK (Advokasi, Bina Suasana, dan Kemitraan).

Acara ini di buka oleh Bapak Kabid KesMas, Drs. Dedi Parlaungan, Apt, sekaligus memberikan materi Program Indonesia Sehat. Beliau berharap agar tenaga honorer promkes ini nantinya mampu membantu melaksanakan tugas di Puskesmas dengan baik dan lebih mengutamakan pendekatan secara Promotif dan Preventif.

Kabid KesMas, Drs. Dedi Parlaungan, Apt

Adapun Puskesmas yang ditunjuk untuk mengutus tenaga promkes Inhil antara lain; PKM Tembilahan Hulu, PKM Tembilahan Kota, PKM Sungai Piring, PKM Sungai Salak, PKM Sapat, PKM Concong Luar, PKM Pengalihan Kritang, PKM Sungai Guntung, PKM Teluk Pinang, PKM Mandah, PKM Pulau Burung, PKM Selensen.

Adapun materi yang disampaikan diantaranay Program Indonesia Sehat, Keluarga Sehat Pendekatan Secara Promotif dan Preventif, Penyakit Tidak Menular dsb.

Menurut Kasi Promkes Dinkes Prov Riau, Ibu Rozita mengatakan Paradigma Sehat itu nantinya lebih mengutamakan Promotif dan Preventif sebagai salah satu pilar utama agar tujuan akhirnya bisa mencapai Kota Sehat, Kecamatan Sehat serta Paradigma Sehat yang harus diutamakan.

Tenaga Promkes Puskesmas Prov Riau

Cegah Diare, UPT Puskesmas Pelangiran Adakan Sosialisasi di Desa Bagan Jaya

Inhil – 25/9, UPT Puskesmas Pelangiran melakukan penyuluhan penyakit diare di wilayah Desa Bagan Jaya Kec.Pelangiran.

Inhil – 25/9, UPT Puskesmas Pelangiran melakukan penyuluhan penyakit diare di wilayah Desa Bagan Jaya Kec.Pelangiran.

Dihadiri oleh Sekretaris Desa, Anggota PKK, Kader Kesehatan, Ketua RT/RW, dan Staf Puskesmas Pelangiran, kegiatan ini dilaksanakan di Kantor Desa Bagan Jaya.

Kegiatan penyuluhan ini dibuka oleh Sekretaris Desa, Bapak Komarudin, yang pada sambutannya beliau menghimbau kepada warganya untuk memahami apa saja yang harus diwaspadai mengenai penyakit diare ini, agar warganya dapat cepat tanggap. Bila ada yang terkena diare baik orang dewasa atau anak-anak, langsung diobati karena diare salah satu penyebab kematian bila tidak langsung dicegah.

Dalam penyuluhan tersebut, Wahyu Ramadhan,SKM selaku tenaga promosi kesehatan UPT Pusesmas Pelangiran juga menghimbau, agar masyarakat desa yang hadir dalam penyuluhan tersebut untuk waspada dengan penyakit diare.

Perlu diketahui, Diare ini dapat menyebabkan kematian. Karena penderita akan kehilangan cairan tubuh(dehidrasi), kemudian badan jadi lemah, kehilangan kesadaran, sampai paling fatal berakibat kematian.

Wahyu menyarankan kepada warga untuk menjaga kesehatan lingkungan dan melakukan 10 indikator PHBS agar mereka agar terhindar dari penyakit. Bila ada warga terkena diare segera beri oralit dan ke pusat pelayanan kesehatan agar cepat diobati.

Dengan penyuluhan ini semoga masyarakat tidak menyepelekan lagi penyakit diare, dan agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Keluarga Sehat, Masyarakat Sehat, Indonesia Sehat, Kesehatan Masyarakat Berjaya!

Perjuangan Seorang Promotor Kesehatan Merubah Tatanan Pola Hidup Masyarakat

Masyarakat awam hanya mengenal profesi Dokter, Perawat, dan Bidan saja. Tidak banyak masyarakat tahu apa itu Promotor Kesehatan. Dan ini perjuangan saya.

Dalam lingkup tenaga kesehatan mungkin orang banyak tidak mengetahui apa itu tenaga promotor kesehatan. Masyarakat awam hanya mengenal profesi Dokter, Perawat, dan Bidan saja.

Apalagi untuk wilayah pedesaan, seperti di Pelangiran ini, awalnya saya dianggap “Sales Produk” karena berpakaian Hitam-Putih setiap terjun ke masyarakat.

Tapi, buat saya menjadi seorang Promotor Kesehatan sangat menyenangkan sekali. Kenapa begitu?

Karena saat kami turun langsung ke desa-desa untuk memberikan penyuluhan yang kami sebut pelayanan kesehatan, rintangan dan kondisi alam pedesaan yang berbeda-beda menjadi tantangan bagi kami tenaga kesehatan masyarakat.

Jujur dalam pikiran saya yang awam, daerah Pelangiran yang di dominasi perairan ini termasuk daerah terpencil.

Maklum saja, saya merantau jauh dari Provinsi Bengkulu untuk bekerja disini. Walau daerah asal saya di tepi laut, saat saya baru pertama kalinya bekerja disini, ketika naik Speedboat dan Pompong membuat saya mabuk laut.

Jalan untuk menuju desa yang mereka sebut disini “SP” juga tidak kalah ekstreem. Kalau hari itu turun hujan, mungkin cocok untuk jadi arena balapan motocross.

Tap satu hal yang membuat saya nyaman tinggal dan bekerja disini, yaitu masyarakat disini baik-baik.

Mungkin bagi orang yang tidak biasa hidup mandiri, tinggal di daerah dengan segala keterbatasan akses akan sulit untuk bertahan.

Namun, demi mewujudkan masyarakat sehat dan tekat merubah perilaku kesehatan masyarakat, maka kami jalani ini semua tidak peduli bagaimana daerah dan tempat kita bekerja.

Semangat terus, kalau pemadam kebakaran punya slogan “tidak akan pulang sebelum api padam”, maka kami tenaga Promkes “Tidak Tidur Sebelum Cuci Tangan”.

PJ Promkes Sosialisasikan BPJS PBI APBD Kepada Pengunjung Puskesmas Krangkeng

Indramayu – Rabu, 6/9, Puskesmas Krangkeng melaksanakan kegiatan rutin edukasi kesehatan (penyuluhan dalam gedung) pada pengunjung di ruang tunggu pasien.

Indramayu - Rabu, 6/9, Puskesmas Krangkeng melaksanakan kegiatan rutin edukasi kesehatan (penyuluhan dalam gedung) pada pengunjung di ruang tunggu pasien.

Setiap hari Rabu, semua pemegang program digilir bergantian untuk memberikan penyuluhan. Dan untuk Rabu kali ini, PJ Promkes dan Promotor yang mendapat jadwal mengisi kegiatan tersebut.

Sebagai narasumber yaitu Ibu Neneng Nurhayati, SKM dan Bapak Fuad Hasyim, SKM, dengan materi Perawatan Kehamilan dan Sosialisasi BPJS PBI APBD.

Seperti diberitakan sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, membiayai pembayaran premi bagi penerima bantuan iuran (PBI) BPJS Kesehatan dan ditanggung oleh Anggaran dan Pendapatan Belanja Daerah (APBD).

Bupati Indramayu Anna Sophanah mengatakan pemkab mengalihkan peserta Kartu Sehat dan Pintar (Kasep) ke BPJS Kesehatan dalam rangka memproteksi masyarakat yang tidak mampu dalam bidang kesehatan.

Untuk meng-cover Kasep yang bersumber dari APBD setiap tahunnya terus meningkat anggarannya pada tahun 2017 ini mencapai 57,8 miliar, dengan migrasi ke BPJS ini berharap hasilnya bisa maksimal dan anggaran yang digunakan bisa lebih efektif, Senin (31/7/2017), seperti dikutip dari Suara.com

Dengan adanya kegiatan edukasi kesehatan ini diharapkan ibu hamil, suami dan keluarga serta pengunjung pasien lainnya bertambah wawasan kesehatan (merawat kehamilan) dan menginformasikan pada masyarakat lainnya tentang BPJS PBI APBD.

Lowongan Kerja PROMKES Dinkes Kab Pekalongan

Penerimaan Petugas Promosi Kesehatan (Promkes) sejumlah 27 orang, yang akan ditempatkan di Puskesmas lingkup Dinkes Kab Pekalongan, s.d 9 Maret 2017.

Penerimaan Petugas Promosi Kesehatan (Promkes) sejumlah 27 orang, yang akan ditempatkan di Puskesmas lingkup Dinkes Kab Pekalongan, dengan ketentuan sbb:

Syarat Pendaftaran :

  1. Tenaga Kesehatan dengan pendidikan Min D3 Promkes atau S1 Kesehatan Masyarakat
  2. Mempunyai kemampuan menggunakan computer dan internet
  3. Usia maksimal 35 tahun pada saat pendaftaran

Kelengkapan Administrasi

  1. 1 Lembar Asli Surat Lamaran, ditulis tangan, ditujukan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pekalongan, dengan alamat Jl. Rinjani No. 2 Kajen Kab. Pekalongan
  2. 1 Lembar FC Identitas Diri (KTP/ SIM) yang masih berlaku
  3. 1 Lembar FC Ijazah dan Transkrip Nilai Akdemik
  4. 1 Lembar Asli Daftar Riwayat Hidup, memuat minimal alamat, domisili, riwayat pekerjaan,
  5. 2 Lembar Foto ukuran 4×6 berwarna
  6. 1 Lembar Asli Surat Keterangan Sehat dari Dokter (RS/ Puskesmas) dengan keterangan Pendaftaran Penerimaan Petugas Promkes Dinkes
  7. 1 Lembar Materai Rp. 6000,-

Seluruh Kelengkapan syarat pendaftaran dimasukkan dalam amplop cokelat tali tertutup, ditujuan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pekalongan.

 

Pendaftaran berlaku s.d 9 Maret 2017, jam 13.00 WIB

Lowongan Kerja PROMKES Dinkes Kab Pekalongan