Puskesmas Bambalamotu: Terus Berbenah, Optimalkan Pelayanan Kesehatan Untuk Masyarakat!

Puskesmas Bambalamotu optimis untuk terus mendekatkan akses layanan kesehatan kepada masyarakat serta meningkatkan kualitas layanan kesehatan.

Oleh:

Ramadhan S.Sos – Pemerhati Kesehatan Pencerah Nusantara 4 Mamuju Utara

“10 tahun yang lalu ketika saya datang ke Puskesmas ini, di depan sana masih banyak pohon-pohon yang tinggi, jalannya juga susah sekali ke sini banyak debu dan kerikil. Namun, hari ini saya sangat senang sekali bisa ketemu dokter” – Mama Acho

Kamis Pagi, 24 Januari 2018. Satu demi satu pasien mulai berdatangan menuju UPT Puskesmas Bambalamotu untuk memeriksakan kesehatan mereka. Beberapa terlihat mengantri di loket pendaftaran untuk mengambil nomor antrian. Staf puskesmas juga telah bersiap di bagiannya masing-masing untuk memberikan pelayanan yang optimal di hari yang paling banyak kunjungannya dalam sepekan ini.

Puskesmas Bambalamotu dulunya dirintis pada masa Alm Hj. Nasruddin yang kala itu menjabat sebagai Kepala Puskesmas Pembantu Bambaira pada tahun 2003. Melihat banyaknya penduduk, jumlah sasaran, serta luasnya wilayah mengakibatkan pelayanan kesehatan menjadi tak mampu diakomodir secara optimal oleh Puskesmas Pasangkayu kala itu. Tak hanya sendiri, Pak Haji sebutan akrabnya ditemani Ibu Hasna yang juga bertugas di Puskesmas Pasangkayu waktu itu berinisiasi memulai pelayanan kesehatan yang baru di Desa Bambalamotu. Pembangunan gedung pelayanan pun selesai di tahun yang sama, walaupun belum cukup memadai dari berbagai aspek namun masih bisa untuk memulai operasional.

Puskesmas Bambalamotu kala itu dibangun untuk melayani masyarakat di 2 kecamatan sekaligus yaitu Kecamatan Bambaira dan Kecamatan Bambalamotu yang menjangkau 10 desa. Uniknya, di wilayah kerja puskesmas ini masih banyak suku dari Komunitas Adat Terpencil (KAT) yang tinggal dan terkadang hidup nomaden, berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Alhasil dalam sehari hanya ada 1 orang saja bahkan tidak ada sama sekalipun yang berkunjung di tahun pertama dibukanya puskesmas ini.

Tak hanya berdiam diri di puskesmas, Pak Haji yang kala itu menjabat sebagai Kepala Puskesmas Bambalamotu pun akhirnya membawa stafnya ke desa-desa untuk mencari dan “mengejar-ngejar pasien”. Mulai dari pasar hingga door to door ke rumah-rumah. Mulai dari yang di tepi pantai hingga puncak gunung. Semuanya dilakukan atas keinginan untuk membuat masyarakat sehat dan membangun kepercayaan layanan kesehatan di mata masyarakat.

Akses jalan yang sangat sulit ke puskesmas, kepercayaan yang masih tinggi terhadap dukun, wilayah puskesmas yang masih berhutan, tenaga kesehatan yang sangat kurang, serta tantangan geografis wilayah kerja membuat rentetan panjang pekerjaan rumah yang harus diselesaikan satu demi persatu oleh Pak Haji dan Ibu Hasna. Namun, itu tak membuat mereka gentar untuk melanjutkan tugas mulia tersebut apalagi dengan bantuan Suster Bahra yang bertugas di Puskesmas Pembantu Bambalamotu.

Dua tahun berselang, satu demi satu tenaga kesehatan mulai diangkat oleh Pemerintah Kabupaten Mamuju Utara untuk ditugaskan di sini. Tambahan kekuatan ini menjadi semangat baru apalagi dengan dibentuknya UPTD Kesehatan Bambaira pada Juli 2012, wilayah kerja Puskesmas Bambalamotu sedikit berkurang walau masih terasa sangat luas dirasa saat ini. Hingga kini 64 orang tercatat bertugas melayani lebih dari 18.000 jiwa penduduk Kecamatan Bambalamotu, 25 di antaranya Pegawai Negeri Sipil dan 39 merupakan Tenaga Sukarela.

Kini tampuk kepemimpinan Puskesmas Bambalamotu diamanahkan kepada Hasna, ibu dari dua anak yang punya semangat tinggi untuk melakukan perubahan. Berbagai upayapun telah coba dilakukannya untuk memberikan pelayanan seluas-luasnya dan sebaik-baiknya ke masyarakat. Bukan mudah untuk meneruskan komitmen yang telah dikerjakan sebelumnya, butuh keberanian lebih untuk menjadi pemimpin apalagi jika seorang wanita.

Inovasi demi inovasi diuji cobakan olehnya. Satu hal yang paling berkesan dengan adanya perubahan besar yang dilakukan di awal kepemimpinannya adalah dengan perombakan manajemen puskesmas. Dalam pikirannya saat itu adalah bagaimana ibu-ibu hamil bisa bersalin secara nyaman di puskesmas yang saat itu hampir dikatakan mustahil dilakukan. Tak berpikir Panjang, keikhlasannya pun terbukti di sini. Ruang nyaman yang selama ini digunakan untuk operasional Kepala Puskesmas pun direlakan olehnya untuk dijadikan ruang bersalin ibu-ibu hamil. Hasna mau bersempit-sempitan di ruang keuangan merelakan kepentingan pribadi untuk kepentingan masyarakatnya.

Namun, perjuangannya tak hanya sampai di situ. Sekarang Hasna pun bersama seluruh staf Puskesmas Bambalamotu harus meyakinkan ibu-ibu hamil untuk mau melahirkan di puskesmas. Puskesmas yang dilabeli mistis oleh masyarakat menjadi penyebab masalah terbesar yang harus diurai sedikit demi sedikit. Berbagai pendekatan ke masyarakat dilakukannya untuk membangun kepercayaan. Pengorbanannya pun terbayarkan. Satu demi satu ibu hamil mulai melahirkan di puskesmas hingga saat ini, sungguh mulia kan jasanya?

Sederet pekerjaan lainnya yang telah dilakukannya dan harus diapresiasi adalah ikut sertanya dalam proyek pengentasan malaria bersama LSM Global Fund ketika Mamuju Utara tercatat sebagai daerah endemis zona merah malaria, menginisiasi pertemuan lintas sektoral, melakukan advokasi ke BPJS untuk penambahan kepesertaan di wilayah kerja puskesmas, mendatangkan tim Pencerah Nusantara (Tim Kolaborasi Kesehatan Lintas Profesi) untuk mendampingi puskesmas selama tiga tahun atas “lobi”-nya ke pusat (CISDI) hingga menjadi juara lomba Keluarga Berencana Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (KB MKJP) tingkat Provinsi Sulawesi Barat pada tahun 2017.

Puskesmas Bambalamotu terus menerus berbenah di masa kepemimpinannya. Masih banyak memang yang harus dikerjakan olehnya dan tidak sedikit pula inovasi yang harus dipikirkannnya. Menuju terakreditasinya puskesmas pada tahun 2018, Puskesmas Bambalamotu yang bermoto “TABE” (Terampil, Amanah, Bekerjasama, dan Empati) ini semakin optimis untuk berhasil mendekatkan akses layanan kesehatan kepada masyarakat serta meningkatkan kualitas layanan kesehatan. Semoga tercapai.