Belajar Akreditasi Puskesmas, Bab VIII,  Tentang Manajemen Penunjang Layanan Klinis (MPLK)

Berikut ini penjelasan tentang Manajemen Penunjang Layanan Klinis di BAB VIII, sebagai jawaban atas pertanyaan dari rekan Yayuk Srirahayu dari Puskesmas Pamekasan.

Belajar Akreditasi Puskesmas, Bab VIII,  tentang Manajemen Penunjang Layanan Klinis (MPLK).

TANYA:

Assalamu’alaikum. Maaf Pak Kus, saya dari Puskesmas Pamekasan, bisa minta gambaran untuk Bab 8 Pak? Terimakasih, wassalammu’alaikum.
~ Yayuk Srirahayu

  1. Yang pertama diperhatian, Bab VIII ini berbicara tentang apa? Karena banyak orang ketika langsung menuju ep-ep (Elemen Penilaian) pemahamannya salah karena lupa judulnya. Lupa membicarakan apa yang jadi topiknya. Terutama bagi Pendamping, sampaikan dulu Bab VIII ini berbicara tenatang apa? Tentang Manajemen Penunjang Layanan Klinis (MPLK). Jadi berbicara tentang UKP di Puskesmas. (Bagi PJ UKM harap diperhatikan betul, bahwa ranah kerjanya adalah pelayanan di masyarakat/ atau pelayanan berbasis masyaralat. Jadi keluhannya, ya keluhan layanan di masyarakat; keselamatan, ya keselamatan sasaran di masyarakat; resiko, ya resiko pelayanan kesehatan di masyarakat; bukan dokumen yang ada disini).
  2. Lalu cari tahu, apa yang disebut MPLK? Agar kita tidak berdebat tanpa arah berputar putar karena yang bicara dan yang diajak berbicara mempunyai pemahaman dan referensi berbeda. Kalau kata kata lazimnya, Definisi operasional. Salah satu kelemahan buku Instrumen Akredtasi ini adalah, tidak adanya definisi operasional, atau Glossary; arti setiap kata sulit, atau kata yang mempunyai arti khusus, atau kepanjangan dari suatu singkatan. Di Indonesia itu terkenal akan banyaknya singkatan. Sehingga menyulitkan menghafalkannya.
  3. Yang disebut Layanan Klinis disini adalah:
    a) Pelayanan Laboratorium
    b) Pelayanan Obat
    c) Pelayanan Radiodiagnostik (jika tersedia),
    d) Manajemen informasi – Rekam Medis.
    e) Manajemen Keamanan Lingkungan
    f) Manajemen Peralatan
    g) Manajemen Sumber Daya Manusia.
  4. Masing masing layanan ada standarnya: Apa standarnya bahwa 7 ( tujuh) layanan klinis yang diberikan sudah memenuhi kebutuhan/harapan masyarakat? Ingat, pelayanan Puskesmas menuju kepada Kepuasan Pelanggan, maka kebutuhan dan harapan masyarakat diidentifikasi dijadikan program kerja.
    a) Standar Pelayanan Laboratorium : 8.1. Pelayanan Laboratorium Tersedia Tepat Waktu untuk Memenuhi Kebutuhan Pengkajian Pasien, serta Mematuhi Standar, Hukum dan Peraturan yang Berlaku.
    b) Standar Pelayanan Obat: 8.2. Obat yang Tersedia Dikelola secara Efisien untuk Memenuhi Kebutuhan Pasien
    c) Standar Pelayanan Radiodiagnostik (jika tersedia): 8.3. Pelayanan radiodiagnostik disediakan sesuai kebutuhan pasien, dilaksanakan oleh tenaga yang kompeten, dan mematuhi persyaratan perundangan yang berlaku
    d) Standar Manajemen informasi – rekam medis. 8.4. Kebutuhan Data dan Informasi Asuhan bagi Petugas Kesehatan, Pengelola Sarana, dan Pihak Terkait di Luar Organisasi Dapat Dipenuhi Melalui Proses yang Baku.
    e) Standar Manajemen Keamanan Lingkungan : 8.5. Lingkungan Pelayanan Mematuhi Persyaratan Hukum, Regulasi dan Perizinan yang Berlaku.
    f) Standar Manajemen Peralatan: 8.6. Peralatan Dikelola dengan Tepat.
    g) Standar Manajemen Sumber Daya Manusia : 8.7. Terdapat Proses Rekrutmen, Retensi, Pengembangan dan Pendidikan Berkelanjutan Tenaga Klinis yang Baku.
  5. Dari sini kita tahu bahwa melaksanakan pelayanan itu harus mengikuti standarnya. Tetapi kalimat dalam standar itu tidak bisa divisualisasikan, dilihat, diobservasi, ditampilkan. Jadi perlu adanya indikator indikator untuk bisa dilihat, itulah yang disebut elemen penilaian, bagian bagian yang dinilai. Dilihat dokumennya dalam masalah akreditasi ini.
  6. Jadi jika ep-ep dipenuhi: harapannya standarnya sudah dipenuhi dan kebutuhan dan harapan masyarakt itu sudah dipenuhi.
  7. Bagi Pendamping Akreditasi, cara berfikir ini berlaku untuk semua bagian; baik Admen, UKP dan UKM. Kalau dalam istilah ilmiahnya, analisa dan sintesa. Analisa itu bagian besanya dipecah pecah menjadi bagian bagian kecil (Terutama dalam pemecahan masalah). Sedang sintesa itu menggabnngkan pecahan pecahan kecil menjadi bentuk utuh program pelayanannya. Ibaratnya seorang arkeolog yang menyatukan pecahan keramik dalam suatu temuan situs kuno untuk digabung jadi benda asalnya seperti apa. Apakah itu vas bunga, atau alat makan-piring, mangkuk dll.
  8. Bagi Pendamping; mulailah selalu mendalami dulu dari bagian besarnya, agar tidak tersesat dalam memberi penjelasan isinya, karena tahu bagian kecil itu dari bagian besar mana. Berfikir sistematis itu penting. Berfikir menurut urutan yang benar. Kalau kita belajar nama otot, kita hafalkan dulu nama tulangnya. Karena nama otot sering berasal dari nama tulang yang menjadi tempat melekatnya. Misalnya Musculus Sterno cleido mastoideus, berarti otot yang menghubungkan otot sternum, clavicula dan mastoid.

Kus Sularso, Banyumanik, 13 Februari 2018.
(Menjadi Pendamping memang harus lebih siap dibanding yang didampingi, karena itu mulailah belajar melihat sesuatu secara global, lalu menuju detail. Mulailah berfikir sistematis, dilihat sistemnya dulu secara utuh lalu secara perlahan lahan dipahami detailnya. Semoga penjelasan singkat ini bermanfaat. Terutama bagi pendamping yang harus menjawab berbagai pertanyaan warga binaanya. Selamat bekerja. Salam Sukses)