Puskesmas Selatbaru Menyelenggarakan Edukasi STBM di Desa Bantan Timur

Bengkalis – 7/9, Puskesmas Selatbaru menyelenggarakan edukasi Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) di Desa Bantan Timur, Kabupaten Bengkalis, Riau.

Bengkalis – 7/9, Puskesmas Selatbaru menyelenggarakan edukasi Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) di Desa Bantan Timur, Kabupaten Bengkalis, Riau.

Kegiatan STBM kali ini diikuti oleh 40 orang masyarakat Desa Bantan Timur. Sebagai narasumber, saya sendiri Agus supriyono, bersama rekan Rosmaini.

Harapan kami sebagai tenaga kesehatan dari Puskesmas Selatbaru, semoga dengan kegiatan STBM ini dapat meningkatkan akses jamban di Desa Bantan Timur, menuju universal akses 2019, dan berubahnya prilaku masyarakat Desa bantan Timur.

Untuk Mensukseskan STBM di Bantan, Peran Lintas Sektor dan Program Antar Puskesmas Sangat Penting

Kami melibatkan Kepala Desa dan Bidan Desa untuk melakukan verifikasi kalo desa tersebut sudah tidak buang air besar sembarangan.

Saya mengikuti program nusantara sehat ini, merupakan suatu kebanggaan bagi saya, sebuah program berbasis  tim dari Kementrian Kesehatan, guna mengatasi masalah kesehatan kesehatan dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat,  yang penempatannya di Daerah Terpencil Perbatasan Kepulauan (DPTK) dan Daerah Bermasalah Kesehatan (DBK).

Saat ini sya ditempatkan di Puskesmas Selatbaru Kecamatan Bantan Kabupeten Bengkalis, berbatasan langsung dengan Malaysia. Puskesmas Selatbaru memiliki wilayah kerja 14 desa. Tugas berat untuk mendeklarasikan semua desa. Saat ini baru 3 desa yaitu Desa Resam Lapis, Desa deluk  dan Bantan Tua, yang melakukan deklarasi Stop Buang Air Sembarangan (SBS).

Saya bersama rekan, Rosmaini, sanitarian Puskesmas Selatbaru, dibantu Faskab Kabupeten Bengkalis, berintegrasi dengan penanggung jawab program promosi kesehatan yaitu Ibu Linda Hariyani, melakukan pemicuan Stop Buang Air Besar Sembarangan di semua Desa.

Tidak hanya pemicuan saja, kami juga melakukan tindak lanjut melakukan kunjungan ke rumah-rumah yang tidak memiliki jamban. Di bantu oleh Kepala Desa, ternyata cara ini lebih efektif. Setelah didampingi secara terus menerus, keluarga tersebut akhirnya memiliki jamban sederhana.

Kami melibatkan Kepala Desa dan Bidan Desa untuk melakukan verifikasi kalo desa tersebut sudah tidak buang air besar sembarangan.

Selain itu, untuk melakukan percepatan Stop Buang Air Besar Sembarangan, kami melakukan pertemuan lintas sektor, dihadiri Kepala Desa seluruh wilayah kerja Puskesmas Selatbaru dan Kasi Penyehatan Lingkungan  yaitu Bapak Edi sudarto, SKM. Tujuannya mengadvokasi Kepala Desa untuk melakukan Deklarasi Desa SBS.

Setelah di verifikasi, 11 desa dinyatakan  SBS, dan 3 desa yang belum. Kami targetkan 2019 seluruh desa sudah mendeklarasikan SBS,.

Advokasi sangat sulit dilakukan karena kepala desa masih Pj, sehingga untuk menganggarkan acara deklarasi, tidak dapat memutuskan. Kami terus melakukan pendekatan dengan 3 desa ini untuk segera mendeklarasikan desanya.

Memang sedikit sulit melakukan advokasi SBS karena masih dianggap tidak penting. Namun kami pantang menyerah memberikan penjelasan kepada pengambil kebijakan bahwa STBM ini penting dan merupakan program Prioritas saat ini.