Warga Desa Apresiasi SPAL Komunal Buatan Mahasiswa Kesmas Univ Lambung Mangkurat

“Bagus kerjasamanya, membuat satu saluran pembuangan untuk beberapa rumah (komunal), biaya menjadi lebih hemat”, tutur Subrakun, salah satu masyarakat RT 6 Desa Jilatan.

Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran ULM Kelompok 13 melakukan kegiatan Pengalaman Belajar Lapangan (PBL) yang bertema “Penyuluhan dan Pelatihan Pembuatan Pembuangan Saluran Air Limbah (SPAL) ” di Desa Jilatan Kecamatan Batu Ampar Kabupaten Tanah Laut.

Tidak hanya di Desa jilatan, Mahasiswa Kesehatan Masyarakat ULM ini melakukan Praktek Belajar Lapangan secera Menyeluruh dengan 13 Kelompok PBL yang tersebar di 13 Desa Kecamatan Batu Ampar.

PBL dilakukan selama 3 kali. Sebelumnya telah dilakukan kegiatan PBL 1 pada bulan Juli 2017 selama 1 bulan dengan melakukan diagnosa komunitas untuk menentukan permasalahan kesehatan di Desa Jilatan. Dari 1 bulan pelaksanaan diagnosa komunitas didapatkan permasalahan banyaknya masyarakat yang belum memiliki Saluran Pembuangan Air Limbah di rumah mereka masing-masing.

Sebagai tindak lanjut dari kegiatan PBL 1, maka dilakukan kegiatan Intervensi dari pemecahan permasalahan kesehatan tersebut.
Kegiatan ini berlangsung selama 2 minggu . PBL 2 dilakukan guna meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam bidang pemberdayaan masyarakat dengan melibatkan masyarakat

SPAL Desa Jilatan Karya Mahasiswa Kesmas ULM

“Bagus kerjasamanya, membuat satu saluran pembuangan untuk beberapa rumah (komunal), biaya menjadi lebih hemat”, tutur Subrakun, salah satu masyarakat RT 6 Desa Jilatan.

Selama kegiatan berlangsung mahasiswa bekerjasama dengan Puskesmas Tajau Pecah Kecamatan Batu Ampar.

“Harapannya dengan adanya percontohan pembuatan SPAL ini
Masyarakat bisa terbuka hatinya untuk mengikuti agar yang tadi airnya tersebar kemana-mana bisa terkendali dan bisa menjadi contoh perumahan yang sehat” kata pak Qosim, aparat Desa Jilatan sekaligus pembimbing lapangan Kelompok 13.

Saluran Pembuangan Air Limbah Warga Desa jilatan

“Semoga dengan adanya penyuluhan dan pelatihan pembuatan SPAL ini, masyarakat sadar akan pentingnya kebersihan lingkungan dan setelah dilakukan pelatihan masyarakat mampu membuat saluran air limbah baik secara individu/komunal yang sesuai dengan standar kesehatan,” kata Wibowo Simon Seno Saputra Ketua Kelompok 13 PBL.

Dalam Rangka PBL, Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Ini Wujudkan Pilar ke-5 STBM di Desa Tajau Mulya

Dalam rangka kegiatan intervensi PBL (Praktik Belajar Lapangan), mahasiswa Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru mengadakan kegiatan Penyuluhan dan Pelatihan, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan.

PBL di Desa Tajau Mulya, Kecamatan Batu Ampar

Ada 2 rangkaian kegiatan, Pertama kegiatan Penyuluhan mengenai Saluran Pembuangan Air Limbah Sederhana yang diadakan pada tanggal 21 Januari 2018 dan kegiatan Kedua yaitu Pelatihan pembuatan Saluran Pembuangan Air Limbah Sederhana diadakan pada tanggal 25 Januari 2018.

Sasaran kegiatan ini adalah warga Desa Tajau Mulya, terutama warga yang tidak mempunyai Saluran Pembuangan Air Limbah.

Pembuatan Saluran Pembuangan Air Limbah Sederhana di Desa Tajau Mulya

Saat kegiatan Penyuluhan dan Pelatihan berlangsung, warga tampak antusias. Hal ini dilihat dari antusiasme warga yang bertanya. Pada saat Pelatihan, didampingi Ibu Yuliana, dari Puskesmas Tajau Pecah, Kecamatan Batu Ampar, beliau berharap kegiatan ini dapat mewujudkan 5 Pilar STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat) yaitu pilar ke-5 Pengelolaan Air Limbah Rumah Tangga.

Masyarakat Desa Tajau Mulya

Dinkes Kota Bogor Tingkatkan Sanitasi Ponpes

Dinkes Kota Bogor, Jawa Barat, meningkatkan kualitas kesehatan para santri di pondok pesantren dengan menjaga kebersihan dan kelancaran sanitasi.

Dinkes Kota Bogor, Jawa Barat, meningkatkan kualitas kesehatan para santri di pondok pesantren dengan menjaga kebersihan dan kelancaran sanitasi. “Pondok pesantren bagian dari lingkungan yang perlu juga mendapat perhatian Dinas Kesehatan Kota Bogor,” kata Kepala Seksi Kesehatan Lingkungan dan Kesehatan Kerja, Dinas Kesehatan Kota Bogor Farida di Bogor, Kamis (10/8).

Farida menjelaskan, Dinkes Kota Bogor mengumpulkan sejumlah guru dan santri di 10 pondok pesantren untuk mengikuti pelatihan higienitas dan sanitasi yang diberikan oleh Dinas Kesehatan. Menurutnya, sama seperti sekolah pada umumnya, pondok pesantren tempat menimba ilmu bagi anak-anak, bedanya santri tinggal dan belajar di lingkungan tersebut. “Kami berharap lingkungan tempat belajar dan tinggal santri itu sehat,” kata dia.

Karena, dia melanjutkan, gambaran yang terbangun di masyarakat selama ini, lingkungan ponpes kotor, banyak santri yang terjangkit penyakit kulit, diare dan penyakit berkaitan dengan kesehatan lingkungan lainnya. Dinas Kesehatan Kota Bogor melakukan pemantauan selama dua hari.

Dari hasil pantauan tersebut, 10 pondok pesantren diberikan pelatihan cara menjaga kebersihan dan kelancaran sanitasi di lingkungannya. “Harapan kami, santri dan para guru ini menjadi agen perubahan di pondok pesantren. Guru membuat kebijakan, memelihara sanitasi di ponpes dengan melibatkan santri,” kata dia.

Ia mengatakan, kebersihan itu terkait individu masing-masing, dengan rutin melakukan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) membangun sanitasi yang laik. Misalnya, secara fisik memenuhi syarat, ada ventilasi udara, sarana air bersih, ada jamban dan ada tempat pengelolaan sampah yang baik dan benar. “Pengelolaan sampah yang baik dan benar juga terdapat kompos disitu,” kata Farida.

SumberĀ republika.co.id