Apa yang Bikin Kamu Bangga Sebagai Seorang SKM?

Ya, karena seharusnya kebanggaan itu diikuti pula oleh Rasa Syukur. Bangga sebagai SKM, Bersyukur karena menjadi bagian dari Profesi Mulia ini.

Apa yang Bikin Kamu Bangga Sebagai Seorang SKM?

Ya, karena seharusnya kebanggaan itu diikuti pula oleh Rasa Syukur. Bangga sebagai SKM, Bersyukur karena menjadi bagian dari Profesi Mulia ini.

#skm #skmuntukrepublik #kesmas #kesehatanmasyarakat #anakkesmas #mahasiswakesmas #kesmashits #kesmas_id

A post shared by Kesmas-ID (@kesmas.id) on

Apa yang Bikin Kamu Bangga Sebagai Seorang SKM?

@merishadheas 

Menjadi bagian dari pencegahan dan penyelamatan masyarakat dalam bidang kesehatan. Karena kesehatan masyarakat meliputi beberapa bidang dan sangat dibutuhkan untuk berkoordinasi dengan pemerintah dan tenaga medis.

@aig_baladhika

Belajar ilmu kesehatan masyarakat seperti belajar menjadi orang yg asyik dan pintar menempatkan diri di masyarakat

@arianita_dyah

Multitalent

@mitariyadi24

SKM itu bisa belajar multidisipliner ilmu. Dari macam-macam penyakit tropis manusia, kes.veteriner, kesling, farmakologi, gizi, kia, segala jenis vektor nyamuk, lalat dan tikus serta kutu-kutuan, sampai ke-ergonomisan benda-benda yang digunakan manusia, dan masih banyak lagi.

@mayyasaaini

SKM itu adalah Pengabdian Masyarakat, Menjadi orang yang bisa bermanfaat bagi orang lain.

@putrimayaa_

Orang yg dipercaya masyarakat untuk curhat masalah kesehatan yg dialami, karena SKM dekat dengan masyarakat❤️

SKM Nusantara Sehat, Mengabdi Untuk Kesehatan Masyarakat Pulau Terluar

Neni Yulita, lulusan SKM, hampir dua tahun ini ditempatkan di salah satu pulau terluar di Kepulauan Sangihe, Nusa Tabukan, dalam program Nusantara Sehat.

Bertugas di daerah terpencil, jadi tantangan tersendiri bagi Neni Yulita. Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM) ini, hampir dua tahun ditempatkan di salah satu pulau terluar di Kepulauan Sangihe, Nusa Tabukan.

 

Laporan: Sriwani Adolong, Sangihe

NENI memulau tugasnya di Nusa Tabukan pada 2 Desember 2016. Program Nusantara Sehat yang menempatkannya di sana. Nusa Tabukan masuk daftar pulau terluar di Indonesia. Lokasinya cukup jauh dari ibu kota Kepulauan Sangihe, Tahuna. Sekira 2,5 jam paling cepat. Itupun harus menempuh transportasi laut dan darat. Transit di Kecamatan Petta. Sebagai tenaga kesehatan di wilayah kepulauan, Neni harus ekstra kerja.

Profesinya menuntut dia harus memberi pengetahuan pada masyarakat terkait hidup sehat. Fokusnya mengatasi permasalahan kesehatan masyarakat melalui pendekatan promotif dan preventif. “Dititikberatkan pada upaya pencegahan. Mempertahankan masyarakat sehat agar tetap sehat dan memberikan dorongan kepada mereka yang sakit agar memperhatikan kesehatannya,” jelas perempuan asal Provinsi Jambi ini.

Dikisahkannya, berbagai kendala harus dihadapi. Mulai dari jaringan internet sulit, sehingga sering ketinggalan informasi. Apalagi jika ada informasi penting dari Dinas Kesehatan, terkadang nanti bisa diketahui keesokan harinya. “Selain itu medannya harus naik turun gunung dengan jalanan licin,” ceritanya, pada Manado Post.

Neni pun harus menjajal kampung yang satu, ke kampung lain. Alat transportasinya adalah perahu. Cuaca ekstrem sering ditemui. Namun harus ditempuh untuk melihat kondisi masyarakat.

Namun dia bersyukur kesulitan tersebut bisa hilang karena masyarakat dan pemerintah kecamatan maupun kampung sangat ramah dan baik. “Yang membuat betah juga banyak ikan. Saya sering makan ikan,” katanya tersenyum. Hal itu juga yang membuat Neni jarang meninggalkan lokasi tugas. “Saya ke Tahuna nanti ketika ada yang perlu dikonsultasikan atau diinformasikan ke dinas. Lain dari itu tinggal di tempat tugas karena harus terus melihat kondisi masyarakat,” ungkapnya.

Dia berharap aktivitas di Puskesmas bisa berjalan lancar meski terkendala listrik karena masih menggunakan PLTS. Agar semua masyarakat dapat terlayani dengan baik. “Di pulau ini saya sadar kesehatan masyarakat sangat mahal. Sehingga saya ingin terus berupaya agar kedepannya masyarakat pulau mendapat pelayanan kesehatan yang baik,” tutup Nenu.

Sumber http://manadopostonline.com/read/2018/01/24/Gigihnya-Tenaga-Kesehatan-Mengabdi-di-Pulau-Terpencil/29426

Besok Kalau Kamu Lulus, Gelar Kamu SKM, Kamu Mau Kerja Dimana?

Pasti pernah dong diskusi, curhat sama kawan, besok lulus SKM mau kerja dimana? Nah, apa mimpi kamu, siapa tahu kawan kamu bakal Aminin do’a kamu.

Hallo sahabat Kesmas-ID, kali ini kita mau bahas soal topik yang selalu menarik buat mahasiswa kesmas, juga para alumninya. Pasti pernah dong diskusi, curhat sama kawan, besok lulus mau kerja dimana?

Nah, tulisan ini merupakan cuplikan kecil aja dari diskusi sahabat-sahabat Kesmas-ID di akun Instagram @kesmas.id, seperti apa serunya, apa sih mimpi para Calon SKM, berikut ini penuturan mereka:

Dari hattaillah Mahasiswa FKM Unsri di Palembang

Ingin jadi HSE. Amiin… bukan hanya bekerja di perusahan, tapi mengajak perusahaan bekerja menerapkan K3 preventiv seefektif mungkin

Dari jellyssela Mahasiswa Kesmas STIKes Bhakti Husada Mulia Madiun

Kerja di Komisi Penanggulangan HIV AIDS

Dari jejejean_hsd

Keinginan jadi Dosen Promkes, dan ingin buka usaha EO di bidang kesehatan terutama bidang penelitian 😄 semoga ya Allah..Aminnn

Dari nurfadilahsudirman Mahasiswa Kesmas UIN Alauddin Makassar

Dinas Kesehatan Provinsi Sulsel, atau tenaga kesehatan lingkungan yg ada di Sulsel. Aamiin

Dari cindypermatass

MIMPI kerja di Rumah Sakit! Mau berkontribusi banyak di sana, SKM harus MIRACLE 😉

Dari raden_febry_istyanto Mahasiswa S2 di Universitas Sebelas Maret

Jadi dosen yang profesional dan peneliti handal hehe mohon doanya saya lagi S2 Epid n Biostat. Semangat SKM. Salam kenal saya lulusan skm (epid)😊😊

Dari radenyudistira09  Mahasiswa Kesmas STIKes Respati Tasikmalaya

Menjadi Menkes RI di tahun yang akan datang (man jadda wa jadda) 🙏😊

Ada banyak sekali mimpi sahabat kesmas yang tidak mungkin kita muat semuanya disini.

Tetapi, satu hal yang ingin kami sampaikan, bahwa, ruang lingkup Kesmas itu sangat luas, begitu pun peluang kerja untuk lulusan SKM tentunya.

Setelah lulus nanti, kawan-kawan bisa pilih kerja di Pemerintahan, Dinkes, Rumah Sakit, Puskesmas, dll. Atau bekerja di Swasta misal RS, Perusahaan Tambang, dan sebagainya. Atau bisa juga menjadi pengajar, terjun ke masyarakat lewat NGO kesehatan, bahkan juga menjadi pengusaha yang tentu masih relevan dengan keilmuan kesmas.

Gapai MIMPI kamu setinggi langit, siap untuk berproses, semoga Allah kabulkan do’a dan mimpi kita, sehingga Allah mudahkan urusan dan rejeki kita semuanya, Amin.


BESOK, kalau kamu LULUS, Gelar kamu SKM, kamu mau KERJA DIMANA ?
>>>>
Yuk jawab MIMPI KAMU via komen,
siapa tahu temen-temen yang baca MIMPI KAMU mau ngaminin 😊
>>>>
Apa MIMPI KAMU setelah jadi SKM ?

Merasa Kesasar di Jurusan Kesehatan Masyarakat? Anda Salah Besar!

Lulusan S1 Kesehatan Masyarakat ini sangat prospek banget loh. Masih ragu-ragu dan enggak bangga sama SKM? Tunggu fakta menarik lainnya tentang SKM ya!

Musim penerimaan mahasiswa baru menjadi masa-masa yang ditunggu-tunggu oleh banyak siswa SMA, sebab ini menjadi pintu awal dalam sebuah perjuangan hidup seseorang. Namun fakta dilapangan, khususnya bagi para mahaisiswa baru Jurusan Kesehatan Masyarakat, bukan menjadi sebuah kebanggaan ketika masuk dalam jurusan Kesehatan Masyarakat. Kok bisa?

Banyak mahasiswa yang beranggapan bahwa masuk di Fakultas Kedokteran dan Fakultas Teknik lebih membanggakan daripada masuk Fakultas Kesehatan Masyarakat, malah ada yang beranggapan bahwa masuk Fakultas Kesehatan Masyarakat khususnya S1 Kesehatan Masyarakat merupakan sebuah “kecelakaan” atau juga sering yang merasa “kesasar” dalam jurusan ini. Jika anda masih merasa tidak bangga dan merasa kesasar di jurusan ini maka anda salah besar.

Kesehatan masyarakat itu mulia loh kerjaannya. Sebab kita mengupayakan orang untuk terus sehat dan mencegah terjadinya sebuah penyakit di masyarakat. Saya ulangi sekali lagi ya, di MASYARAKAT.

Bayangkan kalau bisa hitung-hitungan pahala, bakal besar tuh pahalanya ya soalnya lulusan S1 Kesehatan Masyarakat yang nantinya memiliki gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat (S.KM) ini bekerjanya lebih ke interaksi dengan komunitas, bukan individu. So bakalan seru, karena kita akan banyak ketemu dengan berbagai orang, berbagai karakter dan banyak lagi dah.

Nah fakta lainnya adalah, sangat prospek banget loh lulusan S1 Kesehatan Masyarakat ini. Kok Bisa?

Singkatnya, saat ini negara kita merupakan negara berkembang, kedepannya akan menjadi negara maju. Tau kan negara maju seperti yang di eropa dan amerika sana memiliki mindset bahwa mencegah penyakit lebih baik dari pada mengobati. Kalau Indonesia akan menjadi negara maju kedepannya, logikanya pasti membutuhkan banyak SKM.

Masih ragu-ragu dan enggak bangga sama SKM? Tungguin fakta-fakta menarik lainnya tentang SKM ya!

Ini Alasan Mengapa Mahasiswa Kesmas Harus Punya Kompetensi Menulis

Kulitas Mahasiswa Kesmas dilihat dari isi otaknya, dibuktikan dengan karya yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Biasakan menulis dari sekarang!

Mahasiswa pada umumnya harus berkiblat pada Tridharma Perguruan tinggi sebagai pedoman pengembangan kompetensi. Bagi mahasiswa kesmas, 2 dari Tridharma Perguruan Tinggi yaitu pengajaran dan pengabdian masyarakat sudah sangat mantap dilaksanakan oleh mahasiswa dari setiap institusi. Namun, untuk penelitian kita harus mengakui bahwa masih sangat kurang berkembang pada mahasiswa kesehatan masyarakat.

Penelitian tidak lepas dari kepenulisan ilmiah, karena inilah yang akan menjadi bukti kebaruan atau penguatan teori dari hasil suatu penelitian. Profesi kita yang akan mendapatkan gelar SKM sering diplesetkan menjadi “Sarjana Kebanyakan Makalah”.

Jika itu menjadi plesetan untuk gelar sarjana kita maka sudah sepantasnya seorang mahasiswa kesehatan masyarakat menjadi mahasiswa yang paling kompeten dibidang kepenulisan ilmiah dibandingkan dengan mahasiswa bidang keilmuan lainnya.

Kita akui bahwa penugasan kuliah begitu banyak karya tulis–karya tulis mulai dari makalah tinjauan pustaka, laporan pengabdian, laporan studi kasus, dan lain sebagainya. Tapi, ironisnya kita masih kalah dalam kualitas kepenulisan ilmiah dibandingkan dengan mahasiswa bidang keilmuan lain seperti Kedokteran dan MIPA. Hal ini disebabkan karena kurangnya dukungan program dari organisasi intra kampus sendiri terhadap kepenulisan ilmiah.

Ada beberapa cara yang dapat diterapkan pada organisasi intra kampus untuk pengembangan kepenulisan ilmiah, diantaranya:

Membentuk kelompok atau forum studi ilmiah bagi mahasiswa, dengan dibentuknya kelompok tersebut akan menjadi wadah untuk saling bertukar inovasi dan kerjasama dalam mengembangkan inovasi dalam bentuk karya tulis ilmiah maupun karsa cipta dan prototipe teknologi.

Hal ini telah dibuktikan oleh Kesehatan Masyarakat Universitas Lambung Mangkurat yang membentuk Forum Studi Ilmiah Mahasiswa (FSIM), dengan dibentuknya organisasi tersebut institusi kesmas ini berhasil menjadi institusi kesmas paling produktif di Kalimantan dengan menghasilkan 100 Proposal PKM 2 Bidang, 100 Proposal 5 bidang dan menjadi langganan finalis Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS). Bahkan sempat menyabet 1 Medali Perunggu dan 1 Emas di ajang PIMNAS. Sehingga dalam waktu kurang dari 5 tahun berhasil memperoleh Akreditasi B.

Mengadakan program kegiatan pelatihan kepenulisan ilmiah, ini akan sangat berguna bagi semua mahasiswa untuk kepentingan kuliah, penyusunan KTI atau skripsi. Sehingga memiliki kualitas yang baik dan layak untuk dipublikasikan baik di jurnal nasional maupun internasional.

Mengadakan lomba-lomba kepenulisan ilmiah seperti lomba karya tulis ilmiah (LKTI), dan poster ilmiah. Tujuannya agar mahasiswa memiliki motivasi untuk selalu belajar, meningkatkan kulitasnya serta memiliki daya saing di bidang keilmiahan.

Manfaat yang akan didapatkan dari pengembangan kepenulisan ilmiah, bagi mahasiswa akan membentuk pola pikir ilmiah yang sangat diperlukan di berbagai lingkungan, memberikan kesempatan untuk menjadi mahasiswa yang prestatif, mendapatkan kesempatan untuk keliling Indonesia bahkan keliling dunia untuk presentasi ilmiah. Bagi institusi tersendiri akan mendapatkan nilai penunjang untuk akreditasi.

“Kualitas Mahasiswa Kesmas dilihat dari isi otaknya, yang dibuktikan dengan karya yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Mari kita mulai menulis yang baik dari sekarang.”

Arah Masa Depan Sarjana Kesehatan Masyarakat di Era Global

Kendari – 26/8, FKM Universitas Halu Oleo Kendari menyelenggarakan Kuliah Tamu dengan tema “Arah Masa Depan Sarjana Kesehatan Masyarakat di Era Global”.

Kendari – 26/8, Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Halu Oleo Kendari menyelenggarakan Kuliah Tamu dengan tema “Arah Masa Depan Sarjana Kesehatan Masyarakat di Era Global”.

Bertempat di Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Halu Oleo, dihadiri oleh para mahasiswa juga dosen dosen FKM, acara Kuliah Tamu kali ini menghadirkan beliau Bp. DR. Ridwan M. Thaha, M.Sc, selaku Ketua PP IAKMI.

Dalam kesempatan kali ini beliau menekankan perlunya mahasiswa kesmas sebagai calon sarjana kesehatan masyarakat membekali diri dengan skill seperti leadership, kemampuan komunikasi, agar kedepannnya S.KM mampu menjawab tantangan isu-isu kesehatan dimasa yang akan datang.

Beliau juga menyampaikan saat ini IAKMI terus memperjuangkan regulasi agar S.KM sebagai tenaga kesehatan yang berkompeten tidak lagi dipandang sebelah mata oleh tenaga kesehatan yang lainnya.

Beliau juga berpesan, sebagai calon sarjana kesehatan masyarakat, mahasiswa kesmas harus bangga karena menjadi agent of change dibidang kesehatan. “I’m public health, I’m miracle.” tutup beliau.

Acara ini berlangsung dari pukul 10.00 – 11.30 Wita. Dengan diselenggarakan acara ini diharapkan para mahasiswa baru sebagai calon sarjana kesehatan masyarakat, kedepannnya S.KM tidak lagi dipandang sebelah mata, dan memahami mindset tentang apa itu Kesmas, serta dapat lebih memahami tugas dan tanggungjawab sebagai seorang kesmas.

Yuk Kenalan Sama Gadis Cantik Ini, Sarjana Kesehatan Masyarakat Dari Pelosok Guntung

Zurly Novi Razali, SKM punya semangat mendidik yang luar biasa. Alumni STIKes Ibnu Sina Batam ini bekerja sebagai staff Kesmas di Puskesmas Guntung.

Perawakan gadis energik ini tergolong kecil. Tingginya Hanya 155 cm. Umurnya juga masih muda, 24 tahun. Tergolong masih remaja. Tapi jangan tanya semangatnya.

Zurly Novi Razali, SKM ataupun Novi, demikian gadis ini akrab di panggil – punya semangat mendidik yang luar biasa. Dan yang di didik adalah anak anak remaja usia sekolah, agar tidak salah jalan hidup dan terlibat pergaulan negatif yang merugikan masa depan remaja.

Novi jebolan STIkes Ibnu Sina Batam. Lahir dari pasangan Alm. Razali Said dan Zuryatini. Novi sendiri anak pertama dari dua bersaudara. Orang tua Novi yang hanya tinggal ibu saja usaha wiraswasta kecil kecilan. Novi sendiri sekarang mengabdikan ilmu yang tadi di pelajarinya selama di Batam di Puskesmas Guntung dan menjabat sebagai staff Kesehatan Masyarakat.

Tak jarang untuk melaksanakan tugasnya, Novi terkadang harus menyeberangi kanal kanal dan perairan dengan menggunakan speed ataupun angkutan air lainnya. Guntung memang terkenal sebagai daerah yang di pisahkan dengan kanal kanal besar dan daerah penghasil kelapa yang melimpah ruah.

Tak jarang Novi menemukan kasus kasus penggunaan narkotika dan zat berbahaya dalam pelayanannya kepada remaja setingkat SMU di daerah Guntung. Jika ketemu kasus seperti ini Novi melakukan pendekatan personal dan juga keagamaan. Hampir dalam setiap kesempatan pembinaan remaja, sebelum bubar Novi mengajak anak anak binaannya untuk bershalawat. “ semoga dengan bershalawat keimanan mereka semakin kuat dan tidak mudah terpengaruh dengan kondisi lingkungan yang negatif. “ demikian tutur gadis berhijab ini kepada sorotkepri.com.

Zurly Novi Razali, SKM bersama anak dampingan

Remaja remaja di Sei Guntung menurut Novi yang terkena pengaruh negatif di karenakan berbagai sebab. “ Ada karena penyalahgunaan NAPZA, Ada yang karena pengaruh lem, jadi syarafnya rusak. Ada yang karena minum minuman oplosan. Ada juga yang karena minum komix berlebihan melewati batas yang di anjurkan. Anak anak SD juga sudah ada yang terang terangan merokok. Ada yang sampai cacat karena kegiatan negatif ini. “ demikian Novi menjelaskan.

Penyebabnya juga karena berbagai hal . “ Terkadang karena pergaulan. Ada juga karena keluarga sudah cuek terhadap si anak karena sudah tidak terkendali lagi. Ada juga yang karena pengaruh internet. Kita dari tenaga kesehatan hanya bisa memberikan penyuluhan,efek dan bahayanya. Dari sekolah juga punya peraturan tegas yang melarang penggunaan NAPZA buat para siswa. Penyampaian tidak hanya ke siswa nya saja kita juga libatkan keluarga nya. “ demikian Novi menjelaskan pekerjaannya.

“Kita juga ada konselor sebaya yang sudah kita bina. Mereka yang lebih tahu tentang teman teman mereka yang punya masalah. Dari konselor sebaya kita tenaga kesehatan bisa tahu masalah apa yang teman teman mereka alami dan bisa kita bahas dan tindak lanjuti dengan bekerjasama dengan sekolah dan polisi jika ada berkenaan dengan penggunaan napza. “ panjang lebar Novi yang masih single ini menjelaskan.

Pindah dari kota Batam tempatnya menimba ilmu dan kembali ke kampung halaman untuk mengabdikan diri, ternyata juga bukan hal gampang bagi Novi. Proses penyesuaian dirinya sembuat membuat dirinya terombang ambing. Namun Novi memantapkan diri dan pada akhirnya justru menjadi betah dan kerasan bekerja dan mengabdi di daerah Guntung, mengingat Guntung tak sama dengan Batam yang ramai dan metropolitan.

Namun senyuman indah sang Ibunda bagi Novi ibarat vitamin semangat yang mampu melawan segala keletihan. Meskipun terkadang tak jarang harus terjun ke pedalaman dan tempat terpencil, Novi menjalani dengan keikhlasan dan ketabahan. Salut Buat Novi, yang sebenarnya masih remaja juga ini. Kamu bagaimana?

Zurly Novi Razali, SKM

Sumber sorotkepri.com

Ini Cerita Tentang SKM, Sarjana Kebanyakan Makalah

Sering kali gelar SKM itu diplesetkan menjadi Sarjana Kebanyakan Makalah. Kadang bikin kesal, tapi ambil postifnya aja, siapa tahu bikin kita lebih maju.

Sering kali gelar SKM itu diplesetkan menjadi Sarjana Kebanyakan Makalah, kadang hal ini membuat kita kesal. Bagaimana tidak kesal, gelar ini adalah gelar kebanggaan kita namun selalu diplesetkan ke hal-hal lain.

Tapi kita coba pikir positif saja, memang di kuliah kesehatan masyarakat banyak sekali tugas-tugas membuat makalah. Sehingga inilah yang menjadi alasan mengapa gelar SKM diplesetkan menjadi sarjana kebanyakan makalah.

Dalam hal ini saya berfikir bahwa kalau gelar kita diplesetkan menjadi sarjana kebanyakan makalah, maka inilah kelebihan kita. Tugas membuat makalah yang banyak itu menjadi kelebihan kita, kalau kita kebanyakan membuat makalah itu artinya kita ahli dalam membuat makalah.

Hal ini harus kita kembangkan agar menjadi bernilai, tidak hanya sekedar memenuhi tugas perkuliahan saja. Menulis makalah artinya kita menulis dengan gaya ilmiah, kemampuan menulis ilmiah adalah salah satu kompetensi yang harus setiap mahasiswa kuasai. Kaitannya nanti dengan menulis proposal dan skripsi yang membuat mahasiswa pada umumnya merasa tertekan. Mahasiswa kesehatan masyarakat sudah sering membuat makalah berarti tidak galau dan merasa stress saat menulis proposal dan skripsi.

Setiap saya mengisi materi tentang kepenulisan bagi mahasiswa, saya selalu tekankan kepada mahasiswa agar jangan menjadikan aktivitas menulis itu sebagai sesuatu yang menakutkan. Mahasiswa selalu dipacu atau dimotivasi untuk tidak alergi terhadap menulis ilmiah dengan manfaat yang akan diperoleh. Lebih tepatnya adalah ilmiah itu seru.

Mari kita kembangkan kemampuan menulis ilmiah, kita bisa memsnfaatkan hal ini untuk mengikuti lomba-lomba ataupun conference tingkat nasional, regional bahkan internasional. Selain itu kita juga bisa menulis opini-opini mengenai kesehatan masyarakat di media sosial ataupun media masa. Bisa juga kita menulis buku, sangat keren jika kita masih mahasiswa tapi sudah menghasilkan banyak tulisan yang dapat dibaca oleh orang lain dan bahkan dipresentasikan di conference tingkat naisonal, regional maupun internasional.

Kepala Puskesmas Ini Gunakan Gelar SKM Palsu, PARAH!

Ka Dinkes Batanghari sangat menyayangkan adanya masalah ini, karena yang bersangkutan termasuk Kepala Puskesmas dengan kinerja baik dan cukup inovatif.

Seorang oknum kepala puskesmas (Kapus) di Kabupaten Batanghari berinisisal “S” nekat menggunakan gelar palsu. Dia memasang gelar Sarjana Kesehatan Masyarakt (SKM) saat dilantik beberapa waktu lalu. Padahal, ia belum memiliki gelar tersebut.


FOKUS: Anak KESMAS WAJIB Tahu!


Gelar tersebut digunakan oknum kepala puskesmas tersebut, saat dirinya dilantik pada 31 desember 2015 lalu. Padahal, dirinya saat itu, belum memiliki gelar S.KM. Gelar S.KM,  baru ia peroleh pada oktober 2016 lalu. Sehingga selama 10 bulan dia telah menggunakan gelar palsu untuk mengelabui bupati dan kepala BKD.

Oknum kepala puskesmas tersebut, juga tidak menampik jika dirinya telah menggunakan gelar palsu. Saat dihubungi awak media dia mengakui jika dirinya melakukan kesalahan. Akibat kesalahan yang ia perbuat tersebut, dirinya juga telah menerima uang tunjangan selama 10 bulan. Namun, ia berjanji akan mengembalikan uang tunjangan tersebut kepada Pemerintah Kabupaten Batanghari.

“Iyo dindo dan sayo punyo kewajiban mengembalikan tunjangan jabatan tu…tinggal nunggu perintah kapan pengembaliannya dilaksanakan…,” jawab Kapus S melalui pesan whatsapp, Jumat (2/6) lalu.

Ditanya berapa jumlah uang tunjangan jabatan yang harus dikembalikan? Kapus tersebut menjawab kalau uang tunjangan jabatan selama 10 bulan dibawah Rp. 10 juta. “sekitar Rp. 5.400.000. dindo,” jawabnya.

Sementara itu, terkait Gelar palsu yang disandang seorang Oknum Kapus saat pelantikan pada 31 Desember 2015 silam, sangat disayangkan kepala dinas kesehatan. Namun pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Batanghari, dr. Elfi Yennie, mengaku jika dirinya sudah mengetahui permasalahan tersebut. Bahkan kepala dinas tersebut juga sudah memberikan teguran secara lisan.

“Sebenarnya saya sdh diberi tahu secara informal tapi memang belum ada secara tertulis,” sebut Elfie beberapa waktu lalu.

Elfi menambahkan, pihaknya masih menunggu proses yang sedang berlangsung. Bila ternyata memang ada pelanggaran hukum maupun disiplin kepegawaian, sambung Elfi, maka akan diproses sesuai aturan yang berlaku.

“Saya sangat menyayangkan adanya masalah ini, karena yang bersangkutan termasuk Kapus dengan kinerja baik dan cukup inovatif,” pungkas Elfie.

Sumber

Dari Jumlah Ideal 57, Jember Cuma Miliki 6 Tenaga Kesehatan Masyarakat

Sesuai dengan Permenkes No. 75/2014, seharusnya jumlah tenaga kesehatan masyarakat 57 orang, tapi Jember baru ada 6, sehingga perlu dibuka formasi lowongan.

Bupati Jember Faida mengatakan daerahnya masih kekurangan tenaga medis, bahkan jumlah tenaga kesehatan yang ada tidak sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 75 Tahun 2014.

Dari evaluasi terkini, di Jember masih butuh tenaga kesehatan sehingga perlu dibuka formasi lowongan untuk tenaga kesehatan, katanya dalam siaran pers yang diterima Antara di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Minggu.

Menurut dia, pembukaan pendaftaran lowongan tenaga kesehatan itu akan digelar secara terbuka, transparan, serta bebas korupsi, kolusi, dan nepotisme. Oleh karena itu, panitianya harus independen, seperti yang pernah dilakukan pada saat lelang jabatan beberapa waktu lalu.

Proses lelang jabatan kemarin akan dijadikan acuan untuk rekrutmen tenaga kesehatan di Jember, baik non-PNS maupun PNS. Adanya formasi PNS dan non-PNS nantinya akan disesuaikan dengan anggaran dari pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten

Ia menekankan bahwa panitia rekrutmen harus benar-benar independen, tidak ada pungli, tidak ada kolusi, dan semua berkesempatan yang sama dalam karier di Jember.

Hasil pendataan, lanjut dia, kebutuhan tenaga kesehatan di Jember masih relatif cukup banyak. Apabila harus mengacu pada standar Permenkes No. 75/2014, pemkab melakukan berbagai langkah.

Langkah itu, antara lain, melalui Program Internsip Dokter Indonesia (PIDI), rekrutmen terbuka, dan penertiban terkait dengan surat keputusan (SK) tenaga medis yang tidak sesuai dengan penempatan, serta kelebihan formasi di satu unit layanan.

Di Jember, tercatat 62 dokter umum, 50 tenaga dokter gigi, 266 perawat, 286 bidan, tenaga kefarmasian 29 orang, 6 tenaga kesehatan masyarakat, 14 tenaga kesanitarian, 15 tenaga gizi, 9 tenaga kesehatan bidang analis kesehatan.

Sesuai dengan Permenkes No. 75/2014, seharusnya jumlah dokter sebanyak 92 orang, dokter gigi sudah sesuai (50 orang), perawat seharusnya 544 orang, bidan seharusnya 323 orang, tenaga kefarmasian seharusnya 56 orang, 57 tenaga kesehatan masyarakat, 50 tenaga kesanitarian, 92 tenaga gizi, dan 50 tenaga kesehatan bidang analis kesehatan.

Faida juga mengeluhkan beberapa puskesmas yang tidak memiliki dokter umum, seperti Puskesmas Rambipuji dan Kaliwates. Namun, di sisi lain ada puskesmas yang memiliki dua dokter umum, seperti Puskesmas Jombang.

Puskesmas yang memiliki dua dokter umum tercatat 13 unit, puskesmas dengan satu dokter umum tercatat 34 unit, sedangkan puskesmas dengan satu dokter gigi yakni Puskesmas Jelbuk, Panti, dan Curahnongko.

Puskesmas tanpa dokter gigi tercatat lima unit, yakni Puskesmas Kencong, Tembokrejo, Kemuningsari Kidul, Kaliwates, dan Karang Duren. Untuk puskesmas dengan 1 dokter gigi ada 42 unit, sedangkan dokter gigi telah ada di empat rumah sakit daerah di Jember.

Kesimpulannya, jumlah dan jenis SDM tenaga kesehatan di Jember belum sesuai dengan standar. Selain itu, distribusi SDM tenaga kesehatan belum proporsional sesuai dengan kebutuhan nyata organisasi sehingga ada yang kekurangan pegawai dan ada yang kelebihan pegawai.

Faida mengatakan bahwa Dinas Kesehatan akan melakukan pemenuhan tenaga dokter melalui Program Internship Dokter Indonesia (PIDI) pada tahun 2017, jumlah wahana Internsip ada enam RS swasta dan RSD di Jember.

Perinciannya, untuk RS Jember Klinik dan Puskesmas Kaliwates ada 17 dokter, RSD Balung dan Puskesmas Tanggul ada 17 dokter, RSD Kalisat dan Puskesmas Rambipuji ada 14 dokter, RS Kaliwates PT Rolas Nusantara Medika dengan Puskesmas Mayang ada 15 dokter, RS TK III Baladhika Husada dan Puskesmas Sukowono ada 13 dokter, untuk RS Citra Husada dan Puskesmas Sukorambi ada 13 dokter sehingga totalnya 87 dokter.

Sumber beritasatu.com