Bebas Stunting Untuk Mengejar Bonus Demografi Indonesia Sehat, Cerdas dan Produktif

S1 IKM STIKIM gelar “SEMINAR KESEHATAN NASIONAL 2018. Tema “Bebas Stunting Untuk Mengejar Bonus Demografi Indonesia Sehat, Cerdas dan Produktif”.

S1 IKM STIKIM proudly present, “SEMINAR KESEHATAN NASIONAL 2018”.

Tema “Bebas Stunting Untuk Mengejar Bonus Demografi Indonesia Sehat, Cerdas dan Produktif”

Tentunya dengan menghadirkan pembicara hebat yang tidak kalah menarik, diantaranya:

Keynote Speaker :
dr. Anung Sugihanto, M.Kes, Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI*

  • dr. Imran Agus Nurali.,Sp.KO, Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan RI
  • Iing Mursalin, M.Si, Direktur PKGBM Millenium Challenge Account Indonesia
  • dr. BRW Indriasari Sp.A, M.Si, Med. M.Kes, Dokter Anak RS Puri Mandiri Kedoya & RSUD Mampang Prapatan
  • Ns. Nana Supriyatna, M.Kep.,Sp.Kep.Kom, Ketua PPNI Jakarta Pusat.

MODERATOR*

  • Dr. Sobar, S.Psi, MKM
  • Arseka Pertiwi, Amd. Keb

CATAT TANGGALNYA!

Dont forget to mark your calendar !!!!
📆Sabtu, 03 Februari 2018
⏰ 07.00-14.00 WIB
🏬Gedung BPPT, Jl. M. H Thamrin No. 8 RT 02/RW 01, Menteng, Jakarta Pusat.

Pembayaran :
📎PRE-SALE = Rp. 175.000,-
📎ON THE SPOT = Rp. 200.000.-

Fasilitas:
📍Sertifikat ber-SKP 9 *SKP (2 SKP IAKMI, 2 SKP IBI, 1 SKP PPNI, 2 SKP PERSAGI, 2 SKP HAKLI)*
📍Seminar kit
📍Snack
📍Lunch
📍Doorprize
📍Mini Konser

Pendaftaran:
Bit.ly/SemnasSTIKIM2018

Cara Pembayaran:
💵Pembayaran langsung : Gedung HZ Jl. Harapan No. 50 Lenteng Agung.
💳Via transfer : No rek BNI. 610679168 a.n Mifta Ulyasari

Konfirmasi pembayaran : NAMA LENGKAP_INSTANSI_PRODI/JABATAN
Contoh : HAMIMAH_STIKIM_KESMAS_
Cantumkan gelar jika ada dan kirim foto bukti transfer ke. 085782599684 (Mifta)

Apabila ada yang kurang jelas ataupun ingin bertanya terkait acara bisa hubungi CP dibawah ini:
Contact person :
Darusman (087837540778)
Mifta (085782599684)

Special Performence
Lutfi Aulia *Artis Hits Jaman Now*

Grab it fast!

Bebas Stunting Untuk Mengejar Bonus Demografi Indonesia Sehat, Cerdas dan Produktif

FKM Undip Berpartisipasi Dalam Peningkatan Kesehatan Masyarakat

FKM Undip tidak hanya sebagai tempat belajar mahasiswa menghasilkan ijasah, tapi betul-betul bisa berperan untuk mencari solusi dan membantu pemerintah.

Angka stunting Indonesia berdasarkan riset tahun 2013 masih tinggi yaitu 37,2 persen. Artinya jika jumlah balita di Indonesia 22 juta anak, total stuntingnya mencapai 9 juta balita, atau 3 balita 1 stunting.

Hal tersebut dikemukakan Direktur Gizi, Dirjen Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI, Ir. Dody Izwardi, seusai Pembekalan Supervisor Mahasiswa Baru tentang Pendampingan Desa Mitra Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Undip, di Kampus Undip Tembalang, Sabtu (19/8/2017).

“Stunting itu masalahnya bukan pendeknya, tapi konigtifnya rendah. Nah itu hanya bisa diperbaiki dari usia 0 hingga 2 tahun. Tapi kalau sudah lebih dari 2 tahun itu sudah sangat sulit memperbaiki tinggi badannya,” ucapnya.

Dody menambahkan, pada usia 20 tahun ke atas, anak-anak stunting bisa punya beberapa penyakit seperti ginjal, jantung, hipertensi, dan Kanker.

“Yang paling kita takuti adalah Konigtif. Yaitu gangguan kecerdasannya, sehingga kesuliatan nanti dalam proses pendidikan, dan mengalami kesulitan dalam mencari pekerjaan,” imbuhnya.

Di tempat yang sama, Dekan FKM Undip, Hanifa M. Denny, SKM, MPH, Ph.D. menuturkan, pihaknya mempunyai program, FKM Undip tidak hanya sebagai tempat belajar mahasiswa menghasilkan ijasah, tapi betul-betul bisa berperan untuk mencari solusi dan men scaling up, membantu pemerintah.

Menurutnya, masalah yang masih sangat serius dihadapi pemerintah Indonesia saat ini adalah bagaimana menyelamatkan 1000 hari pertama kehidupan, termasuk menurunkan angka stunting.

“Kami mengamati bahwa dari tahun ke tahun tinggi badan mahasiswa bukan malah makin tinggi tapi justru semakin pendek-pendek,” tuturnya. Artinya ini ada hal yang harus diselesaikan, karena ke depan kita akan sulit mencari, atlit, kita akan sulit mencari pramugari, serta akan sulit mencari tentara yang tangguh. In masalah yang sangat serius,” tegasnya.

Sementara Koordinator Program Desa Mitra Kampus FKM Undip, Yudhy Darmawan, SKM, MKes, menambahkan, kegiatan Pendampingan Desa Mitra merupakan bagian dari proses Program Soskil dan Pengembangan Karakter Mahasiswa Baru (MABA).

“Kami saat ini mendampingi di 2 wilayah Puskesmas, yaitu puskesmas Rowosari dan Puskesmas Kedungmundu Semarang. Puskesmas Rowosari kita mendampingi 5 Kelurahan, di Kedungmundu kita mendampingi 2 kelurahan. Jadi kita sesuaikan dengan jumlah mahasiswa. 2 atau 3 mahasiswa mendampingi 1 keluarga,” jelasnya.

Menurut Yudhy, kegiatan ini diperuntukkan bagi mahasiswa baru, sejak masuk hingga April 2018.

“Jadi selama 1 tahun kita paparkan mereka dengan pola pendidikan karakter. Salah satunya  langsung praktek ke masyarakat mendampingi keluarga yang sedang hamil atau mempunyai bayi. Sehingga setiap bayi yang lahir diharapkan bayi-bayi sehat, tidak stunting dan tidak kekurangan gizi,” pungkasnya.

Sumber rri.co.id

Peran Generasi Muslim Dalam Mengatasi Permasalahan Stunting di Indonesia

SKI Nurani FKM UI menyelenggarakan Simposium Kesehatan Islam dengan tema, “Peran Generasi Muslim dalam Mengatasi Permasalahan Stunting di Indonesia”

SIMPOSIUM KESEHATAN ISLAM
SKI Nurani FKM UI dengan bangga mempersembahkan:
Simposium Kesehatan Islam dengan tema,
“Peran Generasi Muslim dalam Mengatasi Permasalahan Stunting di Indonesia”
Tanggal : Sabtu, 16 September 2017
Jam        : 08.00 – 16.00
Tempat  : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok
Pembicara :
Keynote Speaker : Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moeloek, Sp. M (Menteri Kesehatan Republik Indonesia)*
🔵Sesi 1
“Peran Multistakeholder dalam Menurunkan Prevalensi Stunting”
  1. Prof. dr. Endang L. Achadi, M.P.H, Dr. PH (Guru Besar Tetap Ilmu Gizi Kesehatan Masyarakat FKM UI)
  2. Dr. Safarina G Malik, DVM., MS., Ph.D (Founder of the Indonesian Nutrigenomics Nutrigenetics Society)
  3. Dr. Ir. Subandi, MSc (Deputi PMMK Bappenas)*
  4. Dr. H. Muhammad Zainul Majdi., MA., Al Hafidz (Gubernur Nusa Tenggara Barat)*
🔵Sesi 2
“Stunting dalam Perspektif Islam”
  1. Nur Fajri Romadhon Asy-Syafi’i (Co-Founder BISA Foundation)
  2. dr. Raehanul Bahraen (Pembina KIPMI [Komunitas Ilmuwan dan Profesional Muslim Indonesia])
🔵Sesi 3
“Pentingnya Peran Perempuan dalam Menurunkan Stunting di Indonesia”
  1. Asti Shafira (Mahasiswa Berprestasi I FKM UI 2017)
  2. dr. Davrina Rianda (Dokter, Penulis, Co-owner Klinik Rumah Sehat, Ibu satu anak)
*dalam tahap konfirmasi
Harga :
– Early bird (30 Juli – 18 Agustus)
      🔹SMA, Mahasiwa S1/D3 : Rp 130.000,-
      🔸Umum, profesi, S2/S3 : Rp 150.000,-
– Normal ( 19 Agustus – 15 September)
      🔹SMA, Mahasiwa S1/D3 : Rp 150.000,-
      🔸Umum, profesi, S2/S3 : Rp 170.000,-
– OTS (16 September)
      🔹SMA, Mahasiwa S1/D3 : Rp 165.000,-
      🔸Umum, profesi, S2/S3 : Rp 185.000,-
Sudah termasuk:
✔ Sertifikat bernilai 7 SKP (2 IBI, 2 IAKMI, 3 PAFI)
✔ Snack
✔ Seminar Kit
✔ Lunch
Mekanisme Pendaftaran:
  1. Isi form pendaftaran di bit.ly/PendaftaranSKI
  2. Transfer uang pendaftaran ke BNI A.N. Madinar, No. Rekening 0387848198
  3. Kirim bukti pembayaran ke CP (081285148168/line : rifkafikaa) dengan format: Nama_no.hp (misal: salsa_081285148168)
  4. Setelah 1×24 jam kamu akan dapat confirmation email
Informasi Lebih lanjut :
Line : @ajp4595o
IG :  @skinurani
Twitter: @skinurani
Facebook : Simposium Kesehatan Islam FKM UI
Narahubung:
085217441523/line : pratiwiesty
Simposium Kesehatan Islam UI 2017
 -Create a Great Generation-
Peran Generasi Muslim dalam Mengatasi Permasalahan Stunting di Indonesia

Ibu Hamil Tak Boleh Makan Ikan, Mitos atau Fakta?

Pemerintah terus mempopulerkan budaya makan ikan sebagai asupan protein hewani dengan kandungan gizi tinggi untuk mencegah gizi buruk dan stunting.

Pemerintah terus mempopulerkan budaya makan ikan sebagai asupan protein hewani dengan kandungan gizi tinggi untuk mencegah gizi buruk dan kekerdilan pada anak (stunting).

“Makan ikan itu murah, sehat dan tersedia banyak. Momentum ini merupakan jawaban dari tantangan untuk mempopulerkan makan ikan, agar menjadi budaya masyarakat kita,” kata Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki seperti dikutip dari siaran pers yang diterima di Jakarta, Kamis, saat mengumumkan 10 finalis Lomba Masak Ikan Nusantara Menuju Istana.

Menurut Teten, banyak masyarakat yang beranggapan bahwa mengkonsumsi daging lebih berkelas dibandingkan mengonsumsi ikan.

Hal ini diperparah dengan masih banyaknya mitos yang salah di masyarakat, seperti ibu hamil tidak diperbolehkan mengonsumsi ikan karena alasan kebudayaan. Padahal, mengonsumsi ikan selama kehamilan justru sangat dianjurkan.

Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan Anung Sugihantono mengatakan bahwa prinsip makan adalah beragam dan berimbang.

Untuk itu, dia meminta agar masyarakat memahami bahwa sumber protein tidak hanya pada daging, namun justru ikan merupakan sumber protein yang menjadi kekayaan Indonesia yang melimpah.

“Salah satu kelebihan sumber protein ikan yaitu mengandung omega 3. Bila dibandingkan dengan daging yang kadarnya sangat rendah atau bahkan sebagian besar tidak ada,” ujar Anung.

Anung menegaskan bahwa protein ikan sangat membantu pertumbuhan dan perkembangan yang bukan sekadar mencukupi kebutuhan tetapi juga mencerdaskan.

Sumber tempo.co

Dinkes NTT, 2.891 Anak di NTT Mengalami Stunting

Dinkes NTT mencatat sejak 2016 tercatat sebanyak 2.891 kasus gizi buruk menimpa anak-anak di provinsi itu, mengakibatkan mereka mengalami stunting.

Dinkes NTT mencatat sejak 2016 tercatat sebanyak 2.891 kasus gizi buruk menimpa anak-anak di provinsi kepulauan itu. Kondisi gizi buruk itu mengakibatkan mereka mengalami masalah kekerdilan (stunting). “Jumlah tersebut diperoleh dari hasil pemantauan terhadap jumlah balita di daerah itu pada 2016 sebanyak 437.730 anak,” kata Kepala Dinas Kesehatan NTT Cornelius Kodi Mete di Kupang, Jumat (7/7).

Ia mengatakan masalah kekerdilan (//stunting) merupakan masalah gizi masa lalu yang terus mejadi perhatian serius pemerintah setempat. “Untuk itu sekarang ini kita lagi giat mengkampanyekan agar pola asupan gizi di masyarakat selalu diperbaiki dari waktu ke waktu agar bisa mengurangi secara drastis angka gizi buruk yang ada,” katanya.

Menurutnya, jika terjadi masalah kekurangn gizi maka pihaknya segera mengatasinya melalui intervensi petugas kesehatan di setiap kabupaten/kota melalui Puskemas-Puskesmas. Ia menjelaskan, langkah-langkah pencegahan yang gencar dilakukan yakni dengan penyuluhan yang maksimal kepada ibu hamil agar mendapat asupan gizi yang cukup sehingga pertumbuhann janin dalam kandungannya juga berlangsung baik dan maksimal.

Kemudian, setelah bayi dilahirkan diberikan pula ASI eksklusif selama enam bulan. Lalu ditambah dengan makanan tambahan lainnya pada usia enam bulan ke atas. “Kemudian pada usia balita juga kita terus arahkan agar ibu yang memiliki bayi harus rajin dibawa ke Posyandu dan diikuti dengan intervensi lainnya kalau diketahui adanya kecenderungan gizi kurang,” katanya.

Cornelis mengaku, angka gizi buruk saat di NTT saat ini sudah berkurang dibandingkan dengan dua hingga tiga tahun yang lalu. Meskipun belum memastikan angka penurunan kasus gizi buruk tersebut, namun menurutnya, kondisi itu didukung dengan kesigapan petugas kesehatan di lapangan yang ketika mendapati adanya kasus gizi kurang langsung melakukan intervensi dengan berbagai asupan gizi.

“Karena kalau sudah statusnya gizi buruk kan walaupun diintervensi tapi hasilnya tidak maksimal karena sudah ada dampak-dampak lanjutnya seingga kita selalu minta kesigapan petugas untuk lakukan pencegahan dini,” katanya.

Lebih lanjut, Cornelis upaya mendorong penguatan asupan gizi untuk masyarakat juga didukung pula dengan adanya program yang gencar digalakkan pemerintah pusat melalui kampanye gemar makan ikan. “Kita berterima kasih untuk program penguatan gizi melalui kampanye makan ikan ini karena memiliki manfaat yang sangat baik bagi tumbuh kembang dan kesehatan ibu dan anak-anak,” katanya.

Menurutnya, Dinas Kesehatan juga ikut serta mengampanyekan gemar makan ikan karena kandungan gizi berupa protein yang bagus mereduksi peningkatan kasus-kasus penyakit tidak menular, salah satunya masalah gizi buruk. Untuk itu, ia berharap pemerintah di setiap daerah bisa menyambut dengan baik dan turut mendukung dengan memastikan kesediaan ikan yang memadai untuk masyarkatnya.

“Di laut kita memang banyak ikan tapi butuh banyak pula keahlian masyarakat untuk menangkapnya, untuk itu lintas sektor lain juga perlu menggiatkannya sehingga betul-betul pasokan ikan dapat tercukupi untuk masyarakat kita,” ujarnya.

Sumber republika.co.id