Catatan Mahasiswa Umitra Lampung: Jalan Panjang Menjadi Seorang Tenaga Kesehatan Masyarakat

Meski gagal jadi seorang Guru, Apoteker, tapi kini bangga, senang akhirnya saya bisa menjadi bagian dari profesi Kesehatan Masyarakat ini.

Cita-cita sewaktu kecil ingin menjadi seorang guru dan dokter. Karena pada waktu kecil pemikiran saya masih sangat minim akan cita-cita saat besar nanti. Bahkan saat kecil saya merupakan anak yang suka berganti cita-cita jika ditanya oleh orang lain. Kadang ditanya cita-citanya mau jadi apa, saya jawab mau jadi dokter, lain kesempatan saya jawab mau jadi dokter.

Waktu itu, barangkali saya melihat dokter adalah orang yang hebat, bisa menyembuhkan orang sakit, bisa memberikan obat jika sedang sakit, bisa menyuntik orang dan bisa menyembuhkan semua penyakit. Sedangkan guru adalah seseorang yang hebat karena bisa membuat orang menjadi pandai.

Namun, saat beranjak dewasa, waktu SMA niat saya berubah lagi. Saya ingin melanjutkan studi dibidang kesehatan dengan pilihan Farmasi sebagai pilihan pertama, Kesehatan Masyarakat sebagai pilihan kedua, dan Perbankan sebagai pilihan ketiga. Waktu kelas 12, saya mencoba mendaftar pilihan yang ketiga lewat jalur SPAN-PTKIN yang ada di Lampung. Alhamdulillah saya diterima disalah satu Institut Agama Islam Negeri di Lampung, tetapi saya belum cukup senang, karena itu adalah pilihan yang ketiga. Akhirnya saya melepaskan pilihan ketiga, untuk terus mencoba melanjutkan ke pilihan pertama.

Pilihan pertama Farmasi, saya sudah mendaftar studi di salah satu Poltekkes di Lampung, namun saya tidak diterima karena tinggi badan yang tidak memenuhi standar yang telah ditetapkan. Dan pada saat itu saya sangat merasa sedih, karena pilihan pertama saya tidak lolos, padahal sudah mengorbankan pilihan ketiga.

Setelah itu saya mencoba mendaftar pada pilihan yang kedua yaitu Kesehatan Masyarakat. Yang terbayang saat itu FKM UNDIP karena sangat bagus dan akreditasinya sudah A. Tapi orang tua saya tidak mengizinkan saya untuk meneruskan studi di luar Lampung. Alhasil saya mencari lagi kampus di Lampung yang memiliki konsentrasi S1 Kesehatan Masyarakat.

Ada dua perguruan tinggi di Lampung yang memiliki konsentrasi S1 Kesmas. Saya mencari tahu latar belakang kedua perguruan tinggi tersebut, saya mengorek informasi dari berbagai sumber tentang kedua perguruan tinggi tersebut, tentang akreditasinya, tentang biayanya, sampai tentang penilaian orang tentang kedua perguruan tinggi tersebut.

Setelah perjalanan panjang mencari tahu akhirnya saya memilih Perguruan Tinggi Mitra Lampung, karena akreditasi S1 kesmas sudah B dan kualitasnya lumayan bagus, bahkan penilaian orang tentang Perguruan Tinggi Mitra Lampung adalah penilaian yang positif, artinya Perguruan Tinggi Mitra Lampung merupakan salah satu perguruan tinggi di lampung yang memiliki kualitas yang baik dalam akademik maupun non akademiknya. Akhirnya saya mendaftar di Perguruan Tinggi Mitra Lampung ambil S1 Kesmas, dan saat ini saya duduk di Semester 3.

Menurut saya, kuliah kesmas yang menarik adalah semua hal yang berhubungan dengan kesehatan masyarakat itu sendiri, mulai dari tentang preventif, promotif sampai ke rehabilitatif. Itu semua merupakan pengalaman baru dan pertama yang saya dapatkan saat berkuliah di kesmas. Pengalaman yang sangat berharga untuk saya.

Dalam kesmas, saya banyak mengambil pelajaran, tentang berbagai macam penyakit menular, tidak menular, bagaimana mencegahnya, melakukan penyuluhan kesehatan supaya orang tidak sakit, bahkan dari kesmas saya belajar bagaimana menjadi seseorang yang percaya diri dan berani berdiri di depan orang banyak dan mengajak mereka untuk hidup sehat dan terhindar dari berbagai macam penyakit.

Saya sangat senang bisa mengajak orang lain untuk menjalankan kebaikan untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. Dari konsentrasi kesmas ini saya bisa menyimpulkan bahwa kesmas itu adalah ilmu dan seni, perpaduan antara ilmu dan seni inilah yang membuatnya menarik.

Penyuluhan Gigi STIkes Umitra Lampung

Pernah bahkan sering ditanya-tanya bisa nyuntik atau ngobatin orang apa tidak. Tetapi saya selalu menjawabnya dengan nyuntik atau ngobatin orang itu bukan bidang saya, bidang saya adalah mencegah orang agar tidak sakit, jadi saya tidak bisa nyuntik atau ngobatin orang. Yang bisa nyuntik dan ngobatin orang itu adalah dokter dan perawat.

Sedangkan saya mencegah bagaimana caranya orang agar tidak sakit, mulai dari merawat dan menjaga lingkungan sekitar sampai memberikan penyuluhan kesehatan tentang hidup sehat, serta melakukan pengawasan terhadap orang sakit yang sudah sembuh agar tidak terkena penyakit yang lain, atau agar penyakit yang dulu tidak kambuh lagi.

Di Kampus Umitra sendiri ada beberapa peminatan unggulan seperti Epidemiologi, Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3), Promosi Kesehatan, Manajemen Pelayanan Kesehatan (MPK), dan Kespro. Rencananya saya ingin mengambil peminatan epidemiologi, karena epidemiologi merupakan ilmu yang mempelajari distribusi, frekuensi penyebaran penyakit, dan juga faktor determinan yang mempengaruhi distribusi dan frekuensi penyakit di populasi. Terlebih lagi menurut saya epidemiologi adalah ilmu yang bergerak untuk melakukan penelitian-penelitian untuk mengetahui distribusi, frekuensi serta faktor resiko terjadinya suatu penyakit.

Dulu waktu saya SMA saya mengikuti ekstrakulikuler KIR (Karya Ilmiah Remaja), disitu saya sering melakukan penelitian-penelitian sederhana yang bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat dari bahan dan alat-alat yang sederhana. Sehingga dalam bangku perkuliahan ini saya ingin meneruskan pengalaman saya tersebut dengan terus melakukan penelitian, karena itu saya ingin mangambil peminatan epidemiologi.

Tapi sepertinya peminatan epidemiologi tidak akan dibuka karena tidak mencukupi kuota. Di Kampus Umitra ditetapkan bahwa minimal peminatan itu dibuka ketika sudah memenuhi kuota 10 orang yang ngambil peminatan tersebut, jika tidak mencapai 10 orang maka peminatan itu tidak akan dibuka. Teman-teman saya satu kelas dari sekitar 27 orang yang ada niatan mengambil peminatan epidemiologi hanya 2 orang jadi tidak mungkin dibuka peminatan epidemiologi tersebut.

Jika peminatan epidemiologi tidak dibuka, maka saya akan mengambil peminatan K3 karena peminatan tersebut masih banyak dibutuhkan dalam dunia kerja, dan juga peminatan K3 menurut saya sangat fokus kepada lingkungan kerja dan pekerja. Jadi ketika saya mengambil peminatan K3 pasti akan turun langsung dalam proyek atau pun perusahaan, untuk melihat, mengawasi, memberikan promisi kesehatan kepada pekerja agar dapat bekerja dengan baik, dapat terlindungi atau mencegah dan mengandalikan risiko kecelakaan kerja.

Terjun langsung adalah hal yang sangat menambah pengalaman karena dengan praktik langsung kerja lapangan membuat saya semakin mengerti bahwa keselamatan kerja itu sangat penting bagi pekerja K3 di sektor formal maupun informal. Mencegah kecelakaan kerja merupakan salah satu tugas yang mulia, yang tidak mudah seperti membalikan telapak tangan, tetapi merupakan tugas kemanusiaan yang membutuhkan usaha, kerja keras, keikhlasan dan juga doa.

Saya pun bisa dibilang aktif dalam berorganisasi. Saat ini saya aktif di 3 organisasi seperti BEM, LDK, dan PAMI Lampung. Organisasi yang saya geluti yang berhubungan dengan keilmuan dan profesi kesmas adalah PAMI, Pergerakan Anggota Muda IAKMI (Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia).

PAMI merupakan suatu wadah pengembangan keprofesian sejak menjadi mahasiswa ilmu kesehatan masyarakat. PAMI adalah suatu organisasi yang bergerak di bidang kesehatan dimana PAMI bergerak secara otonom dibawah naungan IAKMI. PAMI bersifat pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat dengan berpatron kepada IAKMI, sebagaimana Tridharma perguruan tinggi yang memberikan tugas penting bagi mahasiswa untuk masyarakat luas.

PAMI tersebar diseluruh wilayah di Indonesia, pusatnya ada di Jakarta. Disini saya tergabung kedalam PAMI wilayah Lampung yang terdiri dari gabungan dua perguruan tinggi di Lampung yang memiliki bidang konsentrasi kesmas yaitu Universitas Malahayati, dan Perguruan Tinggi Mitra Lampung.

Alhamdulillah, PAMI Lampung adalah organisasi yang sangat aktif. PAMI Lampung dalam beberapa tahun terakhir mengadakan MOU dengan Dinas Kesehatan Propinsi Lampung dan IAKMI Lampung. Sehingga kegiatan yang diadakan oleh Dinkes yang berhubungan dengan masyarakat luas terutama Promkes selalu bekerjasama dengan Pami Lampung.

Rakernas PAMI di Tanggerang Selatan

Sejauh ini PAMI Lampung selalu ikut berkontribusi dalam kebijakan ataupun agenda kegiatan yang dilakukan Dinkes dan IAKMI Lampung, mulai dari peringatan hari-hari kesehatan sampai GERMAS. Pami Lampung cukup berkembang sampai saat ini, kegiatan yang diadakan pun lumayan banyak, seperti penyuluhan kesehatan ke Sekolah Dasar, penyuluhan kesehatan di masyarakat luas, dan selalu bekerjasama dengan komunitas dan organisasi lain untuk melakukan kegiatan yang bermanfaat lainnya, seperti PMI.

Kegiatan PAMI Lampung yang sudah dijalani cukup banyak seperti peringatan HKN, Hari HIV/Aids sedunia, dan masih banyak lagi yang lainnya. PAMI Nasional yang setiap tahunnya mengadakan Rakernas, dan Konas, yang dihadiri oleh PAMI di seluruh Indonesia, ada PAMI Bali, Banten, NTT, dan masih banyak yang lainnya tersebar diseluruh penjuru Indonesia.

Dan saat ini, saya pun bergabung dengan Kesmas-ID Lampung. Saya mengetahui Kesmas-ID dari Kak Sigit, dia adalah kakak tingkat saya di Kampus Umitra. Harapan saya setelah menjadi bagian dari Tim Kesmas-ID, saya bisa meneladani semua anggota Kesmas-ID yang telah memiliki banyak pengalaman tentang kesmas dan telah berkecimpung di dunia kesmas.

Saya ingin meneladaninya karena saya ingin menambah wawasan tentang bagaimana menyikapi dan menerapkan promotif serta preventif di dalam masyarakat secara langsung. Saya ingin belajar menggali ilmu lebih dalam apa itu kesmas dan bagaimana kesmas di Indonesia. Saya berharap setelah saya bergabung di Kesmas-ID ini saya bisa mencari informasi terbaru tentang kesmas di seluruh pelosok Indonesia, saling bertukar pikiran atau sharing yang berkaitan dengan kesmas, sehingga saya bisa mendapatkan pengalaman baru dalam Komunitas Kesmas-ID serta bisa mencontoh dari daerah-daerah lain yang sudah maju terkait dengan kesmas.

Tak jauh-jauh pula disini saya juga mendapatkan informasi dari Kak Sigit bahwa saya bisa mempublikasikan tulisan saya terkait semua tentang kesmas. Dari komunitas ini pun saya berharap banyak bahwa saya disini bisa mendapatkan teman-teman baru dan jaringan untuk kedepannya nanti, mungkin bisa berbagi informasi tentang lowongan pekerjaan untuk S1 Kesmas di Indonesia.

Tak ada gading yang tak retak, terimakasih sudah berkenan membaca pengalaman saya mengenal dunia kesmas, dan senang akhirnya saya bisa menjadi bagian dari profesi Kesehatan Masyarakat ini.

Lilik Nurlida

Pendaftaran Call of Paper Forum Ilmiah Tahunan IAKMI Diperpanjang

Pada FIT IAKMI tahun ini mengambil tema “Peran Tenaga Kesehatan Masyarakat dalam Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga”.

FIT IAKMI KE III adalah  Forum Ilmiah Tahunan yang diadakan oleh IAKMI setiap tahunnya dengan maksud sebagai wahana diskusi ilmiah untuk berbagi ilmu pengalaman riset mengenai permasalahan kesehatan  masyarakat nasional yang diikuti oleh para praktisi, pemerhati kesehatan masyarakat, akademisi, eksekutif, legislatif hingga sektor swasta. Dalam rangkaian kegiatan FIT tahun ini kembali diadakan Call Of paper.

Pada tahun ini mengambil tema “Peran Tenaga Kesehatan Masyarakat dalam Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga” dan memiliki 12 Topik penulisan yaitu:

  • Gizi Investasi Bangsa
  • Penanggulangan Penyakit Menular dan penyakit tidak menular
  • Upaya promosi kesehatan untuk hidup sehat
  • Sinergisitas antar kementerian atau lembaga dalam pembangunan kesehatan
  • Manajemen dan anggaran pusat-daerah dalam pembangunan kesehatan
  • Politik tembakau
  • Pendekatan keluarga sehat
  • Reformasi birokrasi pelayanan kesehatan
  • Media massa dan kesehatan masyarakat
  • Kesehatan Reproduksi, KIA dan KB
  • Kesehatan tradisional dalam perspektif kesehatan masyarakat
  • Lain-lain

Yuk daftar!!! Pendaftaran DIPERPANJANG hingga 15 September 2017

panduan pendaftaran bisa di cek di iakmi.or.id atau hubungi Adityanti 0897-8369-099

Salam Sehat
#FITIAKMI3

FIT IAKMI ke III

Dari Jumlah Ideal 57, Jember Cuma Miliki 6 Tenaga Kesehatan Masyarakat

Sesuai dengan Permenkes No. 75/2014, seharusnya jumlah tenaga kesehatan masyarakat 57 orang, tapi Jember baru ada 6, sehingga perlu dibuka formasi lowongan.

Bupati Jember Faida mengatakan daerahnya masih kekurangan tenaga medis, bahkan jumlah tenaga kesehatan yang ada tidak sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 75 Tahun 2014.

Dari evaluasi terkini, di Jember masih butuh tenaga kesehatan sehingga perlu dibuka formasi lowongan untuk tenaga kesehatan, katanya dalam siaran pers yang diterima Antara di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Minggu.

Menurut dia, pembukaan pendaftaran lowongan tenaga kesehatan itu akan digelar secara terbuka, transparan, serta bebas korupsi, kolusi, dan nepotisme. Oleh karena itu, panitianya harus independen, seperti yang pernah dilakukan pada saat lelang jabatan beberapa waktu lalu.

Proses lelang jabatan kemarin akan dijadikan acuan untuk rekrutmen tenaga kesehatan di Jember, baik non-PNS maupun PNS. Adanya formasi PNS dan non-PNS nantinya akan disesuaikan dengan anggaran dari pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten

Ia menekankan bahwa panitia rekrutmen harus benar-benar independen, tidak ada pungli, tidak ada kolusi, dan semua berkesempatan yang sama dalam karier di Jember.

Hasil pendataan, lanjut dia, kebutuhan tenaga kesehatan di Jember masih relatif cukup banyak. Apabila harus mengacu pada standar Permenkes No. 75/2014, pemkab melakukan berbagai langkah.

Langkah itu, antara lain, melalui Program Internsip Dokter Indonesia (PIDI), rekrutmen terbuka, dan penertiban terkait dengan surat keputusan (SK) tenaga medis yang tidak sesuai dengan penempatan, serta kelebihan formasi di satu unit layanan.

Di Jember, tercatat 62 dokter umum, 50 tenaga dokter gigi, 266 perawat, 286 bidan, tenaga kefarmasian 29 orang, 6 tenaga kesehatan masyarakat, 14 tenaga kesanitarian, 15 tenaga gizi, 9 tenaga kesehatan bidang analis kesehatan.

Sesuai dengan Permenkes No. 75/2014, seharusnya jumlah dokter sebanyak 92 orang, dokter gigi sudah sesuai (50 orang), perawat seharusnya 544 orang, bidan seharusnya 323 orang, tenaga kefarmasian seharusnya 56 orang, 57 tenaga kesehatan masyarakat, 50 tenaga kesanitarian, 92 tenaga gizi, dan 50 tenaga kesehatan bidang analis kesehatan.

Faida juga mengeluhkan beberapa puskesmas yang tidak memiliki dokter umum, seperti Puskesmas Rambipuji dan Kaliwates. Namun, di sisi lain ada puskesmas yang memiliki dua dokter umum, seperti Puskesmas Jombang.

Puskesmas yang memiliki dua dokter umum tercatat 13 unit, puskesmas dengan satu dokter umum tercatat 34 unit, sedangkan puskesmas dengan satu dokter gigi yakni Puskesmas Jelbuk, Panti, dan Curahnongko.

Puskesmas tanpa dokter gigi tercatat lima unit, yakni Puskesmas Kencong, Tembokrejo, Kemuningsari Kidul, Kaliwates, dan Karang Duren. Untuk puskesmas dengan 1 dokter gigi ada 42 unit, sedangkan dokter gigi telah ada di empat rumah sakit daerah di Jember.

Kesimpulannya, jumlah dan jenis SDM tenaga kesehatan di Jember belum sesuai dengan standar. Selain itu, distribusi SDM tenaga kesehatan belum proporsional sesuai dengan kebutuhan nyata organisasi sehingga ada yang kekurangan pegawai dan ada yang kelebihan pegawai.

Faida mengatakan bahwa Dinas Kesehatan akan melakukan pemenuhan tenaga dokter melalui Program Internship Dokter Indonesia (PIDI) pada tahun 2017, jumlah wahana Internsip ada enam RS swasta dan RSD di Jember.

Perinciannya, untuk RS Jember Klinik dan Puskesmas Kaliwates ada 17 dokter, RSD Balung dan Puskesmas Tanggul ada 17 dokter, RSD Kalisat dan Puskesmas Rambipuji ada 14 dokter, RS Kaliwates PT Rolas Nusantara Medika dengan Puskesmas Mayang ada 15 dokter, RS TK III Baladhika Husada dan Puskesmas Sukowono ada 13 dokter, untuk RS Citra Husada dan Puskesmas Sukorambi ada 13 dokter sehingga totalnya 87 dokter.

Sumber beritasatu.com