Ini Cara Mahasiswa Kesmas Univ Lambung Mangkurat Cegah Warga Desa Ambawang Terus Bakar Sampah

Warga Desa Ambawang, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Tanah Laut membangun TPS Sampah untuk mengatasi masalah pembakaran sampah di wilayah mereka.

Warga Desa Ambawang, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Tanah Laut membangun Tempat Penampungan Sementara (TPS) Sampah untuk mengatasi masalah pembakaran sampah di wilayah mereka.

Mahasiswa yang tergabung di Kelompok 9 PBL (Pengalaman Belajar Lapangan) Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat, beranggotakan Muhammad Andri Hasymi Fairiza, Muhammad Reyzaldy Rahim, Akmaliyani, Nor Riski, Sartika, dan Selfi Oktafiani, melakukan kegiatan intervensi kesehatan kepafa masyarakat.

Kelompok 9 PBL mahasiswa kesmas unlam

Kegiatan intervensi meliputi kegiatan penyuluhan kepada warga tentang pengelolaan sampah yang baik dengan membuang sampah ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS). Kemudian, bersama dengan warga, mahasiswa membangun TPS pertama di Desa Ambawang.

Kegiatan ini dalam rangka menjadikan warga Desa Ambawang lebih peduli pada kesehatan dengan lebih memilih membuang sampah ke TPS daripada membakar sampah rumah tangga.

Warga sangat mengapresiasi kegiatan penyuluhan dan pembangunan TPS yang telah terlaksana sejak 17 Januari sampai  1 Februari 2018 lalu. Hal itu terbukti dengan keaktifan dan antusiasme warga yang mengikuti penyuluhan, berpartisipasi aktif dalam membangun TPS dan sudah mulai membuang sampah ke dalam TPS.

TPS Sampah Warga Desa Ambawang

“Kami selaku mahasiswa yang PBL di Desa Ambawang ini berharap apa yang sudah kami bangun bersama warga melalui pemberdayaan ini dapat membantu warga dalam mengatasi permasalahan kesehatan yang dihadapi warga sini.” ujar Hasymi selaku Ketua Kelompok PBL.

Warga Desa Apresiasi SPAL Komunal Buatan Mahasiswa Kesmas Univ Lambung Mangkurat

“Bagus kerjasamanya, membuat satu saluran pembuangan untuk beberapa rumah (komunal), biaya menjadi lebih hemat”, tutur Subrakun, salah satu masyarakat RT 6 Desa Jilatan.

Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran ULM Kelompok 13 melakukan kegiatan Pengalaman Belajar Lapangan (PBL) yang bertema “Penyuluhan dan Pelatihan Pembuatan Pembuangan Saluran Air Limbah (SPAL) ” di Desa Jilatan Kecamatan Batu Ampar Kabupaten Tanah Laut.

Tidak hanya di Desa jilatan, Mahasiswa Kesehatan Masyarakat ULM ini melakukan Praktek Belajar Lapangan secera Menyeluruh dengan 13 Kelompok PBL yang tersebar di 13 Desa Kecamatan Batu Ampar.

PBL dilakukan selama 3 kali. Sebelumnya telah dilakukan kegiatan PBL 1 pada bulan Juli 2017 selama 1 bulan dengan melakukan diagnosa komunitas untuk menentukan permasalahan kesehatan di Desa Jilatan. Dari 1 bulan pelaksanaan diagnosa komunitas didapatkan permasalahan banyaknya masyarakat yang belum memiliki Saluran Pembuangan Air Limbah di rumah mereka masing-masing.

Sebagai tindak lanjut dari kegiatan PBL 1, maka dilakukan kegiatan Intervensi dari pemecahan permasalahan kesehatan tersebut.
Kegiatan ini berlangsung selama 2 minggu . PBL 2 dilakukan guna meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam bidang pemberdayaan masyarakat dengan melibatkan masyarakat

SPAL Desa Jilatan Karya Mahasiswa Kesmas ULM

“Bagus kerjasamanya, membuat satu saluran pembuangan untuk beberapa rumah (komunal), biaya menjadi lebih hemat”, tutur Subrakun, salah satu masyarakat RT 6 Desa Jilatan.

Selama kegiatan berlangsung mahasiswa bekerjasama dengan Puskesmas Tajau Pecah Kecamatan Batu Ampar.

“Harapannya dengan adanya percontohan pembuatan SPAL ini
Masyarakat bisa terbuka hatinya untuk mengikuti agar yang tadi airnya tersebar kemana-mana bisa terkendali dan bisa menjadi contoh perumahan yang sehat” kata pak Qosim, aparat Desa Jilatan sekaligus pembimbing lapangan Kelompok 13.

Saluran Pembuangan Air Limbah Warga Desa jilatan

“Semoga dengan adanya penyuluhan dan pelatihan pembuatan SPAL ini, masyarakat sadar akan pentingnya kebersihan lingkungan dan setelah dilakukan pelatihan masyarakat mampu membuat saluran air limbah baik secara individu/komunal yang sesuai dengan standar kesehatan,” kata Wibowo Simon Seno Saputra Ketua Kelompok 13 PBL.

Dalam Rangka PBL, Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Ini Wujudkan Pilar ke-5 STBM di Desa Tajau Mulya

Dalam rangka kegiatan intervensi PBL (Praktik Belajar Lapangan), mahasiswa Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru mengadakan kegiatan Penyuluhan dan Pelatihan, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan.

PBL di Desa Tajau Mulya, Kecamatan Batu Ampar

Ada 2 rangkaian kegiatan, Pertama kegiatan Penyuluhan mengenai Saluran Pembuangan Air Limbah Sederhana yang diadakan pada tanggal 21 Januari 2018 dan kegiatan Kedua yaitu Pelatihan pembuatan Saluran Pembuangan Air Limbah Sederhana diadakan pada tanggal 25 Januari 2018.

Sasaran kegiatan ini adalah warga Desa Tajau Mulya, terutama warga yang tidak mempunyai Saluran Pembuangan Air Limbah.

Pembuatan Saluran Pembuangan Air Limbah Sederhana di Desa Tajau Mulya

Saat kegiatan Penyuluhan dan Pelatihan berlangsung, warga tampak antusias. Hal ini dilihat dari antusiasme warga yang bertanya. Pada saat Pelatihan, didampingi Ibu Yuliana, dari Puskesmas Tajau Pecah, Kecamatan Batu Ampar, beliau berharap kegiatan ini dapat mewujudkan 5 Pilar STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat) yaitu pilar ke-5 Pengelolaan Air Limbah Rumah Tangga.

Masyarakat Desa Tajau Mulya

Dosen Sekaligus Kaprodi Magister IKM FK Univ Lambung Mangkurat Ciptakan Alat Penangkap Polutan

Dr Husaini, Kaprodi Magister IKM FK Universitas Lambung Mangkurat (ULM), setahun terakhir membuat prototipe teknologi penangkap polutan udara, Sairis Tech.

Dosen di Kalimantan Selatan perlu usaha keras melakukan penelitian. Tak jarang ada saja mereka terpaksa rogoh kocek jutaan rupiah dari dana pribadi untuk menciptakan temuan atau inovasi baru.

Seorang di antaranya adalah Dr Husaini. Ia adalah Kaprodi Magister ilmu kesehatan masyarakat fakultas kedokteran Universitas Lambung Mangkurat (ULM).

Bahkan, untuk penelitian, ia harus menunda tiga judul buku garapannya.

“Iya pakai dana pribadi saja, kurang lebih habis sudah Rp 20 jutaan cuma untuk prototipe saja. Itu tadinya modal untuk bikin dan terbitkan buku,” kata pakar kesehatan masyarakat ini.

Setahun terakhir ini ia mencurahkan tenaga, pikiran, dan uang untuk membuat prototipe teknologi penangkap polutan udara. Ia menamainya Sairis Tech.

Kini prototipe itu telah selesai dibuat. Sementara untuk hak cipta sedang berproses.

Dasar dari temuannya itu berawal dari banyaknya keluhan para pekerja pabrik karet di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, terkait polusi udara.

Untuk itu diperlukan suatu alat yang mampu menangkap dan membersihkan baik itu gas maupun debu.

Sumber tribunnews.com