Takut Vaksin Campak Mengandung Babi, Dinkes Tegaskan Vaksin Halal

Takut Vaksin Campak Mengandung Babi, Dinkes Tegaskan Vaksin Halal
Sudah ada fatwa atau keputusan dari MUI yang menegaskan bahwa imunisasi itu sudah halal,” kata Ir Subono MT, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Tarakan.

Status Kejadian Luar Biasa (KLB) terhadap merebaknya penyakit campak di Tarakan memang patut menjadi perhatian serius seluruh warga Tarakan. Karena ternyata, ditemukannya kasus campak di Tarakan akibat kurangnya kesadaran masyarakat untuk memberikan imunisasi kepada anak.

Selain itu, masih banyak orang tua yang beranggapan memberikan imunisasi kepada anak merupakan sesuatu yang haram. Sebab sebagian masyarakat itu berpendapat, dalam cairan campak terdapat salah satu unsur yang tidak halal karena mengandung babi.

“Sudah ada fatwa atau keputusan dari MUI (Majelis Ulama Islam) yang menegaskan bahwa imunisasi itu sudah halal,” kata Ir Subono MT, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Tarakan, kemarin.

Hal ini juga dijelaskan oleh Kementerian Kesehatan RI, bahwa produksi vaksin dari Indonesia sudah diekspor ke luar negeri termasuk ke negara-negara mayoritas Islam, salah satunya Arab Saudi. Vaksin yang dikategorikan tidak halal itu adalah vaksin polio.

Subono menegaskan, vaksin polio yang beredar saat ini sudah dijamin tidak menggunakan unsur jaringan babi.

“MUI sudah menyarankan perintah untuk imunisasi,” ungkapnya.

Selain mengkhawatirkan mengandung babi, menurunnya cakupan imunisasi massal atau international child dari tahun ke tahun juga dikarenakan adanya kekhawatiran masyarakat terhadap peredaran vaksin palsu di Tarakan.

BACA JUGA:  Kadinkes Banjarnegara: Campak dan Rubella Harus Diwaspadai

Padahal ketersediaan vaksin di Tarakan berasal dari Pemprov Kaltara yang langsung diproduksi dari farmasi Bandung yang profesional dan berkualitas.

Hal ini dibuktikan dengan penyebaran vaksin yang dilakukan sampai ke Timur Tengah. “Masyarakat tidak perlu khawatir (vaksin palsu), karena untuk vaksin di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara sudah terjamin keasliannya (vaksin),” tegas Subono.

Dari catatan Dinkes, hanya satu kelurahan di Kota Tarakan yang cakupan campaknya kurang, yaitu di Kelurahan Kampung 4. Perhitungan ini dilakukan dengan tidak melihat satu persatu nama.

Namun sekarang, pencatatan sudah dikembangkan dengan memasukkan beberapa indikator, satu persatu berdasarkan nama.

Terutama berbasis by name by address. Yaitu imunisasi jenis HB-0, DPT, HB, HIB, Polio, BCG dan campak. Itu merupakan perhitungan imunisasi dasar lengkap.

Misalnya anak si A. Sejak lahir si A harus mendapatkan imunisasi HB-0 antara usia 0 sampai 7 hari, kemudian BCG satu kali, DPT, HB, HIB tiga kali, imunisasi polio tiga kali dan campak satu kali.

Ada juga imunisasi tambahan di usia batita (bawah tiga tahun) yaitu imunisasi campak pentabio DPT, HB, HIB sekitar umur 18 sampai 24 bulan. Imunisasi campak memang harus diperkuat, hingga pemberian campak terakhir ketika sudah di kelas 1 SD.

Dijelaskan Subono, untuk menghindari terserang penyakit campak, setiap anak dianjurkan harus punya kekebalan tubuh melalui imunisasi. Karena fungsi imunisasi adalah untuk menaikkan kekebalan tubuh.

“Jika sudah tiga kali diimunisasi campak, kami (Dinkes) berharap masyarakat kebal penyakit campak,” tuturnya.

BACA JUGA:  Kemenkes: Kasus Campak di Bali KLB, Bukan Wabah

Subono mengingatkan, meski sudah diimunisasi masih ada kemungkinan seseorang terserang penyakit campak. Namun diharapkan, tidak akan memperparah kondisi si penderita karena sudah semakin meningkatnya kekebalan tubuh.

“Penyakit campak tidak akan berujung kepada kematian jika dilakukan imunisasi secara lengkap dan benar,” ujarnya.

Untuk diketahui, penyakit campak ini merupakan satu penyakit yang masuk kategori siklus dua tahunan. Contohnya tahun 2012 lalu terjadi kasus penyakit campak di Tarakan, kemudian di tahun 2014 terjadi lagi, dan terjadi lagi di tahun 2016.

“Ini harus dicari akar masalahnya,” pungkas Subono.

Dijelaskannya, campak memang bisa menyebabkan kematian. Apalagi hingga terjadi komplikasi. Seperti sesak nafas, dan diare yang berkepanjangan.

Terutama pada anak, efek sampingnya bisa menyebabkan kebutaan pada anak-anak, radang telinga dan radang selaput otak. Hanya saja yang sering menyebabkan kematian pada campak dikarenakan gizi yang buruk dan dehidrasi atau kekurangan cairan.

“Memang ASI (air susu ibu) tetap perlu, makanan bergizi tetap perlu, lingkungan yang bersih juga perlu, tetapi kita juga perlu penangkal penyakit yaitu imunisasi,” pungkas Subono.

Semenjak masuknya informasi wabah penyakit campak ke Puskesmas Mamburungan dari pihak sekolah di RT.15 Kelurahan Mamburungan, petugas kesehatan di puskesmas mengaku langsung melakukan investigasi untuk melakukan pendataan kasus jumlah penderita campak, dan melakukan edukasi ke masyarakat.

“Yang jelas, jika tidak melakukan imunisasi seseorang tidak akan mendapatkan kekebalan tubuh,” ungkap Karsidi, Plh Kepala Puskesmas Mamburungan.

Dengan imunisasi campak, sebenarnya bukanlah sebuah jaminan untuk tidak terkena penyakit campak. Tetapi, seseorang yang sudah diberikan imunisasi akan lebih baik dibandingkan seseorang yang tidak diberikan imunisasi sama sekali.

BACA JUGA:  Marak Anti Vaksin, Beberapa Daerah Ini Pernah KLB Penyakit

Upaya yang kini dilakukan pemerintah untuk menekan mewabahnya penderita campak adalah dengan memberikan vaksin campak secara gratis di masyarakat. Pemerintah juga akan melakukan pendataan untuk bayi berusia 0 sampai 59 bulan kemudian diberikan imunisasi. Aksi ini akan dilaksanakan pada 8, 9 dan 10 Oktober di wilayah Mamburungan.

“Bayi usia 0 sampai 59 bulan kami pastikan untuk mendapatkan haknya (imunisasi),” jelasnya.

Karsidi mengatakan, penularan campak yang terjadi di Kelurahan Mamburungan ini tidak hanya dikarenakan kesadaran masyarakat yang kurang akan pentingnya imunisasi. Tetapi juga dikarenakan ada penyebaran virus yang tertular dari siswa-siswa di salah satu sekolah di Mamburungan.

“Perlu diketahui bahwa ada satu sekolah yang berada di Mamburungan dan siswanya tidak hanya berasal dari Mamburungan saja, tetapi juga berasal dari luar (Mamburungan) sehingga proses penularan penyakit campak tersebut cepat menular ke anak-anak,” ungkapnya.

Hingga kemarin, Puskesmas Mamburungan mendata ada 21 pasien yang terindikasi terkena penyakit campak di satu sekolah tersebut.

Karsidi menegaskan, penularan virus campak sangat cepat dan akan bereaksi hanya dalam hitungan jam. “Semua umur dapat terkena penyakit campak, namun yang paling sering terkena penyakit campak adalah bayi dan anak-anak. Hal ini dikarenakan sistem imun pada anak masih sangat rentan penyakit. Kejadian ini mengingatkan kita agar lebih mengerti akan pentingnya imunisasi,” pungkasnya.

Sumber kaltara.prokal.co

Sharing is caring!

(Visited 252 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *