Tingginya Angka Pernikahan Usia Dini, Mengusik Pemuda Ini Untuk Mendirikan Posyandu Remaja di Desanya

Tingginya angka pernikahan usia dini di Desa Tosari, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, telah mengusik Yoga Andika, penerima apresiasi SATU Indonesia Awards 2016 di bidang kesehatan, untuk mendirikan Posyandu Remaja pada 2015.

“Tak hanya memantau dan memberikan informasi kesehatan bagi remaja, posyandu remaja juga berhasil menurunkan angka pernikahan dini.”
Yoga Andika – Laskar Pencerah Tosari

Tingginya angka pernikahan usia dini di Desa Tosari, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, telah mengusik Yoga Andika, penerima apresiasi SATU Indonesia Awards 2016 di bidang kesehatan, untuk mendirikan Posyandu Remaja pada 2015.

“Posyandu Remaja didirikan oleh remaja untuk mengatasi masalah yang dihadapi remaja. Jika masalah remaja tidak diatasi, ke depan, masalah yang dihadapi remaja akan lebih besar lagi, dan kehidupan remaja akan semburat karit atau berantakan. Padahal remaja adalah ujung tombak kejayaan suatu negara,” katanya menjelaskan.

Yoga mengatakan Posyandu Remaja didirikan bekerja sama dengan pemimpin desa, puskesmas setempat, dinas kesehatan dan organisasi remaja Laskar Pencerah yang dipimpinnya. “Tujuan berdirinya Posyandu Remaja adalah memantau kesehatan dan memberikan informasi kesehatan bagi remaja, menurunkan angka pernikahan dini, serta meningkatkan kapasitas dan partisipasi remaja Desa Tosari dalam pembangunan,” ujar pria kelahiran Pasuruan, 30 Juni 1997, ini.

BACA JUGA:  Kisah dr Rio Herison Penggagas Posyandu Remaja Penangkal Kenakalan 'Kids Jaman Now'

Tentang pernikahan usia dini di desanya, Yoga punya datanya. Pada 2013, dia mencatat, sebanyak 45,4 persen dari 4.023 remaja di Desa Tosari, tempat tinggalnya, telah menikah di bawah usia 19 tahun. Catatan lain yang berhasil dikumpulkannya menyebutkan, pada 2008-2012 sebanyak 45 siswi SMP drop out karena hamil. Pada rentang waktu yang sama, 110 ibu melahirkan di bawah usia 20 tahun. “Faktor lain mengapa kami mendirikan Posyandu Remaja karena kondisi geografis yang sulit, terbatasnya sumber daya manusia dan fasilitas kesehatan yang membuat akses remaja terhadap pelayanan kesehatan sangat terbatas,” ucapnya.

Menurut Yoga, tingginya pernikahan remaja di usia dini lebih disebabkan oleh minimnya pengetahuan yang dimiliki remaja. “Remaja tidak tahu akibat-akibat apa saja yang ditimbulkan dari pernikahan dini tersebut,” katanya.

Yoga lalu menyebutkan dampak pernikahan dini pada remaja dari sisi fisik dan psikologis. Dari sisi fisik, menurut dia, tubuh remaja perempuan yang berusia di bawah 19 tahun belum siap untuk melahirkan. “Ada kejadian sangat mengerikan sekali. Seorang remaja melahirkan bayi dengan berat kurang dari 1 kilogram. Bayinya sangat kecil. Lalu, satu minggu kemudian, bayinya meninggal,” katanya. Kejadian ini, kata dia, tidak hanya sekali terjadi, tapi berkali-kali.

BACA JUGA:  Persiapkan Generasi Remaja Sehat, UPT Puskesmas Pulau Merbau Laksanakan Kegiatan Posyandu Remaja

Sementara itu, dari sisi psikologis, Yoga mengatakan emosi remaja yang menikah pada usia di bawah 19 belum stabil. “Pengetahuan mereka untuk mengasuh anak masih kurang. Saya pernah melihat sendiri, ketika seorang anak menangis, anak tersebut dibiarkan begitu saja, malah dimarahi,” ujarnya.

Melihat kondisi tersebut, Yoga dan tim Laskar Pencerah tidak tinggal diam. Berbekal pengetahuan yang diberikan pihak puskesmas, mereka memberikan penyuluhan dalam kegiatan posyandu yang diadakan setiap satu bulan sekali di setiap desa. “Harapannya, melalui materi-materi penyuluhan yang kami berikan, remaja dapat memiliki informasi lebih luas lagi mengenai dampak pernikahan pada usia dini,” katanya.

Apa saja kegiatan di Posyandu Remaja? Yoga menuturkan, kegiatan di Posyandu Remaja diawali dengan pendaftaran pada meja pertama, dilanjutkan dengan pengukuran dan pencatatan antropometri pada meja kedua. Setelah itu, konseling gizi pada meja ketiga, lalu komunikasi, informasi, dan edukasi pada meja keempat. “Supaya tidak bosan, saya menyelingi dengan kegiatan senam bersama atau menambahkan materi tentang kewirausahaan. Harapannya supaya remaja bisa punya usaha sendiri,” ucapnya.

“SELAIN DI POSYANDU REMAJA, YOGA DAN TEMAN-TEMANNYA JUGA MEMBERIKAN PENYULUHAN KE SEKOLAH-SEKOLAH.”

Saat ini, Yoga mengatakan, telah berdiri delapan Posyandu Remaja di delapan desa di Kecamatan Tosari, di mana setiap posyandu memiliki 5 kader remaja yang berasal dari desa setempat dan difasilitasi tim Laskar Pencerah. Setiap posyandu desa telah memiliki struktur organisasi, jadwal rutin bulanan, serta rencana kurikulum komunikasi, informasi, dan edukasi. “Kader remaja di setiap posyandu sekarang sudah mampu menjadi pendidik sebaya,” katanya dengan nada bangga.

BACA JUGA:  Ini Dia Pesan Mulyanto, Pendamping Posyandu Remaja Jika Ingin Awet Muda!

Selain di Posyandu Remaja, Yoga dan teman-temannya memberikan penyuluhan ke sekolah-sekolah SMP dan SMA mengenai pendidikan seks. “Sejauh ini, setiap bulannya kami memberikan penyuluhan di enam SMP dan tiga SMA bersama 14 tenaga relawan,” ujarnya.

Lalu, pada usia berapa sebaiknya menikah? Yoga menyarankan, perempuan sebaiknya menikah pada usia di atas 20 tahun dan pria pada usia 25 tahun. “Sebab, pada usia tersebut, pemikiran remaja sudah lebih dewasa dan telah siap secara ekonomi,” ujar Yoga yang bersiap melanjutkan pendidikannya di salah satu perguruan tinggi di Malang.

 

SUmber: satu-indonesia.com


Tertarik ingin tahu lebih jauh tentang Posyandu Remaja? Yuk ikut acara keren satu ini, #kesmasindeep, dengan tema “Posyandu (Kok) Untuk Remaja?”

Daftar sekarang, Terbatas hanya untuk 100 orang, Klik >>>> https://goo.gl/D7Lb6x

 

Sharing is caring!

(Visited 306 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *