Tuberkulosis Sebagai Keadaan Darurat Global di Indonesia

Tuberkulosis Sebagai Keadaan Darurat Global di Indonesia
Tuberkulosis (TB) masih merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas communicable diseases setelah HIV di Indonesia.

Tuberkulosis (TB) masih merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas communicable diseases setelah HIV di Indonesia. Berdasarkan laporan global TB dari WHO (World Health Organization) (2014), bahwa lebih dari 500.000 orang terkena penyakit TB diluar estimasi sebelumnya dan 9 juta orang telah terkena TB pada tahun 2013 yang menyebabkan 1,5 juta orang meninggal, termasuk 360.000 orang terinfeksi HIV dan diperkirakan terdapat 480.000 kasus baru yang mengalami XDR (Extensively Drug Resistence) TB(1).

Laporan dari WHO (2016) terjadi kasus peningkatan kasus MDR (Multi Drug Resistence) TB yang semula pada tahun 2014 berjumlah 111.000 pasien, meningkat pada tahun 2015 menjadi 125.000 pasien MDR(2).  Penderita MDR akan menularkan kasus MDR baru dengan adanya penderita  “TB laten” dimana tubuh terinfeksi kuman TB tapi tidak ada gejala atau manifestasi TB. Penderita TB laten ini sebagian besar tidak tahu dan tidak merasa sakit sehingga tidak minum obat, sementara bakteri M.tb akan tetap aktif dan berkembang (3).

Selama periode 1998 sampai 2015, konsep “high burden country” (HBC) menjadi akrab dan banyak dibicarakan dalam konteks TB (Tuberkulosis). Tahun 2015 merupakan tahun transisi dari berakhirnya Millennium Development Goals (MDGs) dan pada tahun 2016 merupakan tahun pertama implementasi agenda pembangunan dunia Post-2015 atau yang kita kenal sebagai Sustainable Developmet Goals(SDGs) (4).

Tuberkulosis Sebagai Keadaan Darurat Global di Indonesia

Gambar 1. Use of high burden country lists for TB by WHO in the post-2015 era: Summary.

TB merupakan salah satu Negleted Tropical Disease (NTD) seperti yang diungkapkan Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama bahwa penanganan penyakit menular yang termasuk NTD perlu dilakukan selain dengan pendekatan “science” maka juga diperlukan pendekatan “art”, dalam pengertian “medicine is science and art” (5) dan penyelesaian permasalahan TB harus segera dilakukan, tidak hanya oleh pemerintah, tetapi oleh semua pihak (multi-stakeholders) dilakukan secara terus-menerus agar target eliminasi TBC pada 2030 bisa tercapai.

Penyakit TB merupakan penyakit yang dapat diobati (curable) sekaligus dapat dicegah (preventable), maka salah satu program dari WHO untuk menanggulangi penyakit TB yaitu dengan strategi DOTS (Directly Observed Treatment Shortcouse) yang merupakan strategi yang telah diadopsi lebih dari 180 negara dan sebagai pendekatan yang paling tepat dan hemat biaya(6). Hakikatnya, ketaatan pasien merupakan faktor kunci dalam keberhasilan pengobatan. Beberapa negara sejumlah besar pasiennya melakukan interupsi perawatan sebelum selesai pengobatan karena berbagai alasan. Mempromosikan tentang kesehatan TB melalui pendekatan yang berpusat pada pasien dengan penyuluhan dan motivasi merupakan jauh lebih efektif daripada membelanjakan sumber daya pada hal yang belum tentu output nya(7).

Salah satu panduan dari DOTS adalah panduan OAT (Obat Anti Tuberkulosis) jangka pendek dengan pengawasan langsung. Keadaan yang menjamin keteraturan pengobatan diperlukan adanya pengiringan PMO (Pengawas Menelan Obat) untuk menjamin keteraturan dan kepatuhan pengobatan penderita dengan standar pelayanan yang mengacu pada International Standart for Tuberculosis Care (ISTC) bertujuan mengendalikan tantangan baru yang ditimbulkan penyakit TB seperti ko-infeksi TB/HIV, TB yang resisten obat baik MDR, XDR, total drug resisten (Total DR)serta pencegahan dalam terjadinya penderita mengalami putus berobat (Loss to follow-up)(8). Penderita TB perlu diawasi karena pengobatan TB cukup lama yaitu minimal 6 bulan yang kebanyakan penderita menjadi bosan, selain itu biasanya penderita TB setelah minum obat 2-3 minggu sudah merasa sehat, hal ini yang menjadikan Loss to follow-up pada penderita TB (9).

PMO adalah pengawas menelan obat yang dapat diperankan keluarga, tetangga, kader atau tokoh masyarakat dan petugas kesehatan untuk mengawasi secara langsung penderita TB dalam setiap harinya dengan menggunakan panduan obat jangka pendek yang sesuai dengan dosis dan jadwal yang sudah ditetapkan oleh tenaga kesehatan(10). PMO juga berperan menemani penderita TB untuk mengambil perbekalan obat dan pemeriksaan ulang dahak  ke fasilitas layanan kesehatan sesuai jadwal yang ditentukan oleh tenaga kesehatan (9). Upaya penyuksesan dalam pemberantasan TB, maka peran petugas kesehatan dalam surveillance dan pencatatan pelaporan yang baik merupakan suatu keharusan dan tidak menutup kemungkinan peran kader serta masyarakat lainnya dapat berperan aktif melalui kunjungan rumah bersama petugas kesehatan, tokoh masyarakat untuk melakukan pendidikan di masyarakat melalui penyuluhan, konseling atau pemantauan secara terpadu, terintegrasi dengan upaya-upaya lain termasuk peningkatan ekonomi keluarga. Penderita TB perlu mendapatkan pengawas langsung dari PMO agar minum obat secara teratur sampai sembuh (11).

Dengan adanya peran yang besar dari PMO sangat penting untuk pasien TB, hal ini diharapkan upaya pengendalian kasus XDR, MDR, Total DR dan pencegahan dalam terjadinya loss to follow up pada penderita TB serta dampak yang tidak diinginkan lainnya dapat tercapai, hingga pada akhirnya akan dapat meningkatkan angka kesembuhan penderita TB, sehingga dapat mencanangkan menuju dunia bebas TB tahun 2030 yang menjadi salah satu target SDGs (Sustained Development Goals).

Referensi:

  1. (2014).Treatment of tuberculosis guidelines: Fourth edition. Switzerland: WHO Press.
  2. (2016). Global Tuberculosis Report 2015. Switzerland: WHO Press.
  3. Dubale S., Barkesa T., Dereje O., (2017). Quality and Treatment Outcomes of Directly Observed Treatment of Short-Course of Tuberculosis (DOTS) in South West Ethiopian: A Cohort Study. Indo American Journal of Pharmaceutical Research, 47(2):7703-7710.
  4. (2016).Use of high burden country lists for TB by WHO in the post-2015 era: Summary. http://www.who.int/tb/publications/global_report/high_tb_burdencountrylists2016-2020summary.pdf.(Diakses pada 13 Maret 2018)
  5. Kemenkes RI. 2012. Negleted Ttopical Disease.http://www.depkes.go.id/development/site/jkn/index.php?cid=1879&id=neglected-tropical-diseases-(ntd).html. (Diakses pada 13 Maret 2018)
  6. Corbett E.L., Bandason T., Cheung Y. B., Munyati S., Godfrey-Faussett P., Hayes R., Churchyard G., Butterworth A., & Peter M. (2007). Epidemiology of Tuberculosis in a High HIV Prevalence Population Provided with Enhanced Diagnosis of Symptomatic Disease. PloS Medicine, 4 (1):164-172.
  7. (2003). Treatment Tuberculosis Guidelines for National Programmes Global. Switzerland: WHO Press.
  8. Sidy Y. N. (2012). Pengaruh Peran Pengawas Menelan Obat dari Anggota Keluarga Terhadap Kepatuhan Pengobatan Penderita Tuberkulosis di Kota Pariaman Tahun 2010-2011.  Depok:Universitas Indonesia
  9. (2010). Buku Saku Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) The Indonesiaan Association Against Tuberculosis. Jakarta: PPTI.
  10. Kemenkes RI. (2012). Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2011. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
  11. Kemenkes RI. (2016). TOSS TB : Temukan Tb Obati Sampai Sembuh. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Sharing is caring!

(Visited 416 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *