Unjuk Rasa VS COVID-19
Unjuk rasa di Indonesia memang tidak dilarang selama masa pandemi ini. Tetapi, berada di tengah kerumunan apalagi menciptakan kerumunan merupakan tindakan yang sangat berisiko menyebabkan terjadinya penularan COVID-19. Mari taati anjuran pemerintah untuk tetap di rumah dan menghindari kerumunan agar laju penularan COVID-19 dapat ditekan. Selain itu, ketika sedang berunjuk rasa, mari tetap taati protokol kesehatan.
Latest posts by Septi Kusumaningtyas (see all)

Akhir-akhir ini berita bertajuk unjuk rasa marak diberitakan media. Rasanya tiada hari, tanpa berita unjuk rasa. Isu yang diangkat beragam, mulai dari ketidaksetujuan atas suatu undang-undang, mendukung aksi politik yang terjadi di luar negeri, atau pun protes mengkritik kinerja pemerintah dan jajarannya.

Unjuk rasa dan kemerdekaan berpendapat di Indonesia diatur dalam UU Nomor 9 Tahun 1998. Menurut undang-undang tersebut, kemerdekaan menyampaikan pendapat adalah hak setiap warga negara. Setiap warga negara berhak untuk menyampaikan pikiran dengan lisan, tulisan, dan sebagainya secara bebas dan bertanggung jawab sesuai peraturan serta mendapat perlindungan hukum. Pada Pasal 9, disebutkan bahwa salah satu bentuk penyampaian pendapat di muka umum adalah melalui unjuk rasa atau demonstrasi (1).

 Jadi, unjuk rasa atau demonstrasi bukanlah suatu tindakan yang salah. Unjuk rasa justru merupakan sebuah bentuk kemerdekaan untuk menyampaikan pendapat yang aktivitasnya dilindungi undang-undang. Tetapi, bagaimana dengan kondisi pandemi COVID-19 saat ini? Apakah wajar berunjuk rasa secara besar-besaran di tengah pandemi?

COVID-19 merupakan penyakit infeksi pernafasan yang disebabkan oleh virus yang baru dan belum pernah ditemukan sebelumnya. Virus tersebut bernama Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 atau SARS-COV2 (2).  

Penyakit ini pertama kali ditemukan di Wuhan China pada tahun 2019 dan dalam waktu cepat penyakit ini berhasil menyebar ke seluruh dunia. Pada tanggal 17 Desember 2020, terjadi penambahan kasus positif COVID-19 di Indonesia sebanyak 7.354 kasus dengan angka kematian 142 jiwa (3). Penambahan kasus ini merupakan yang tertinggi kedua setelah sebelummya penambahan kasus mencapai 8. 369 kasus pada 3 Desember 2020.

Penyakit COVID-19 menyebar melalui percikan air (droplets) dari hidung atau mulut ketika orang dengan COVID-19 batuk, bersin, atau berbicara. Seseorang dapat tertular COVID-19 jika menghirup virus pada droplets dari orang lain yang telah terinfeksi. Untuk itu, sangat penting bagi setiap orang agar saling menjaga jarak, minimal sejauh 1 meter dari orang lain.

Selain itu, seseorang juga dapat tertular apabila orang tersebut menyentuh mata, hidung, dan mulut setelah sebelumnya menyentuh benda-benda yang pada permukaannya terdapat virus tersebut. Oleh sebab itu, setiap orang harus mencuci tangan dengan sabun secara teratur atau pun membersihkan tangan dengan alcohol-based hand-rub (4).

COVID-19 tentu menjadi tantangan serius bagi suatu bangsa, temasuk Indonesia. Penyakit ini menyebar dengan sangat cepat dan tidak hanya dapat membuat manusia sakit, tetapi penyakit ini pun memberi dampak besar bagi tatanan sosial dan ekonomi (5). Mengendalikan penyakit ini agar kehidupan masyarakat terus berjalan membutuhkan upaya holistik, butuh kerja sama lintas sektor, dan peran serta aktif pemerintah maupun masyarakat. Untuk dapat menekan laju penularan penyakit ini, pemerintah Indonesia telah menetapkan serangkaian protokol kesehatan yang harus ditaati oleh masyarakat (6).

BACA JUGA:  Bahaya Keracunan Penambangan Emas Illegal di Kuantan Singingi

Hal tersebut antara lain menjaga jarak, menghindari kerumunan, tidak berpegian ke luar daerah, memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, dan sebagainya (7). Tak tanggung-tanggung, pendidikan dan berbagai sektor lain melaksanakan semua aktivitasnya via daring supaya masyarakat tetap di rumah dan mengurangi risiko tertular COVID-19.

Walau pun demikian, banyak masyarakat yang masih tidak patuh. Terselenggaranya unjuk rasa akhir-akhir ini pun menjadi bukti nyata bahwa masyarakat belum peduli dengan kesehatannya sendiri. Dalam pemberitaan di media, terlihat jelas bahwa masyarakat yang berunjuk rasa tidak mengindahkan protokol kesehatan yang telah susah payah dirumuskan dan dilaksanakan pemerintah untuk menjaga kesehatan rakyat. Masyarakat yang berunjuk rasa berkumpul dari berbagai daerah, berkerumun, tidak menjaga jarak, banyak yang tidak memakai masker dengan benar, saling senggol sana sini tentunya tanpa mencuci tangan.

Padahal, sudah ada banyak kejadian perkumpulan yang menimbulkan kasus positif. Misalnya saja kisah di balik 21 tenaga kesehatan positif COVID-19 di awal masa pandemi ini, yaitu pada 22 Juli 2020. Dilansir dari pemberitaan detik news, terdapat 21 tenaga kesehatan (nakes) RSUD Ngudi Waluyo, Wlingi, yang dinyatakan positif COVID-19. Nakes diduga terpapar virus Corona dari komunitas gowes mereka (8). 

Kejadian terpapar virus Corona dari komunitas juga dialami oleh pengemudi ojek online (ojol). Berdasarkan pemberitaan Kompas 14 Juli 2020, pengemudi ojek online tersebut dinyatakan positif COVID setelah terpapar virus dari komunitas senam di Cikampek, Jawa Barat. Total ada 8 orang pasien Covid-19 yang tertular virus dari klaster komunitas senam tersebut (9).

Masyarakat mungkin belum menyadari bahwa peristiwa super spreading COVID-19 telah banyak dilaporkan dari seluruh dunia. Super spreading terjadi di berbagai tempat, seperti bar, gym, pabrik, sekolah, tempat ibadah, bahkan di kapal (10). Super spreading adalah penularan penyakit menular ke sejumlah besar individu yang tidak terinfeksi oleh sejumlah kecil individu yang sangat menular (super spreader) (11). 

Pada COVID-19 dan berbagai penyakit menular lainnya, kebanyakan orang tidak menulari orang lain; hanya sebagian kecil orang yang pada akhirnya menyebabkan sebagian besar penularan lain. Seberapa kuat pola ini tergantung pada penyakitnya, tetapi bagi COVID-19, super spreading tampaknya menjadi sesuatu yang sangat penting.

Sebuah penelitian yang dilaksanakan pada bulan April memperkirakan bahwa 10% pasien bertanggung jawab atas 80% penyebaran lainnya. Selain itu, sebuah studi dari India yang diterbitkan dalam sciencemag.org menyimpulkan bahwa 8% orang yang terinfeksi menyebabkan 60% kasus sekunder (12). 

BACA JUGA:  Donor Darah, Kasih Sayang, Kepedulian, dan Ketakutan

Unjuk rasa di Indonesia memang tidak dilarang selama masa pandemi ini. Tetapi, berada di tengah kerumunan apalagi menciptakan kerumunan merupakan tindakan yang sangat berisiko menyebabkan terjadinya penularan COVID-19. Mari taati anjuran pemerintah untuk tetap di rumah dan menghindari kerumunan agar laju penularan COVID-19 dapat ditekan. Selain itu, ketika sedang berunjuk rasa, mari tetap taati protokol kesehatan. Indonesia membutuhkan andil dan kepedulian seluruh masyarakat untuk bertahan melewati masa sulit ini.

Aktor yang harus menyelamatkan Indonesia bukan hanya pemerintah, tetapi juga masyarakat itu sendiri. Lagipula, seharusnya COVID-19 tidak dipandang sebagai suatu hambatan untuk menyampaikan aspirasi. Justru ini adalah momentum untuk melahirkan inovasi dalam beraspirasi yang positif, sehat, dan selamat demi Indonesia yang lebih baik. Kalau memang aspirasi yang disuarakan berasal dari niat baik, seharusnya disampaikan dengan cara yang baik pula, yang membawa sehat dan selamat bagi masyarakat Indonesia.

Sumber Gambar:
vonis.id

Referensi Tulisan:

  1. Pusterad.mil.id. 2016. UNDANG-UNDANG DEMONSTRASI – Pusat Teritorial Angkatan Darat. [online] Available at: https://www.pusterad.mil.id/pos-lintas-batas-negara-di-entikong-sudah-terbangun-46/ [Accessed 29 December 2020].
  2. Kemkes.go.id. 2020. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. [online] Available at: https://www.kemkes.go.id/article/view/20030400008/FAQ-Coronavirus.html [Accessed 29 December 2020].
  3. COVID-19, S., 2020. Peta Sebaran | Satgas Penanganan COVID-19. [online] covid19.go.id. Available at: https://covid19.go.id/peta-sebaran [Accessed 29 December 2020].
  4. Who.int. 2020. Coronavirus Disease (COVID-19). [online] Available at: https://www.who.int/news-room/q-a-detail/q-a-coronaviruses [Accessed 29 December 2020].
  5. Covid19.kemkes.go.id. 2020. Infeksi Emerging Kementerian Kesehatan RI. [online] Available at: https://covid19.kemkes.go.id/pengantar-infeksi-emerging/#.X6M-ivkzbIU [Accessed 29 December 2020].
  6. COVID-19, S., 2020. Protokol | Satgas Penanganan COVID-19. [online] covid19.go.id. Available at: https://covid19.go.id/p/protokol [Accessed 29 December 2020].
  7. ibid.
  8. Riady, E., 2020. Cerita Di Balik Kasus 21 Nakes Positif COVID-19 Tertular Komunitas Gowes. [online] detiknews. Available at: https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-5103563/cerita-di-balik-kasus-21-nakes-positif-covid-19-tertular-komunitas-gowes [Accessed 29 December 2020].
  9. Media, K., 2020. Pengemudi Ojol Positif Covid-19, Tertular Dari Klaster Komunitas Senam. [online] KOMPAS.com. Available at: https://regional.kompas.com/read/2020/07/14/18010811/pengemudi-ojol-positif-covid-19-tertular-dari-klaster-komunitas-senam [Accessed 29 December 2020].
  10. Martin Enserink, a., 2020. Gyms. Bars. The White House. See How Superspreading Events Are Driving The Pandemic. [online] Vis.sciencemag.org. Available at: https://vis.sciencemag.org/covid-clusters/ [Accessed 29 December 2020].
  11. Merriam-webster.com. 2020. Definition Of SUPER-SPREADING. [online] Available at: https://www.merriam-webster.com/dictionary/super-spreading [Accessed 29 December 2020].
  12. Martin Enserink, a., 2020. Gyms. Bars. The White House. See How Superspreading Events Are Driving The Pandemic. [online] Vis.sciencemag.org. Available at: https://vis.sciencemag.org/covid-clusters/ [Accessed 29 December 2020].

Sharing is caring!

(Visited 34 times, 1 visits today)