Wali Kota Semarang Dukung Program Jamban Keluarga di Gunungpati

Wali Kota Semarang Dukung Program Jamban Keluarga di Gunungpati

Pentingnya keberadaan jamban keluarga dalam rangka memenuhi kualitas kesehatan masyarakat menjadi perhatian serius Pemkot Semarang. Hal ini ditunjukkan melalui peresmian kecamatan Open Defecation Free (ODF) di Kelurahan Plalangan, Kecamatan Gunungpati.

Open Defecation Free sendiri adalah program yang diinisiasi Yayasan Wahana Bakti Sejahtera pimpinan dr Budi Laksono. Program tersebut bertujuan agar masyarakat tidak buang air besar sembarangan.

ODF mendorong setiap keluarga yang belum mempunyai jamban distimulasi dan didukung agar memiliki jamban. Total ada 1.649 jamban yang dibantu oleh yayasan tersebut untuk warga Plalangan.

Gunungpati menjadi pioner kecamatan di Indonesia yang menjadi Kelurahan Total Jamban Keluarga (Katajaga) berbasis gotong royong, dari dana hingga pembangunan jamban. Dengan peresmian ini, Gunungpati merupakan kecamatan keempat yang termasuk Katajaga di Semarang.

Sebelumnya Kecamatan Tembalang, Banyumanik, dan Ngaliyan sudah dibentuk Katajaga dengan menggunakan bantuan sosial Pemerintah Kota Semarang pada 2015.

“Dengan adanya ini, kesehatan warga Semarang dapat menjadi lebih bagus dibandingkan sebelumnya. Karena kotoran sudah ada tempat tersendiri untuk dibuang. Dan ini juga merupakan contoh perilaku hidup yang sehat yang sedang digalakkan Pemerintah Kota Semarang,” ujar Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi dalam keterangan tertulis, Senin (20/3/2017).

Pria yang akrab disapa Hendi ini mengatakan Dinas Kesehatan terus melakukan upaya-upaya dalam bidang kesehatan. Khususnya pemenuhan kebutuhan sanitasi dasar dengan membangun sarana sanitasi komunal, yang meliputi sarana MCK komunal, saluran pembawa air limbah, dan instalasi pengolahan air limbah (IPAL), melalui program yang bernama ‘Urban Sanitation and Rural Infrastructure (USRI)’ di 175 lokasi kelurahan.

Sementara itu, ketua penyelenggara dr Budi Laksono menyampaikan tujuan program jambanisasi keluarga adalah memutus mata rantai penyakit menular usus. Penyakit menular usus itu di antaranya tifus, disentri, polio, hepatitis A, dan cacingan, yang saat ini masih menjadi penyebab nomor satu orang masuk rumah sakit di Indonesia, khususnya di Semarang.

Bila program ini berhasil dikembangkan di Semarang, pihaknya bersama pihak swasta akan memberikan stimulus bantuan pembangunan jamban bagi keluarga Indonesia. Budi memperkirakan keluarga yang belum memiliki jamban berjumlah sekitar 24 juta.

“Dengan pembangunan sejuta jamban tahun 2017 ini, maka tahun 2018 diharapkan 15 juta jamban akan dibangun di seluruh Indonesia dan tahun 2019 sudah selesai,” jelas Budi.

SUMBER


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Topik Populer


Akreditasi Puskesmas BPJS Kesehatan Dana Desa DBD Dinkes Kab Enrekang Dinkes Kab Indramayu FKM UI FKM Unand FKM Undip FKM Unhas Germas Gizi Buruk Hipertensi Imunisasi Imunisasi MR Kemenkes Kemenkes RI Kesehatan Lingkungan Kesehatan Masyarakat Kesehatan Remaja Kesehatan Reproduksi Mahasiswa Kesmas Nusantara Sehat PBL Pencerah Nusantara Pengabdian Masyarakat Penyakit Tidak Menular Penyuluhan Kesehatan PHBS Posyandu Posyandu Remaja Prodi Kesehatan Masyarakat Prodi Kesmas Promkes Promosi Kesehatan Puskesmas Puskesmas Krangkeng Seminar Kesehatan Seminar Nasional STBM STIKes Kuningan Stunting TBC Tenaga Kesehatan Tuberkulosis