Waspada Penularan Covid-19 di Klaster Keluarga pada Anak
Pada anak-anak, Covid hanya menunjukkan gejala infeksi virus  musiman seperti flu, batuk, dan demam sehingga sering diabaikan oleh orangtua.

Sampai saat ini, penularan COVID-19 di Indonesia masih mengalami peningkatan. Jumlah total kasus positif sampai 13 Juli 2021 tercatat sebanyak 2.6115.529 kasus dengan kasus terkonfirmasi harian sebanyak 47.899 kasus. Ditambah lagi, saat ini jumlah kasus COVID-19 pada anak-anak juga mengalami peningkatan menjadi 3% pada usia 0-5 tahun dengan kematian sebanyak 0,5% dan 9,9% pada usia 6-18 tahun dengan kematian sebanyak 0,6% (Satgas COVID-19, 2021).

Pada anak-anak, COVID-19 yang menginfeksi hanya menunjukkan gejala infeksi virus  musiman seperti flu, batuk, dan demam sehingga sering diabaikan oleh orangtua. Padahal, gejala tersebut merupakan ancaman dalam lingkup sosial yang paling kecil dalam penyebaran COVID-19 (Yang, P., et al. 2020). Jika infeksi terhadap anak-anak sudah  terjadi, maka akan  menjadi  pembuka jalan  paparan virus bagi lingkup komunitas yang lebih luas.

Penyebab semakin meningkatnya penularan pada anak-anak dikarenakan semakin tingginya angka kejadian COVID-19 pada klaster keluarga. Bahkan saat ini, klaster keluarga merupakan penyumbang terbesar kasus COVID-19. Klaster keluarga terjadi ketika salah satu anggota keluarga terinfeksi oleh virus, kemudian menularkannya ke anggota keluarga yang lainnya saat berada di rumah sendiri. Meningkatnya klaster keluarga disebabkan karena melakukan liburan, piknik atau jalan-jalan ke tempat publik yang ramai sehingga akan berpotensi membawa virus saat kembali ke lingkungan rumah atau warga.

Selain itu, kegiatan berkumpul warga, seperti saling berkunjung rumah sesama warga, perayaan hari besar negara/agama, kegiatan olahraga bersama, dan lain-lain juga akan meningkatkan penularan COVID-19 pada klaster keluarga. Ditambah lagi apabila jika membiarkan anak-anak bermain bersama di lingkungan komplek atau perumahan tanpa protokol kesehatan dan protokol VDJ (ventilasi-durasi-jarak) sehingga anak-anak dapat berperan sebagai carrier virus COVID-19 (Pemprov DKI Jakarta, 2021).

Muncul dan meningkatnya klaster keluarga tentunya sangat berbahaya bagi kita semua termasuk pada anak-anak. Hal tersebut karena transmisi COVID-19 sudah masuk ke satuan unit terkecil dalam sebuah society, yaitu keluarga. Sehingga segala kebijakan, protokol dan sistem monitoring yang diterapkan oleh pemerintah, tempat publik, dan perusahaan tidak bisa menahan transmisi virus ke lingkungan keluarga. Selain itu, kebudayaan bangsa Indonesia yang mengutamakan silaturahmi sehingga transmisi dari satu keluarga ke keluarga lainnya akan mempercepat penularan. Ditambah lagi, jika terdapat warga yang bergejala namun tidak melakukan tes skrining COVID-19 karena takut terhadap stigma negatif di masyarakat sehingga akan berperan menjadi penular (Radiany, F., Anissa, M., Kamil, M. 2021).

BACA JUGA:  Pandemi COVID-19, Kunjungan Pasien di Layanan Kesehatan Menurun?

Oleh karena itu, dibutuhkan peran dari berbagai pihak untuk mencegah transmisi klaster keluarga yang saat ini semakin meningkat seperti peran dari pemerintah dan masyarakat. Pemerintah dapat memperbanyak tes swab massal sampai ke level kelurahan dan RT, konsisten melakukan edukasi dan sosialisasi komunikasi risiko ke warga, mengajak tokoh masyarakat atau tokoh agama untuk memberikan edukasi, memperkuat sistem contact tracing, dan membuat kebijakan membatasi mobilitas warga dan melarang keramaian publik (Radiany, F., Anissa, M., Kamil, M. 2021).

Selain itu juga perlu diperkuat dengan peran dari masyarakat seperti mematuhi protokol kesehatan dimanapun dan kapanpun, analisis risiko dan menjalankan protokol VDJ (Ventilasi-Durasi-Jarak), selektif atau tidak menerima kunjungan orang lain ke rumah, hanya melakukan silaturahmi secara digital atau online dan mengurangi kegiatan sosial warga, upayakan di rumah saja kecuali bekerja atau kegiatan yang esensial, tidak jalan-jalan, piknik atau liburan dahulu dan menahan kebosanan, dan jika bergejala segera periksakan segera ke rumah sakit atau puskesmas demi keselamatan bersama (Radiany, F., Anissa, M., Kamil, M. 2021).

Namun, untuk mencegah penularan COVID-19 pada anak-anak tentunya diperlukan upaya yang lebih karena daya tahan tubuh anak-anak belum sekuat orang dewasa pada umumnya (Mardhiati, R. 2019), anak-anak lebih sering menyentuh barang dan anggota tubuh dibandingkan dengan orang dewasa, sering memasukkan tangan ke dalam mulut mereka dan benda apapun yang dipegang juga akan dimakannya karena tidak tahu benda itu kotor atau bersih (Aulina, CN., Astutik, Y. 2018), serta kurangnya pemahaman dan protokol kesehatan pada anak-anak karena  hal ini merupakan kebiasaan baru yang belum dibiasakan pada anak usia dini.

Oleh karena itu, diperlukan peran dari orang tua dan guru di sekolah untuk memberikan edukasi yang lebih kepada anak-anak seperti edukasi terkait pola hidup bersih dan sehat (PHBS). Pola hidup bersih dan sehat merupakan solusi terbaik sebagai antisipasi dini penularan COVID-19 pada anak-anak. Dengan digalakkannya PHBS melalui cuci tangan menggunakan sabun, memakan makanan yang bergizi guna menjaga imun tetap stabil, berolahraga dan menjaga lingkungan dengan baik berarti sudah ada upaya dini untuk mencegah penularan virus COVID-19.

BACA JUGA:  Surat Terbuka Untuk Kamu Pejuang Tangguh Covid-19

Pencegahan virus COVID-19 sebagaimana dianjurkan oleh pemerintah salah satunya yaitu dengan sesering mungkin untuk mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir sampai tangan bersih. Dan sebaiknya tidak menyentuh bagian muka yang meliputi hidung, mata dan mulut jika tangannya dalam kondisi kotor. Jika memang tidak ada sabun dan air dianjurkan untuk mencuci tangan menggunakan hand sanitizer (Tabi’in, A. 2020).

Selain itu, orang tua dan guru di sekolah juga memiliki peran untuk memberikan pemahaman terkait protokol kesehatan dalam pencegahan COVID-19 pada anak-anal seperti 5M, yaitu mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, menjauhi kerumunan dan membatasi mobilitas serta protokol VDJ, yaitu ventilasi (membuka jendela dan pintu serta hindari ruang tertutup), durasi (berada di kamar terpisah dengan anggota keluarga yang bekerja di luar rumah dan mengurangi interaksinya), dan jarak (social distancing dengan anggota keluarga yang bekerja di luar) (Radiany, F., Anissa, M., Kamil, M. 2021).

Referensi

Penulis :
Safira Indriani
Mahasiswa
Fakultas Kesehatan Masyarakat UI

(Visited 103 times, 1 visits today)