Wujudkan ODF, Puskesmas Mekarmukti Lakukan Pemicuan STBM Pilar I

Wujudkan ODF, Puskesmas Mekarmukti Lakukan Pemicuan STBM Pilar I

Pembangunan kesehatan merupakan upaya untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan untuk hidup lebih sehat. Salah satu metode untuk mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya yaitu dengan pemberdayaan masyarakat melalui pemicuan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).

STBM merupakan strategi nasional yang digunakan sebagai acuan bagi petugas kesehatan dan instansi yang terkait dalam penyusunan perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi terkait dengan sanitasi total berbasis masyarakat (Permenkes No 3 tahun 2014).

Terdapat 5 pilar dalam STBM, pilar pertama mengenai Stop Buang Air Besar Sembarangan (SBABS), pilar kedua mengenai Cuci Tangan Pakai Sabun, pilar ketiga tentang Pengolahan Air Minum dan Makanan Rumah Tangga, pilar keempat mengenai pengolahan sampah rumah tangga, dan pilar yang kelima mengenai pengolahan limbah cair rumah tangga.

Target capaian STBM adalah untuk memperkuat upaya perilaku hidup bersih dan sehat, mencegah penyakit berbasis lingkungan, dan meningkatkan capaian akses sanitasi masyarakat. Tujuan kegiatan pemicuan adalah untuk meningkatkan kemandirian masyarakat dalam mengatasi persoalan kesehatan dan lingkungan di wilayahnya.

Pemberdayaan Masyarakat, Puskesmas Mekarmukti Lakukan Pemicuan STBM Pilar I

UPT Puskesmas Mekarmukti merupakan salah satu Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) yang sedang giat melaksanakan program STBM Pilar I, yaitu Pemicuan SBABS. Kegiatan dilaksanakan di beberapa desa wilayah kerja dari UPT Puskesmas Mekarmukti, yaitu Desa Cijayana dan Karangwangi.

Peserta dari kegiatan pemicuan adalah seluruh masyarakat dari setiap RW di Desa Cijayana dan Karangwangi khususnya yang masih melaksanakan buang air besar sembarangan. Jumlah total peserta yang hadir dari seluruh kegiatan pemicuan sebanyak 650 dari Desa Cijayana dan 725 orang dari Desa Karangwangi. Pelaksanakan kegiatan pemicuan selama tahun 2019 sebanyak 84 kali yang dilakukan setiap triwulan di 21 RW.

Fasilitator dari kegiatan pemicuan adalah sanitarian dan tim yang terdiri dari tenaga promkes, gizi, perawat atau bidan desa. Materi yang disampaikan mengenai STBM Pilar I (SBABS) khususnya penggunaan jamban keluarga sehat. Kegiatan berlangsung selama 1-2 jam di setiap pemicuan.

Dalam pemicuan, fasilitator bertugas untuk memicu masyarakat untuk merubah perilakunya dengan belajar mengetahui kebiasaan BAB, bukan mengharuskan masyarakat memiliki jamban berseptictank dan memberikan bantuan untuk proses pembanganan septic tank.

Teknik pemicuan pada setiap pertemuan berbeda-beda, dimulai dengan perkenalan, bina suasana, pencairan suasana, permintaan izin pada masyarakat untuk belajar bersama, pemetaan wilayah, penelusuran lokasi BABS, penysunan alur kontaminasi, simulasi air yang terkontaminasi, diskusi bersama untuk memicu rasa jijik, malu, dan takut sakit, pembuatan kontrak social dan penutup.

Puskesmas Mekarmukti Lakukan Pemicuan STBM Pilar I

Yang menarik dalam kegiatan ini adalah masyarakat diminta untuk bergabung secara langsung dan berperan aktif untuk menyelesaikan persoalan di lingkungan masing-masing dengan berbagai metode seperti bermain peran untuk memicu rasa jijik, malu, dan takut sakit. Melalui kegiatan tersebut fasilitator bisa menjadi lebih dekat dengan masyarakat sehingga turut mendukung percepatan perubahan perilaku di masyarakat.

Selama proses pemicuan tahun 2019 tim fasilitator STBM UPT Puskesmas Mekarmukti bersama seluruh lintas sektor di Kecamatan Mekarmukti berhasil meningkatkan jumlah pengguna jamban sehat yang ada di dua desa binaan, hal tersebut diketahui dengan adanya pembuatan MCK umum baru, dan pembuatan jamban keluarga sehat baru yang mencapai 20 % dari jumlah sebelumnya. Pembuatan MCK Umum menggunakan dana desa, sementara untuk jamban keluarga sehat pribadi menggunakan biaya mandiri.

Harapan dari kegiatan tersebut adalah masyarakat bisa menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat dengan tidak BABS, selain itu masyarakat bisa semakin mandiri, solutif, inovatif dan kreatif untuk menyelesaikan permasalahan lingkungan maupun kesehatan yang ada di wilayah masing-masing. Berkaitan dengan hal tersebut diharapkan kedua desa mampu melaksanakan deklarasi bebas BABS pada tahun 2020 agar dapat mengurangi resiko munculnya penyakit berbasis lingkungan dan pencemaran lingkungan yang terakumulasi. Sehingga dari kegiatan tersebut masyarakat bisa merubah perilaku untuk hidup lebih sehat.

Yuk Share Postingan Ini:

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Topik Populer


Akreditasi Puskesmas BPJS Kesehatan Dana Desa DBD Dinkes Kab Enrekang Dinkes Kab Indramayu Dinkes Kab Tasikmalaya FKM Unand FKM Undip FKM Unhas Germas Gizi Buruk Hipertensi Imunisasi Imunisasi MR Kader Posyandu Kemenkes Kemenkes RI Kesehatan Lingkungan Kesehatan Masyarakat Kesehatan Remaja Kesehatan Reproduksi Mahasiswa Kesmas Nusantara Sehat PBL Pencerah Nusantara Pengabdian Masyarakat Penyuluhan Kesehatan PHBS Posyandu Posyandu Remaja Prodi Kesehatan Masyarakat Prodi Kesmas Promkes Promosi Kesehatan Puskesmas Puskesmas Krangkeng Seminar Kesehatan Seminar Nasional STBM STIKes Kuningan Stunting TBC Tenaga Kesehatan Tuberkulosis