Yuk Intip Serunya Kampanye PTM Siapa Takut!
Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Univ. Atma Jaya Yogyakarta (MIK UAJY) menggelar acara Diskusi Interaktif Kampanye PTM? Siapa Takut!, ini dia keseruannya!

Sleman, Yogyakarta – Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta (MIK UAJY) menggelar acara Diskusi Interaktif Komunikasi Kesehatan mengenai upaya pencegahan Penyakit Tidak Menular (PTM) melalui aktivitas fisik dengan tema “PTM? Siapa Takut!” pada Sabtu (13/7) di Kampus 3 Gedung Bonaventura Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Diskusi interaktif yang menghadirkan Kepala Seksi Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Dokter Umum, dan pegiat kesehatan di Yogyakarta berupaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai PTM dan upaya pencegahannya yang telah terangkum dalam program Germas.

Raden Arditya Mutwara Lokita

Ketua Kampanye “PTM? Siapa Takut!”, Raden Arditya Mutwara Lokita, menjelaskan bahwa program kampanye ini sebagai bentuk dukungan mahasiswa MIK UAJY atas program Germas sekaligus perhatian atas banyaknya kasus kematian akibat PTM.

“Angka kasus kematian akibat PTM di Indonesia dari tahun ke tahun selalu meningkat dan mirisnya, PTM merupakan penyebab kematian terbesar di Indonesia, terutama penyakit jantung. Dengan adanya kampanye ini, diharapkan masyarakat dapat semakin sadar akan PTM dan melakukan tindakan nyata untuk mencegahnya.”

Senada dengan Ketua Kampanye, Kepala Seksi Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta drg. Arumi Wulansari, MPH juga turut mengungkapkan keprihatinannya pada peningkatan angka masyarakat yang terkena PTM.

BACA JUGA:  Guru Besar IPB : Bahaya Penyakit Tidak Menular bagi Perekonomian Indonesia

drg. Arumi Wulansari, MPH

“Angka prevalensi kematian akibat PTM memang tinggi dan trennya selalu naik. Dalam kasus di DIY, berdasarkan data Riskesdas, DIY menempati urutan ketiga sebagai daerah dengan tingkat prevalensi penduduk yang terkena PTM tertinggi di Indonesia.”

Oleh karena itu, pencegahan PTM perlu dilakukan sesegera mungkin, salah satunya adalah dengan berolah raga secara rutin. Menurut dr. Sondang H.S Siagian yang juga Dokter Umum RSUD Prambanan, olah raga yang paling efektif adalah berenang.

“Olah raga memang sebaiknya dilakukan selama 30-45 menit selama 4 sampai 5 hari dalam seminggu, yang penting rutin dan diusahakan bergerak terus menerus. Salah satu olah raga yang paling efektif adalah berenang karena dengan berenang, semua badan kita ikut bergerak. Begitu juga dengan senam kalau dibandingkan dengan jogging, karena dengan senam, kita ikut berpikir, sehingga lebih banyak membakar kalori”, ungkap Sondang.

Selain itu, dr. Sondang juga menambahkan efektivitas berolah raga di pagi hari, “Olah raga di pagi hari itu lebih baik sebelum melakukan aktivitas karena dapat membuat kita gak gampang capek dan lebih produktif. Ibarat mesin, badan kita dipanasi dulu dengan berolah raga”.

Peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai PTM juga sebenarnya tidak terlepas dari peran tenaga kesehatan masyarakat. Ironisnya, tenaga kesehatan ini sering tidak mendapatkan perhatian. Dengan bekal pengalaman kerja di media, Rakmatniwa, SKM berinisiatif untuk mengembangkan platform digital yang dapat mengakomodasi dan terutama, sebagai bentuk kontribusi kepada teman-teman tenaga kesehatan masyarakat (Kesmas) melalui Kesmas.ID.

BACA JUGA:  GERMAS Melalui Konsep Pendekatan Keluarga Puskesmas Lolo Kabupaten Kerinci

“Melalui Kesmas.ID, saya ingin ikut mempromosikan dan memperkenalkan Kesmas (Kesehatan Masyarakat) sebagai salah satu profesi tenaga kesehatan yang masih banyak orang awam tidak kenal. Saya juga ingin membantu penyebaran informasi maupun edukasi kesehatan dari Aceh sampai Papua menjadi lebih baik, caranya melalui media sosial. Dengan media sosial, saya dapat menginformasikan bahwa di daerah pelosok masih banyak kekurangan dan butuh support di sektor kesehatan. Dengan media sosial, perjuangan rekan-rekan tenaga kesehatan dan inovasi mereka dapat disebarluaskan. Nah, hal-hal seperti itu, kalau tidak diekspos/ ublikasi, ya masyarakat tidak akan ada yang tahu.”

Kang Niwa, panggilan akrab pria yang pernah mengemban pendidikan Ilmu Kesehatan Masyarakat ini, juga turut mengajak peserta diskusi untuk melakukan senam Germas selama 45 detik sebelum menyampaikan materinya.

Aktivitas fisik sederhana seperti yang dipraktikkan oleh peserta tersebut diapresiasi oleh salah satu pegiat kesehatan yang turut hadir sebagai panelis dalam diskusi interaktif, pengurus Freeletics Yogyakarta, Munawar Hadi. Dalam diskusi, Hadi menjelaskan bahwa aktivitas fisik tidak harus dilakukan dengan berat dan mengeluarkan uang banyak.

“Tujuan dari dibentuknya Freeletics Yogyakarta adalah untuk mengajak masyarakat berolah raga untuk membuat badan fit dan bugar, jadi bukan untuk body building. Melalui Freeletics, kita ingin memperlihatkan bahwa aktivitas fisik dan olah raga bisa dilakukan di mana pun, tidak membutuhkan waktu yang banyak dan ruang yang besar, asalkan niat dan rutin dilakukan. Jadi, tidak ada alasan untuk anak-anak kost nggak bisa olah raga karena nggak ada cukup ruang.”

BACA JUGA:  Ini Tentang Isi Piringku, Kampanye Hidup Sehat di SDN Srengseng I

Selain dengan beraktivitas fisik, pencegahan PTM sebenarnya juga membutuhkan lingkungan sekitar yang bersih dan sehat, misalnya dengan diberlakukannya peraturan larangan merokok. Hal ini yang turut menjadi keprihatinan drg. Arumi karena belum semua wilayah, terutama di DIY, yang menerapkan peraturan tersebut.

“Larangan untuk merokok itu sebenarnya sudah ada di Yogyakarta, tapi cakupan wilayahnya masih yang ada di bawah Pemerintah Kota Yogyakarta. Sayangnya, daerah lain di Yogyakarta belum mengikuti” ungkap Arumi.

Di akhir diskusi, Hadi turut mengajak peserta diskusi untuk melakukan gerakan peregangan badan di tempat setelah mengikuti jalannya diskusi selama dua jam. Diiringi dengan musik, peserta terlihat antusias saat mengikuti gerakan sederhana yang dipraktikkan oleh Hadi.

sesi tanya jawab peserta

“Saya antusias banget sih tadi ikut diskusi interaktif ini, jadi seakan membuka matanya saya tentang PTM dan mitos-mitos kesehatan, seperti tadi yang dibilang oleh dr. Sondang bahwa hanya karena punya turunan PTM, bukan jadi alasan kita nggak memperhatikan kesehatan. Intinya sebisa mungkin selalu jaga kesehatan tubuh dengan cara hidup sehat dan makan makanan seimbang,” ujar Adam, salah satu peserta diskusi.

Kegiatan diskusi interaktif komunikasi kesehatan ini sebelumnya telah didahului dengan kampanye melalui media sosial, terutama Instagram, untuk dapat menjangkau kalangan milenial.

Kampanye PTM, Magister Ilmu Komunikasi Atma Jaya Jogja

Sharing is caring!

(Visited 73 times, 1 visits today)