Ilustrasi Penyakit Dermatitis Gettyimages
Penyakit dermatitis secara umum terbagi menjadi tiga, dermatitis atopik, dermatitis kontak, dermatitis seboroik. Berikut ini ulasan selengkapnya untuk anda.

Mungkin kebanyakan orang awam sering menyebut penyakit kulit dengan istilah kulit yang memerah, bercak merah pada kulit, kulit kering, ruam dan disertai kulit yang terkelupas. Hal tersebut biasanya terjadi dikarenakan alergi pada makanan atau  pada sabun. Pada kondisi ini, jika kulit semakin digaruk akan menyebabkan kulit menjadi terluka dan menimbulkan bercak merah yang akan menyebar ke kulit lainya.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kota Palopo menunjukan bahwa pada Tahun 2018 penyakit Dermatitis di Kota Palopo mencapai 3.354 kasus.

Dalam dunia kesehatan penyakit kulit dikenal dengan sebutan Dermatitis. Dermatitis berasal dari kata derm/o- (kulit) dan itis (Radang/inflamasi), sehingga dermatitis dapat diterjemahkan sebagai suatu keadaan di mana kulit mengalami inflamasi.1

Dermatitis dapat terjadi pada semua kalangan usia, baik usia bayi, anak-anak, remaja, dewasa hingga lansia. Orang yang memilki riwayat alergi serta meliki kulit yang sensitif akan lebih rentan terkena penyakit dermatitis. Penyakit dermatitis sangat rentan terhadap orang yang sering terpapar bahan kimia seperti deterjen, asam, basa, oli, dan semen. Penyakit ini juga dapat dipengaruhi oleh faktor genetik, jenis kelamin, usia, ras, lokasi kulit serta perilaku individu.

BACA JUGA:  Komisi IX Usulkan Sebagian Dana Desa Dialokasikan untuk Kesehatan

Penyakit dermatitis secara umum terbagi menjadi tiga, dermatitis atopik, dermatitis kontak, dermatitis seboroik. Ketiga dermatitis tersebut memiliki kondisi yang berbeda.

Dermatitis seboroik adalah penyakit dermatosis kronik yang ditandai dengan kemerahan dan sisik yang terjadi pada area dimana aktivitas kelenjar sebaseus paling aktif, seperti wajah dan kulit kepala, dada bagian atas, punggung dan pada lipatan tubuh (Prawitasari Suci Dkk, 2018). Jika dilihat sekilas dermatitis ini mirip dengan ketombe.

Dermatitis kontak adalah suatu reaksi kulit yang biasanya muncul ketika kulit terpapar preparat fisik, kimia, atau biologi dan terkena zat tertentu yang menyebabkan reaksi alergi atau iritasi. Reaksi tersebut kemungkinan merupakan tipe iritan primer, atau mungkin alergi. Lapisan epidermis kulit akan mengalami kerusakan akibat kontak dengan iritan kimia dan fisik secara berulang. Penyebab umum seperti iritan dermatitis sabun, deterjen, bedak tabur, dan kimia pabrik. Faktor pencetus termasuk dingin dan panas yang sangat ekstrem, menimbulkan gejala seperti ruam merah, atau benjolan, lepuhan berisi air, sensasi terbakar dan panas pada ruam, dan kulit terasa gatal dan membengkak. Biasanya gejala ini hanya muncul pada area kulit yang terpapar atau terkena zat tersebut saja.

BACA JUGA:  Menkes Minta Dinkes Cilacap Lihat Ekses Industri Besar ke Kesehatan Masyarakat

Dermatitis atopik adalah penyakit kulit kronis yang menunjukkan ruam-ruam yang gatal dan tampak bersisik. Kondisi ini biasanya muncul pertama kali saat bayi dan dapat terus muncul hingga dewasa. Reaksi kulit ini menunjukkan ruam-ruam kemerahan dan bengkak pada kulit serta menimbulkan rasa gatal yang parah terutama pada siku, depan leher, dan belakang lutut. Kekurangan protein tertentu  pada kulit membuat kulit penderita dermatitis atopik  menjadi lebih sensitif. Namun, kulit yang sensitif ini bukanlah menunjukkan reaksi alergi.

Ketiga dermatitis tersebut dapat dicegah dengan melakukan personal hygine, menghindari paparan zat-zat yang memicu terjadinya dermatitis .

Dermatitis atopik disebabkan berbagai faktor salah satunya kulit kering, untuk menghindari dermatitis ini dapat dilakukan dengan meminimalisir efek pengeringan pada kulit dengan cara mandi dua kali sehari menggunakan air hangat dan sabun yang mengandung moisture serta mengeringkan kulit secara lembut dengan cara kulit ditepuk-tepuk dengan handuk.

Dermatitis kontak disebabkan oleh kontak langsung dengan zat alergen seperti deterjen, kosmetik, pengawet dalam jumlah banyak pada lotion, bahan dan kimia pabrik. Untuk menghindari dermatitis ini dapat dilakukan dengan mengurangi terpapar oleh zat-zat tersebut dan lebih berhati-hati dalam penggunaan lotion yang belum mendapatkan izin BPOM.

BACA JUGA:  5 Poin Penting Pembangunan Kesehatan Masyarakat Disepakati Saat MMD

Dermatitis seboroik disebabkan oleh jamur yang ada di sekitar minyak pada kulit. Untuk mencengah dermatitis ini dengan cara menjaga kebersihan diri khususnya kapala dengan menggunakan sampo khusus perawatan ketombe, sampo anti jamur serta mengindari iklim dingin atau udara kering, usahakan untuk tidak menggaruk bagian yang gatal.

Melakukan perubahan gaya hidup sejak dini dari kebiasaan buruk serta menjaga kebersihan  diri sehingga dapat terhindar dari penyakit dermatitis. Apabila terkena penyakit dermatitis sebaiknya cari tahu dahulu tipe dermatitis yang dialami sehingga dapat menghindari pemicu dari dermatitis tersebut agar tidak menjadi parah serta segera periksakan diri ke dokter.

 

Referensi

Prawitasari Suci Dkk.  2018. Intisari Ilmu Kesehatan Kulit Dan Kelamin. Malang : UB Press

Talaud, K. K., & Karundeng, M. Y. (2015). Hubungan Faktor Lingkungan Dengan Kejadian Dermatitis Pada Anak Usia Sekolah Di Desa Tabang Barat Kecamatan Rainis Kabupaten Kepulauan Talaud. 3.


Penulis:
Mahasiswa STIKES Mega Buana Palopo,
Program Studi Sarjana Kesehatan Masyarakat, Semester VI
– Fajar Agustiningtias
– Kadek Ria Juwita

Tulisa ini merupakan Tugas Mata Kuliah Penulisan Kreatif
Dosen Pengampu: Ikes Dwiastuti, SKM., M.Epid

Sharing is caring!

(Visited 93 times, 6 visits today)