Kudis atau skabies adalah kondisi yang menyebabkan rasa gatal pada kulit. Penyebabnya adalah tungau yang disebut Sarcoptes scabiei yang menggali ke dalam kulit. Keberadaan tungau ini menyebabkan rasa gatal yang sangat kuat di sekitar area yang digaruk tersebut. Keinginan untuk menggaruk kulit biasanya meningkat terutama pada malam hari.
Sarcoptes scabiei adalah penyebab skabies. Tungau ini termasuk dalam spesies Sarcoptes scabiei varietas hominis, yang termasuk dalam kelas Arachnida, subkelas Acarina, ordo Astigmata, dan famili Sarcoptidae. Sensasi gatal yang muncul akibat reaksi alergi tubuh akibat tungau, telur, dan kotorannya yang menyebar di lapisan kulit. Kontak fisik yang dekat dan jarang serta berbagi pakaian atau tempat tidur dengan individu yang terinfeksi dapat menyebabkan penularan tungau.

Faktor risiko yang meningkatkan penularan skabies adalah:
- Hidup dalam lingkungan berkelompok. Tingginya kepadatan penghuni dalam rumah, interaksi, dan kontak fisik yang erat memudahkan penularan skabies.Misalnya, di panti asuhan, panti jompo, asrama, atau tempat pengungsian.
- Aktif berhubungan seksual.
- Keterbatasan pasokan air bersih dan kebersihan yang buruk.
- Pasien dengan sistem kekebalan tubuh rendah, misalnya pada penderita HIV.
Tanda dan gejala skabies umumnya berupa:
- Rasa gatal yang seringkali sangat kuat dan biasanya lebih parah pada malam hari.
- Garukan kulit yang tipis dan tidak beraturan, berbentuk luka atau benjolan pada kulit.
- Garukan biasanya muncul di area lipatan kulit.
Meskipun hampir semua bagian tubuh dapat terkena, pada orang dewasa dan anak yang lebih besar, skabies umumnya ditemukan di antara jari-jari, ketiak, sekitar pinggang, bagian dalam pergelangan tangan, bagian dalam siku, telapak kaki, sekitar payudara, sekitar alat kelamin pria, bokong, lutut, selangkangan punggung. Sementara itu, pada bayi dan anak yang lebih kecil, infeksi skabies dapat terlihat di kepala, wajah, leher, telapak tangan, telapak kaki.

Untuk mencegah infeksi skabies berulang dan penularannya kepada orang lain, beberapa langkah berikut dapat dilakukan: Mencuci semua pakaian dan kain yang digunakan, gunakan air hangat dan sabun untuk mencuci semua pakaian, handuk, dan seprai yang telah digunakan dalam tiga hari sebelum memulai pengobatan, keringkan dengan suhu tinggi. Untuk benda yang tidak dapat dicuci di rumah, gunakan layanan binatu, untuk benda yang tidak dapat dicuci, masukkan ke dalam plastik yang tertutup rapat dan simpan di tempat yang tidak terganggu selama sekitar dua minggu, tungau akan mati jika tidak mendapatkan makanan selama beberapa hari.
Jika sudah pernah terkena scabies, berikut hal-hal yang perlu ketahui:
- Bekas bintil kudis yang mirip jerawat atau bekas luka dapat menghilang dalam waktu 1–2 minggu setelah pengobatan berhasil. Namun, sebagian orang mungkin membutuhkan waktu berbulan-bulan hingga bekas kudis benar-benar menghilang.
- Dapat terinfeksi scabies lagi jika terpapar lagi setelah perawatan. Scabies disebabkan oleh tungau mikroskopis pada kulit, pakaian, atau tempat tidur seseorang.
- Untuk mencegah penyebaran scabies, dokter akan menganjurkan semua anggota keluarga dan orang terdekat pengidap untuk mengonsumsi obat tersebut meskipun tidak menunjukkan tanda-tanda tertular scabies.
- Untuk mengatasi scabies, dapat menggunakan krim atau salep yang mengandung permethrin atau malathion. Permethrin dioleskan ke seluruh tubuh mulai dari belakang telinga hingga ujung kaki, lalu dibiarkan selama minimal 8 jam.
- Setelah 8 jam, bilas permethrin dan mandi hingga bersih.
- Tips agar scabies tidak kambuh kembali, dapat dilakukan dengan menjemur semua kasur, bantal, dan guling di bawah terik matahari.
Untuk itu perlu adanya penyuluhan dari tenaga kesehatan untuk para santri minimal setiap ajaran baru agar dapat meminimalisir kudis atau scabies ini.Serta pendampingan dari pengurus pondok pesantren untuk mengingatkan santri-santrinya pentingnya menjaga kebersihan diri maupun lingkungan.



