
Pacilingan adalah kakus, tempat kalahajat (bubuang, miceun, kabeuratan) ‘buang air besar’. Pacilingan dalam ensiklopedia Sunda disebutkan sebagai tempat buang air di atas balong, Biasanya terbuat dari bambu, berdinding tepi tak beratap. Keempat dindingnya dibuat dari gedek (anyaman yang terbuat dari bilah-bilah bambu) atau dari bilik, lantainya dari potongan bambu gelondongan dengan memakai lubang antara celah atau celah di tengah-tengahnya sebesar batang bambu yang dijadikan lantai. Di dalamnya biasanya ada pancuran, sedangkan di sampingnya dipasang titian. Tingginya disesuaikan dengan tinggi pinggir (tambak, pematang) kolam. Dapat dikatakan pacilingan ini merupakan sarana khas yang dimiliki masyarakat pedesaan, yang nyaris jarang dijumpai di perkotaan.
Seperti yang kita tahu bahwa Desa Sukaraharja merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang masih menghadapi tantangan sanitasi, Sanitasi yang kurang ditata dengan baik juga menjadi media transmisi penularan penyakit diare, seperti kolera dan disentri, serta typus, infeksi cacing usus, dan polio, yang dapat berkontribusi pada stunting dan penyebaran resistensi antimikroba.
Anak-anak paling rentan terhadap efek dari sanitasi dan hygiene yang tidak memadai. Hal ini menempatkan mereka pada risiko yang lebih besar untuk diare, polio, dan konsekuensi kesehatan lainnya yang merugikan.
Penelitian Bank Dunia pada dampak sanitasi yang buruk terhadap ekonomi di Asia Tenggara menyebabkan kerugian ekonomi minimal 9 milyar dolar per tahun. Sementara perilaku tidak sehat dan kurang higienis mengarah ke sumber air minum, sumber air rumah tangga, area aliran air, sungai dan lingkungan menjadi tercemar.
Akses sanitasi adalah salah satu pondasi utama bagi kesehatan masyarakat. Sanitasi adalah proses menjaga kebersihan suatu tempat untuk mencegah kontaminasi dari sumber penyakit. Tetapi konteks sanitasi saat ini cenderung lebih banyak banyak dipakai untuk membahas hal-hal seputar toilet. Dari sisi epidemiologi, sanitasi adalah penghalang pertama (first barrier) dari jalur penyebaran kontaminasi tinja kepada manusia.

Salah satu akar masalah utama dari permasalahan sanitasi di Indonesia adalah kurangnya inisiatif dari pemerintah daerah untuk masalah sanitasi. Kurangnya inisiatif berdampak langsung kepada banyak hal, contohnya kurangnya inovasi skema pendanaan di level daerah dan masyarakat, tidak optimalnya kolaborasi lintas sektor, kurangnya kegiatan peningkatan kapasitas fasilitator STBM, atau ketiadaan peraturan pendukung/pelaksana di level pemerintah daerah. Pemerintah pusat sendiri memfasilitasi percepatan target sanitasi dengan beberapa kebijakan dan peraturan yang dapat menjadi pondasi kebijakan di level daerah.
Target pemerintah sendiri adalah 15% akses sanitasi aman pada 2024. Salah satu penyebab dari hal ini adalah akses sanitasi aman yang cenderung konstan, sedangkan pertumbuhan penduduk terus terjadi. Maka dari itu perlu adanya toilet yang memadai agar target pemerintah tercapai dan pacilingan terus berkurang.
Referensi
- KEMENTERIAN SEKRETARIAT NEGARA RI SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN diakses pada 2024, Sanitasi buruk bisa berdampak pada stunting, https://stunting.go.id/sanitasi-buruk-bisa-berdampak-pada-stunting/.
- Kementerian Kesehatan Sehat Negeriku Sehat Bangasaku, diakses 2024, Anak-anak Rentan terhadap Efek Sanitasi, https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20120910/215481/anak-anak-rentan-terhadap-efek-sanitasi/
- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Lina Hernawati, 2020, https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbjabar/balong-sunda/
Artikel ini sudah direview oleh:
Ayi Nuraisah Nasution, SKM
Programer Promkes Puskesmas Cisayong
Puskesmas Cisayong
Jalan Raya, Sukaraharja, Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat 46153



