Diabetes Melitus: Silent Killer dengan Komplikasi Mematikan

Diabetes Melitus (DM) adalah penyakit metabolik kronis yang mulai ditandai dengan meningkatnya kadar gula darah akibat gangguan produksi atau fungsi insulin. IDF Diabetes Atlas (2017) melaporkan terdapat 425 juta kasus DM di dunia dan diprediksi meningkat hingga 629 juta kasus pada tahun 2045. Indonesia sendiri menempati urutan ke-7 jumlah penderita DM terbanyak di dunia, dengan prevalensi sekitar 12,1 juta jiwa pada 2013 dan terus meningkat.

Kondisi ini mengkhawatirkan karena sebagian besar penderita tidak menyadari dirinya mengidap DM. Apabila tidak dikendalikan, DM dapat menimbulkan komplikasi serius seperti gangren, gagal ginjal, kebutaan, penyakit jantung, bahkan kematian. Oleh karena sifatnya yang sering tanpa gejala pada tahap awal, DM kerap dijuluki sebagai silent killer.

Apa Itu Diabetes Melitus

Secara medis, DM dibagi menjadi beberapa tipe:

  • DM Tipe 1: tubuh tidak dapat memproduksi insulin sama sekali.
  • DM Tipe 2: tubuh tidak dapat menggunakan insulin dengan efektif (resistensi insulin) dan produksi insulin relatif menurun. Tipe ini mencakup 90–95% kasus DM.
  • DM Gestasional: terjadi pada ibu hamil dan biasanya hilang setelah melahirkan.

Gejala klasik DM antara lain:

  • Poliuri (sering buang air kecil),
  • Polidipsi (sering haus),
  • Polifagi (sering lapar),
  • Penurunan berat badan tanpa sebab jelas.

Diagnosis DM ditegakkan apabila kadar glukosa plasma sewaktu ≥200 mg/dL, glukosa puasa ≥126 mg/dL, atau hasil tes toleransi glukosa oral (TTGO) ≥200 mg/dL.

Faktor Risiko Diabetes Melitus

Faktor risiko DM dibagi menjadi yang dapat diubah dan yang tidak dapat diubah :

Faktor yang dapat diubah :     

  • Pola makan tidak sehat (tinggi gula, lemak, rendah serat).
  • Kurang aktivitas fisik.
  • Obesitas/IMT tinggi.
  • Merokok dan konsumsi alkohol.
  •  Stres dan kurang tidur.

Faktor yang tidak dapat diubah :       

  • Usia (risiko meningkat setelah usia >40 tahun).
  • Riwayat keluarga/genetik.
  • Riwayat diabetes gestasional.

Penelitian di Indonesia menunjukkan obesitas meningkatkan risiko DM hingga 92 kali, riwayat keluarga 21 kali, dan kebiasaan merokok 23 kali lipat.

Dampak Diabetes Melitus

DM yang tidak terkontrol dapat menyebabkan komplikasi serius, di antaranya:

  • Gangguan kardiovaskular: penyakit jantung koroner, aterosklerosis, stroke.
  • Gangguan mata: retinopati diabetik hingga kebutaan.
  • Gangguan ginjal: nefropati yang berujung gagal ginjal.
  • Gangguan saraf: neuropati yang memicu luka kaki diabetik.
  • Gangren: luka yang tidak sembuh hingga amputasi.

Pencegahan dan Pengendalian DM dengan PHBS

DM tidak dapat disembuhkan, tetapi dapat dikendalikan melalui program CERDIK :

  1. Cek kesehatan secara rutin: periksa gula darah, tekanan darah, dan kolesterol.
  2. Enyahkan rokok dan hindari paparan asap rokok.
  3. Rajin aktivitas fisik: minimal 30 menit setiap hari.
  4. Diet seimbang: kurangi gula, perbanyak serat, sayur, dan buah.
  5. Istirahat cukup.
  6. Kelola stres dengan baik.

Selain itu, penderita DM dianjurkan melakukan self monitoring kadar gula darah dengan glukometer untuk mendeteksi dini kenaikan gula.

Peran Kader Kesehatan dan Edukasi Masyarakat

Edukasi berperan penting dalam meningkatkan kesadaran masyarakat. Penelitian menunjukkan edukasi menggunakan video dan penyuluhan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat tentang DM hingga 92%.

Kader kesehatan dapat berperan dengan:

  • Memberikan edukasi pola hidup sehat.
  • Membimbing pasien dalam penggunaan glukometer.
  • Membantu skrining gula darah melalui Posbindu PTM.
  • Mendampingi penderita dalam perawatan luka diabetik.

Diabetes Melitus adalah penyakit metabolik kronis yang terus meningkat di Indonesia dan menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi. Meski berbahaya, DM dapat dikendalikan dengan pola hidup sehat, deteksi dini, edukasi berkelanjutan, dan dukungan kader kesehatan.

Kesadaran masyarakat menjadi kunci untuk mencegah DM serta menurunkan risiko komplikasi yang mematikan. Dengan demikian, Indonesia dapat mencetak generasi yang sehat, produktif, dan berdaya saing.

Referensi

  • Nur Aini Anisa & Sofwan Indarjo. (2021). Perilaku Sehat Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 yang Mengalami Gangren di Puskesmas Halmahera Kota Semarang. IJPHN, 1(1), 72–86.
  • Sholikah, T. A., Febrinasari, R. P., & Pakha, D. N. (2021). Edukasi Penyakit Diabetes Melitus dan Cara Pemeriksaan Glukosa Darah Secara Mandiri. Smart Society Empowerment Journal, 1(2), 49–55.
  • Shawputri, C. A., Rohmah, L. A., Fauziyyah, N. A., Ramadani, W. N., & Rejeki, D. S. S. (2024). Faktor Risiko Diabetes Melitus Tipe II di Dunia: Literature Review. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 12(4), 247–256.
  • Kementerian Kesehatan RI. (2019). Infodatin Diabetes Melitus.

Artikel ini telah di-review oleh:

Bani Srinurbani, S.KM
Tenaga Promkes Puskesmas Cigalontang

Puskesmas Cigalontang
Jl. Perkantoran No. 38, Desa Cigalontang, Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat
No Telp: 0852-2241-3135

Yuk Share Postingan Ini:
Helpiera Harianja
Helpiera Harianja
Articles: 13

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *