Buang air besar sembarangan (BABS) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang sering diabaikan, terutama di daerah dengan akses sanitasi yang buruk. Praktik ini tidak hanya berdampak negatif pada kesehatan individu, tetapi juga menimbulkan risiko kesehatan yang lebih luas bagi masyarakat khususnya di lingkungan rumah tangga.

Ancaman Kesehatan dari BABS

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 1,5 juta anak di bawah usia lima tahun meninggal setiap tahunnya akibat diare yang disebabkan oleh sanitasi yang buruk dan air yang terkontaminasi. Buang air besar merupakan sumber utama pencemaran lingkungan dan dapat menyebabkan penyebaran penyakit menular seperti diare, kolera, dan demam tifoid. Penyakit-penyakit tersebut tidak hanya membebani kesehatan individu, tetapi juga dapat memperburuk kesehatan masyarakat secara keseluruhan.

Situasi di Indonesia

Indonesia terus bekerja keras untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals Sustainable/SDGs) yaitu “Pada tahun 2030, mencapai akses ke sanitasi dan higinitas yang memadai dan merata untuk semua, dan mengakhiri buang air besar sembarangan, memberikan perhatian khusus pada kebutuhan perempuan dan anak perempuan serta mereka yang berada dalam situasi rentan”.

Pemerintah Indonesia sendiri menargetkan penurunan jumlah BABS hingga mencapai 0% dan akses sanitasi aman sebesar 15% pada tahun 2024. Jika kita melihat tren akses sanitasi, angka BABS di Indonesia terus menurun dari tahun ke tahun, dimana angka BABS pada 2021 adalah 5.69%. Berdasarkan tren, diprediksikan bahwa angka BABS akan mencapai 0% pada tahun 2025.

Tantangan yang Dihadapi untuk Pemicuan Stop BABS

Tantangan yang dihadapi untuk pemicuan stop BABS dapat terjadi karena beberapa faktor, mulai dari pendanaan, kelembagaan, lingkungan, teknis, dan sosial. Aspek pendanaan penting untuk mendukung program sanitasi yang memadai, terutama untuk kelompok dengan ekonomi rendah.

Komitmen pemerintah dan kolaborasi lintas sektor mempengaruhi dalam penyelesaian permasalahan BABS. Ketersediaan akses air bersih dan kesadaran masyarakat tentang sanitasi juga mempengaruhi pemicuan stop BABS. Jika ketersediaan akses air dan kesadaran masyarakat meningkat, maka penyelesaian BABS akan terselesaikan.

Upaya Peningkatan Sanitasi

Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah selalu berupaya meluncurkan program-program yang bertujuan meningkatkan akses sanitasi dan meningkatkan kesadaran masyarakat. Program yang dijalankan berupa program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) yang berfokus pada perubahan perilaku dan penyediaan fasilitas sanitasi yang memadai.

Puskemas yang ada di Indonesia sudah banyak mengambil langkah untuk memperbaiki kondisi ini, di antaranya melalui edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya sanitasi yang baik dan dampak negatif BABS. Selain itu, pemerintah daerah juga berupaya membangun fasilitas toilet umum di berbagai titik strategis untuk memfasilitasi masyarakat agar tidak melakukan BABS.

Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan organisasi non-pemerintah sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang sehat dan bebas dari BABS.

BACA: https://kesmas-id.com/pemicuan-stop-babs-puskesmas-sukahening-libatkan-masyarakat-kp-pasirgede/

Artikel edukasi ini telah direview oleh:
Fepi Pebrianti, S.K.M
Programer Promkes Puskesmas Sukahening
Puskesmas Sukahening
Alamat: Jl. Raya Sukahening No 105 Kecamatan Sukahening 46154
Telp: (0265) 420296
Email: pkm.sukahening@gmail.com

Referensi
World Health Organization (WHO). (2023). “Sanitation and Health.”
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). “Program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat.”

https://www.google.com/url?q=http://p2p.kemkes.go.id/wp-content/uploads/2023/06/FINAL_6072023_Layout_SBS-1.pdf&sa=U&ved=2ahUKEwiuiLTRrqmJAxWt2TgGHSTGNqAQFnoECAwQAg&usg=AOvVaw3aMSFvbbjsS45VxrYUkkzh

Author Profile

taniaamaliaf
Yuk Share Postingan Ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *