“Hidup hanya sekali. Selagi muda, kita nikmati sebaik-baiknya sebebas mungkin.” begitulah yang terpikirkan bagi beberapa orang, dan rasanya hal ini tidak asing kita dengar dari orang-orang terdekat.

Banyak orang berpikir bahwa pemeriksaan kesehatan rutin penting dilakukan ketika sudah memasuki usia lanjut. Pada kenyatannya, banyak penyakit kronis timbul sebagai hasil dari manifestasi kondisi kesehatan sejak usia muda. Diabetes, hipertensi, kolesterol tinggi, bahkan kanker yang bisa muncul sejak usia produktif tanpa menimbulkan gejala berarti. Selain kualitas hidup usia produktif (18-59 tahun) dipengaruhi oleh pola hidup sehat seperti makanan bergizi seimbang, aktifitas teratur, serta pengelolaan stress yang efektif, pemeriksaan kesehatan rutin juga berpengaruh untuk mencegah dan mengidentifikasi kondisi kesehatan sejak dini.
Pemeriksaan kesehatan bukanlah sekadar formalitas, melainkan cara untuk mendeteksi risiko kesehatan. Misalnya, seseorang yang terlihat sehat, bisa saja memiliki tekanan darah tinggi atau kadar gula yang tidak normal. Jika hal ini diketahui lebih awal, langkah pencegahan dan penanganan bisa segera dilakukan sehingga penyakit tidak berkembang menjadi lebih serius.

Namun sayangnya, seringkali kita ragu dan enggan pergi ke fasilitas layanan kesehatan dikarenakan berbagai hal pemicu. Baik karena takut akan biaya yang besar, hingga jarak yang jauh ke rumah sakit. Padahal, pemeriksaan kesehatan rutin tidak harus mahal dan bisa mulai dilakukan di puskesmas atau klinik dengan biaya terjangkau. Jadi, Apa saja jenis pemeriksaan kesehatan yang perlu dilakukan sejak usia produktif?

Pemeriksaan kesehatan dasar umumnya dilakukan di puskesmas, posyandu, klinik, atau praktik dokter umum. Tahap ini mencakup wawancara medis untuk menggali riwayat penyakit pribadi dan keluarga serta pemeriksaan fisik dasar sebagai berikut:
Pengukuran Index Masa Tubuh (IMT)
BMI digunakan untuk menilai apakah seseorang memiliki berat badan yang sehat berdasarkan tinggi dan berat badan. Pemeriksaan ini penting untuk mengetahui apakah seseorang berisiko terhadap obesitas atau kekurangan gizi di mana keduanya dapat memengaruhi kesehatan jangka panjang.
Pemeriksaan Tekanan Darah
Pemriksaan tekanan darah dilakukan untuk mendeteksi tekanan darah tinggi sejak dini, karena kondisi ini sering kali tidak menimbulkan gejala yang signifikan namun bisa berujung pada stroke atau penyakit jantung.
Pemeriksaan Kadar Gula Darah
Pemeriksaan gula darah digunakan untuk mendeteksi diabetes mellitus, yaitu dengan mengukur kadar glukosa dalam darah. Skrining rutin kadar gula darah penting dilakukan terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko seperti obesitas, riwayat keluarga diabetes melitus, atau pola makan yang tidak sehat.
Pemeriksaan Kadar Kolesterol
Pemeriksaan kadar kolesterol membantu mengidentifikasi risiko penyumbatan pembuluh darah yang dapat menyebabkan serangan jantung.

Setelah melaukan pemeriksaan kesehatan dasar, selanjutnya pemeriksaan kesehatan lanjut berfungsi untuk mengkonfirmasi diagnosis yang didapatkan dari pemeriksaan kesehatan dasar dan mendeteksi kondisinya secara lebih spesifik. Pemeriksaan kesehatan lanjutan memerlukan peralatan dan kompetensi lanjutan sehingga biasanya dilakukan di rumah sakit atau laboratorium spesialis. Jenis pemeriksaan ini ntara lain sebagai berikut :
Pemeriksaan Fungsi Hati
Pemeriksaan ini dengan mengukur enzim hati untuk mendeteksi kerusakan pada hati yang seringkali tidak disadari, seperti hepatitis atau sirosis. Pemeriksaan ini penting untuk orang yang memiliki riwayat konsumsi alkohol berlebihan atau paparan bahan kimia berbahaya.
Pemeriksaan Fungsi Ginjal
Pemeriksaan ini berguna untuk menilai kesehatan ginjal yang bekerja sebagai penyaring racun tubuh. Yaitu dengan mengukur kadar kreatinin dan ureum dalam darah untuk menilai seberapa baik ginjal berfungsi. Pemeriksaan ini sangat penting, terutama bagi orang dengan diabetes atau hipertensi yang berisiko mengalami kerusakan ginjal.
Pemeriksaan Jantung
Pemeriksaan jantung melalui EKG atau treadmill test bisa menunjukkan adanya gangguan irama jantung atau tanda awal penyakit jantung koroner. Deteksi dini di tahap ini memungkinkan penanganan lebih cepat sebelum penyakit berkembang parah. Pemeriksaan ini sangat penting pada individu yang mengalami gejala nyeri dada atau memiliki riwayat penyakit jantung.
Pemeriksaan USG Abdomen
Pemeriksaan USG abdomen adalah pemeriksaan pencitraan untuk memeriksa organ dalam perut, seperti hati, ginjal, dan kantong empedu. Pemeriksaan ini dapat digunakan untuk mendeteksi gangguan seperti batu empedu, pembesaran hati, atau kelainan pada pankreas
Pemeriksaan Densitometri Tulang
Pemeriksaan densitometri tulang dilakukan untuk mengukur kepadatan tulang dan mendeteksi osteoporosis atau keropos tulang. Pemeriksaan ini dianjurkan untuk wanita pasca-menopause dan pria berusia lanjut yang berisiko tinggi mengalami patah tulang.
Pemeriksaan Lanjutan Deteksi Kanker
Pemeriksaan lanjutan untuk deteksi kanker sangat penting dilakukan terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko. Perempuan dianjurkan melakukan mamografi untuk mendeteksi kanker payudara sejak usia 40 tahun atau lebih awal bila ada riwayat keluarga, serta pap smear setiap 3 tahun sekali mulai usia 21 tahun untuk mencegah kanker serviks. Laki-laki dapat menjalani pemeriksaan prostat (tes PSA atau USG prostat) terutama setelah usia 50 tahun, atau lebih cepat bila ada riwayat keluarga dengan kanker prostat. Selain itu, CT scan low-dose dianjurkan bagi perokok berat atau mantan perokok untuk mendeteksi kanker paru sejak dini. Pemeriksaan lanjutan ini terbukti meningkatkan angka keberhasilan pengobatan karena kanker, di mana ditemukan pada stadium awal ketika peluang sembuh masih sangat besar.
Dari sini kita sudah paham bukan? Bahwa pemeriksaan kesehatan rutin bukan hanya untuk orang tua, melainkan sangat penting dimulai sejak usia produktif muda. WHO (World health organization) merekomendasikan, pemeriksaan kesehatan dasar setidaknya dilakukan 1 kali dalam setahun untuk orang dewasa. Dengan melakukan pemeriksaan rutin, generasi muda dapat mengenali risiko kesehatan sejak dini, memperbaiki gaya hidup, dan melindungi diri dari penyakit kronis maupun kanker di masa depan.
“Ingat, menjaga kesehatan sejak muda adalah investasi terbaik untuk masa depan yang lebih panjang, produktif, dan berkualitas.”
Sumber Referensi :
- World Health Organization. (2004). WHO densitometry (T-score) classification for bone mineral density [as cited in research].
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2019). Pedoman pelayanan kesehatan usia dewasa di fasilitas pelayanan kesehatan dasar. Kementerian Kesehatan RI.
- World Health Organization. (2021). Noncommunicable diseases: Screening. World Health Organization.
- World Health Organization. (2021). Hypertension. World Health Organization. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/hypertension
- American Cancer Society. (2022). Cancer screening guidelines. American Cancer Society. https://www.cancer.org/cancer/screening/
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Pedoman Pelayanan Klinik dan Skrining Kesehatan untuk Dewasa. Kementerian Kesehatan RI.
- World Health Organization. (2025, May 7). Obesity and overweight (fact sheet). World Health Organization.
- World Health Organization. (n.d.). Body mass index (BMI). World Health Organization.
Artikel ini telah direview oleh:
Nenden Ela Yuliani, S.K.M
Programer Promkes Puskesmas Singaparna
Jl Pancawarna No 07 Ds. Singaparna Kec. Singaparna Kab Tasikmalaya, Jawa Barat
No. Telepon : 08211858730


