Eco-Anxiety Meningkat di Tengah Krisis Lingkungan, Pakar Soroti Dampak pada Generasi Muda

Eco anxiety meningkat di Indonesia. Ketahui dampak krisis lingkungan terhadap kesehatan mental anak muda dan pentingnya solusi lintas sektor.

Surabaya, 22 April 2026 — Fenomena eco-anxiety atau kecemasan terhadap krisis lingkungan kini semakin meningkat, terutama di kalangan generasi muda. Hal ini mengemuka dalam webinar nasional yang membahas keterkaitan antara krisis lingkungan, kesehatan mental, kesejahteraan anak, dan kebijakan lingkungan, yang diselenggarakan oleh Departemen ilmu lingkungan, UPN “Veteran” Jawa Timur di hari Bumi Sedunia yang diperingati tgl 22 April tiap tahunnya. Kegiatan ini diikuti oleh 152 peserta dengan berbagai macam profesi, dosen, guru, mahasiswa, praktisi dan pemerhati lingkungan.

Apa Itu Eco Anxiety dan Mengapa Semakin Meningkat?

Dalam kegiatan tersebut, Awaluddin Hidayat Ramli Inaku, akademisi bidang ilmu lingkungan, menyoroti kondisi lingkungan Indonesia yang semakin mengkhawatirkan, mulai dari pencemaran udara, air, hingga meningkatnya produksi sampah plastik. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga memicu tekanan psikologis di masyarakat.

“Setiap tahun kita kehilangan hutan dalam skala besar, kualitas udara memburuk, dan sumber air semakin tercemar. Ini bukan hanya krisis lingkungan, tetapi juga krisis kesehatan yang berdampak luas,” ujarnya.

Sementara itu, Rahma Wati, pemateri bidang psikologi lingkungan, menjelaskan bahwa eco-anxiety merupakan respons emosional yang wajar terhadap ancaman perubahan iklim. Namun, jika tidak dikelola dengan baik, kondisi ini dapat berkembang menjadi gangguan kesehatan mental.

“Eco-anxiety bukan hanya soal rasa cemas, tetapi juga bagaimana individu meresponsnya. Jika berubah menjadi tekanan psikologis berlebih, hal ini bisa menghambat tindakan nyata,” jelasnya.

Selanjutnya, Silvie Mil menyoroti pentingnya peran pendidikan dalam membangun generasi yang tangguh menghadapi krisis lingkungan sejak dini, khususnya pada anak dan remaja.

“Eco-anxiety bukan sekadar masalah individu, tetapi refleksi dari tekanan sistemik akibat krisis lingkungan. Tanpa integrasi dalam kebijakan kesehatan dan lingkungan, ini akan menjadi beban tersembunyi dalam sistem kesehatan,” ungkapnya.

Dari perspektif kebijakan kesehatan, Meita Veruswati menegaskan bahwa fenomena ini sudah masuk dalam ranah kesehatan publik dan memerlukan perhatian serius dari pemerintah.

Data global menunjukkan bahwa sekitar 50 persen anak muda mengalami kekhawatiran serius terhadap perubahan iklim, yang berdampak pada cara mereka memandang masa depan.

Melalui webinar ini, para narasumber mendorong perlunya kolaborasi lintas sektor, mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga kebijakan publik, untuk mengatasi dampak krisis lingkungan secara komprehensif.

Diharapkan, masyarakat tidak hanya menyadari ancaman krisis lingkungan, tetapi juga mampu mengelola kecemasan menjadi aksi nyata yang berkelanjutan.

Yuk Share Postingan Ini:
Dr. Awaluddin Hidayat Ramli Inaku, S.KM., M.KL
Dr. Awaluddin Hidayat Ramli Inaku, S.KM., M.KL

Dosen di Program Studi Magister Ilmu Lingkungan,
Fakultas Teknik dan Sains, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran”
Jawa Timur

Articles: 16

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *