Skrining Sistematis Tuberkulosis (SSTB) menjadi langkah penting untuk menemukan tuberkulosis (TB) lebih dini, terutama pada orang yang memiliki risiko lebih tinggi, seperti kontak serumah dengan pasien TB, kontak erat, serta masyarakat yang mengalami gejala mengarah ke TB. Tim UPTD Puskesmas Sukarame melakukan upaya tersebut melalui kegiatan Skrining Sistematis Tuberkulosis (SSTB) di Madrasah Al Falah, Kampung Raweuy, Desa Wargakerta, Kecamatan Sukarame, Kabupaten Tasikmalaya, pada Senin, 10 Agustus 2026.
Kegiatan ini melibatkan 100 peserta dan berlangsung selama tiga jam. Selain itu, kegiatan melibatkan anggota keluarga yang tinggal serumah dengan pasien TB (Tuberkulosis), masyarakat dengan faktor risiko seperti diabetes, orang yang memiliki kontak erat dengan pasien TB, serta orang yang mengalami gejala yang mengarah ke TB sebagai peserta kegiatan. Dengan demikian, kegiatan tersebut menjadi bagian penting dalam upaya menemukan kasus lebih awal. Melalui skrining ini, tenaga kesehatan dapat membantu masyarakat mengenali kondisi kesehatan lebih cepat sehingga mereka tidak perlu menunggu hingga kondisi memburuk sebelum melakukan pemeriksaan.
Mengapa Skrining Sistematis Tuberkulosis (SSTB) Penting?

Sumber Foto: Dokumentasi Kegiatan Skrining Sistematis Tuberkulosis (SSTB) di Madrasah Al Falah, Kabupaten Tasikmalaya (10/8/2026).
Tuberkulosis masih menjadi masalah kesehatan serius di Indonesia. WHO memperkirakan lebih dari satu juta orang di Indonesia menerima diagnosis TB pada 2025, dengan sekitar 134.000 kematian setiap tahun. WHO juga mencatat bahwa deteksi kasus dan keberhasilan pasien menyelesaikan pengobatan masih menjadi tantangan dalam mengendalikan penularan TB.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa deteksi dini bukan sekadar pemeriksaan kesehatan, tetapi bagian dari upaya memutus rantai penularan. TB dapat menyebar melalui udara ketika orang dengan TB menular batuk atau bersin. Karena itu, tenaga kesehatan perlu memberikan perhatian khusus kepada orang yang tinggal serumah atau memiliki kontak erat dengan pasien TB dan dapat mengarahkan mereka untuk menjalani skrining sesuai hasil penilaian.
Tenaga Kesehatan Melakukan Edukasi TB kepada Masyarakat

Sumber Foto: Dokumentasi Kegiatan Skrining Sistematis Tuberkulosis (SSTB) di Madrasah Al Falah, Kabupaten Tasikmalaya (10/8/2026).
Dalam kegiatan SSTB, Laelatul Badriyah, S.Kep., Ns., selaku Penanggung Jawab Program TB, memberikan materi mengenai penyakit TB, tanda dan gejala, cara penularan, serta pengobatan TB. Materi tersebut membantu peserta memahami bahwa TB bukan hanya persoalan pasien, tetapi juga membutuhkan perhatian keluarga dan lingkungan terdekat.
WHO merekomendasikan skrining bagi kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi, termasuk orang yang tinggal serumah dengan pasien TB. Bagi kontak yang memenuhi kriteria, tenaga kesehatan dapat melakukan penilaian lebih lanjut untuk menentukan pemeriksaan dan kebutuhan Terapi Pencegahan TB (TPT). TPT bertujuan mencegah infeksi TB berkembang menjadi penyakit TB.
Siapa yang Perlu Lebih Waspada?
Masyarakat tidak perlu menunggu keluhan berat muncul untuk mencari informasi dan memeriksakan diri terkait TB. WHO merekomendasikan skrining sistematis bagi orang yang tinggal serumah dan memiliki kontak erat dengan pasien TB karena kelompok tersebut memiliki risiko lebih tinggi terkena TB. Selain itu, tenaga kesehatan dapat memprioritaskan orang dengan faktor risiko tertentu, seperti diabetes, sesuai kondisi dan kebijakan skrining setempat. Namun, tenaga kesehatan tetap menentukan jenis pemeriksaan sesuai dengan kondisi dan faktor risiko setiap orang.
Oleh karena itu, masyarakat perlu mengenali tanda-tanda TB, seperti batuk berkepanjangan, demam, berkeringat pada malam hari, penurunan berat badan tanpa penyebab yang jelas, atau keluhan lain yang mengarah ke TB. Gejala tersebut tidak otomatis berarti seseorang terkena TB karena penyakit lain juga dapat menimbulkan gejala serupa. Karena itu, tenaga kesehatan tetap perlu melakukan pemeriksaan untuk memastikan diagnosis.
Pasien yang telah menerima diagnosis TB perlu mengikuti regimen pengobatan dan menjalani pemantauan dari tenaga kesehatan. WHO menekankan bahwa pengobatan dini membantu menghentikan penularan dan meningkatkan peluang pemulihan. Dukungan keluarga dapat membantu pasien tetap menjalani pengobatan sesuai anjuran.
Antusiasme Warga dan Peran Lintas Sektor pada Kegiatan Skrining Sistematis Tuberkulosis (SSTB)

Sumber Foto: Dokumentasi Kegiatan Skrining Sistematis Tuberkulosis (SSTB) di Madrasah Al Falah, Kabupaten Tasikmalaya (10/8/2026).
Salah satu hal menarik dalam kegiatan ini adalah tingginya antusiasme masyarakat. Partisipasi Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Sukarame turut memberikan dukungan. Kapolsek Sukarame hadir sebagai pemimpin kegiatan di tingkat lintas sektor dan ikut menggiring serta memotivasi masyarakat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan.
Keterlibatan lintas sektor menjadi penting karena penanggulangan TB tidak dapat hanya mengandalkan fasilitas kesehatan. Kementerian Kesehatan pada 2026 juga menekankan perlunya deteksi dini hingga tingkat rumah tangga dan pemeriksaan kontak erat untuk mempercepat penemuan kasus serta memutus mata rantai penularan.
Harapan: Masyarakat Tidak Lagi Menunggu Sakit, Selalu Mengikuti Kegiatan Skrining Sistematis Tuberkulosis (SSTB)
Kegiatan SSTB di Sukarame diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya deteksi dini TB. Karena itu, tenaga kesehatan mengajak masyarakat segera memeriksakan diri ketika mengalami gejala atau termasuk kelompok berisiko agar tenaga kesehatan dapat menangani kasus lebih cepat.
Bagi pasien yang sedang menjalani pengobatan, kepatuhan minum obat sampai tuntas menjadi bagian penting dari pengendalian TB. Keluarga juga perlu mendukung pencegahan penularan dengan menerapkan etika batuk, menggunakan masker sesuai anjuran tenaga kesehatan, serta mengikuti penilaian tenaga kesehatan mengenai TPT bagi kontak yang memenuhi kriteria.
Ke depan, Puskesmas, masyarakat, pemerintah setempat, dan unsur lintas sektor perlu memperkuat kolaborasi dalam penanggulangan TB. Dengan deteksi dini, pengobatan yang tepat, kepatuhan menjalani terapi, serta pencegahan pada kelompok berisiko, berbagai pihak dapat mempercepat upaya penanggulangan TB dan menjaganya tetap berkelanjutan.
Jangan menunggu gejala semakin berat. Jika mengalami gejala yang mengarah ke TB atau memiliki kontak erat dengan pasien TB, segera konsultasikan kondisi kepada tenaga kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan yang sesuai.
Simak Artikel Reportase dan Edukasi lainnya dari author pada link berikut ini: Artikel Edukasi dan Reportase Kesehatan Populer.
FAQ
1. Apa itu Skrining Sistematis Tuberkulosis (SSTB)?
Skrining Sistematis Tuberkulosis (SSTB) merupakan upaya proaktif yang dilakukan tenaga kesehatan untuk menemukan TB sejak dini pada kelompok berisiko maupun masyarakat umum. Melalui SSTB, tenaga kesehatan mengidentifikasi orang yang memiliki kemungkinan TB, melakukan penilaian awal, dan mengarahkan mereka untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Dengan cara ini, tenaga kesehatan dapat menemukan kasus lebih cepat dan membantu memutus penularan TB di masyarakat.
2. Siapa yang perlu melakukan skrining TB?
Kelompok yang perlu mendapat perhatian antara lain kontak serumah dan kontak erat dengan pasien TB, serta kelompok berisiko atau orang yang memiliki gejala yang mengarah ke TB. (Kementerian Kesehatan RI, 2025)
3. Apa saja gejala TB?
Gejala tersebut dapat meliputi batuk berkepanjangan, demam, berkeringat pada malam hari, dan penurunan berat badan yang tidak diketahui penyebabnya. Namun, gejala tersebut belum cukup untuk memastikan diagnosis sehingga tenaga kesehatan tetap perlu melakukan pemeriksaan untuk memastikan kondisi pasien (WHO, 2026).
4. Apakah TB bisa disembuhkan?
TB dapat diobati dengan tuntas jika pasien mengikuti pengobatan sesuai anjuran tenaga kesehatan. Karena itu, pasien perlu menjalani pengobatan secara teratur dan tidak menghentikan konsumsi obat tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan tenaga kesehatan. Kepatuhan terhadap pengobatan merupakan bagian penting dalam keberhasilan penanganan TB. (WHO, 2026)
Referensi
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025, 31 Januari). Kenali Kelompok yang Berisiko Tinggi Tertular TB. Kementerian Kesehatan RI.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026, 10 Maret). Wamenkes Benny Dorong Deteksi Dini TB ke Tingkat Rumah: 100 Persen Kontak Erat Wajib Diperiksa. Kementerian Kesehatan RI.
- World Health Organization. (2024, 9 September). WHO Consolidated Guidelines on Tuberculosis Module 1: Prevention – Tuberculosis Preventive Treatment, Second Edition. WHO.
- World Health Organization. (2026, 27 Maret). Membangun Strategi Tuberkulosis Indonesia dengan Bukti dan Kemitraan. WHO Indonesia.
- World Health Organization. (2025). Global Tuberculosis Report 2025: TB Prevention and Screening. WHO.
Artikel ini sudah direview oleh:
Citra Pertiwi Putri, S.KM.
Tenaga Promkes Puskesmas Sukarame
Puskesmas Sukarame:
Jl. Ds. Sukarame, Kec. Sukarame, Tasikmalaya, Jawa Barat, Indonesia
No. Telp: 0895635979706
Author Profile

- Ayu Siti Munigar, S.Kep., adalah seorang praktisi kesehatan masyarakat, penulis konten kesehatan, dan pegiat pemberdayaan masyarakat yang memiliki komitmen dalam meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak melalui pendekatan berbasis data, edukasi, serta transformasi digital.
Latest entries
Edukasi KesehatanAgustus 15, 2026Batuk Lama, Kapan Harus Waspada TB/TBC (Tuberkulosis)?
Berita KesehatanAgustus 13, 2026Skrining Sistematis Tuberkulosis (SSTB) Deteksi Dini dan Cegah TB, Reportase UPTD Puskesmas Sukarame
Edukasi KesehatanAgustus 8, 2026Mengapa Bayi Harus Ditimbang Setiap Bulan di Posyandu?
Berita KesehatanAgustus 7, 2026Kelas Ibu Balita Perkuat Peran Orang Tua, Reportase UPTD Puskesmas Sukarame



