Mengapa Bayi Harus Ditimbang Setiap Bulan di Posyandu?

Timbangan di Posyandu mungkin hanya menunjukkan suatu angka, tetapi angka tersebut dapat menjadi petunjuk penting bagi orang tua untuk memahami pertumbuhan anak. Lantas, mengapa bayi perlu ditimbang secara rutin, apa yang sebenarnya diperiksa, dan bagaimana Posyandu membantu keluarga mengenali masalah pertumbuhan sejak dini? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini

Jangan menunggu berat badan anak bermasalah. Kenali manfaat pemantauan pertumbuhan sejak dini.

Posyandu Bukan Sekadar Tempat Menimbang

Menimbang bayi di Posyandu bukan sekadar mencatat angka berat badan. Bagi orang tua, kunjungan rutin menjadi kesempatan untuk mengetahui apakah pertumbuhan anak berjalan sesuai usianya. Sayangnya, Kementerian Kesehatan RI mencatat bahwa kunjungan ke Posyandu cenderung berkurang ketika anak mulai berusia satu tahun atau setelah mendapatkan imunisasi. Padahal, pemantauan pertumbuhan tetap penting hingga anak berusia lima tahun (Kementerian Kesehatan RI, 2024).

Padahal, perubahan berat dan panjang atau tinggi badan dapat memberikan gambaran mengenai kondisi pertumbuhan anak. WHO menggunakan pengukuran berat badan, panjang atau tinggi badan, serta indikator pertumbuhan lainnya untuk menilai apakah anak tumbuh sesuai standar. Pemantauan tersebut juga membantu tenaga kesehatan mengenali anak yang membutuhkan perhatian lebih lanjut (WHO, 2025). 

Dari Timbangan, Orang Tua Bisa Melihat Pertumbuhan Anak

Anak yang sehat umumnya mengalami pertambahan berat dan panjang atau tinggi badan seiring bertambahnya usia. Karena itu, orang tua perlu memantau perubahan tersebut secara berkala, bukan hanya ketika anak terlihat sakit.

Kementerian Kesehatan RI menganjurkan penimbangan dan pengukuran bayi serta balita secara rutin di Posyandu. Petugas dapat mencatat hasil pengukuran pada kartu atau sistem pemantauan pertumbuhan, kemudian menilai perkembangannya berdasarkan standar pertumbuhan anak (Kementerian Kesehatan RI, 2024).

Jika hasil pemantauan menunjukkan pertumbuhan yang tidak sesuai harapan, orang tua dapat berkonsultasi lebih awal dengan kader atau tenaga kesehatan. Dengan demikian, keluarga tidak perlu menunggu sampai masalah gizi menjadi lebih berat untuk mencari bantuan.

Mengapa Berat dan Tinggi Badan Sama-Sama Penting?

Berat badan bukan satu-satunya ukuran yang perlu diperhatikan. Tenaga kesehatan juga mengukur panjang badan pada bayi atau tinggi badan pada anak sesuai usia dan kondisi pengukuran.

WHO menyediakan standar pertumbuhan anak usia 0–5 tahun yang mencakup indikator seperti panjang atau tinggi badan menurut umur, berat badan menurut umur, serta berat badan menurut panjang atau tinggi badan. Pengukuran tersebut membantu tenaga kesehatan menilai pertumbuhan anak secara lebih menyeluruh (WHO, 2025). 

Karena itu, orang tua sebaiknya tidak hanya melihat apakah anak terlihat gemuk atau kurus. Hasil pengukuran perlu dinilai berdasarkan usia dan standar pertumbuhan yang tepat.

Stunting Tidak Terjadi dalam Semalam

Pemantauan pertumbuhan dapat membantu menemukan tanda gangguan pertumbuhan lebih awal. Namun, penimbangan saja tentu tidak cukup untuk mencegah stunting. Stunting merupakan gangguan pertumbuhan yang terjadi ketika panjang atau tinggi badan anak berada di bawah standar pertumbuhan sesuai usianya. Kondisi ini umumnya berkaitan dengan kekurangan gizi kronis atau berulang, infeksi, serta faktor kesehatan dan pengasuhan yang berlangsung dalam kehidupan awal anak (WHO, 2025)

Orang tua juga perlu memenuhi kebutuhan gizi anak melalui pola pemberian makan yang tepat. WHO merekomendasikan ASI Eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan. Setelah usia enam bulan, anak mulai membutuhkan Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang cukup, aman, beragam, dan sesuai tahap perkembangannya, sementara pemberian ASI tetap dilanjutkan hingga usia dua tahun atau lebih (WHO, 2023–2024). 

Selain itu, imunisasi sesuai jadwal membantu melindungi anak dari berbagai penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin. WHO menyebut imunisasi sebagai salah satu intervensi kesehatan masyarakat yang paling berhasil dan menyelamatkan jutaan jiwa setiap tahun (WHO, 2025).

Ayah Juga Punya Peran Penting

Kebiasaan datang ke Posyandu akan semakin kuat jika seluruh keluarga ikut mendukung. Ayah dapat membantu mengingat jadwal Posyandu, mengantar ibu dan anak, berdiskusi mengenai hasil pemantauan, serta mendukung pemberian ASI dan pola makan anak.

Penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan ayah dalam edukasi dan dukungan menyusui dapat memberikan dampak positif terhadap keberhasilan pemberian ASI. Sebuah tinjauan sistematis pada 2025 menemukan bahwa sebagian besar penelitian yang menilai keterlibatan ayah menunjukkan hubungan positif dengan peningkatan pemberian ASI Eksklusif (Hosking et al., 2025). 

Artinya, menjaga kesehatan anak bukan hanya tugas ibu. Ayah dan anggota keluarga lainnya dapat menjadi bagian penting dalam membangun kebiasaan sehat sejak dini. Agar kunjungan Posyandu tidak terlewat, orang tua dapat mencatat jadwal Posyandu di kalender atau ponsel. Siapkan juga buku KIA dan catatan pertanyaan yang ingin disampaikan kepada kader atau tenaga kesehatan.

Rutin ke Posyandu, Banyak Manfaatnya!

Jangan menunggu anak terlihat sakit atau mengalami masalah berat untuk datang ke Posyandu. Kunjungan rutin memberikan kesempatan kepada keluarga untuk memantau pertumbuhan, mendapatkan edukasi, serta berkonsultasi apabila menemukan perubahan pada kondisi anak.

Menimbang bayi di Posyandu setiap bulan merupakan langkah sederhana untuk memantau pertumbuhan anak secara berkala. Namun, upaya menjaga tumbuh kembang anak membutuhkan lebih dari sekadar penimbangan. ASI Eksklusif, MPASI yang tepat, imunisasi sesuai jadwal, pola asuh yang baik, dan dukungan seluruh keluarga perlu berjalan bersama.

Jadi, sudahkah Anda mencatat jadwal Posyandu bulan ini? Yuk, ajak ayah, ibu, dan keluarga untuk rutin datang ke Posyandu demi memastikan si kecil tumbuh sehat dan optimal.

Simak artikel reportase lainnya untuk mengetahui implementasi edukasi menimbang di Posyandu penting untuk tumbuh kembang anak yang dikemas dalam Kelas Ibu Bayi Balita di Puskesmas Sukarame.

FAQ

1. Mengapa bayi harus ditimbang setiap bulan di Posyandu?

Penimbangan rutin membantu orang tua dan tenaga kesehatan memantau perubahan berat badan anak sesuai usianya serta mengenali kemungkinan gangguan pertumbuhan lebih awal.

2. Apa manfaat menimbang bayi di Posyandu?

Penimbangan membantu memantau pertumbuhan anak dan menjadi kesempatan bagi orang tua untuk memperoleh edukasi serta berkonsultasi dengan kader atau tenaga kesehatan jika terdapat masalah.

3. Apakah menimbang bayi di Posyandu bisa mencegah stunting?

Penimbangan tidak secara langsung mencegah stunting. Namun, pemantauan pertumbuhan membantu menemukan gangguan pertumbuhan lebih awal sehingga keluarga dan tenaga kesehatan dapat menentukan langkah yang diperlukan.

4. Apakah bayi harus diukur selain ditimbang?

Ya. Tenaga kesehatan dapat mengukur panjang badan atau tinggi badan sesuai usia anak. Hasil pengukuran tersebut membantu memberikan gambaran pertumbuhan anak secara lebih lengkap.

5. Apa yang harus dibawa saat datang ke Posyandu?

Orang tua sebaiknya membawa Buku KIA dan memastikan anak datang sesuai jadwal Posyandu. Orang tua juga dapat mencatat pertanyaan atau keluhan yang ingin dikonsultasikan kepada kader maupun tenaga kesehatan.

6. Apakah anak yang terlihat sehat tetap perlu datang ke Posyandu?

Ya. Anak yang terlihat sehat tetap perlu mengikuti pemantauan pertumbuhan secara rutin. Pemeriksaan berkala membantu keluarga mengetahui perkembangan anak berdasarkan hasil pengukuran, bukan hanya berdasarkan penampilan fisik.

7. Apa hubungan Posyandu dengan pencegahan stunting?

Posyandu mendukung upaya pencegahan stunting melalui pemantauan pertumbuhan, edukasi gizi, pemberian informasi tentang ASI dan MPASI, imunisasi, serta rujukan atau tindak lanjut ketika ditemukan masalah.

8. Apa peran ayah dalam kegiatan Posyandu?

Ayah dapat membantu mengingat jadwal Posyandu, mengantar anak, mendukung pemberian ASI dan MPASI, mengikuti edukasi kesehatan, serta berdiskusi bersama ibu mengenai kebutuhan kesehatan dan tumbuh kembang anak.

Referensi

Hosking, T., Cassidy, S., & Louie, J. C. Y. (2025). Impact of paternal breastfeeding interventions on exclusive breastfeeding rates and attitudes of fathers towards breastfeeding: A systematic review. Current Nutrition Reports, 14(1), 6. (PubMed)

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Manfaat Penimbangan Balita di Posyandu untuk Cegah Stunting. Ayo Sehat Kementerian Kesehatan RI. (Ayo Sehat)

World Health Organization. (2023). Infant and young child feeding. WHO. (World Health Organization)

World Health Organization. (2023). WHO guideline for complementary feeding of infants and young children 6–23 months of age. WHO. (World Health Organization)

World Health Organization. (2025). Child growth standards. WHO. (World Health Organization)

World Health Organization. (2025). Global nutrition targets 2030: Stunting brief. Geneva: World Health Organization. (World Health Organization)

World Health Organization. (2025). Immunization coverage. WHO. (World Health Organization)

Artikel ini sudah direview oleh:
Citra Pertiwi Putri, S.KM.
Tenaga Promkes Puskesmas Sukarame


Puskesmas Sukarame:
Jl. Ds. Sukarame, Kec. Sukarame, Tasikmalaya, Jawa Barat, Indonesia
No. Telp: 0895635979706

Author Profile

Ayu Siti Munigar
Ayu Siti Munigar
Ayu Siti Munigar, S.Kep., adalah seorang praktisi kesehatan masyarakat, penulis konten kesehatan, dan pegiat pemberdayaan masyarakat yang memiliki komitmen dalam meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak melalui pendekatan berbasis data, edukasi, serta transformasi digital.
Yuk Share Postingan Ini:
Ayu Siti Munigar
Ayu Siti Munigar

Ayu Siti Munigar, S.Kep., adalah seorang praktisi kesehatan masyarakat, penulis konten kesehatan, dan pegiat pemberdayaan masyarakat yang memiliki komitmen dalam meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak melalui pendekatan berbasis data, edukasi, serta transformasi digital.

Articles: 3

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *