Tinggal serumah dengan orang yang sedang mengalami TBC membuat keluarga perlu lebih waspada. Bukan berarti setiap anggota keluarga pasti akan tertular atau sakit TBC, tetapi kontak serumah memang termasuk kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi sehingga perlu mendapat perhatian dan, bila dianjurkan petugas kesehatan, menjalani skrining.
TBC menular terutama melalui udara. Ketika seseorang dengan TBC yang menular batuk, bersin, atau berbicara, kuman dapat berada di udara dan terhirup orang lain. Risiko penularan lebih perlu diperhatikan pada ruang tertutup dengan sirkulasi udara yang kurang baik. Karena itu, pencegahan di rumah bukan berarti menjauhi atau mengucilkan anggota keluarga yang sakit, melainkan mengurangi paparan sambil memastikan pasien mendapatkan pengobatan yang tepat.
Siapa yang perlu lebih waspada?
Orang yang tinggal serumah atau sering melakukan kontak erat dengan pasien TBC termasuk kelompok beresiko atau kelompok yang perlu diperiksa. Anak-anak, terutama yang masih kecil, juga perlu mendapat perhatian karena lebih rentan mengalami penyakit TBC setelah terinfeksi.
Kementerian Kesehatan menganjurkan investigasi kontak untuk menemukan TBC lebih dini pada orang yang berinteraksi dengan pasien. Kontak yang bergejala dapat diarahkan untuk pemeriksaan diagnosis, sedangkan kontak yang tidak bergejala dapat dinilai untuk kemungkinan mendapatkan Terapi Pencegahan TBC (TPT) sesuai hasil penilaian tenaga kesehatan.
Langkah Pencegahan yang bisa dilakukan

Mencegah penularan TBC di rumah tidak harus dilakukan dengan cara yang rumit. Ada beberapa kebiasaan sederhana yang bisa dilakukan bersama untuk membantu mengurangi risiko penularan, terutama jika di rumah ada anggota keluarga yang sedang menjalani pengobatan TBC. Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan:
1. Pastikan sirkulasi udara di rumah baik
Salah satu langkah sederhana yang bisa dilakukan keluarga adalah memperbaiki pertukaran udara. Bukalah jendela atau pintu secara rutin agar udara segar masuk dan udara di dalam rumah tidak terus terperangkap.
Ventilasi yang baik membantu mengurangi konsentrasi kuman di udara. Jika memungkinkan, manfaatkan ventilasi silang sehingga udara dapat mengalir dari satu sisi rumah ke sisi lainnya. Langkah ini terutama penting pada ruangan tempat anggota keluarga banyak menghabiskan waktu.
2. Terapkan etika batuk dan gunakan masker sesuai anjuran
Saat batuk atau bersin, tutup mulut dan hidung menggunakan tisu atau bagian dalam siku. Hindari batuk langsung ke telapak tangan. Tisu yang sudah digunakan perlu dibuang dengan benar.
Pasien TBC juga dapat dianjurkan menggunakan masker, terutama pada kondisi atau tempat yang berisiko menularkan. Penggunaan masker sebaiknya mengikuti arahan petugas kesehatan, terutama pada masa awal pengobatan atau ketika pasien masih dinilai berpotensi menularkan.
3. Jangan meludah atau membuang dahak sembarangan
Dahak tidak sebaiknya dibuang sembarangan. Hal ini merupakan bagian dari kebersihan pernapasan yang perlu diperhatikan selama pengobatan TBC. Keluarga dapat mengikuti petunjuk petugas kesehatan mengenai cara membuang dahak dengan aman.
4. Pastikan pasien menjalani pengobatan sesuai anjuran
Pengobatan TBC merupakan bagian penting dari upaya memutus penularan. Pasien perlu minum obat secara teratur dan menyelesaikan pengobatan sesuai anjuran tenaga kesehatan. Jangan menghentikan obat sendiri hanya karena keluhan sudah berkurang. Jika ada efek samping, kesulitan minum obat, atau masalah lain selama pengobatan, sampaikan kepada petugas kesehatan.
5. Ajak kontak serumah melakukan pemeriksaan
Keluarga yang tinggal serumah dengan pasien TBC tidak perlu menunggu sampai muncul keluhan untuk berkonsultasi. Kontak serumah dapat menjalani skrining atau pemeriksaan sesuai penilaian tenaga kesehatan. Jika ditemukan gejala yang mengarah ke TBC, pemeriksaan lanjutan dapat dilakukan. Jika seseorang tidak mengalami TBC tetapi memenuhi kriteria pencegahan, tenaga kesehatan dapat mempertimbangkan pemberian TPT.
Bagaimana dengan alat makan dan barang di rumah?

Keluarga sering khawatir harus memisahkan semua alat makan, gelas, atau perabot rumah tangga. Namun, TBC terutama menular melalui udara, bukan karena berbagi alat makan yang sudah dicuci bersih.
Karena itu, perhatian utama di rumah sebaiknya diarahkan pada ventilasi, etika batuk, penggunaan masker sesuai anjuran, kepatuhan pengobatan, serta pemeriksaan bagi kontak yang berisiko. Hindari tindakan yang membuat pasien merasa dikucilkan.
Kenali gejala dan jangan menunggu terlalu lama
Batuk yang berlangsung lama, demam, keringat malam, badan lemas, nafsu makan menurun, atau berat badan turun tanpa sebab yang jelas perlu diperhatikan. Gejala tersebut tidak otomatis berarti TBC, tetapi sebaiknya dikonsultasikan ke fasilitas pelayanan kesehatan, terutama bila ada riwayat kontak dengan pasien TBC.
WHO menganjurkan orang yang memiliki risiko lebih tinggi, termasuk kontak serumah dengan pasien TBC, untuk menjalani skrining (pemeriksaan). Diagnosis dan pengobatan lebih awal membantu menghentikan penularan dan memperbaiki peluang pemulihan.
TBC bukan alasan untuk menjauhi keluarga
Pencegahan penularan tetap perlu dilakukan, tetapi pasien TBC juga membutuhkan dukungan keluarga. Hindari stigma, ejekan, atau membuat pasien merasa harus dijauhi. Keluarga dapat membantu dengan mengingatkan jadwal obat, mendukung pemeriksaan, menjaga sirkulasi udara rumah, dan mengikuti anjuran petugas kesehatan. Dengan cara ini, perlindungan keluarga dan dukungan terhadap pasien dapat berjalan bersama. Yang tidak kalah penting, anggota keluarga yang tinggal serumah atau melakukan kontak erat dengan pasien sebaiknya tidak ragu untuk memeriksakan diri. Bila diperlukan, petugas kesehatan dapat menentukan apakah perlu pemeriksaan lanjutan atau Terapi Pencegahan TBC.
Sumber
- Kementerian Kesehatan RI. (2026). Media KIE: Mitos Penularan TB
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026). Kemenkes Lacak 100 Persen Kontak Erat Pasien, Percepat Eliminasi TB pada 2030.
- Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, Kementerian Kesehatan RI. (2025). Waspada Tuberkulosis! Kenali Cara Mencegah dan Menghindari Penularannya.
- World Health Organization. (2022). Tuberculosis – Fact sheet
Artikel ini telah di review oleh:
Yuni Yuniar, S.KM
Programer Promkes UPTD Puskesmas Jatiwaras
UPTD Puskesmas Jatiwaras
Alamat: Jl. Raya Papayan-Cikatomas Desa Jatiwaras Tlp (+62)853-2068-3553, Kabupaten Tasikmalaya Kecamatan Jatiwaras, Jawa Barat 46185
Author Profile

- Mahasiswa jurusan Kesehatan Masyarakat peminatan K3, angkatan 2024. Aktif mengikuti organisasi dan volunteer kegiatan sosial & kemanusiaan. Tertarik menambah skill seperti content writing, SEO, dan Desain grafis.
Latest entries
Edukasi KesehatanAgustus 17, 2026Waspada! 9 Tanda Infeksi Menular Seksual pada Wanita
Edukasi KesehatanAgustus 16, 2026Cegah Penularan TBC di Rumah: Langkah Sederhana untuk Keluarga
Berita KesehatanAgustus 15, 2026Pemberian Tablet Tambah Darah Cegah Anemia Remaja Putri Jatiwaras
Berita KesehatanAgustus 15, 2026KUA Bersama Puskesmas Bina Kesehatan Calon Pengantin Jatiwaras



