Gigi Berlubang pada anak: Kenali penyebab serta penanganannya sebelum periksa

Kenali penyebab gigi berlubang pada anak dari kebiasaan anak, tanda yang perlu diperhatikan, dan penanganan sederhana sebelum periksa.

Gigi Anak Berlubang, Kok Bisa?

Gigi berlubang atau karies gigi bukan masalah yang muncul begitu saja. Prosesnya berlangsung bertahap ketika gigi berulang kali terkena asam yang dihasilkan bakteri dari gula dalam makanan dan minuman. Jika proses ini terus terjadi, mineral gigi dapat hilang dan akhirnya terbentuk lubang.

Bagi orang tua yang memiliki anak usia SD, masalah ini cukup mudah ditemui dalam keseharian. Anak mulai punya pilihan makanan sendiri, sering membeli jajanan di sekolah, dan mungkin sudah merasa bisa mengurus giginya tanpa pantauan dari orang tua. Di sisi lain, sebenarnya kebiasaan membersihkan gigi dan pilihan makanan masih perlu diarahkan.

Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa karies pada anak dapat mengenai gigi susu maupun gigi permanen. Meskipun gigi susu nantinya akan tanggal, jangan anggap sepele dan tetap perlu diperhatikan. Karena, ketika gigi berlubang akan menimbulkan nyeri yang membuat anak menjadi tidak nyaman saat makan, tidur, belajar, atau bermain. dan gigi susu tetap penting karena membantu anak mengunyah dan berbicara serta berperan dalam mempertahankan ruang bagi gigi permanen.

Apa kebiasaan yang membuat Anak Lebih Berisiko?

Apa kebiasaan yang membuat Anak Lebih Berisiko?

Salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman manis. Permen, cokelat, kue, minuman berpemanis, serta camilan tertentu dapat menjadi sumber gula. Frekuensi paparan gula juga penting karena bakteri di plak dapat mengubah gula menjadi asam yang menyerang permukaan gigi.

Selain pola makan, kebersihan gigi dan paparan fluoride juga berperan. Penelitian dan konsensus internasional menunjukkan bahwa menyikat gigi setiap hari dengan pasta gigi berfluoride serta mengurangi paparan gula merupakan bagian penting dalam mengendalikan proses karies pada anak.

Perhatikan tanda – tanda yang dapat muncul apabila anak mengalami gigi berlubang antara lain bercak putih, cokelat, atau hitam pada gigi, lubang yang terlihat, nyeri ketika mengunyah atau minum dingin maupun manis, bau mulut, serta gusi yang bengkak atau kemerahan di sekitar gigi yang bermasalah.

Tidak semua tanda tersebut selalu berarti kondisi gigi sudah parah. Namun, perubahan pada gigi atau keluhan yang berulang sebaiknya tidak diabaikan karena pemeriksaan langsung diperlukan untuk mengetahui kondisi sebenarnya.

Apa yang Harus Dilakukan Jika Gigi Anak Sudah Berlubang?

Kalau lubang sudah terlihat, langkah pertama adalah membawa anak untuk diperiksa oleh dokter gigi agar tingkat kerusakan dapat dinilai dan pilihan perawatannya ditentukan. Namun, adapun langkah yang bisa diterapkan sebelum periksa ke dokter. Menurut kementerian kesehatan yaitu tetap menjaga kebersihan gigi dan menggunakan air hangat ketika menyikat jika gigi terasa ngilu. Untuk obat pereda nyeri, penggunaannya perlu mengikuti aturan pakai dan mempertimbangkan usia serta kondisi anak; jangan memberikan obat secara sembarangan. Dan perlu diingat, langkah di rumah hanya membantu menjaga kebersihan atau meredakan keluhan sementara.

Jika keadaan belum kunjung membaik sebaiknya segera lakukan pemeriksaan ke dokter untuk  mendapat penanganan tergantung pada kondisi gigi. Pada kerusakan tertentu, dokter gigi dapat melakukan tindakan dengan fluoride. Jika sudah terbentuk lubang, penambalan dapat menjadi salah satu pilihan. Pada kerusakan yang lebih dalam, mungkin diperlukan perawatan lanjutan. Pedoman klinis dan konsensus internasional menekankan bahwa pengelolaan karies pada anak perlu disesuaikan dengan kedalaman kerusakan, aktivitas karies, kondisi gigi, serta keadaan anak. Jadi, jangan langsung berasumsi bahwa semua gigi berlubang pasti harus dicabut. Dokter gigi akan menilai apakah gigi masih dapat dipertahankan dan tindakan apa yang paling sesuai..

Jangan Menunggu Sampai Ada Keluhan

Jangan Menunggu Sampai Ada Keluhan

Anak usia SD sedang belajar mandiri. Mereka mulai memilih jajanan sendiri, menyikat gigi sendiri, dan terkadang merasa tidak perlu diingatkan. Hal demikian itu wajar. Namun, pendampingan orang tua masih penting. Daripada hanya bertanya, “Sudah sikat gigi belum?”, Orang tua bisa ikut membangun rutinitas anak dan inisiatif membawa anak ke dokter untuk periksa gigi.

Menurut American Academy of Pediatric Dentistry (AAPD), pemeriksaan gigi pertama anak sebaiknya dilakukan saat gigi susu pertama mulai tumbuh, sekitar usia 1 tahun, atau paling lambat enam bulan setelah gigi pertama muncul. Kunjungan ini bukan hanya untuk melihat kondisi gigi dan mulut, tetapi juga menjadi kesempatan bagi orang tua untuk berdiskusi mengenai kebiasaan sehari-hari dalam merawat gigi anak. Serta membiasakan anak dengan kebiasaan baik, misalnya menyikat gigi bersama sebelum tidur dan berada di depan kaca mengajak anak memperhatikan kondisi giginya. Saat memilih jajanan, anak juga bisa diajak memahami mengapa makanan dan minuman manis sebaiknya tidak terlalu sering dikonsumsi. Kalau suatu hari terlihat bercak, lubang, atau anak mulai mengeluh sakit, tidak perlu panik dan tidak perlu menyalahkan anak. Anggap itu sebagai tanda bahwa giginya membutuhkan perhatian lebih. Dengan begitu, menjaga kesehatan gigi bisa dimulai sebelum muncul masalah, karena mencegah tentu lebih baik daripada mengobati.

Sumber:

Kementerian Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan (2025). Ketahui Apa itu Karies Gigi pada Anak.

Kementerian Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan (2023). Deteksi Dini dan Proteksi Terhadap Karies Gigi Anak.

Kementerian Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan (2022). Penyebab dan Pengobatan Gigi Berlubang.

Schwendicke F, et al (2020). How to Intervene in the Caries Process in Children: A Joint ORCA and EFCD Expert Delphi Consensus Statement. Caries Research.

Wright JT, et al (2014). Fluoride toothpaste efficacy and safety in children younger than 6 years: a systematic review. Journal of the American Dental Association

Artikel ini telah di review oleh:

Yuni Yuniar, S.KM

Programer Promkes UPTD Puskesmas Jatiwaras

UPTD Puskesmas Jatiwaras

Alamat: Jl. Raya Papayan-Cikatomas Desa Jatiwaras Tlp (+62)853-2068-3553, Kabupaten Tasikmalaya Kecamatan Jatiwaras, Jawa Barat 46185

Author Profile

Fadillatul Azzka
Fadillatul Azzka
Mahasiswa jurusan Kesehatan Masyarakat peminatan K3, angkatan 2024. Aktif mengikuti organisasi dan volunteer kegiatan sosial & kemanusiaan. Tertarik menambah skill seperti content writing, SEO, dan Desain grafis.
Yuk Share Postingan Ini:
Fadillatul Azzka
Fadillatul Azzka

Mahasiswa jurusan Kesehatan Masyarakat peminatan K3, angkatan 2024. Aktif mengikuti organisasi dan volunteer kegiatan sosial & kemanusiaan. Tertarik menambah skill seperti content writing, SEO, dan Desain grafis.

Articles: 15

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *