PHBS atau Perilaku Hidup Bersih dan Sehat adalah berbagai perilaku kesehatan yang dilakukan atas kesadaran diri sehingga seseorang, keluarga, dan masyarakat dapat menjaga kesehatannya serta berperan aktif dalam lingkungan yang sehat. Kementerian Kesehatan memasukkan berbagai kebiasaan seperti menggunakan air bersih, mencuci tangan dengan sabun, menggunakan jamban sehat, mengonsumsi buah dan sayur, melakukan aktivitas fisik, serta tidak merokok di dalam rumah sebagai bagian dari perilaku hidup sehat.
Bagi keluarga yang memiliki balita, PHBS bisa dimulai dari rumah.

Misalnya, biasakan anak mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir pada waktu-waktu yang penting. Orang tua juga dapat memberikan contoh secara langsung. Anak biasanya lebih mudah belajar dari apa yang dilihat dan dilakukan bersama dibandingkan hanya mendengar nasihat.
Kebersihan lingkungan juga tidak kalah penting. Air yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari perlu dijaga kebersihannya. Begitu pula dengan penggunaan jamban dan pengelolaan lingkungan rumah.
Kebiasaan sederhana tersebut bukan hanya soal rumah terlihat bersih. Perilaku hidup bersih dan sehat juga merupakan bagian dari upaya mencegah penularan berbagai penyakit.
Di dalam keluarga, orang tua juga dapat mulai membiasakan anak untuk membuang sampah pada tempatnya, menjaga kebersihan makanan, serta menghindari paparan asap rokok di dalam rumah.
Jadi, PHBS bukan sekadar teori. PHBS adalah kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus sampai menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Gizi Balita Dimulai dari Makanan yang Beragam
Selain kebersihan, asupan gizi merupakan bagian penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak.
Balita membutuhkan makanan yang cukup dan beragam agar kebutuhan zat gizi tubuhnya dapat terpenuhi. Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa tidak ada satu jenis makanan yang dapat memenuhi seluruh kebutuhan zat gizi tubuh. Karena itu, pola makan perlu dibuat beragam agar berbagai zat gizi, baik makronutrien maupun mikronutrien, dapat terpenuhi.
Bagi anak yang sudah mulai mendapatkan makanan pendamping, kualitas makanan menjadi hal yang perlu diperhatikan.
WHO merekomendasikan pemberian makanan pendamping ASI mulai sekitar usia 6 bulan, ketika kebutuhan energi dan zat gizi bayi mulai melebihi yang dapat dipenuhi hanya dari ASI. Makanan pendamping tersebut perlu diberikan secara tepat waktu, cukup kandungan gizinya, aman dalam pengolahan, serta diberikan dengan memperhatikan tanda lapar dan kenyang anak.
Artinya, bukan hanya soal anak mau makan atau tidak. Orang tua juga perlu memperhatikan apa yang dimakan, bagaimana makanan disiapkan, dan bagaimana cara memberikannya.
Menu sehari-hari dapat dibuat dengan bahan makanan yang mudah ditemukan di sekitar rumah. Prinsipnya adalah memberikan makanan yang beragam dan sesuai kebutuhan anak.
Protein juga menjadi bagian penting dari makanan anak. Kementerian Kesehatan dalam materi edukasi gizi balita menekankan pentingnya makanan bergizi, termasuk makanan yang kaya protein hewani, serta pemberian MP-ASI sesuai usia.
Yang tidak kalah penting adalah keamanan makanan. Makanan perlu disiapkan dan disimpan dengan cara yang higienis. WHO juga menekankan pentingnya kebersihan tangan dan peralatan ketika menyiapkan serta memberikan makanan kepada anak.
Jangan Lupa Pantau Pertumbuhan Balita

Kadang orang tua merasa anak sehat karena anak terlihat aktif dan tidak sedang sakit. Itu tentu hal yang baik, tetapi pertumbuhan anak tetap perlu dipantau secara berkala.
Pemantauan pertumbuhan membantu keluarga mengetahui apakah pertumbuhan anak berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Kementerian Kesehatan memasukkan penimbangan bayi dan balita secara berkala sebagai salah satu praktik penting dalam PHBS rumah tangga. Penimbangan juga dapat membantu mendeteksi lebih dini masalah pertumbuhan atau masalah gizi.
Karena itu, Posyandu dapat dimanfaatkan sebagai salah satu tempat untuk memantau pertumbuhan anak.
Orang tua tidak perlu menunggu sampai anak terlihat sangat kurus atau mengalami masalah kesehatan untuk mulai memperhatikan pertumbuhannya.
Lebih baik melakukan pemantauan secara rutin sehingga bila ditemukan masalah, keluarga dapat segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Pemantauan juga bukan hanya soal angka pada timbangan. Bila ada kekhawatiran mengenai berat badan, tinggi atau panjang badan, perkembangan, pola makan, maupun kondisi kesehatan anak, sebaiknya orang tua membicarakannya dengan tenaga kesehatan.
Mengenal PD3I dan Mengapa Imunisasi Penting
Selain PHBS dan gizi, perlindungan anak dari penyakit menular juga perlu menjadi perhatian.
PD3I atau Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi adalah kelompok penyakit yang dapat dicegah melalui imunisasi. Kementerian Kesehatan mencantumkan beberapa penyakit yang termasuk PD3I, antara lain hepatitis B, tuberkulosis, polio, difteri, pertusis, tetanus, campak, rubela, pneumonia, meningitis, serta beberapa penyakit lainnya.
Imunisasi bekerja dengan membantu membentuk kekebalan terhadap penyakit tertentu. Dengan mendapatkan imunisasi, seseorang memiliki perlindungan terhadap penyakit yang ditargetkan oleh vaksin tersebut.
Manfaat imunisasi juga tidak hanya dirasakan oleh anak yang mendapatkan vaksin. Bila cakupan imunisasi tinggi dan merata, kekebalan kelompok dapat membantu mengurangi penularan penyakit di masyarakat dan memberikan perlindungan tambahan bagi kelompok yang rentan.
Karena itu, jadwal imunisasi anak perlu diperhatikan. Bila ada imunisasi yang terlewat, orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mengetahui langkah selanjutnya.
Jangan hanya mengandalkan informasi dari media sosial atau pesan berantai. Untuk informasi mengenai jenis vaksin, jadwal imunisasi, kontraindikasi, maupun kondisi khusus anak, gunakan sumber resmi dan konsultasikan dengan tenaga kesehatan.
PHBS, Gizi, dan Imunisasi Saling Melengkapi

Kalau diperhatikan, PHBS, gizi, dan imunisasi sebenarnya saling berhubungan.
Anak membutuhkan lingkungan yang bersih agar risiko penyakit dapat dikurangi. Anak juga membutuhkan makanan yang cukup dan beragam untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangannya. Pada saat yang sama, imunisasi memberikan perlindungan terhadap berbagai penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin.
WHO menjelaskan bahwa pertumbuhan dan perkembangan anak yang optimal membutuhkan beberapa unsur yang saling mendukung, termasuk nutrisi yang cukup, kesehatan yang baik, imunisasi, perawatan ketika sakit, serta lingkungan dengan air dan sanitasi yang baik.
Jadi, tidak ada satu kebiasaan yang bisa berdiri sendiri.
Misalnya, makanan bergizi memang penting. Tetapi jika kebersihan makanan dan tangan tidak diperhatikan, anak tetap dapat berisiko mengalami penyakit infeksi. Begitu juga imunisasi tetap penting meskipun keluarga sudah menerapkan pola hidup bersih.
Pendekatan yang paling baik adalah menjalankannya bersama-sama sesuai kebutuhan anak dan keluarga.
Mulai dari Hal Kecil di Rumah
Edukasi kesehatan tidak harus selalu dilakukan dengan istilah yang sulit. Yang paling penting adalah informasi tersebut bisa dipahami dan dipraktikkan.
Orang tua bisa mulai dari beberapa langkah sederhana:
- Gunakan informasi kesehatan dari sumber yang terpercaya.
- Segera konsultasikan kepada tenaga kesehatan bila ada masalah pertumbuhan, makan, atau kesehatan anak.
- Hindarkan anak dari asap rokok di dalam rumah.
- Pastikan imunisasi anak sesuai jadwal dan konsultasikan jika ada yang terlewat.
- Pantau pertumbuhan anak secara berkala melalui Posyandu atau fasilitas kesehatan.
- Perhatikan makanan sumber protein dan zat gizi penting lainnya.
- Berikan makanan beragam dan sesuai usia anak.
- Jaga kebersihan makanan dan peralatan makan anak.
- Gunakan air bersih dan jamban sehat.
- Biasakan cuci tangan dengan sabun dan air mengalir.
Sehat Itu Dibangun Bersama

Menjaga kesehatan balita bukan hanya tanggung jawab ibu atau ayah. Seluruh anggota keluarga punya peran.
Kakek, nenek, kakak, pengasuh, kader Posyandu, dan lingkungan sekitar juga dapat ikut menciptakan kebiasaan yang mendukung kesehatan anak.
Anak pun belajar dari lingkungan terdekatnya. Ketika orang dewasa terbiasa mencuci tangan, menjaga kebersihan, makan makanan yang beragam, tidak merokok di dalam rumah, dan rutin memantau kesehatan, anak akan melihat contoh tersebut setiap hari.
Pada akhirnya, edukasi kesehatan bukan sekadar memberikan informasi. Tujuannya adalah membantu keluarga memahami apa yang bisa dilakukan dan merasa mampu melakukannya.
Mulailah dari hal sederhana: tangan yang bersih, makanan yang bergizi dan aman, pertumbuhan yang dipantau, serta imunisasi yang lengkap sesuai anjuran tenaga kesehatan.
Kebiasaan kecil yang dilakukan bersama dan terus-menerus dapat menjadi bagian penting dari upaya menjaga kesehatan anak dan keluarga.
Author Profile
Latest entries
Edukasi KesehatanSeptember 15, 2026Cek Kesehatan Gratis Anak Sekolah: Kenali Kesehatan Sejak Dini
Edukasi KesehatanSeptember 15, 2026Edukasi Kesehatan Balita: PHBS, Gizi Seimbang, dan Imunisasi Anak
Edukasi KesehatanSeptember 14, 2026Kunjungan Posyandu Leuwiloa Perkuat Edukasi Kesehatan Balita Desa Janggala
Berita KesehatanSeptember 14, 2026CKG Anak Sekolah di SDN Empang Dorong Hidup Sehat


