Pernah merasa mata tiba-tiba perih, merah, atau berair ketika keluar rumah saat kabut asap? Rasanya seperti ada debu yang masuk ke mata, padahal kita tidak sedang berada dekat lokasi kebakaran.
Keluhan seperti ini jangan langsung dianggap sepele. Kabut asap bukan hanya mengganggu jarak pandang dan membuat udara terasa tidak nyaman, tetapi juga dapat berdampak pada kesehatan mata.
Kabar baiknya, ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan untuk mengurangi paparan dan membantu meredakan iritasi. Namun, kita juga perlu tahu kapan mata perih masih bisa dipantau dan kapan harus diperiksa oleh tenaga kesehatan.
Yuk, kenali penyebab mata perih saat kabut asap, terutama jika kamu sering beraktivitas di luar ruangan atau harus tetap bekerja ketika kualitas udara sedang memburuk.
Mengapa kabut asap bisa membuat mata perih?
Mata memiliki lapisan air mata tipis yang membantu menjaga permukaannya tetap lembap dan nyaman. Lapisan ini juga berperan melindungi permukaan mata dari gangguan lingkungan.
Masalahnya, asap kebakaran hutan dan lahan mengandung campuran partikel halus serta berbagai gas. Ketika udara berasap mengenai mata, zat-zat tersebut dapat mengganggu permukaan mata dan memicu iritasi.
Dalam edukasi kesehatan yang dipublikasikan Kementerian Kesehatan RI melalui RSUP Dr. M. Djamil Padang pada September 2026, paparan asap dijelaskan dapat mengganggu kestabilan lapisan air mata. Akibatnya, permukaan mata bisa terasa lebih kering dan tidak nyaman. Paparan iritan juga dapat memicu peradangan pada konjungtiva dan kornea.
Jadi, mata perih saat kabut asap bukan sekadar karena udara terasa panas. Ada proses iritasi yang dapat terjadi ketika partikel dan gas dari asap bersentuhan dengan permukaan mata.

4 penyebab mata perih saat kabut asap
1. Iritasi akibat partikel dan gas dari asap
Penyebab yang paling perlu diperhatikan adalah iritasi langsung akibat paparan asap.
Partikel dan gas yang terdapat dalam kabut asap bisa memicu keluhan seperti mata terasa perih, panas, merah, gatal, atau berair. Sebagian orang juga merasa seperti ada pasir di dalam mata.
Keluhan dapat muncul saat seseorang berada di lingkungan berasap. Tingkat ketidaknyamanan bisa berbeda-beda, bergantung pada paparan dan kondisi masing-masing orang.
Perlu diingat, munculnya mata merah atau perih setelah terpapar asap tidak otomatis berarti seseorang mengalami infeksi mata. Iritasi akibat lingkungan merupakan salah satu kemungkinan yang perlu dipertimbangkan.
2. Lapisan air mata terganggu sehingga mata terasa kering
Pernah merasa mata perih setelah lama menatap layar, berada di ruangan ber-AC, atau berkendara di tengah udara berdebu?
Saat kabut asap terjadi, gangguan pada lapisan air mata dapat membuat permukaan mata terasa semakin tidak nyaman. Mata mungkin terasa kering, panas, mengganjal, atau seperti berpasir.
Kondisi ini juga patut diperhatikan oleh orang yang memang memiliki keluhan mata kering. Paparan asap dapat menambah ketidaknyamanan yang sudah dirasakan sebelumnya.
Kalau mata terasa kering, jangan buru-buru menguceknya. Mengucek mata justru berisiko memperburuk iritasi pada permukaan mata.
3. Peradangan pada konjungtiva dan kornea
Konjungtiva adalah selaput tipis yang melapisi bagian putih mata dan permukaan dalam kelopak mata. Sementara itu, kornea merupakan lapisan bening di bagian depan mata yang membantu proses penglihatan.
Paparan zat iritan dari kabut asap dapat memicu peradangan pada bagian-bagian tersebut.
Keluhannya bisa berupa mata merah, perih, terasa panas, berair, atau lebih sensitif terhadap cahaya. Meski demikian, gejala saja tidak cukup untuk memastikan bagian mata mana yang mengalami gangguan.
Jika mata terasa sangat nyeri, penglihatan berubah, atau keluhan tidak membaik, sebaiknya jangan menebak-nebak penyebabnya sendiri. Pemeriksaan tenaga kesehatan diperlukan untuk menentukan kondisi yang sebenarnya.
4. Keluhan mata yang sudah ada sebelumnya menjadi lebih terasa
Tidak semua orang merasakan dampak kabut asap dengan tingkat yang sama.
Orang dengan mata kering atau riwayat alergi mata dapat lebih mudah mengalami ketidaknyamanan ketika terpapar asap. Pengguna lensa kontak dan orang yang baru menjalani operasi mata juga perlu memberikan perhatian lebih terhadap perlindungan mata.
Selain itu, pekerja yang banyak menghabiskan waktu di luar ruangan berpotensi mengalami paparan lebih lama. Misalnya, pengendara, petugas lapangan, pekerja konstruksi, pedagang kaki lima, dan pekerja lain yang aktivitasnya sulit dipindahkan ke dalam ruangan.
Karena itu, perlindungan mata sebaiknya dilakukan sebelum keluhan muncul, bukan hanya setelah mata mulai terasa perih.
Gejala apa saja yang perlu dikenali?
Ketika mengalami mata perih saat kabut asap, perhatikan keluhan yang menyertainya. Gejala iritasi yang dapat muncul antara lain:
- Mata merah.
- Mata terasa perih, panas, atau gatal.
- Mata berair lebih banyak dari biasanya.
- Sensasi seperti ada pasir atau benda asing di mata.
- Mata terasa kering atau mengganjal.
- Mata lebih sensitif terhadap cahaya.
Gejala-gejala tersebut dapat berkaitan dengan iritasi akibat asap, tetapi bukan tanda yang khusus untuk satu penyakit saja. Penyebab lain tetap mungkin terjadi.
Karena itu, jangan langsung menyimpulkan bahwa semua mata merah saat kabut asap pasti disebabkan oleh asap. Jika keluhan muncul tanpa paparan yang jelas, berulang, atau disertai gejala lain, pemeriksaan dapat membantu menemukan penyebabnya.
Cara mengatasi mata perih saat kabut asap
Kalau mata mulai terasa perih, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengurangi paparan dan membantu meredakan ketidaknyamanan.
1. Kurangi paparan asap
Jika memungkinkan, masuklah ke ruangan dengan udara yang lebih bersih. Batasi kegiatan di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk, terutama aktivitas yang membuat kita terpapar asap dalam waktu lama.
Pantau informasi kualitas udara atau Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) dari sumber resmi. Informasi tersebut bisa menjadi pertimbangan untuk menyesuaikan kegiatan harian.
2. Jangan mengucek mata
Walaupun terasa gatal atau seperti ada pasir, usahakan tidak mengucek mata. Tangan mungkin membawa kotoran, dan gesekan dapat memperburuk iritasi.
Jika menggunakan lensa kontak dan mata terasa tidak nyaman, lepaskan lensa dengan tangan bersih dan gunakan kacamata untuk sementara.
3. Bilas mata jika terpapar dan terasa tidak nyaman
Cuci tangan terlebih dahulu. Setelah itu, bilas mata secara lembut menggunakan air bersih yang aman atau cairan pembilas mata steril yang sesuai.
Jangan memasukkan bahan sembarangan ke mata. Air sirih, ASI, atau bahan tradisional lain yang belum terbukti aman bukan pilihan yang dianjurkan untuk mengatasi iritasi mata.
4. Pertimbangkan air mata buatan dan kompres dingin
Air mata buatan dapat membantu menjaga kelembapan permukaan mata. Kompres dingin yang bersih juga bisa membantu mengurangi rasa tidak nyaman.
Namun, pilih produk yang sesuai dan ikuti petunjuk penggunaannya. Hindari menggunakan obat tetes mata untuk menghilangkan mata merah secara terus-menerus tanpa arahan tenaga kesehatan. Jangan memakai tetes mata yang mengandung antibiotik atau steroid tanpa resep dokter.
5. Lindungi mata saat harus keluar rumah
Jika pekerjaan mengharuskanmu tetap beraktivitas di luar ruangan, gunakan kacamata pelindung yang sesuai untuk membantu mengurangi kontak langsung mata dengan asap dan partikel.
Masker yang pas di wajah, seperti respirator N95 atau KN95 yang sesuai dan digunakan dengan benar, dapat membantu mengurangi paparan partikel yang terhirup. Namun, masker tersebut tidak menggantikan perlindungan mata.
Jika paparan asap berat, penggunaan alat pelindung saja belum tentu membuat aktivitas di luar ruangan aman. Kurangi paparan sebisa mungkin dan ikuti arahan pihak berwenang.
Kapan mata perih harus diperiksakan?
Mata perih memang bisa terjadi akibat iritasi ringan, tetapi jangan menganggap semua keluhan akan sembuh sendiri.
Segera cari pertolongan medis apabila mengalami:
- Nyeri mata yang hebat.
- Penglihatan menurun atau menjadi buram dan tidak membaik setelah pembilasan.
- Mata sangat merah atau terasa sangat silau terhadap cahaya.
- Kotoran mata yang kental.
- Keluhan yang tidak membaik dalam 24–48 jam.
- Keluhan setelah operasi mata atau setelah mata mengalami luka.
Jika penglihatan tiba-tiba menurun atau nyeri terasa berat, jangan menunggu sampai 24–48 jam untuk mencari pertolongan.
Tanda-tanda tersebut tidak selalu berarti kerusakan serius telah terjadi, tetapi cukup penting untuk diperiksa agar penyebabnya diketahui dan penanganannya sesuai.

Tips menjaga kesehatan mata bagi pekerja saat kabut asap
Bagi pekerja yang tidak bisa sepenuhnya menghindari aktivitas luar ruangan, perlindungan perlu dilakukan bersama-sama oleh pekerja dan tempat kerja.
Bagi pekerja:
- Periksa informasi kualitas udara sebelum memulai aktivitas.
- Gunakan kacamata pelindung dan perlindungan pernapasan yang sesuai dengan risiko pekerjaan.
- Kurangi waktu berada di luar ruangan jika memungkinkan.
- Jangan mengucek mata dengan tangan yang kotor.
- Segera laporkan keluhan mata atau pernapasan kepada penanggung jawab kerja.
Bagi pemberi kerja:
- Evaluasi apakah pekerjaan luar ruangan dapat ditunda, dipersingkat, atau dialihkan ke dalam ruangan.
- Sediakan alat pelindung yang sesuai dan pastikan pekerja memahami cara menggunakannya.
- Perhatikan keluhan pekerja, terutama saat kualitas udara memburuk.
- Ikuti rekomendasi dari instansi kesehatan dan pihak berwenang setempat.
Kementerian Kesehatan RI juga pernah menekankan pentingnya mengurangi paparan asap pada pekerja, termasuk melalui penggunaan masker dan kacamata pelindung ketika beraktivitas di lingkungan berasap.
Perlindungan bukan hanya tanggung jawab individu. Lingkungan kerja yang lebih aman dan keputusan untuk mengurangi paparan juga berperan penting dalam menjaga kesehatan.
Jangan tunggu mata perih untuk mulai melindungi diri
Kabut asap bukan cuma persoalan jarak pandang. Paparannya juga dapat menimbulkan iritasi mata dan gangguan kesehatan lainnya. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa asap kebakaran mengandung partikel dan polutan yang dapat berdampak pada kesehatan, termasuk menyebabkan iritasi mata dan saluran pernapasan.
Karena itu, jangan menunggu mata merah atau terasa panas untuk mulai berhati-hati. Kurangi paparan asap, pantau kualitas udara, gunakan pelindung yang sesuai, dan jangan mengabaikan keluhan yang tidak kunjung membaik.
Kalau mata terasa perih saat kabut asap, ingat tiga hal sederhana: jauhi paparan jika memungkinkan, jangan mengucek mata, dan periksakan diri jika muncul tanda bahaya.
Menjaga kesehatan mata dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Bagikan informasi ini kepada keluarga, teman, dan rekan kerja agar semakin banyak orang tahu cara melindungi mata ketika kabut asap datang.
Referensi
- Kementerian Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. RS M Djamil Edukasi Cara Menjaga Kesehatan Mata dari Paparan Kabut Asap, September 2026.
- World Health Organization (WHO). Wildfires, Juli 2026.
- Kementerian Kesehatan RI. Cegah Gangguan Kesehatan Akibat Dampak Asap Bagi Pekerja, November 2015.
Catatan: Artikel ini merupakan edukasi kesehatan, bukan pengganti pemeriksaan atau diagnosis oleh tenaga medis
Author Profile
- Saya adalah mahasiswa Fisioterapi yang memiliki ketertarikan pada bidang kesehatan, edukasi, dan komunikasi informasi kesehatan. Saya tertarik mempelajari berbagai isu kesehatan, khususnya kesehatan fisik, aktivitas gerak, pencegahan cedera, dan rehabilitasi. Melalui tulisan dan konten edukatif, saya ingin berbagi informasi kesehatan yang sederhana, informatif, dan mudah dipahami oleh masyarakat.
Latest entries
Edukasi KesehatanOktober 20, 2026Mata Perih Saat Kabut Asap? Ini Penyebabnya
Edukasi KesehatanOktober 10, 2026Waspada Diare Pasca Banjir, Apa yang Harus Dilakukan?
Edukasi KesehatanOktober 9, 2026ISPA Saat Kabut Asap: Batuk Biasa atau Bahaya?
Edukasi KesehatanOktober 8, 2026Kenapa Gula Darah Tinggi di Pagi Hari?


