Pernah tidak, ketika diajak cek kesehatan, kita menjawab:
“Saya sehat kok. Tidak ada keluhan.”
Jawaban seperti ini sebenarnya sangat wajar. Selama tubuh tidak terasa sakit, kita biasanya merasa belum punya alasan untuk pergi ke fasilitas kesehatan.
Apalagi kalau aktivitas sehari-hari masih lancar. Masih bisa bekerja, kuliah, olahraga, makan, dan beraktivitas seperti biasa.
Tapi ada satu hal yang sering kita lupa: tidak semua penyakit langsung memberikan gejala.
Seseorang bisa saja merasa sehat, tetapi memiliki faktor risiko atau kondisi kesehatan yang belum disadari. Di sinilah pemeriksaan kesehatan dan skrining memiliki peran.
Bukan berarti setiap orang yang merasa sehat pasti sedang sakit. Justru sebaliknya, pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui kondisi kesehatan lebih awal dan membantu menentukan langkah yang tepat jika ditemukan masalah.

Sehat tanpa keluhan, apakah berarti pasti sehat?
Belum tentu.
Ada kondisi kesehatan tertentu yang pada tahap awal dapat tidak menimbulkan keluhan yang terasa jelas. Salah satu contohnya adalah hipertensi atau tekanan darah tinggi.
Seseorang dapat memiliki tekanan darah tinggi tanpa merasa sakit atau memiliki keluhan yang khas. Karena itu, pengukuran tekanan darah menjadi salah satu pemeriksaan sederhana yang penting dilakukan.
Hal serupa dapat terjadi pada gangguan gula darah. Seseorang mungkin belum merasakan gejala yang jelas, tetapi hasil pemeriksaan dapat menunjukkan adanya masalah yang perlu ditindaklanjuti.
Inilah alasan mengapa menunggu sampai tubuh terasa sakit bukan satu-satunya cara untuk mengetahui kondisi kesehatan.
WHO menjelaskan bahwa deteksi dini merupakan bagian penting dalam pencegahan dan pengelolaan penyakit tidak menular, seperti penyakit jantung, stroke, kanker, diabetes, dan penyakit pernapasan kronis.
Sebenarnya apa itu skrining kesehatan?
Istilah skrining mungkin terdengar cukup medis, padahal konsepnya sederhana.
Skrining adalah pemeriksaan yang dilakukan untuk mencari kemungkinan adanya suatu masalah kesehatan pada orang yang belum tentu memiliki gejala.
Jadi, skrining bukan berarti dokter sudah menyatakan seseorang sakit.
Misalnya, seseorang melakukan pemeriksaan tekanan darah dan hasilnya tinggi. Hasil tersebut menjadi tanda bahwa kondisi tersebut perlu diperhatikan dan, jika diperlukan, dikonfirmasi melalui pemeriksaan atau evaluasi lebih lanjut.
WHO menjelaskan bahwa skrining bertujuan mengidentifikasi orang yang tampaknya sehat tetapi memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami suatu masalah kesehatan sehingga dapat dilakukan pemeriksaan atau intervensi lebih lanjut.
Skrining ≠ diagnosis.
Ini penting.
Hasil skrining yang menunjukkan adanya risiko atau hasil abnormal belum otomatis berarti seseorang memiliki penyakit tertentu. Biasanya diperlukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan diagnosis.
Lalu, apa bedanya skrining dan deteksi dini?
Keduanya memang sering digunakan bersama, tetapi ada perbedaan.
Skrining dan deteksi dini sama-sama bertujuan menemukan masalah kesehatan lebih awal, tetapi keduanya berbeda. Skrining biasanya dilakukan pada orang yang belum memiliki gejala untuk mencari kemungkinan penyakit atau faktor risiko. Misalnya, seseorang yang merasa sehat melakukan pemeriksaan tekanan darah dan ternyata hasilnya tinggi. Hasil tersebut belum berarti ia pasti menderita penyakit, tetapi menjadi tanda bahwa pemeriksaan lebih lanjut mungkin diperlukan.
Sementara itu, deteksi dini memiliki cakupan yang lebih luas, yaitu menemukan penyakit atau masalah kesehatan sejak tahap awal agar dapat segera ditangani. Deteksi dini bisa dilakukan melalui skrining maupun pemeriksaan ketika seseorang mulai mengalami tanda atau gejala tertentu
Contohnya pada kanker.
WHO menjelaskan bahwa skrining kanker ditujukan untuk menemukan kondisi prakanker atau kanker tahap awal pada orang yang tidak memiliki gejala, pada populasi yang memang sesuai untuk program skrining tersebut.
Namun, skrining bukan berarti semua orang harus menjalani semua jenis pemeriksaan.
Jenis pemeriksaan sebaiknya disesuaikan dengan usia, jenis kelamin, faktor risiko, kondisi kesehatan, serta rekomendasi tenaga kesehatan.
Jadi, jangan sampai karena ingin “cek kesehatan lengkap”, kita justru melakukan berbagai pemeriksaan yang sebenarnya tidak diperlukan.

Penyakit apa saja yang bisa tidak terasa sejak awal?
Ada beberapa penyakit atau kondisi kesehatan yang pada tahap tertentu dapat tidak memberikan gejala yang jelas.
1. Hipertensi
Tekanan darah tinggi sering kali tidak menimbulkan gejala yang khas. Karena itu, mengukur tekanan darah merupakan salah satu cara sederhana untuk mengetahui apakah tekanan darah berada dalam rentang yang perlu diperhatikan.
Jangan menunggu pusing atau sakit kepala baru mengukur tekanan darah.
2. Diabetes
Gangguan gula darah juga dapat berkembang tanpa keluhan yang jelas pada sebagian orang.
Risikonya dapat meningkat pada orang dengan faktor tertentu, misalnya kelebihan berat badan atau obesitas, riwayat keluarga, kurang aktivitas fisik, serta faktor risiko lainnya.
Karena itu, pemeriksaan gula darah dapat menjadi bagian dari penilaian kesehatan pada orang yang sesuai dengan kriteria pemeriksaan.
3. Beberapa jenis kanker
Kanker tidak selalu langsung menimbulkan gejala pada tahap awal. Namun, bukan berarti semua orang perlu menjalani semua pemeriksaan kanker.
WHO menekankan bahwa program skrining harus dilakukan pada kondisi dan populasi yang memang memiliki bukti manfaat, serta harus terhubung dengan proses diagnosis dan pengobatan yang memadai.
4. Faktor risiko penyakit jantung dan pembuluh darah
Kadang yang perlu ditemukan lebih awal bukan penyakitnya saja, tetapi faktor risikonya.
Misalnya tekanan darah tinggi, kadar gula darah tinggi, kolesterol yang tidak normal, obesitas, kebiasaan merokok, kurang aktivitas fisik, dan pola makan yang tidak sehat.
Mengetahui faktor risiko lebih awal memberikan kesempatan untuk memperbaiki kebiasaan sebelum masalah berkembang menjadi lebih serius.
Kenapa faktor risiko perlu diketahui?
Bayangkan begini.
Kita sedang bepergian menggunakan kendaraan. Sebelum perjalanan jauh, kita mungkin memeriksa bensin, ban, oli, dan kondisi kendaraan.
Bukan karena kendaraannya sudah rusak.
Justru karena kita ingin tahu kondisinya sebelum terjadi masalah di perjalanan.
Kurang lebih seperti itulah pemeriksaan kesehatan.
Tujuannya bukan membuat orang sehat menjadi takut.
Tujuannya adalah membantu seseorang mengetahui:
“Bagian mana dari kesehatan saya yang sudah baik dan bagian mana yang perlu diperhatikan?”
WHO menyebut beberapa faktor risiko utama penyakit tidak menular, antara lain penggunaan tembakau, pola makan tidak sehat, kurang aktivitas fisik, penggunaan alkohol yang berbahaya, serta paparan polusi udara. Mengurangi faktor risiko tersebut dan melakukan deteksi dini menjadi bagian penting dalam pencegahan dan pengelolaan penyakit.
Bagaimana dengan Cek Kesehatan Gratis?
Di Indonesia, masyarakat juga memiliki akses melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) dari Kementerian Kesehatan.
Program ini diluncurkan pada Februari 2025 dan ditujukan untuk membantu masyarakat mengetahui kondisi kesehatannya melalui pemeriksaan yang disesuaikan dengan kelompok usia.
Pemeriksaannya dapat mencakup berbagai hal, seperti pengukuran tekanan darah, gula darah, fungsi ginjal, pemeriksaan indera, gigi, kesehatan jiwa, dan pemeriksaan lain sesuai kelompok usia serta paket yang berlaku.
Yang menarik, pelaksanaan CKG menunjukkan bahwa pemeriksaan kesehatan tidak hanya ditujukan untuk orang yang sedang sakit.
Pada laporan Kementerian Kesehatan pada Juni 2025, setelah lebih dari 8,2 juta orang mengikuti CKG, ditemukan antara lain kasus hipertensi, diabetes melitus, dan masalah kesehatan gigi.
Temuan seperti ini menunjukkan mengapa pemeriksaan kesehatan bisa berguna meskipun seseorang sebelumnya merasa baik-baik saja.
Tapi jangan asal melakukan pemeriksaan
Ini juga penting untuk dipahami.
Lebih banyak pemeriksaan tidak selalu berarti lebih sehat.
Skrining yang dilakukan tanpa pertimbangan dapat menghasilkan temuan yang sebenarnya tidak bermakna atau menyebabkan seseorang menjalani pemeriksaan lanjutan yang tidak diperlukan.
WHO juga menekankan bahwa program skrining perlu memiliki bukti manfaat, kualitas yang baik, dan jalur tindak lanjut yang jelas agar manfaatnya lebih besar daripada potensi kerugiannya.
Jadi, bukan tentang:
“Saya harus cek semua penyakit.”
Tetapi lebih kepada:
“Pemeriksaan apa yang sesuai dengan kondisi dan faktor risiko saya?”
Untuk menentukan hal tersebut, kita bisa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Siapa yang sebaiknya lebih memperhatikan pemeriksaan kesehatan?
Pada dasarnya, pemeriksaan kesehatan dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan.
Namun, perhatian terhadap pemeriksaan tertentu menjadi lebih penting apabila seseorang memiliki faktor risiko, misalnya:
- memiliki riwayat penyakit tertentu dalam keluarga;
- merokok;
- kurang melakukan aktivitas fisik;
- memiliki berat badan berlebih atau obesitas;
- memiliki pola makan yang kurang sehat;
- memiliki tekanan darah atau gula darah yang sebelumnya tidak normal;
- berusia lebih lanjut;
- memiliki paparan lingkungan atau pekerjaan tertentu;
- atau sebelumnya pernah mendapatkan hasil pemeriksaan yang perlu dipantau.
Tentu, daftar tersebut bukan berarti semua orang dengan faktor risiko pasti memiliki penyakit.
Faktor risiko hanya menunjukkan adanya kemungkinan yang lebih tinggi sehingga perlu diperhatikan.
Jangan tunggu sakit untuk mulai peduli
Menjaga kesehatan sebenarnya tidak harus dimulai dengan sesuatu yang rumit.
Kita bisa mulai dari hal sederhana: tidur cukup, bergerak secara rutin, menjaga pola makan, tidak merokok, mengelola stres, dan melakukan pemeriksaan yang memang sesuai dengan kebutuhan.
Dan ketika ada kesempatan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan, jangan selalu berpikir:
“Saya kan sehat.”
Justru karena kita merasa sehat, pemeriksaan bisa menjadi kesempatan untuk mengetahui kondisi tubuh sebelum muncul masalah yang lebih mengganggu.
Namun, penting juga untuk tidak panik ketika menemukan hasil pemeriksaan yang tidak normal.
Hasil skrining bukan vonis.
Hasil tersebut adalah informasi yang mungkin membutuhkan pemeriksaan lanjutan. Ikuti arahan tenaga kesehatan dan jangan melakukan diagnosis sendiri berdasarkan satu hasil pemeriksaan.
Pada akhirnya, cek kesehatan bukan tentang mencari-cari penyakit.
Ini tentang mengenal tubuh sendiri, mengetahui faktor risiko, dan mengambil langkah yang tepat sedini mungkin.
Karena menjaga kesehatan bukan hanya soal mengobati ketika sakit, tetapi juga tentang mencegah dan mendeteksi masalah sebelum terlambat.
Artikel ini telah direview oleh:
Nenden Ela Yuliani, S.K.M
Programer Promkes Puskesmas Singaparna
Jl Pancawarna No 07 Ds. Singaparna Kec. Singaparna Kab Tasikmalaya, Jawa Barat
No. Telepon : 08211858730
Author Profile
- Saya adalah mahasiswa Fisioterapi yang memiliki ketertarikan pada bidang kesehatan, edukasi, dan komunikasi informasi kesehatan. Saya tertarik mempelajari berbagai isu kesehatan, khususnya kesehatan fisik, aktivitas gerak, pencegahan cedera, dan rehabilitasi. Melalui tulisan dan konten edukatif, saya ingin berbagi informasi kesehatan yang sederhana, informatif, dan mudah dipahami oleh masyarakat.
Latest entries
Edukasi KesehatanSeptember 21, 2026Pentingnya Cek Kesehatan Meski Tubuh Terasa Sehat
Berita KesehatanSeptember 19, 2026Puskesmas Singaparna Gelar Cek Kesehatan Gratis di Desa Sukamulya
Edukasi KesehatanSeptember 10, 2026Penyakit Saat Kegiatan Pramuka dan Cara Mencegahnya
Berita KesehatanSeptember 10, 2026Tim Pendamping Kesehatan Hadir di Lomba Tingkat 2 Kwaran Singaparna, Jaga Kesehatan 120 Peserta Pramuka



