Saat mendengar kata hipertensi, sebagian besar mahasiswa mungkin langsung membayangkan penyakit yang hanya dialami oleh orang tua. Padahal, gaya hidup mahasiswa saat ini—mulai dari begadang, konsumsi kopi berlebihan, makanan tinggi garam, hingga kurang aktivitas fisik—justru meningkatkan risiko tekanan darah tinggi sejak usia muda.
Sayangnya, masih banyak informasi yang keliru beredar di media sosial maupun dari cerita orang sekitar. Mitos-mitos ini membuat banyak mahasiswa merasa aman, padahal sebenarnya mereka bisa menjadi kelompok yang berisiko.
Yuk, kita bahas lima mitos tentang hipertensi yang masih sering dipercaya beserta fakta ilmiahnya.
1. Mitos: Hipertensi Hanya Menyerang Orang Tua
Ini adalah mitos yang paling sering terdengar.
Banyak mahasiswa berpikir bahwa tekanan darah tinggi baru akan muncul ketika seseorang memasuki usia 50 atau 60 tahun. Faktanya, hipertensi dapat terjadi pada siapa saja, termasuk remaja dan dewasa muda.
Pola hidup yang kurang sehat menjadi penyebab utama meningkatnya kasus hipertensi pada usia produktif, seperti:
- Sering begadang
- Kurang olahraga
- Terlalu banyak makanan cepat saji
- Konsumsi minuman manis
- Stres akademik
- Merokok atau vaping
Semakin dini kebiasaan buruk dilakukan, semakin besar risiko hipertensi muncul di usia muda.
Fakta: Hipertensi bisa terjadi sejak usia 18 tahun bahkan lebih muda jika memiliki faktor risiko tertentu.
2. Mitos: Kalau Tidak Pusing, Berarti Tekanan Darah Normal
Banyak orang menganggap hipertensi selalu ditandai dengan sakit kepala.
Padahal kenyataannya, hipertensi sering disebut sebagai “silent killer” karena sebagian besar penderitanya tidak merasakan gejala apa pun.
Seseorang bisa memiliki tekanan darah 150/100 mmHg tanpa merasa sakit sama sekali.
Gejala seperti pusing biasanya baru muncul ketika tekanan darah sudah sangat tinggi atau telah menyebabkan komplikasi.
Fakta: Satu-satunya cara mengetahui tekanan darah adalah dengan melakukan pemeriksaan menggunakan tensimeter.
3. Mitos: Mahasiswa yang Kurus Tidak Mungkin Hipertensi
Berat badan memang berpengaruh terhadap risiko hipertensi, tetapi bukan satu-satunya faktor.
Mahasiswa dengan tubuh kurus tetap dapat mengalami hipertensi apabila memiliki kebiasaan seperti:
- Kurang tidur
- Konsumsi garam tinggi
- Jarang bergerak
- Merokok
- Stres berkepanjangan
- Memiliki riwayat keluarga hipertensi
Karena itu, bentuk tubuh bukan jaminan tekanan darah selalu normal.
Fakta: Hipertensi dapat dialami oleh orang dengan berat badan normal maupun kurus.
4. Mitos: Minum Kopi Pasti Menyebabkan Hipertensi
Mahasiswa dan kopi memang sulit dipisahkan.
Namun, apakah kopi benar-benar menyebabkan hipertensi?
Jawabannya tidak sesederhana itu.
Kafein memang dapat meningkatkan tekanan darah untuk sementara waktu, terutama pada orang yang jarang mengonsumsi kopi.
Namun pada sebagian besar orang yang sudah terbiasa, efek tersebut biasanya tidak berlangsung lama.
Yang perlu diperhatikan justru adalah:
- Kopi dengan gula berlebihan
- Minuman kopi tinggi kalori
- Kurang tidur akibat konsumsi kopi berlebihan
- Kebiasaan begadang sambil minum kopi
Kombinasi inilah yang lebih berpotensi meningkatkan risiko hipertensi.
Fakta: Konsumsi kopi secukupnya umumnya masih aman bagi kebanyakan orang sehat.
5. Mitos: Hipertensi Bisa Sembuh Total Setelah Minum Obat
Obat hipertensi berfungsi mengendalikan tekanan darah, bukan menghilangkan penyebab penyakit secara permanen.
Banyak penderita berhenti minum obat ketika tekanan darah sudah normal. Akibatnya, tekanan darah kembali meningkat.
Selain obat, pengendalian hipertensi memerlukan perubahan gaya hidup seperti:
- Mengurangi konsumsi garam
- Berolahraga rutin
- Menjaga berat badan ideal
- Tidur cukup
- Mengelola stres
- Tidak merokok
Perubahan gaya hidup inilah yang menjadi kunci utama pengendalian hipertensi jangka panjang.
Fakta: Hipertensi merupakan penyakit kronis yang perlu dikontrol secara berkelanjutan.
Mengapa Mahasiswa Perlu Peduli?
Banyak mahasiswa menganggap dirinya masih muda sehingga tidak perlu memeriksa tekanan darah.
Padahal, masa kuliah merupakan periode ketika kebiasaan hidup mulai terbentuk. Jika sejak sekarang terbiasa makan tinggi garam, kurang tidur, jarang bergerak, dan stres tanpa pengelolaan yang baik, risiko hipertensi akan meningkat beberapa tahun kemudian.
Selain itu, hipertensi yang tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko:
- Penyakit jantung
- Stroke
- Gagal ginjal
- Gangguan pembuluh darah
- Penurunan kualitas hidup di usia produktif
Karena itu, melakukan pemeriksaan tekanan darah secara berkala merupakan langkah sederhana namun sangat penting.
Tips Mencegah Hipertensi untuk Mahasiswa
Berikut beberapa kebiasaan yang bisa mulai diterapkan sejak sekarang:
- Batasi konsumsi makanan tinggi garam.
- Perbanyak makan buah dan sayuran.
- Lakukan aktivitas fisik minimal 150 menit per minggu.
- Tidur 7–9 jam setiap malam.
- Kurangi konsumsi minuman manis.
- Hindari merokok dan vaping.
- Kelola stres dengan olahraga, hobi, atau relaksasi.
- Periksa tekanan darah minimal satu kali setiap tahun.
Kesimpulan
Hipertensi bukan lagi penyakit yang hanya dialami oleh orang tua. Mahasiswa juga memiliki risiko apabila menerapkan gaya hidup yang kurang sehat.
Jangan mudah percaya pada informasi yang belum terbukti. Dengan memahami fakta di balik berbagai mitos tentang hipertensi, kamu bisa mengambil langkah pencegahan sejak dini dan menjaga kesehatan hingga masa depan.
Ingat, tekanan darah tinggi sering tidak menunjukkan gejala. Karena itu, cek tekanan darah secara rutin dan mulai biasakan gaya hidup sehat dari sekarang.
Author Profile
Latest entries
Edukasi KesehatanJuli 2, 20265 Mitos tentang Hipertensi yang Masih Banyak Dipercaya Mahasiswa
Info CafeJuli 2, 202610 Cafe Dekat FKM Universitas Airlangga yang Nyaman Buat Nugas dan Nongkrong
KarierJuli 1, 2026Rumah Sakit President University Buka Lowongan Kerja untuk Berbagai Posisi Tenaga Kesehatan, Simak Persyaratan dan Cara Melamarnya
Mahasiswa KesmasJuli 1, 202615 Skill yang Wajib Dimiliki Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Sejak Hari Pertama Kuliah


