Menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) menjadi fondasi penting untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat. Hal ini dilakukan secara sadar untuk mencegah risiko penyakit dan menjaga fungsi tubuh. Penerapan PHBS ini dapat dilakukan di lingkungan rumah tangga, sekolah, dan tempat kerja.
Apa Itu PHBS
PHBS merupakan singkatan dari Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, yang diatur dalam Undang Undang Republik Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan. Selain itu juga terdapat pada Peraturan Menteri Kesehatan No 226 Tahun 2021 tentang Pedoman Pembinaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Dalam penerapannya, masyarakat di Desa atau Kelurahan Siaga Aktif diwajibkan untuk melaksanakan PHBS seperti dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1529/Menkes/SK/X/2010 tentang Pedoman Umum Pengembangan Desa dan Kelurahan Siaga Aktif.
Secara pengertian, PHBS merujuk pada serangkaian tindakan di bidang kesehatan yang dijalankan secara sadar oleh seseorang atau komunitas. Tujuannya adalah untuk memberdayakan masyarakat agar mampu menjaga kesehatannya secara mandiri dan turut serta aktif dalam membangun kesadaran kesehatan di lingkungannya.
Seperti sudah disinggung sebelumnya, PHBS dapat diterapkan dalam lingkungan rumah tangga, sekolah, dan tempat kerja. Sehingga dalam hal ini pesantren sebagai lembaga pendidikan juga dapat menerapkan PHBS untuk menerapkan lingkungan yang sehat. Untuk menerapkan PHBS, ada beberapa indikator yang menjadi ukuran sebuah pesantren menjadi lembaga pendidikan dalam menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat.
Penerapan PHBS di Pesantren
Secara umum setidaknya ada 7 indikator untuk menciptakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di lingkungan pesantren. Indikator tersebut meliputi: 1) menggunakan air bersih, 2) mencuci tangan dengan air bersih dan sabun, 3) menggunakan jamban sehat, 4) memberantas jentik di lingkungan pesantren, 5) makan buah dan sayur setiap hari, 6) melakukan aktivitas fisik setiap hari, dan 7) Tidak merokok di lingkungan pesantren. Untuk lebih jelasnya sebagai berikut:
1. Penggunaan Air Bersih

Dalam menerapkan PHBS, langkah pertama yaitu dengan penggunaan air bersih. Seluruh sumber air yang digunakan untuk minum, mandi, mencuci, dan berwudhu adalah air yang bersih, jernih, tidak tercemar, dan bebas dari bahan berbahaya. Hal ini bertujuan untuk mencegah penyakit kulit, diare, keracunan, dan penyakit bawaan air lainnya.
2. Mencuci Tangan dengan Air Bersih dan Sabun

Membudayakan cuci tangan pakai sabun merupakan cara kedua dalam menerapkan PHBS di lingkungan pesantren. Aktivitas ini dapat dilakukan sebelum makan, setelah dari toilet, setelah bersentuhan dengan hewan, dan setelah beraktivitas yang membuat tangan kotor. Tujuannya agar dapat memutus mata rantai penularan penyakit seperti diare, ISPA, cacingan, dan COVID-19.
3. Penggunaan Jamban Sehat

Cara selanjutnya yaitu menggunakan jamban yang sehat sebagai bentuk PHBS di pesantren. Syarat jamban atau toilet yang sehat seperti terlindungi, bersih, tidak bau, memiliki septic tank yang aman, dan tersedia air serta sabun untuk membersihkan diri. Hal ini dapat mencegah pencemaran lingkungan dan penyebaran penyakit seperti diare, kolera, dan tipus.
4. Pemberantasan Jentik Nyamuk

Untuk meredakan PHBS, cara berikutnya dengan melakukan pemberantasan jentik nyamuk. Langkah umum untuk memberantasnya dengan melakukan pemantauan jentik secara berkala di semua penampungan air terutama bak mandi untuk mencegah nyamuk berkembang biak. Hal ini dapat mengurangi wabah penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD), Chikungunya, dan Zika.
5. Konsumsi Buah dan Sayur Setiap Hari

Kemudian cara kelima untuk mengonsumsi buah dan sayur setiap hari. Dalam menerapkan PHBS ini, bisa dilakukan dengan mengonsumsi makanan gizi seimbang yang kaya serat, vitamin, dan mineral seperti buah dan sayur. Tujuannya yaitu untuk meningkatkan daya tahan tubuh, mencegah penyakit seperti sembelit, obesitas, dan stunting, serta mendukung konsentrasi belajar.
6. Melakukan Aktivitas Fisik Setiap Hari

Kemudian melakukan olahraga atau aktivitas fisik setiap hari. Selain olahraga aktivitas fisik yang bisa dilakukan yaitu melakukan kerja bakti memberikan lingkungan pesantren. Tujuan aktivitas fisik ini yaitu m elancarkan peredaran darah, menguatkan otot dan tulang, mengurangi stres, dan menjaga kebugaran jasmani.
7. Larangan Merokok di Lingkungan Pesantren

Cara terakhir dalam menerapkan PHBS yaitu dengan melakukan pelarangan merokok di lingkungan pesantren. Penetapakan kawasan tanpa rokok (KTR) dapat dilakukan di seluruh area pesantren, meliputi asrama, kelas, masjid, kantin untuk semua orang, baik itu santri, ustadz, tamu. Hal ini memiliki tujuan untuk melindungi santri dari paparan asap rokok orang lain (perokok pasif) yang dapat menyebabkan asma, ISPA, dan kanker paru.
Penerapan 7 indikator PHBS di pesantren merupakan langkah strategis untuk membangun lingkungan yang kondusif bagi kesehatan fisik dan spiritual seluruh penghuninya. Komitmen bersama dari pengasuh, ustadz, hingga santri menjadi kunci utama dalam mewujudkan pesantren yang bersih, sehat, dan bebas dari penyakit. Dengan demikian, pesantren tidak hanya mencetak generasi yang cerdas secara akademik dan religius, tetapi juga generasi yang peduli akan kesehatan diri dan lingkungannya.
Daftar Pustaka:
• Dinkes Kab. Buleleng. (2014) 10 Indikator Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Link: https://dinkes.bulelengkab.go.id/informasi/detail/artikel/10-indikator-perilaku-hidup-bersih-dan-sehat-76 [Diakses pada 28 Agustus 2025].
• Kemkes RI. (2012) Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di Sekolah. Link https://ayosehat.kemkes.go.id/?p=1642 [Diakses pada 28 Agustus 2025].
• Kemkes RI. (2016) PHBS. Link https://ayosehat.kemkes.go.id/phbs [Diakses pada 27 Agustus 2025].
• Salsabila, Salma; Satria, Muhammad Axsal; Zahro, Fatimatu (2020-03-29). “Peranan Karang Taruna Dalam Pembinaan Kewirausahaan Di Kota Cimahi”. Ministrate: Jurnal Birokrasi dan Pemerintahan Daerah. 2 (1): 8–15.
