HANTAVIRUS: PENYAKIT ZOONOSIS YANG PERLU DIWASPADAI

Muhammad Hisyam Aqil
Muhammad Hisyam Aqil
Mei 30, 2026 8 Min Read 0

Penyakit infeksi masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat terbesar di dunia. Selain penyakit yang menular dari manusia ke manusia, terdapat juga penyakit zoonosis, yaitu penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia. Salah satu penyakit zoonosis yang mulai mendapat perhatian dunia adalah hantavirus. Hantavirus merupakan kelompok virus yang ditularkan terutama melalui rodensia seperti tikus dan mencit. Virus ini dapat menyebar melalui urin, tinja, maupun saliva rodensia yang terinfeksi dan mencemari lingkungan sekitar (Kemenkes, 2022). Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sebenarnya hidup sangat dekat dengan rodensia. Tikus dapat ditemukan di pasar tradisional, gudang, sawah, rumah kosong, dapur, saluran air, pelabuhan, hingga tempat penyimpanan makanan. Lingkungan yang lembap, kotor, banyak sampah, dan memiliki ventilasi buruk dapat meningkatkan jumlah rodensia sekaligus meningkatkan risiko penularan hantavirus. Oleh karena itu, hantavirus tidak hanya berkaitan dengan virus sebagai penyebab penyakit, tetapi juga berhubungan erat dengan kebersihan lingkungan, sanitasi, perilaku manusia, dan kesehatan masyarakat (Kemenkes, 2026).

Walaupun jumlah kasus hantavirus tidak sebanyak dengue atau influenza, penyakit ini tetap perlu diwaspadai karena dapat menyebabkan kondisi berat bahkan kematian. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa hantavirus dapat menyebabkan gangguan serius pada ginjal maupun paru-paru (WHO, 2026a dalam Kemenkes, 2026). Penyakit ini juga sering sulit dikenali pada tahap awal karena gejalanya mirip dengan penyakit lain seperti influenza, leptospirosis, COVID-19, tifoid, atau dengue (Kemenkes, 2026). Afzal et al. (2023) menyebutkan bahwa lebih dari 200.000 kasus hantavirus terjadi setiap tahun secara global. Sebagian besar kasus di Asia berasal dari Tiongkok dan Korea. Di wilayah tersebut, HFRS masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang penting. Di Eropa, ribuan kasus juga dilaporkan setiap tahun, terutama akibat Puumala virus. Sementara itu, di Amerika, kasus HPS lebih jarang ditemukan tetapi memiliki tingkat kematian yang cukup tinggi (Afzal et al., 2023). WHO juga melaporkan bahwa pada tahun 2026 perhatian dunia meningkat setelah muncul klaster Andes virus yang berkaitan dengan perjalanan kapal pesiar. Situasi ini menunjukkan bahwa hantavirus tetap menjadi ancaman kesehatan global yang perlu diwaspadai (WHO, 2026b dalam Kemenkes, 2026).

Di Indonesia, hasil Riset Khusus Vektor dan Reservoir (Rikhus Vektora) tahun 2015–2018 menemukan adanya hantavirus pada rodensia di 29 provinsi Indonesia. Rodensia yang terinfeksi ditemukan di berbagai habitat seperti permukiman, lahan pertanian, dan hutan (Kemenkes, 2022). Selain itu, Kementerian Kesehatan RI juga melaporkan adanya kasus suspek dan kasus terkonfirmasi HFRS di beberapa wilayah Indonesia sepanjang tahun 2024–2026. Kondisi ini menunjukkan bahwa hantavirus perlu masuk dalam kewaspadaan kesehatan masyarakat dan menjadi salah satu pertimbangan diagnosis penyakit demam akut (Kemenkes, 2026). Perkembangan media sosial juga membuat informasi tentang penyakit menyebar sangat cepat. Ketika muncul berita mengenai hantavirus, masyarakat sering langsung merasa takut dan menganggapnya sebagai “virus baru” yang sangat mematikan. Padahal, hantavirus bukan penyakit baru. Virus ini sudah dikenal sejak pertengahan abad ke-20 dan telah diteliti selama puluhan tahun (Kemenkes, 2022). Oleh karena itu, edukasi yang benar mengenai hantavirus sangat penting agar masyarakat tidak panik tetapi tetap waspada.

Pengertian Hantavirus

Hantavirus merupakan kelompok virus RNA beramplop yang termasuk dalam famili Hantaviridae dan ordo Bunyavirales. Sebelumnya, hantavirus dimasukkan ke dalam famili Bunyaviridae, namun perkembangan ilmu virologi menyebabkan perubahan klasifikasi menjadi famili Hantaviridae (Bradfute et al., 2024). Virus ini memiliki genom RNA untai negatif yang terdiri dari tiga segmen, yaitu segmen kecil (S), segmen sedang (M), dan segmen besar (L). Segmen S berfungsi menyandi protein nukleokapsid, segmen M menyandi glikoprotein permukaan Gn dan Gc, sedangkan segmen L menyandi RNA-dependent RNA polymerase (RdRp), yaitu enzim yang membantu virus memperbanyak materi genetiknya di dalam sel inang (Afzal et al., 2023). Secara struktur, hantavirus memiliki bentuk bulat dan dilapisi membran lipid. Karena termasuk virus beramplop, hantavirus relatif mudah rusak oleh panas, deterjen, disinfektan, dan sinar ultraviolet. Namun demikian, virus ini masih dapat bertahan di lingkungan dalam waktu tertentu sehingga penularan melalui debu atau material yang terkontaminasi tetap dapat terjadi (Afzal et al., 2023).

Reservoir utama hantavirus adalah rodensia seperti tikus dan mencit. Rodensia yang terinfeksi biasanya tidak menunjukkan gejala sakit, tetapi tetap dapat mengeluarkan virus melalui urin, tinja, dan saliva. Manusia bukan reservoir alami virus ini, melainkan inang aksidental yang dapat mengalami penyakit berat ketika terinfeksi (Vaheri et al., 2013 dalam Kemenkes, 2026). Dalam kehidupan sehari-hari, penularan sering terjadi ketika seseorang membersihkan gudang lama, rumah kosong, plafon, lumbung, atau tempat penyimpanan yang dipenuhi kotoran tikus. Ketika kotoran tersebut mengering lalu tersapu, partikel virus dapat beterbangan di udara dan terhirup manusia. Inilah alasan mengapa hantavirus sering dikaitkan dengan debu, gudang, sawah, pasar, dan ruang tertutup dengan ventilasi buruk (Kemenkes, 2026).

Jenis Penyakit Akibat Hantavirus

Secara klinis, hantavirus menyebabkan dua sindrom utama, yaitu hemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS) dan hantavirus pulmonary syndrome (HPS) atau hantavirus cardiopulmonary syndrome (HCPS) (Kemenkes, 2022; Kemenkes, 2026).

Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS)

HFRS merupakan bentuk penyakit hantavirus yang terutama menyerang ginjal. Penyakit ini lebih banyak ditemukan di Asia dan Eropa serta umumnya disebabkan oleh Hantaan virus, Seoul virus, Puumala virus, dan Dobrava-Belgrade virus (Kemenkes, 2022). Pasien HFRS biasanya mengalami demam tinggi, sakit kepala, nyeri punggung, nyeri perut, mual, muntah, gangguan pembuluh darah, trombositopenia, hingga gagal ginjal akut. Pada kasus yang berat, pasien dapat mengalami perdarahan, syok, bahkan kematian (Vial et al., 2023). Perjalanan penyakit HFRS sering dibagi menjadi lima fase, yaitu fase febril, hipotensif, oligurik, poliurik, dan konvalesen. Tidak semua pasien mengalami seluruh fase tersebut secara jelas, tetapi pembagian ini membantu tenaga kesehatan memahami perkembangan penyakit (Afzal et al., 2023).

Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS/HCPS)

HPS atau HCPS merupakan bentuk penyakit hantavirus yang terutama menyerang paru-paru dan jantung. Penyakit ini lebih banyak ditemukan di wilayah Amerika dan sering dikaitkan dengan Sin Nombre virus serta Andes virus (WHO, 2026a dalam Kemenkes, 2026). Gejala awal HPS biasanya menyerupai influenza, seperti demam, nyeri otot, sakit kepala, dan kelelahan. Namun beberapa hari kemudian kondisi pasien dapat memburuk dengan cepat menjadi batuk, sesak napas, edema paru, hipoksia, syok, dan gagal napas. Kasus HPS memiliki tingkat kematian yang cukup tinggi. Oleh karena itu, keterlambatan diagnosis dan penanganan dapat sangat berbahaya bagi pasien (Kemenkes, 2022).

Penularan Hantavirus

Penularan hantavirus terutama terjadi melalui inhalasi aerosol yang mengandung partikel virus dari urin, tinja, atau saliva rodensia yang terinfeksi (Kemenkes, 2022). Ketika kotoran tikus mengering lalu tersapu atau terganggu, partikel virus dapat bercampur dengan debu dan masuk ke saluran pernapasan manusia. Selain melalui inhalasi, penularan juga dapat terjadi melalui: (Kemenkes, 2022).

  1. Kontak bahan yang terkontaminasi dengan mata, hidung, atau mulut,
  2. Makanan dan minuman yang tercemar,
  3. Kulit yang terluka, serta
  4. Gigitan rodensia walaupun lebih jarang terjadi.

Setiap orang dari berbagai usia dan jenis kelamin dapat terpapar hantavirus apabila memiliki kontak dengan rodensia pembawa virus. Namun terdapat beberapa aktivitas yang meningkatkan risiko infeksi, antara lain: (Kemenkes, 2022).

  1. Membuka dan membersihkan gudang, lumbung, atau garasi yang lama tidak digunakan,
  2. Membersihkan rumah yang dipenuhi tikus,
  3. Bekerja di gedung kosong atau ruang sempit yang menjadi sarang rodensia, serta
  4. Berkemah atau mendaki di area yang terkontaminasi rodensia.

Waktu munculnya gejala umumnya sekitar 1–8 minggu setelah seseorang terpapar hantavirus. Pada HPS, gejala biasanya muncul dalam rentang 1–8 minggu setelah paparan. Sementara pada HFRS, gejala umumnya muncul dalam 1–2 minggu, walaupun pada beberapa kasus dapat mencapai 8 minggu setelah paparan (Kemenkes, 2022).

Pencegahan Hantavirus

Pencegahan hantavirus dapat dilakukan melalui pengendalian rodensia dan pencegahan kontak dengan urin, tinja, air liur, maupun sarang tikus (Kemenkes, 2022). Beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan antara lain: (Kemenkes, 2022)

  1. Menutup lubang di rumah atau tempat kerja agar tikus tidak masuk,
  2. Memasang perangkap tikus untuk mengurangi populasi rodensia,
  3. Menyimpan makanan dan minuman dalam wadah tertutup,
  4. Menjaga kebersihan lingkungan, serta
  5. Membuang sampah secara teratur.

Saat membersihkan area yang banyak terdapat kotoran tikus, dianjurkan untuk tidak langsung menyapu dalam keadaan kering. Area tersebut sebaiknya dibasahi terlebih dahulu dengan disinfektan agar partikel virus tidak beterbangan di udara. Penggunaan sarung tangan dan masker juga sangat dianjurkan untuk mengurangi risiko paparan. 

Sampai saat ini belum tersedia vaksin untuk mencegah hantavirus secara luas. Oleh karena itu, pencegahan terbaik tetap dilakukan melalui pengendalian rodensia, menjaga kebersihan lingkungan, dan mengurangi kontak dengan sumber penularan (Kemenkes, 2022).

Penutup

Hantavirus merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan terutama melalui rodensia dan dapat menyebabkan gangguan berat pada ginjal maupun paru-paru. Walaupun jumlah kasusnya tidak sebanyak penyakit infeksi lain, hantavirus tetap perlu diwaspadai karena dapat menyebabkan kondisi serius apabila terlambat dikenali dan ditangani. Penularan hantavirus sangat berkaitan dengan kondisi lingkungan, sanitasi, serta perilaku manusia. Gudang yang lembap, rumah yang dipenuhi tikus, pasar yang kotor, dan kebiasaan membersihkan kotoran tikus secara sembarangan dapat meningkatkan risiko infeksi. Karena itu, pengendalian hantavirus tidak hanya bergantung pada tenaga kesehatan, tetapi juga membutuhkan partisipasi masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan dan mengurangi kontak dengan rodensia. Edukasi kesehatan, pengendalian tikus, perilaku hidup bersih dan sehat, serta kewaspadaan klinis menjadi kunci utama dalam mencegah penyebaran penyakit ini. Hantavirus mengajarkan bahwa kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan saling berkaitan erat. Menjaga kebersihan rumah, lingkungan, dan tempat kerja bukan sekadar kebiasaan sehari-hari, tetapi juga bentuk perlindungan terhadap penyakit zoonosis di masa kini dan masa depan.

DAFTAR PUSTAKA

Afzal, S., Ali, L., Batool, A., Afzal, M., Kanwal, N., Hassan, M., Safdar, M., Ahmad, A., & Yang, J. (2023). Hantavirus: an overview and advancements in therapeutic approaches for infection. Front. Microbiol. doi: 10.3389/fmicb.2023.1233433

Kemenkes. (2022). Frequently Asked Questions (FAQ) hantavirus. Kementerian Kesehatan RI.

Kemenkes. (2026). Hantavirus: Dari Debu Tikus ke Pelajaran One Health. Diakses melalui: https://ayosehat.kemkes.go.id/hantavirus:-dari-debu-tikus-ke-pelajaran-one-health pada 21 Mei 2026.
Vial P. A., Ferrés, M., Vial, C., Klingström, J., Ahlm, C., López, R., Le Corre, N., Mertz, G. J. (2023). Hantavirus in humans: a review of clinical aspects and management. Lancet Infect. 23(9). doi: 10.1016/S1473-3099(23)00128-7.

Author Profile

Muhammad Hisyam Aqil
Yuk Share Postingan Ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *