5 Langkah Sederhana Cek Hoaks Informasi Kesehatan Sebelum Share

Di tengah derasnya arus informasi kesehatan di internet dan media sosial, masyarakat semakin mudah menemukan berbagai tips, klaim, hingga saran tentang penyakit, obat, makanan, dan gaya hidup. Namun, tidak semua informasi yang terlihat meyakinkan berasal dari sumber yang terpercaya atau memiliki bukti yang kuat. Judul yang menarik, jumlah orang yang membagikan, bahkan penggunaan istilah ilmiah tidak otomatis membuat sebuah informasi menjadi benar. Karena itu, sebelum percaya atau meneruskan informasi kesehatan kepada keluarga dan orang lain, luangkan waktu sejenak untuk memeriksa siapa sumbernya, kapan informasi tersebut dibuat, apa bukti yang mendukungnya, serta apakah sumber resmi atau penelitian terpercaya memberikan informasi yang sama. Kebiasaan sederhana ini dapat membantu kita mengambil keputusan kesehatan dengan lebih bijak sekaligus mencegah informasi yang keliru semakin luas.

Kenali 5 Langkah Cek Hoaks Informasi Kesehatan! Pernah menerima pesan WhatsApp yang menyebut satu makanan bisa menyembuhkan penyakit, atau sebuah obat disebut berbahaya tanpa penjelasan? Informasi seperti ini mudah membuat orang percaya, apalagi jika dikirim oleh keluarga, teman, atau akun yang terlihat meyakinkan. Masalahnya, informasi kesehatan yang salah bukan sekadar membuat bingung. WHO menjelaskan bahwa banjir informasi yang benar dan keliru dapat memengaruhi keputusan kesehatan dan mendorong perilaku berisiko.

Di Indonesia, tantangan ini juga masih nyata. Pada April 2026, Kementerian Komunikasi dan Digital menyebut hoaks kesehatan sebagai salah satu tantangan serius di ruang digital. Contoh terbaru muncul dalam klarifikasi mengenai klaim palsu tentang vaksin polio yang beredar di media sosial. Karena itu, jadikan pemeriksaan informasi sebagai kebiasaan, bukan hanya saat sebuah kabar terasa mencurigakan.

Jangan Berhenti pada Judul: Cek Isi dan Sumbernya

Sumber Gambar: Canva

Judul yang mengejutkan memang mudah menarik perhatian. Namun, judul bukan bukti kebenaran. Sebelum percaya atau membagikan informasi kesehatan, baca isi lengkapnya. Cari tahu siapa yang membuat informasi, kapan informasi terbit, dan apa sumber datanya.

WHO mendorong masyarakat dan platform digital untuk memperhatikan kredibilitas sumber informasi kesehatan. Sumber yang baik biasanya menjelaskan identitas pembuat, dasar informasi, dan konteks yang cukup sehingga pembaca dapat menilai isinya.

Cek Apakah Hoaks Informasi Kesehatan Tersebut Menurut Sumber Resmi

Sumber Foto: Canva

Langkah berikutnya adalah membandingkan klaim dengan sumber yang lebih kuat. Untuk topik kesehatan di Indonesia, mulai dari kanal resmi Kementerian Kesehatan, Badan Pengawas Obat dan Makanan, atau lembaga pemerintah terkait. Untuk informasi global, WHO dan lembaga kesehatan resmi lain dapat menjadi rujukan.

Misalnya, jika menerima klaim bahwa vaksin tertentu berbahaya, jangan langsung menyimpulkan dari satu unggahan. Cari nama vaksin tersebut di situs resmi lembaga kesehatan. Periksa juga apakah ada penjelasan atau klarifikasi terbaru.

Ketik Kata Kunci yang Tepat Saat Mencari

Sumber Foto: Canva

Mesin pencari dapat membantu melakukan pemeriksaan awal. Gunakan kata kunci yang spesifik, bukan hanya menyalin seluruh pesan.

Misalnya, ketika mendapat klaim “vaksin X menyebabkan penyakit Y”, cari kombinasi kata seperti “vaksin X penyakit Y Kemenkes”, “vaksin X BPOM”, atau “vaksin X hoaks”. Cara ini membantu menemukan klarifikasi, berita resmi, atau penjelasan berbasis bukti.

Namun, hasil pencarian pertama bukan otomatis yang paling benar. Baca beberapa sumber dan lihat apakah informasinya konsisten.

Waspadai “Bukti” yang Terlihat Ilmiah

Informasi keliru sering memakai istilah ilmiah, grafik, foto penelitian, atau nama dokter agar terlihat meyakinkan. Karena itu, jangan hanya melihat ada atau tidaknya kata “penelitian”.

Jika sebuah unggahan menyebut penelitian, cari judul penelitian atau nama peneliti dan periksa sumber aslinya. Perhatikan juga apakah penelitian tersebut benar-benar menjawab klaim yang dibagikan. Satu penelitian tidak selalu cukup untuk menjadi dasar rekomendasi kesehatan.

Sebagai contoh, hasil penelitian pada sel atau hewan tidak otomatis berarti efek yang sama terjadi pada manusia. Begitu pula hasil satu penelitian tidak selalu mewakili seluruh bukti yang tersedia.

Informasi Benar Belum Tentu Cocok untuk Semua Orang

Ini bagian yang sering terlewat. Informasi yang benar belum tentu sesuai untuk semua orang. Kondisi kesehatan, usia, obat yang sedang dikonsumsi, kehamilan, dan faktor lainnya dapat memengaruhi pilihan atau tindakan kesehatan seseorang.

Karena itu, setelah menemukan informasi yang benar, tanyakan lagi: “Apakah informasi ini berlaku untuk kondisi saya?” Untuk keputusan tentang diagnosis, obat, atau pengobatan, konsultasikan dengan tenaga kesehatan.

Gunakan “5 Cara Cek Hoaks Informasi Kesehatan!”

Sumber Foto: Ilustrasi

Agar mudah diingat, gunakan lima pertanyaan singkat sebelum membagikan informasi kesehatan:

  1. Siapa sumbernya? Pastikan sumbernya jelas dan terpercaya.
  2. Kapan informasi dibuat? Cek tanggal agar informasi masih relevan.
  3. Apa buktinya? Cari data atau penelitian yang mendukung klaim.
  4. Apakah sumber lain membenarkannya? Bandingkan dengan sumber resmi atau penelitian terpercaya.
  5. Apakah ada ajakan tertentu? Waspadai klaim yang mendorong membeli produk, menghentikan obat, atau melakukan tindakan kesehatan tertentu.

Jika satu atau beberapa jawaban masih tidak jelas, tahan dulu untuk membagikannya. Untuk informasi yang berpotensi memengaruhi pengobatan atau keselamatan seseorang, lakukan verifikasi lebih lanjut melalui tenaga kesehatan atau lembaga resmi.

Bagi orang tua, guru, dan kader kesehatan, kebiasaan ini juga bisa menjadi contoh bagi orang di sekitar. Saat menemukan informasi meragukan, hindari langsung menyalahkan orang yang mengirimkannya. Tanyakan sumbernya, lalu ajak mengecek bersama. Cara ini membuat koreksi terasa sebagai proses belajar, bukan pertengkaran.

Sebelum Gunakan 5 Cara Cek Hoaks Informasi Kesehatan Jangan Ikut Menyebarkan

Sumber Foto: Ilustrasi

Kementerian Kesehatan mengingatkan masyarakat untuk menyaring informasi sebelum membagikannya dan memperbarui informasi kesehatan melalui kanal resmi. Kebiasaan sederhana ini dapat mengurangi penyebaran informasi yang menyesatkan.

Jika informasi belum jelas, tidak ada salahnya berhenti di tangan kita. Tidak semua pesan harus diteruskan. Bahkan, menunda satu kali klik “bagikan” bisa menjadi bentuk kepedulian terhadap keluarga dan teman.

Pada akhirnya, menjadi pengguna internet yang cerdas bukan berarti harus menjadi ahli kesehatan. Cukup biasakan memeriksa sumber, mencari bukti, membandingkan informasi, dan meminta bantuan tenaga kesehatan ketika keputusan menyangkut kondisi pribadi. Dengan langkah tersebut, kita tidak hanya melindungi diri sendiri, tetapi juga membantu membuat ruang digital lebih sehat.

Simak Artikel Reportase dan Edukasi lainnya dari author pada link berikut ini: Artikel Edukasi dan Reportase Kesehatan Populer.

FAQ

1. Bagaimana cara mengetahui informasi kesehatan itu hoaks?

Periksa sumber, tanggal publikasi, bukti yang digunakan, serta bandingkan klaim dengan informasi dari lembaga kesehatan resmi. Jangan hanya menilai dari judul atau jumlah orang yang membagikannya.

2. Apakah informasi dari dokter di media sosial pasti benar?

Tidak otomatis. Identitas dan keahlian pembuat konten memang penting, tetapi tetap periksa dasar informasi, konteks, dan sumber ilmiahnya.

3. Apakah hasil penelitian bisa langsung dijadikan rekomendasi kesehatan?

Tidak selalu. Jenis penelitian, jumlah peserta, metode, dan konteks penelitian perlu diperhatikan. Hasil penelitian pada hewan, misalnya, tidak otomatis berlaku sama pada manusia.

4. Di mana tempat mengecek informasi kesehatan?

Untuk Indonesia, masyarakat dapat mulai dari kanal resmi Kementerian Kesehatan, BPOM, dan lembaga pemerintah terkait. Untuk informasi kesehatan global, WHO juga dapat menjadi rujukan.

5. Bagaimana jika informasi kesehatan belum jelas benar atau salah?

Jangan buru-buru membagikannya. Cari sumber pembanding dan, jika menyangkut diagnosis, obat, atau tindakan medis, tanyakan kepada tenaga kesehatan.

6. Apakah informasi yang benar selalu aman diterapkan?

Belum tentu. Informasi yang benar tetap perlu disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan seseorang. Karena itu, informasi umum di internet tidak menggantikan konsultasi tenaga kesehatan untuk keputusan medis pribadi.

Referensi

  1. World Health Organization (WHO). Infodemic. WHO menjelaskan dampak banjir informasi benar dan keliru terhadap keputusan serta perilaku kesehatan.
  2. World Health Organization. Global principles for identifying credible sources of health information on social media. Membahas prinsip untuk mengenali sumber informasi kesehatan yang kredibel.
  3. Kementerian Kesehatan RI – Ayo Sehat. Media Sosial: Cara Bendung Peredaran Hoaks Informasi Kesehatan di Sekitar Kita. Memberikan edukasi agar masyarakat menyaring informasi, mengecek sumber, dan menggunakan kanal resmi.
  4. Kementerian Komunikasi dan Digital RI. Tangani Hoaks Kesehatan dari Hulu, Pemerintah Libatkan Platform Digital, 23 April 2026.
  5. Kementerian Komunikasi dan Digital RI. Klarifikasi hoaks mengenai klaim dokumen BPOM dan keamanan vaksin polio, 15 Agustus 2026.
  6. Zhang S, Zhou H, Zhu Y. Have we found a solution for health misinformation? A ten-year systematic review of health misinformation literature 2013–2022. International Journal of Medical Informatics, 2024.
  7. Systematic review and meta-analysis, 2026. Exposure to health misinformation on social media across key health domains.

Artikel ini sudah direview oleh:
Citra Pertiwi Putri, S.KM.
Tenaga Promkes Puskesmas Sukarame


Puskesmas Sukarame:
Jl. Ds. Sukarame, Kec. Sukarame, Tasikmalaya, Jawa Barat, Indonesia
No. Telp: 0895635979706

Author Profile

Ayu Siti Munigar
Ayu Siti Munigar, S.Kep., adalah seorang praktisi kesehatan masyarakat, penulis konten kesehatan, dan pegiat pemberdayaan masyarakat yang memiliki komitmen dalam meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak melalui pendekatan berbasis data, edukasi, serta transformasi digital.
Yuk Share Postingan Ini:
Ayu Siti Munigar
Ayu Siti Munigar

Ayu Siti Munigar, S.Kep., adalah seorang praktisi kesehatan masyarakat, penulis konten kesehatan, dan pegiat pemberdayaan masyarakat yang memiliki komitmen dalam meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak melalui pendekatan berbasis data, edukasi, serta transformasi digital.

Articles: 12

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *