Seberapa sering kita mendengar bahwa dalam keluarga, stunting sering dianggap sebagai urusan ibu terhadap pengasuhan bayi dan balita? Padahal, akar masalahnya justru bisa dimulai jauh sebelum seorang anak lahir, bahkan sejak seorang remaja menjadi ibu dan ayah nantinya. Remaja yang sehat, cukup gizi, dan paham pendidikan kesehatan akan menjadi generasi yang siap melahirkan anak-anak bebas stunting. Pertanyaannya, sudahkah remaja peduli pada isu ini?

Menurut WHO dan Kementerian Kesehatan RI, pencegahan stunting harus dilakukan dengan pendekatan siklus hidup (life cycle approach). Artinya, kesehatan generasi mendatang ditentukan oleh kondisi kesehatan remaja hari ini.
Pendidikan kesehatan reproduksi merupakan salah satu fondasi penting dalam pencegahan stunting. Remaja yang memahami kesehatan reproduksi memiliki bekal pengetahuan untuk menjaga kesehatannya sejak dini, baik dari aspek gizi, kebersihan, maupun perilaku berisiko. Edukasi ini meliputi pemahaman mengenai usia ideal pernikahan, pentingnya menunda kehamilan dini, menjaga jarak antar kehamilan, serta kesiapan mental dan fisik untuk menjadi orang tua. Menurut penelitian, remaja yang kurang gizi, mengalami anemia, atau menikah terlalu dini memiliki risiko besar melahirkan bayi dengan berat lahir rendah (BBLR). Bayi dengan kondisi tersebut adalah bayi yang rentan mengalami stunting. Untuk mencegah hal ini terjadi, simak beberapa hal penting berikut ini.

Pernikahan dan Kehamilan Remaja Berkontribusi Melahirkan Generasi Stunting
Pernikahan dan kehamilan di usia remaja masih menjadi tantangan besar di Indonesia. WHO menyebutkan bahwa kehamilan pada usia di bawah 20 tahun berisiko tinggi melahirkan bayi BBLR dan prematur. Kedua kondisi tersebut merupakan faktor utama penyebab stunting. Kementerian Kesehatan RI merekomendasikan usia ideal pernikahan adalah minimal 21 tahun bagi perempuan dan 25 tahun bagi laki-laki agar pasangan siap secara fisik, mental, dan ekonomi. Selain itu, menjaga jarak antar kehamilan minimal 2 tahun penting untuk memulihkan kondisi gizi ibu dan menurunkan risiko stunting pada anak berikutnya. Dengan menunda pernikahan dini dan mengatur jarak kehamilan, remaja dapat berkontribusi dalam memutus rantai stunting lintas generasi.
Status Gizi Remaja adalah Modal Generasi Sehat
Status gizi remaja menentukan kualitas kesehatan generasi mendatang. Masa remaja merupakan periode kritis pertumbuhan fisik, pematangan organ reproduksi, serta penentu cadangan gizi untuk kehamilan kelak. Data Riskesdas 2018 menunjukkan prevalensi gizi kurang pada remaja Indonesia masih tinggi, sementara kebiasaan melewatkan sarapan, konsumsi makanan cepat saji ataupun makan makanan manis berlebihan beresiko terjadi kekurangan gizi pada remaja. Kekurangan gizi pada remaja putri akan berdampak pada risiko kehamilan dengan cadangan energi rendah, sehingga bayi yang dilahirkan berisiko mengalami stunting. Oleh sebab itu, pola makan bergizi seimbang sejak remaja adalah bekal untuk jangka panjang yang dapat memutus siklus stunting.
Anemia pada Remaja berkaitan dengan Stunting
Anemia pada remaja putri bukan sekadar lemas atau pucat. Anemia, terutama anemia defisiensi besi, masih menjadi masalah serius pada remaja putri di Indonesia. Data Riskesdas 2018 menunjukkan lebih dari 30% remaja putri mengalami anemia. WHO menegaskan bahwa anemia pada remaja perempuan meningkatkan risiko komplikasi kehamilan, melahirkan bayi premature dan BBLR. Kondisi bayi seperti inilah yang rentan berlanjut menjadi stunting. Oleh karena itu, program pemberian tablet tambah darah (TTD) di sekolah yang digalakkan pemerintah merupakan strategi penting untuk menurunkan angka anemia dan sekaligus mencegah stunting di masa depan. Untuk para remaja, jangan lewatkan konsumsi TTD ini ya!
Kesiapan Mental Remaja untuk Melahirkan Generasi Sehat
Selain fisik, kesiapan mental remaja juga sangat menentukan kualitas generasi yang dilahirkan. Pernikahan atau kehamilan pada usia remaja yang belum matang secara psikologis sering berhubungan dengan kurangnya keterampilan pengasuhan anak, stres, hingga pola asuh yang tidak optimal. Kondisi ini dapat memperburuk risiko stunting, karena anak tidak hanya membutuhkan asupan gizi yang cukup, tetapi juga stimulasi psikososial yang baik. Remaja yang memiliki kesiapan mental lebih matang akan lebih mampu memberikan pola asuh sehat, penuh kasih sayang, dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.

Nah, dari sini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa pencegahan stunting bukan hanya urusan pemerintah atau tenaga kesehatan, Namun remaja juga bisa menjadi agen perubahan. Remaja tidak hanya berperan sebagai individu yang menjaga kesehatan dirinya, tetapi juga sebagai agen perubahan di masyarakat. Dengan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dan pentingnya pencegahan stunting, remaja dapat menjadi penggerak kampanye hidup sehat di lingkungan sekolah maupun komunitas
Stunting memang tampak sebagai persoalan balita, tetapi akarnya justru banyak berawal dari remaja. Jadi, sudah saatnya remaja Indonesia peduli stunting, dimulai dari menjaga diri sendiri hari ini, demi masa depan yang bebas stunting. Pendidikan kesehatan reproduksi tidak hanya berfungsi melindungi remaja dari masalah kesehatan saat ini, tetapi juga berperan penting dalam memutus siklus stunting antar generasi.
“Remaja yang cerdas dan teredukasi akan lebih mampu mengambil keputusan kesehatan yang tepat untuk dirinya, sekaligus mempersiapkan generasi mendatang yang lebih sehat.”
Sumber Referensi :
- World Health Organization. (2004). WHO densitometry (T-score) classification for bone mineral density [as cited in research].
- Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. (2018). Hasil Utama RISKESDAS 2018. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
- Kementerian Kesehatan RI. (2018). Strategi Nasional Percepatan Pencegahan Anak Kerdil (Stunting) Periode 2018–2024. Jakarta: Kemenkes RI.
- UNICEF. (2021). The state of the world’s children 2021: On my mind – promoting, protecting and caring for children’s mental health. New York: UNICEF.
- UNICEF, WHO, & World Bank. (2021). Levels and Trends in Child Malnutrition: Key Findings of the 2021 Edition of the Joint Child Malnutrition Estimates. Geneva: WHO.
- World Health Organization. (2014). Adolescent pregnancy: Fact sheet. Geneva: WHO.
- World Health Organization. (2020). Global nutrition targets 2025: Policy brief series.
Artikel ini telah direview oleh:
Nenden Ela Yuliani, S.K.M
Programer Promkes Puskesmas Singaparna
Jl Pancawarna No 07 Ds. Singaparna Kec. Singaparna Kab Tasikmalaya, Jawa Barat
No. Telepon : 08211858730